Toyotomi Hideyoshi

BAGAIMANA JIKA SEEKOR BURUNG TAK MAU BERKICAU?

 Nobunaga menjawab, “Bunuh saja!”

Hideyoshi menjawab, “Buat burung itu ingin berkicau!”

Ieyasu menjawab, “Tunggu.”

Mungkin beberapa dari kita cukup familiar dengan kutipan di atas. Ya, itu adalah sebuah sajak yang terkenal di Jepang, sebuah cerminan dari falsafah-falsafah tiga orang tokoh yang mempersatukan Jepang. Oda Nobunaga, Toyotomi Hideyoshi, dan Tokugawa Ieyasu. Negara Jepang memiliki sejarah panjang perang saudara antar klan. Tapi dari situlah muncul tokoh-tokoh hebat, yang pada akhirnya membuat Negara Jepang menjadi seperti sekarang ini.

Bagi yang tertarik dengan sejarah Jepang, atau setidaknya pernah membaca komik Jepang, pasti pernah mendengar nama-nama di atas. Mungkin salah satu yang paling terkenal adalah Tokugawa, karena sering disebutkan di komik yang cukup terkenal, Samurai X (Kenshin Himura). Tapi, yang paling menonjol diantara ketiga orang tersebut menurut saya adalah Toyotomi Hideyoshi, atau biasa disebut si Monyet. Ya, dialah orang pertama yang mencapai kekuasaan tertinggi di Jepang tanpa adanya keturunan darah bangsawan di dalam dirinya, sesuatu yang mustahil di jaman itu. Hideyoshi, merupakan cerminan perjuangan dari nol hingga mencapai titik tertinggi. Maka, izinkanlah saya untuk sedikit menceritakan tentang tokoh yang satu ini.

…..

Pada abad ke 16, Jepang berada pada puncak kekacauan. Keadaan negeri diwarnai pertempuran antar klan. Para bangsawan saling berebut pengaruh demi memperoleh  kedudukan. Lemahnya pemerintah pusat menyebabkan provinsi-provinsi melepaskan diri menjadi kerajaan-kerajaan kecil yang independen. Pada saat inilah muncul seorang samurai “istimewa” yang berniat menyatukan seluruh wilayah Jepang. Kelahirannya menjadi babak baru dalam sejarah peradaban Jepang.

Hideyoshi dilahirkan dari keluarga petani miskin pada tahun 1536. Dalam keluarganya tidak setitikpun darah bangsawan mengalir dalam darahnya. Suatu hal yang krusial untuk menentukan masa depan pada waktu itu. Belum lagi dengan perawakannya yang jauh dari gagah. Dia memiliki tubuh kecil dan pendek, tingginya tak lebih dari 1,5 meter. Dengan hidung pesek, telinga lebar, matanya dalam serta wajah merah dan berkeriput membuatnya lebih mirip seekor monyet. Sebuah gelar yang kemudian terus disandangnya seumur hidup, “monyet”.

Sebelum menjadi seorang pemimpin besar, Hideyoshi memiliki perjalanan hidup yang beraneka ragam. Dia pernah menjadi pedagang keliling sebelum akhirnya menjadi gelandangan karena bangkrut. Namun pengalamannya sebagai anggota masyarakat kelas bawah membuatnya mengerti penderitaan masyarakat.

Karirnya dimulai saat dia menjadi pengikut Oda Nobunaga, sebagai “pembawa sandal”. Sebuah jabatan yang paling rendah, namun betapapun remeh tugas yang diberikan kepadanya, tidak meredupkan integritas dan loyalitasnya terhadap tugas yang diembankan kepadanya. Ketika kastil keluarga Oda terbakar, dia yang pertama bangun mempersiapkan kuda dan pakaian untuk tuannya sehingga memudahkan tuannya untuk mengantisipasi musibah tersebut. Dia pula yang terus berjaga semalaman ketika perkemahan dikepung musuh dan kabut, meskipun itu bukan tugasnya.

Di suatu kisah diceritakan, pada suatu musim dingin yang membeku, Hideyoshi menunggu Lord Nabunaga di luar rumah kayu tempatnya mengadakan rapat sambil memegangi sandalnya. Hideyoshi merasa sangat kedinginan tetapi dia tidak ingin sandal atasannya menjadi dingin. Karena itu dia mendekap erat sandal tersebut di dadanya untuk menghangatkannya. Lord Nabunaga sendiri begitu terharu menyaksikan pengorbanan yang luar biasa dari bawahannya ini.

Dia dijuluki juga dengan The Swordless Samurai (Samurai Tanpa Pedang). Sebagai prajurit dia tidak memiliki kemampuan beladiri yang memadai. Bahkan ronin, samurai tanpa tuan, jalanan sekalipun dapat mengalahkannya dengan mudah. Meskipun begitu, dia berhasil menjadi salah satu jenderal perang terbesar dalam sejarah. Keunggulannya terletak pada kemampuan diplomasi yang dimilikinya. Dia lebih mengutamakan otak dari pada penggunaan pedang. Dia sangat menghormati musuhnya. Ketika musuhnya kalah dalam pertempuran, diperlakukannya dengan baik. Bahkan mereka dikembalikan ke kedudukannya yang semula.

Keberhasilannya menyatukan Jepang dikarenakan kepribadian yang dimilikinya. Pada usai 54 tahun dia diangkat sebagai wakil Kaisar, sebuah jabatan dengan wewenang mutlak terhadap seluruh wilayah Jepang. Dia merupakan pemimpin Jepang pertama yang memperoleh jabatan setinggi itu tanpa memiliki pertalian darah dengan bangsawan. Bahkan mungkin satu-satunya pemimpin Jepang yang memiliki wajah seperti “monyet”.

Disarikan dari berbagai sumber

Advertisements

Siapa Aku?

Beberapa dari kita pasti sering mendengar pertanyaan ini, “Siapakah Aku?”, sebuah pertanyaan yang biasa muncul di sesi training motivasi atau semacamnya. Ketika ditanya seperti itu, beberapa dari kita mungkin akan kebingungan untuk menjawabnya. Ya, terkadang kita sendiri merasa bertanya-tanya tentang diri kita sendiri. Sifat, perilaku, kepribadian, apakah sepenuhnya kita pahami? Ada yang bilang proses kehidupan adalah proses menemukan jati diri. Lalu kapan akhirnya kita menemukan jati diri kita? Apakah saat kita menghembuskan nafas terakhir?

Beberapa waktu yang lalu saya mendapat kesempatan untuk mengisi sebuah acara di kampus, yaitu acara Latihan Kepemimpinan Organisasi (LKO) Keluarga Mahasiswa Teknik Kelautan (KMKL). Para pesertanya adalah mahasiswa angkatan 2009 dan 2010, yang semangat idealismenya masih sangat tinggi. Lalu saya menyisipkan suatu sesi perkenalan yang membuat mereka untuk berpikir tentang diri mereka sendiri.  Sesi itu adalah sesi meminta peserta menggambarkan suatu hal yang mendeskripsikan dirinya (bisa benda, hewan atau apapun). Sesi ini adalah sesi yang paling saya suka, saya mendapatkannya dari seorang sahabat saya, yang seorang mahasiswa psikologi. Jadi setidaknya bisa dipertanggungjawabkan dari sisi keilmuannya.:-)

Nah, berikut ini rekapan dari gambaran deskripsi para peserta tersebut, persis seperti yang mereka tulis di kertas. Hanya saja tidak ada gambarnya dan saya tidak menulis siapa pemiliknya.

  • Awan. Kenapa Awan? Karena menurut saya, saya orangnya fleksibel, fokus terhadap tujuan yg dimana angin membawa saya.
  • Pohon. Pohon yg rindang membuat orang nyaman dan sejuk ada di bawahnya. Walaupun saya tidak suka dengan seseorang tapi saya akan menutupinya. Yang penting dia nyaman dan tidak sakit hati.
  • Karet. Fleksibel, mampu mengkondisikan di suasana yg berbeda.
  • Gelas Plastik. Sifat gelas plastik yang fleksibel dengan tekanan dan terbuka, maksudnya orangnya terbuka.
  • Air. Karena air selalu bergerak, menyesuaikan dengan tempat, bisa tenang bisa deras.
  • Pensil. Harus terus menerus diasah/diserut. Berfungsi untuk menulis/menghapus hal baru/lama
  • Sepeda Motor. Efisien. Efektif. Idealisme sebagai pengendaranya. Gesit.
  • Kincir Angin. Butuh dorongan untuk bergerak dan berguna.
  • Lebah. Suka berkumpul. Suka yang manis.
  • Burung. Saya mengibaratkan burung karena burung mudah pergi kemana saja.
  • Gelas Kaca. Menampung semua selama masih dalam kapasitas. Bisa retak saat mendapat sesuatu yg terlalu ekstrim (terlalu dingin atau panas).
  • Hujan. Saya seperti hujan, sering muncul tiba-tiba. Tapi (moga-moga sih) jadi manfaat buat orang lain.
  • Bando. Walaupun beberapa orang merasa tidak membutuhkan, tetapi saya yakin masih ada orang yang membutuhkan dan Insya Allah saya akan membantu sepenuh hati.
  • Justice. Mencari baik dan buruk
  • Tangga. Seperti sekre KMKL yg ada di lantai 4, carilah ilmu, wawasan dan pengetahuan sebanyak-banyaknya.
  • Gitar. Bisa mengerikan maupun halus. Pride laki-laki.
  • Saya adalah saya.
  • Daun. Daun punya serat yang beda-beda. Yg hidupnya dari mulai kecil sampai mati bisa terus berguna.
  • Air dalam gelas. Gelas setengah kosong / gelas setengah isi?
  • Kotak P3K. Selalu hati-hati dalam setiap hal
  • Penopang kayu/kuda-kuda. Kuda-kuda atap adalah satu-satunya kayu-kayu yang menopang atap dan genteng sehingga kokoh, namun tidak terlihat dari luar. Saya ingin bisa membantu dan menopang pemimpin saya walau saya tidak terlihat.
  • Sperma. Karena saya pantang menyerah dalam melalui semua tantangan hidup dan saya berharap dalam keberjalanannya saya mampu menaklukan tiap tantangan untuk mencapai tujuan akhir.
  • Sungai. Tenang
  • Pohon kelapa. Dimanapun saya berada, saya ingin bermanfaat bagi lingkungan saya.
  • Plastisin. Saya tidak pernah takut untuk menjadi sesuatu yang baru dan asing.
  • Kertas putih. Jika ini dicoret bisa dibersihkan dengan dihapus atau di tipe-x. namun pasti ada bekasnya. Itu seperti saya, bila disakiti gampang lupa, namun akan selalu ingat karena masih berbekas.
  • Durian. Memiliki kepribadian yg keras dari luar, tetapi juga mempunyai sisi yang lunak di dalam.
  • Air tenang. Dilihat dari atas air tersebut tenang, namun di dalamnya setiap partikel air itu bergerak/bergejolak.
  • Senar raket. Saya sebagai senar. Sebuah raket tidak akan berfungsi tanpa senar yang tertata.
  • Burung Elang. Karena nama saya elang dan sesuai harapan orang tua saya, saya berani terbang jauh namun tidak lupa kembali ke sarangnya.
  • Uang. NIlai uang itu sendiri lebih berharga dari nilai bahan pembuatnya.
  • Ubur-ubur. Karena saya mudah terbawa arus
  • Ban. Saya seperti ban. Ban bocor (tidak ada tekanan) -> tidak bisa optimal bekerja. Tekanan kurang (kempes) -> lambat untuk maju. Tekanan pas/keras -> Ban bisa bekerja optimal. Tekanan lebih -> ban pecah -> tidak bisa bekerja (stres)
  • Mobil Diesel. Menurut saya, saya seperti mobil diesel karena saya butuh waktu untuk nyaman terhadap lingkungan.

Ternyata setiap peserta memiliki asosiasi yang sangat menarik dan unik. Ada beberapa hal yang di luar bayangan saya,  qo bisa ya mereka berpikir itu? Ya, itu semua terjadi karena setiap manusia memang memiliki karakter dan cara pandang yang berbeda-beda. Beberapa dari kita mungkin paham betul, bagaimana karakter pribadi kita, jadi dengan mudah mendeskripsikan dirinya, atau mengasosiasikan dengan suatu hal.  Beberapa lagi mungkin kebingungan dan bahkan sulit untuk mencari gambaran yang diasosiasikan dengan dirinya. Untuk hal ini memang tidak ada yang benar atau salah, tapi memang alangkah lebih baiknya jika kita paham betul karakter kepribadian kita.

Ah, saya jadi teringat suatu cerita yang saya dapat saat saya tingkat satu..

“WAITING AT THE DOOR”

Dalam keadaan sakaratul maut, seseorang tiba-tiba merasa berada di depan sebuah gerbang.
“Tok,tok, tok,” pintu diketuk.
“Siapa disitu?” ada suara dari dalam.
Lalu dia seru saja, “Saya, Tuan.”
“Siapa kamu?”
“Watung, Tuan.”
“Apakah itu namamu?”
“Benar, Tuan.”
“Aku tidak bertanya namamu. Aku bertanya siapa kamu?”
“Saya seorang insinyur, Tuan.”
“Aku tidak menanyakan pekerjaanmu. Aku bertanya: siapa kamu?”
Sambil masih planga-plongo karena nggak tahu mau menjawab apa, akhirnya ditemukanlah jawaban yang rada agamis sedikit.
“Saya seorang muslim, pengikut Rasulullah SAW.”
“Aku tidak menanyakan agamamu. Aku bertanya siapa kamu?”
“Saya ini manusia, Tuan. Saya setiap Jumat pergi Jumatan ke mesjid dan saya pernah kasih sedekah. Setiap lebaran saya juga puasa dan bayar zakat.”
“Aku tidak menanyakan jenismu dan apa saja yang telah kamu perbuat. Aku bertanya, siapa kamu?”
Akhirnya orang ini pergi melongos keluar, dengan wajah yang masih planga-plongo.

Dia gagal justru di pintu pertama, terjegal justru oleh sebuah pertanyaan yang sungguh sangat sederhana: “siapa dirinya yang sebenarnya”. Nggak mudah, tho? Coba pikir, kita nggak paham siapa kita, maka kita punya tradisi besar mengasosiasikan sesuatu terhadap diri kita: nama, profesi, titel, jenis kelamin, warna kulit dan rambut, foto wajah (seperti yang di KTP, our identification!). kita melabeli diri kita dengan sesuatu itu, kita pun nyaman dengan label itu, lalu merasa bahwa label itulah diri kita. Think again: apakah “aku” sama dengan “tubuhku”?

Ah, Watung, itu cuma permainan kata!

Mungkin saja. Tapi perhatikanlah kalimat orang yang agung itu berkata:

”Barang siapa mengenal dirinya, akan mengenal Tuhannya.”

 

April 2012

Didekasikan untuk salah satu keluargaku di kampus, KMKL ITB

ADIL?

Tuhan tidak menciptakan dunia ini dengan prinsip “keadilan” tetapi dengan prinsip “keseimbangan”

Ya, sering kali kita mendengar kalimat keluh kesah, “Kenapa sih Tuhan ga adil?” , “Ini semua ga adil!” dan lain lain. Bahkan sering kali juga kita mendengar keluh kesah masyarakat tentang pemimpin, hakim atau polisi yang tidak adil. Pantaskah kita menuntut suatu keadilan, termasuk kepada Tuhan? Mungkin kalau itu hanya berupa keluh kesah semata yang terucap spontanitas, itu tidak terlalu masalah. Tetapi bagaimana kalau itu berupa paradigma atau sudut pandang seseorang, yang selalu menuntut keadilan dalam hidupnya?
Menurut KBBI, kata adil berarti: 1. Sama berat; tidak berat sebelah; tidak memihak, 2. Berpihak kepada yg benar; 3. Sepatutnya; tidak sewenang-wenang.

Nah, rasanya dunia ini tidak diciptakan dengan prinsip adil, seperti definisi KBBI di atas. Coba kita bayangkan jika dunia ini adil, semua orang itu kaya, semua orang ganteng, semua orang baik, dan seterusnya? Di dunia ini kan selalu berpasangan, ada yang kaya-ada yang miskin, ada yang baik-ada yang jahat, ada yang ganteng-ada yang jelek (kalo ini relatif ya.hehe), ada yang menindas-ada yang tertindas, ada yang kuat-ada yang lemah, dst.
Adil, adalah sesuatu yang subjektif. Adil menurut satu orang, belum tentu sama dengan orang yang lain. Adil menurut kita, manusia, pun akan berbeda dengan adil yang didefinisikan oleh Tuhan. Nah, disitulah permasalahan sebenernya yang menyebabkan kita merasa sesuatu tidak adil. Termasuk dengan apa-apa yang terjadi dalam kehidupan kita yang diatur oleh Tuhan.

Ambil contoh suatu kisah: Ada seseorang yang pintar, rajin, dan sangat berkompeten di pekerjaannya, sebutlah si A, justru ditempatkan oleh bosnya di tempat yang kurang layak dan tidak sesuai dengan bidang kerjanya. Sedangkan di lain pihak, ada temannya yang biasa-biasa saja, bahkan tergolong malas, tapi punya hubungan keluarga dengan petinggi perusahaan, malah di tempatkan di tempat yang sangat enak.

Si A pun ahirnya berkata, “Tuhan ga adil! Sy sudah rajin beribadah, beramal, rajin, tapi malah ditempatkan yang tidak sesuai. Dia yang ga pernah beribadah, males-malesan, malah di tempatkan di tempat yang enak!Ini bener2 ga adil!!” Pantaskah si A mendongkol sperti itu? Atau parahnya setelah itu dia justru frustasi, malas bekerja, malas beribadah, dsb.

Ah, suruh sapa juga si A ga punya koneksi dengan perusahaan, jadi deh dia tertindas. Itu mungkin tanggapan paling singkatnya. Tapi kan hidup ga gitu juga kali.hehe.

Benarkah Tuhan tidak adil? Selau ada hal positif yang bisa kita ambil dari sesuatu yang kita anggap negatif. Kalau dalam kasus ini, mungkin Tuhan sedang memberi tantangan kepada A, supaya A bisa jadi pribadi yang jauh lebih baik lagi. Mungkin di tempat yang baru si A justru bisa mengembangkan kompetensinya, dipercaya mengerjakan beberapa proyek, dan naik jabatan dengan cepat. Pada akhirnya, itulah jalan yang paling tepat yang harus dilalui oleh si A.

Hal seperti ini mungkin terjadi dalam kasus-kasus yang berbeda. Saat mahasiswa, sering kali kita merasa mendapat nilai yang tidak adil, padahal sudah berusaha maksimal. Saat berpacaran, mungkin kita merasa tidak adil saat pacar yang sudah bertahun-tahun dipacari, justru direbut oleh orang yang baru beberapa bulan dikenal. Dan masih banyak lagi kasus-kasus yang dianggap sebagai ketidakadilan. Pantaskah kita mendongkol dan meratapi hal-hal tersebut? Sekali lagi, dunia ini memang tidak diciptakan dengan prinsip keadilan, jadi rasanya ga ada gunanya juga kita terus mendongkol dan meratapi hal-hal yang kita anggap ga adil. Ambil sisi positif dari itu semua, dan yakin bahwa ada hal yang bisa kita dapatkan lebih baik dari itu, setelah itu mungkin kita akan merasa menjadi adil.

“Saya memohon Kekuatan ..Dan Tuhan memberi saya kesulitan-kesulitan untuk membuat saya kuat.
Saya memohon Kemakmuran …. Dan Tuhan memberi saya Otak dan Tenaga untuk bekerja.
Saya memohon kebahagiaan dan cinta kasih…Dan Tuhan memberikan kesedihan kesedihan untuk dilewati.
Saya tidak memperoleh yg saya inginkan, saya mendapatkan segala yang saya butuhkan.”

….

Cara pandang bahwa dunia tidak dibuat dengan prinsip keadilan ini tentunya bukan menjadi sebuah pembelaan bahwa orang yang punya kekuasaan bisa berbuat semena-mena. Memang akan sulit bagi seorang manusia untuk berlaku adil. Tapi lantas jangan sampai kita berpikir, “Ya udah, kita ga usah berusaha untuk berbuat baik, toh dunia ini memang tidak adil.” Definisi lain dari adil kan: berpihak kepada yg benar; sepatutnya; tidak sewenang-wenang. Jadi, rasanya setiap pemimpin atau orang yang memiliki kekuasaan sudah sepatutnya untuk berusaha menjunjung nilai-nilai keadilan. Karena posisi dan kekuasaan mereka diamanahkan oleh Tuhan.

Ketika Tuhan menciptakan dunia ini dengan seimbang, tentunya memang ada hal-hal yang menyeimbangkannya. Ketika ada orang kaya dan orang miskin, tentunya ada orang kaya dermawan yang akan membantu orang miskin, ketika ada yang menindas dan tertindas, tentunya ada orang yang berusaha untuk membantu kaum yang tertindas, dan seterusnya. Ketidakadlian di dunia ini justru memunculkan kesempatan-kesempatan untuk berbuat baik, tinggal bagaimana diri kita mau memanfaatkan kesempatan itu atau tidak.

Seorang sahabat saya pernah memberi pesan ke saya seperti ini:
“Menurutku, hidup itu bukan untuk menjadi seseorang yang paling hebat, paling kuat, paling pintar, atau paling kaya. Hidup itu akan bermakna saat kita bisa memberikan kebaikan bagi orang lain dan membuat orang lain merasa lebih baik dengan cara yang paling sederhana yaitu dengan memberikan ketulusan hati, kejujuran dan senyuman.”
Saya sepakat dengan kalimat itu. Hidup memang bukan untuk menjadi orang yang “paling”, tapi menjadi manfaat bagi banyak orang. Seperti yang disebutkan dalam Islam, “Sebaik-baiknya manusia adalah yang bisa memberi manfaat bagi banyak orang”. Dan rasanya setiap agama pun mengajarkan hal yang sama.

Ya, hidup itu hanya sekali, jadi pergunakanlah setiap kesempatan dengan baik.

“Hidup itu indah jika kamu tahu cara untuk hidup”

Ujung Utara Jakarta
April 2012