Keajaiban Bangunan di ITB #1

Mungkin banyak alumni atau mahasiswa ITB yang tidak tahu bahwa bangunan-bangunan yang ada di ITB memiliki hal-hal yang menarik dan ajaib. Nah, berikut ini ada artikel yang didapat dari Ikatan Mahasiswa Arsitektur-Gunadharma (IMA-G) ITB, Speaking Building, 2008.

1.      Bagian Utara

  • Sasana Budaya Ganesha (Sabuga)

Arsiteknya Slamet Wirasonjaya. Desain Sabuga diinspirasi oleh bentuk Candi Borobudur dan Kampus ITB. Wright menjadi sumber inspirasi yang melahirkan bentuk setengah kubah yang dikitari oleh relung-relung. Di dalam kubah tersebut terdapat miniteater. Kubah berfungsi sebagai layar untuk pemutaran film 3 dimensi. Jika dilihat dari atas, bentuknya mirip seperti Helm Insinyur. Sabuga ini dulunya tidak dirancang dengan terowongan (tunnel), akan tetapi atas usulan rektor yang menjabat (Pak Wiranto Arismunandar) akhirnya terowongan itu pun dibangun.

.

  • Kolam Renang Saraga.

Kolam renang ini dahulu dipersiapkan untuk skala internasional tetapi hal itu tidak dapat terwujud karena panjangnya kurang beberapa senti. Sebenarnya konsep perancangan kolam renang dan saraga tidak seperti wujudnya sekarang. Pada maket yang dibuat tahun 1992 terlihat area yang sekarang adalah lapangan parkir rencananya adalah danau kecil. Selain itu, area yang sekarang lapangan futsal direncanakan sebagai gedung sarana olahraga.

.

  • Perbedaan perpustakaan pusat ITB 20 tahun lalu dan sekarang

Perpustakaan pusat dimulai perancang oleh Slamet Wirasonjaya pada tahun 1975 dan mulai digunakan pada tahun 1987. Sebelumnya perpustakaan ITB letaknya di Aula Barat. Pada awal pembangunan, permukaan gedung perpustakaan ini tidak dilapisi keramik seperti sekarang tetapi hanya berlapis beton putih. Bentuknya menyimbolkan tumpukan buku. Gedung berlantai empat dengan struktur utama beton bertulang ini merupakan gedung pertama yang menggunakan AC central di ITB.

Tambahan: Setelah dilapisi keramik, ternyata arsitektur perpustakaan ITB ini tidak lebih baik, karena tampak lebih kotor dan susah dibersihkan. Anak-anak ITB sempat menjuluki gedung perpus ini dengan sebutan “WC besar”, merujuk pada warna keramik yang melapisinya. Akhirnya pada tahun 2010 Gedung Perpus ini kembali direnovasi, kali ini dilapisi dengan suatu bahan khusus berwarna perak, yang konon katanya tidak gampang kotor seperti bahan keramik sebelumnya. Kali ini bangunan tampak lebih megah dan futuristik.

  • Gedung SBM

Dulunya gedung ini dipakai untuk Penelitian dan Pengembangan Pemukiman PU, kemudian menjadi gedung Pasca Sarjana, hingga akhirnya direnovasi dan menjadi gedung SBM. Pola kotak-kotak pada bangunan ini terinspirasi dari karya Le Corbusier (sun shading: berfungsi utk mengurangi intensitas sinar matahari yang masuk melalui jendela).

.

  • Gedung PAU

Di lantai 7 terdapat green house. Meneropong dari atas PAU bisa melihat keseluruhan kota Bandung. Gedung ini merupakan gedung tertinggi di ITB dengan 8 lantai.

.

  • Gedung Serba Guna (GSG)

Gedung ini dibangun pada tahun 1978 oleh Tim Dosen Arsitektur ITB, salah satu diantaranya Ir. Tatang Sudjati Jusup. Karena keterbatasan peralatan saat itu, sistem struktur space truss pada bangunan ini dihitung secara manual (saat ini hal tersebut dapat digunakan dengan komputer).

.

  • Paku Air

Paku air berfungsi menyalurkan air ke seluruh ITB. Air dari mata air di Sabuga ditampung di sebuah penampungan air yang letaknya dibawah taman labirin. Sumber air dibagi menjadi dua yaitu sumber air bersih, dan sumber air minum yang kemudian disalurkan ke 70 titik watertab. Watertab itu sendiri merupakan sumbangan dari angkatan 1970, sehingga jumlahnya dibuat menjadi 70 buah. Tapi sekarang sudah ditambah jumlahnya sehingga tidak menjadi 70 buah lagi.

Tap Water No. 1: lapangan tennis C Saraga; No. 70: Lapangan sipil.

Advertisements

KISAH KEPOMPONG

Seorang menemukan kepompong seekor kupu-kupu. Suatu hari lubang kecil muncul. Dia duduk dan mengamati dalam beberapa jam kupu-kupu itu ketika dia berjuang dengan memaksa dirinya
melewati lubang kecil itu. Kemudian kupu-kupu itu berhenti membuat kemajuan. Kelihatannya dia telah berusaha semampunya dan dia tidak bisa lebih jauh lagi.

Akhirnya orang tersebut memutuskan untuk membantunya, dia ambil sebuah gunting dan memotong sisa kekangan dari kepompong itu. Kupu-kupu tersebut keluar dengan mudahnya. Namun, dia mempunyai tubuh gembung dan kecil, sayap-sayap mengkerut. Orang tersebut terus mengamatinya karena dia berharap bahwa, pada suatu saat, sayap-sayap itu akan mekar dan
melebar sehingga mampu menopang tubuhnya, yg mungkin akan berkembang dalam waktu.

Semuanya tak pernah terjadi. Kenyataannya, kupu-kupu itu menghabiskan sisa hidupnya merangkak di sekitarnya dengan tubuh gembung dan sayap-sayap mengkerut. Dia tidak pernah
bisa terbang. Yang tidak dimengerti dari kebaikan dan ketergesaan orang tersebut adalah bahwa kepompong yg menghambat dan perjuangan yg dibutuhkan kupu-kupu untukmelewati lubang kecil adalah jalan Tuhan untuk memaksa cairan dari tubuh kupu-kupu itu ke dalam sayap-sayapnya sedemikian sehingga dia akan siap terbang begitu dia memperoleh kebebasan dari kepompong tersebut.

Kadang-kadang perjuangan adalah yang kita perlukan dalam hidup kita. Jika Tuhan membiarkan kita hidup tanpa hambatan, itu mungkin melumpuhkan kita. Kita mungkin tidak sekuat yg semestinya kita mampu. Kita mungkin tidak pernah dapat terbang.

Saya memohon Kekuatan ..Dan Tuhan memberi saya kesulitan-kesulitan untuk membuat saya kuat.

Saya memohon Kebijakan … Dan Tuhan memberi saya persoalan untuk diselesaikan.

Saya memohon Kemakmuran …. Dan Tuhan memberi saya Otak dan Tenaga untuk bekerja.

Saya memohon Keteguhan hati … Dan Tuhan memberi saya Bahaya untuk diatasi.

Saya memohon kebahagiaan dan cinta kasih…Dan Tuhan memberikan kesedihan kesedihan untuk dilewati. 

Saya memohon Cinta …. Dan Tuhan memberi saya orang-orang bermasalah untuk ditolong.

Saya memohon Kemurahan/kebaikan hati…. Dan Tuhan memberi saya kesempatan-kesempatan.

Saya tidak memperoleh yg saya inginkan, saya mendapatkan segala yang saya butuhkan.

* Salah satu cerita favorit saya. Pertama kali baca saat semester awal di kampus Ganesha..

Tentang Freeport

“Saya selalu bertanya kepada Tuhan, dalam pikiran dan doa-doa saya setiap hari. Mengapa Tuhan menciptakan gunung-gunung batu dan salju yang indah itu di daerah Amungme?

Freeport, ABRI, Pemerintah dan orang luar datang mengambilnya, sementara kami menderita.

Ditekan, dibunuh tanpa alasan.

Sungguh, saya benar-benar marah pada Tuhan, mengapa Dia menempatkan segala gunung indah dan barang tambang itu di sini.”

(Tuwarek, Narkime, Tetua Suku Amungme, 1994, Merana Di Tengah Kelimpahan, Els-Ham (1998).

 

Saya lupa, mendapat tulisan tersebut di atas dari mana, tiba-tiba saya menemukannya di laptop saya. Tapi yang jelas, tulisan tersebut setidaknya bisa memberi gambaran bagi saya bagaimana perasaan dari masyarakat asli Papua terhadap keberadaan Freeport.

Di dunia ini memang banyak hal yang tidak masuk akal, dan menurut saya, salah satu hal yang paling tidak masuk akal di tanah air Indonesia ini adalah keberadaan Freeport di Indonesia!! Saat Freeport Indonesia didirikan dan mulai menambang, saya memang belum lahir, dan setelah saya tahu Freeport saat berkuliah di ITB pun saya masih tidak terlalu tahu banyak tentang pertambangan atau perpolitikan, tapi rasanya saya cukup berhak untuk memberikan pandangan tentang keberadaan perusahaan ini.

Pertama kali saya tahu tentang Freeport memang saat saya berkuliah di ITB, yang konon katanya merupakan kampus yang banyak berisi mahasiswa-mahasiswa kritis yang selalu peduli terhadap persoalan bangsa. Walaupun ketika mereka duduk di pemerintahan, tidak sedikit yang justru menambah persoalan bangsa. Entah kenapa, saya cukup tertarik dengan permasalahan-permasalahan yang ada di Papua, yang dulu dinamakan oleh Bung Karno dengan sebutan IRIAN (Ikut Republik Indonesia Anti Netherland) Jaya. Sebuah negeri yang kaya akan sumber daya alam, namun masyarakatnya jauh dari kata sejahtera, dan bahkan masih terbelakang.

Berikut ini adalah beberapa rangkuman artikel tentang Freeport yang dihimpun dari berbagai sumber (www.eramuslim.com dan artikel dari Pak Marwan Batubara ‘Menggugat Pengelolaan Sumber Daya Alam, Menuju Negara Berdaulat’):

Sejarah Keberadaan Freeport

Dahulu di tengah masyarakat ada mitologi menyangkut manusia sejati, yang berasal dari sebuah Ibu, yang menjadi setelah kematiannya berubah menjadi tanah yang membentang sepanjang daerah Amungsal (Tanah Amugme), daerah ini dianggap keramat oleh masyarakat setempat, sehingga secara adat tidak diizinkan untuk dimasuki.

Bisa dibilang, Amerika sudah membidik gunung Ertsberg di Timika Papua jauh sebelum Indonesia merdeka. Sejak tahun 1936, telah berlangsung ekspedisi Colijn yang akhirnya menemukan Ertsberg. Butuh sekitar 24 tahun bagi Amerika untuk meneliti temuan tim ekspedisi ini tentang adanya kandungan emas yang luar biasa.

Pada tahun 1960, ekspedisi lanjutan pun dilakukan dan dipimpin langsung oleh tim dari Freeport yang dikomandani Forbes Wilson dan Del Flint untuk memastikan kedahsyatan nilai kekayaan yang dikandung Ertsberg.

Untuk memuluskan langkah menguasai Ertsberg, Amerika bahkan mengkhianati sekutunya Belanda untuk memaksa negeri kincir angin itu menyerahkan Papua Barat kepada Indonesia. Boleh jadi, Amerika menilai akan lebih mudah bernegosiasi dengan penguasa Indonesia yang dinilai belum melek sumber daya alam daripada penjajah Belanda yang sama rakusnya dengan Amerika.

Ternyata, dugaan Amerika salah. Setelah pada tahun 1963 terjadi serah terima Nederlands Nieuw-Guinea dari pihak Belanda ke PBB yang kemudian menyerahkan kepada Indonesia, rencana tambang Freeport Amerika ternyata terganjal oleh kebijakan rezim Soekarno.

Butuh dua tahun bagi Amerika untuk menyingkirkan Soekarno dari kursi kekuasaan di Indonesia. Pada tahun 1965, Soekarno terguling dan digantikan Soeharto dengan rezim Orde Barunya yang efektif mulai berlangsung pada tahun 1966.

Kebijakan ekonomi apa yang pertama kali dilakukan rezim baru Soeharto? Hanya beberapa bulan setelah dilantik menjadi presiden, Soeharto mengundang Freeport untuk membicarakan kontrak pertambangan di Ertsberg. Pada tahun 1967 itu, keluar kebijakan pertama tentang pertambangan di Indonesia. Yaitu, UU no. 1/1967. Bahwa PT Freeport sebagai kontraktor ekslusif yang berhak melakukan pertambangan di Ertsberg selama masa 30 tahun dengan luas areal tambang sekitar 10 kilometer persegi.

Beberapa hal yang “tidak masuk akal” tentang Freeport

  • Dari tahun ke tahun Freeport terus mereguk keuntungan dari tambang emas, perak, dan tembaga terbesar di dunia. Para petinggi Freeport terus mendapatkan fasilitas, tunjangan dan keuntungan yang besarnya mencapai 1 JUTA KALI LIPAT pendapatan tahunan penduduk Timika, Papua.
  • Pada Maret 1973, Freeport memulai pertambangan terbuka di Ertsberg, kawasan yang selesai ditambang pada tahun 1980-an dan menyisakan lubang sedalam 360 meter. Pada tahun 1988, Freeport mulai mengeruk cadangan raksasa lainnya, Grasberg, yang masih berlangsung saat ini. Dari eksploitasi kedua wilayah ini, sekitar 7,3 juta ton tembaga dan 724, 7 JUTA TON EMAS telah mereka keruk. Pada bulan Juli 2005, lubang tambang Grasberg telah mencapai diameter 2,4 KILOMETER pada daerah seluas 499 ha dengan kedalaman 800 m. Diperkirakan terdapat 18 juta ton cadangan tembaga, dan 1.430 ton cadangan emas yang tersisa hingga rencana penutupan tambang pada 2041.
  • Pada tahun 1995 Freeport baru secara “resmi” mengakui menambang emas di Papua. Sebelumnya sejak tahun 1973 hingga tahun 1994, Freeport mengaku hanya sebagai penambang tembaga. Jumlah volume emas yang ditambang selama 21 tahun tersebut tidak pernah diketahui publik, bahkan oleh orang Papua sendiri. Panitia Kerja Freeport dan beberapa anggota DPR RI Komisi VII pun mencurigai telah terjadi manipulasi dana atas potensi produksi emas Freeport. Mereka mencurigai jumlahnya lebih dari yang diperkirakan sebesar 2,16 HINGGA 2,5 MILIAR TON EMAS.
  • Kegiatan penambangan dan ekonomi Freeport telah mencetak keuntungan finansial bagi perusahaan tersebut namun tidak bagi masyarakat lokal di sekitar wilayah pertambangan. Dari tahun ke tahun Freeport terus mereguk keuntungan dari tambang emas, perak, dan tembaga terbesar di dunia. Pendapatan utama Freeport adalah dari operasi tambangnya di Indonesia (sekitar 60%, Investor Daily, 10 Agustus 2009). Setiap hari hampir 700 ribu ton material dibongkar untuk menghasilkan 225 ribu ton bijih emas. Jumlah ini bisa disamakan dengan 70 ribu truk kapasitas angkut 10 ton berjejer sepanjang Jakarta hingga Surabaya (sepanjang 700 km).
  • Juli 1976. Pemerintah Indonesia mendapat bagian saham sebesar 8,5% dari saham Freeport. Angka ini hingga 1998 bertahan di level 10 PERSEN dan royalti SATU PERSEN.
  • 30 Desember 1991. KK I berakhir dan Freeport memperoleh kembali KK II selama 30 tahun. Bagi banyak orang, KK II ini berlangsung tidak transparan, bahkan tertutup. Anehnya, pemerintah yang ditawari untuk memperbesar sahamnya menyatakan tidak berminat, padahal perusahaan ini jelas-jelas menguntungkan. Mulai saat itu, masuklah pengusaha nasional Aburizal Bakrie (Bakrie Grup). ”Kami sudah menawarkan, tapi hanya Bakrie yang datang,” kata James Moffet, Preskom Freeport berbasa-basi. Preskom. Belakangan masuk Bob Hasan (Nusamba), yang dikenal sebagai kroni Soeharto, dan Menaker kabinet Soeharto, Abdul Latief (A Latief Corp.)
  • 29 Juni 1996. Lemasa menolak dana sebesar 1 persen keuntungan Freeport (US$ 15 juta) yang rencananya diberikan kepada suku di daerah operasi Freeport. Penolakan juga datang dari gereja setempat.
  • 30 September 1997. Menteri Lingkungan Hidup Sarwono Kusumaatmadja, melalui Bapedal, selesai memeriksa dan menyetujui laporan Amdal Regional untuk perluasan kegiatan penambangan dan peningkatan kapasitas produksi Freeport hingga 300.000 ton per hari. Tetapi Walhi yang ikut dalam komisi itu menyatakan tidak setuju : “Atmosfer pertemuan itu kental dengan bau politis, sementara banyak anggota komisi sebenarnya tidak setuju dengan perluasan itu, tapi tak kuasa menolak,” kata Emmy Hafid, Direktur Walhi.

Ahh..rasanya tidak akan habis pertanyaan, kenapa, kenapa dan kenapa semua itu bisa terjadi di bumi Indonesia ini. Apa yang ada dipikiran para pemimpin kita di masa itu? Saya memang tidak ahli politik atau pemerintahan, tapi rasanya menggunakan logika saja sudah cukup untuk mengatakan itu semua adalah hal yang tidak masuk akal! Adakah yang bisa kita perbuat untuk menghentikan ini semua? Mungkin harus bertanya pada rumput yang bergoyang dulu kali, seperti kata Ebiet G Ade.

Chatting Dengan Tuhan

-Connecting to Heaven & Earth Messenger-
-TUHAN has sign in-

TUHAN :
Kamu memanggilKu ?

AKU :
Memanggilmu?
Tidak.. Ini siapa ya?

TUHAN :
Ini TUHAN.
Aku mendengar doamu.
Jadi Aku ingin berbincang-bincang denganmu.

AKU :
Ya, saya memang sering berdoa, hanya agar saya merasa lebih baik.
Tapi sekarang saya sedang sibuk, sangat sibuk .

TUHAN :
Sedang sibuk apa? Semut juga sibuk.

AKU :
Nggak tau ya.
Yang pasti saya tidak punya waktu luang sedikitpun.
Hidup jadi seperti diburu-buru.
Setiap waktu telah menjadi waktu sibuk.

TUHAN :
Benar sekali.
Aktivitas memberimu kesibukan.
Tapi produktivitas memberimu hasil.
Aktivitas memakan waktu, produktivitas membebaskan waktu.

AKU :
Saya mengerti itu.
Tapi saya tetap tidak dapat menghindarinya.
Sebenarnya, saya tidak mengharapkan Tuhan mengajakku chatting seperti ini.

TUHAN :
Aku ingin memecahkan masalahmu dengan waktu, dengan memberimu beberapa petunjuk.
Di era Internet ini, Aku ingin menggunakan medium yang lebih nyaman untukmu daripada mimpi misalnya.

AKU :
OKE, sekarang beritahu saya, mengapa hidup jadi begitu rumit?

TUHAN :
Berhentilah menganalisa hidup.
Jalani saja.
Analisalah yang membuatnya jadi rumit.

AKU :
Kalau begitu mengapa kami manusia tidak pernah merasa senang?

TUHAN :
Hari ini adalah Hari esok yang kamu khawatirkan kemarin.
Kamu merasa khawatir karena kamu menganalisa.
Merasa khawatir menjadi kebiasaanmu.
Karena itulah kamu tidak pernah merasa senang.

AKU :
Tapi bagaimana mungkin Kita tidak khawatir jika Ada begitu banyak ketidakpastian.

TUHAN :
Ketidakpastian itu tidak bisa dihindari.
Tapi kekhawatiran adalah sebuah pilihan.

AKU :
Tapi begitu banyak rasa sakit karena ketidakpastian.

TUHAN :
Rasa sakit tidak bisa dihindari,
Tetapi penderitaan adalah sebuah pilihan.

AKU :
Jika penderitaan itu pilihan, mengapa orang baik selalu menderita?

TUHAN :
Intan tidak dapat diasah tanpa gesekan.
Emas tidak dapat dimurnikan tanpa api.
Orang baik tidak dapat melewati rintangan, tanpa menderita.
Dengan pengalaman itu hidup mereka menjadi lebih baik, bukan sebaliknya.

AKU :
Maksudnya pengalaman pahit itu berguna?

TUHAN :
Ya.
Dari segala sisi, pengalaman adalah guru yang keras.
Guru pengalaman memberi ujian dulu, baru pemahamannya.

AKU :
Tetapi, mengapa kami harus melalui semua ujian itu?
Mengapa kami tidak dapat hidup bebas dari masalah?

TUHAN :
Masalah adalah rintangan yang ditujukan untuk meningkatkan kekuatan mental.
Kekuatan dari dalam diri bisa keluar melalui perjuangan dan rintangan, bukan dari berleha-leha.

AKU :
Sejujurnya, di tengah segala persoalan ini, kami tidak tahu kemana harus melangkah…

TUHAN :
Jika kamu melihat ke luar, maka kamu tidak akan tahu kemana kamu melangkah.
Lihatlah ke dalam.
Melihat ke luar, kamu bermimpi. Melihat ke dalam, kamu terjaga.
Mata memberimu penglihatan. Hati memberimu arah.

AKU :
Kadang-kadang ketidakberhasilan membuatku menderita.
Apa yang dapat saya lakukan?

TUHAN :
Keberhasilan adalah ukuran yang dibuat oleh orang lain.
Kepuasan adalah ukuran yang dibuat olehmu sendiri.
Mengetahui tujuan perjalanan akan terasa lebih memuaskan daripada mengetahui bahwa kau sedang berjalan.
Bekerjalah dengan kompas, biarkan orang lain berkejaran dengan waktu.

AKU :
Di dalam saat-saat sulit, bagaimana saya bisa tetap termotivasi?

TUHAN :
Selalulah melihat sudah berapa jauh kamu berjalan, daripada masih berapa jauh kamu harus berjalan.
Selalu hitung yang harus kamu syukuri, jangan hitung apa yang tidak kamu peroleh.

AKU :
Apa yang menarik dari manusia?

TUHAN :
Jika menderita, mereka bertanya “Mengapa harus aku?”.
Jika mereka bahagia, tidak Ada yang pernah bertanya “Mengapa harus aku?”

AKU :
Kadangkala saya bertanya, siapa saya, mengapa saya di sini?

TUHAN :
Jangan mencari siapa kamu, tapi tentukanlah ingin menjadi apa kamu.
Berhentilah mencari mengapa saya di sini.
Ciptakan tujuan itu.
Hidup bukanlah proses pencarian, tapi sebuah proses penciptaan.

AKU :
Bagaimana saya bisa mendapatkan yang terbaik dalam hidup ini?

TUHAN :
Hadapilah masa lalumu tanpa penyesalan.
Peganglah saat ini dengan keyakinan.
Siapkan masa depan tanpa rasa takut.

AKU :
Pertanyaan terakhir, Tuhan.
Seringkali saya merasa doa-doaku tidak dijawab.

TUHAN :
Tidak Ada DOA yang tidak dijawab.
Seringkali jawabannya adalah TIDAK.

AKU :
Terima kasih Tuhan atas chatting yang indah ini.

TUHAN :
Oke.
Teguhlah dalam iman, dan buanglah rasa takut.
Hidup adalah misteri untuk dipecahkan, bukan masalah untuk diselesaikan.
Percayalah padaKu.
Hidup itu indah jika kamu tahu cara untuk hidup.

-TUHAN has signed out-

(*sebuah cuplikan)

Local Wisdom

“Leuweung ruksak, Cai beak, Manusia balangsak”

Dalam pengertian kamus, kearifan lokal (local wisdom) terdiri dari dua kata: kearifan (wisdom) dan lokal (local). Dalam Kamus Inggris Indonesia John M. Echols dan Hassan Syadily, local berarti setempat, sedangkan wisdom (kearifan) sama dengan kebijaksanaan. Secara umum maka local wisdom (kearifan setempat) dapat dipahami sebagai gagasan-gagasan, nilai-nilai, pandangan-pandangan setempat (local) yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya. Pendekatan Kearifan lokal adalah penggunaan metoda-metoda yang berasal dari nilai-nilai kebijaksanaan masyarakat lokal (terutama dari nilai-nilai budaya Sunda dulu) dalam menangani masalah lingkungan di lingkungannya.

KEARIFAN LOKAL SUNDA

Nilai-nilai budaya Sunda tua diperoleh dari suku Baduy Dalam, Kampung Naga dan desa-desa adat lainnya di daerah Sunda, yang diturunkan secara lisan dari orang tua ke anak, beserta prasasti-prasasti yang masih ada. Menurut orang-orang tua mereka diberi tahu bahwa ilmu mengenai tata ruang leuweung  dibuat pada abad 8 dan sudah dituliskan, pada abad ke 14, kitab-kitab tersebut dibawa oleh penjajah (Belanda dan Portugis) untuk kepentingan mereka. Kepentingan mereka adalah kepentingan ekonomi dengan merubah tatanan ruang di indonesia, seperti halnya perkebunan teh dll.

Bahasa SUNDA berasal dari kata SUN DA HA, yang mengandung arti SUN adalah Diri, DA adalah Alam dan HA adalah Tuhan. Artinya kearifan lokal dapat digambarkan dengan mengidentifikasi tiga ranah (domain) tempat kearifan lokal itu berlaku. Ranah pertama adalah DIRI, yaitu hubungan antara manusia dengan manusia; kedua, ALAM, yaitu hubungan manusia dengan alam; dan ketiga TUHAN, hubungan manusia dengan Tuhan atau Sang Pencipta.

Perilaku yang memperlihatkan penghormatan kepada alam ini datang dari sikap masyarakat “tradisional” umumnya. Masyarakat tradisional beranggapan bahwa mereka hidup “bersama” alam, dan bukan “di” alam seperti sikap kebanyakan anggota masyarakat modern. Oleh karena itu, masyarakat tradisional memiliki solidaritas yang lebih kuat dengan alam. Mereka tidak pernah memperlakukan alam sebagai objek, melainkan sebagai subjek yang sebenarnya tidak dapat diperlakukan dengan sewenang-wenang. Kecenderungan untuk lebih memuliakan dan bukannya semata-mata memanfaatkan alam akan jelas pada ungkapan-ungkapan seperti “Leuweung ruksak, cai beak, ra’yat balangsak” (Hutan rusak, air habis, rakyat sengsara), atau “Leuweung kaian, gawir awian, legok balongan” (Hutan tanami kayu, tebing tanami bambu, palung jadikan kolam).

Penggabungan terhadap ranah-ranah tersebut adalah Menyakini bentuk ibadah yang tertinggi dan rasa syukurnya kepada Sang pencipta adalah berupa: kebersamaan untuk menjaga alam, dan memelihara pohon.

(*sumber: Pangasuh Bumi dan sumber lainnya)

Ketika Tuhan Menciptakan Indonesia

Ketika Tuhan Menciptakan Indonesia

Suatu hari Tuhan tersenyum puas melihat sebuah planet yang baru saja diciptakan- Nya. Malaikat pun bertanya, “Apa yang baru saja Engkau ciptakan, Tuhan?” “Lihatlah, Aku baru saja menciptakan sebuah planet biru yang bernama Bumi,” kata Tuhan sambil menambahkan beberapa awan di atas daerah hutan hujan Amazon. Tuhan melanjutkan, “Ini akan menjadi planet yang luar biasa dari yang pernah Aku ciptakan. Di planet baru ini, segalanya akan terjadi secara seimbang”.

Lalu Tuhan menjelaskan kepada malaikat tentang Benua Eropa. Di Eropa sebelah utara, Tuhan menciptakan tanah yang penuh peluang dan menyenangkan seperti Inggris, Skotlandia dan Perancis. Tetapi di daerah itu, Tuhan juga menciptakan hawa dingin yang menusuk tulang.

Di Eropa bagian selatan, Tuhan menciptakan masyarakat yang agak miskin, seperti Spanyol dan Portugal, tetapi banyak sinar matahari dan hangat serta pemandangan eksotis di Selat Gibraltar.

Lalu malaikat menunjuk sebuah kepulauan sambil berseru, “Lalu daerah apakah itu Tuhan?” “O, itu,” kata Tuhan, “itu Indonesia. Negara yang sangat kaya dan sangat cantik di planet bumi. Ada jutaan flora dan fauna yang telah Aku ciptakan di sana. Ada jutaan ikan segar di laut yang siap panen. Banyak sinar matahari dan hujan. Penduduknya Ku ciptakan ramah tamah,suka menolong dan berkebudayaan yang beraneka warna. Mereka pekerja keras, siap hidup sederhana dan bersahaja serta mencintai seni.”

Dengan terheran-heran, malaikat pun protes, “Lho, katanya tadi setiap negara akan diciptakan dengan keseimbangan. Kok Indonesia baik-baik semua. Lalu dimana letak keseimbangannya? “
Tuhan pun menjawab dalam bahasa Inggris, “Wait, until you see the idiots I put in the government.” (tunggu sampai Saya menaruh ‘idiot-idiot’ di pemerintahannya)

“Indonesia tanah air beta

disana tempat lahir beta,

dibuai dibesarkan bunda,

Tempat berlindung di hari Tua…

Hingga nanti menutup mata”

 

(*cuplikan artikel)