Nenek Moyangku Seorang Pelaut

Nenek moyangku seorang pelaut
Gemar mengarung luas samudera
Menerjang ombak tiada takut
Menembus badai sudah biasa

Angin bertiup layar berkembang
Ombak menderu di tepi pantai
Pemuda brani bangkit sekarang
Ke laut kita beramai-ramai

Pasti kita semua pernah mendengar lagu di atas. Saat masih kecil tentunya sebagian dari kita tidak pernah bertanya-tanya kenapa lagu ini diciptakan, kenapa nenek moyang kita seorang pelaut, kenapa bukan petani, kenapa bukan ilmuwan, atau yang lainnya. Yang tentunya anak-anak pada umumunya lakukah hanya menyanyikan lagu ini dengan riang gembira, tanpa tahu makna apa yang terkandung di dalamnya.

Dari buku-buku sejarah baik pelajaran maupun tulisan ilmiah, tidak akan ada keraguan bahwa nenek moyang kita sejak jaman kerajaan Sriwijaya hingga Majapahit merupakan pelaut-pelaut tangguh. pelaut-pelaut Bugis pun tidak ketinggalan reputasinya sebagai “orang laut” yang mampu mengarungi samudera. Kerajaan-kerajaan Islam pantai meletakkan kekuatannya pada perdagangan laut. Pelabuhan kerajaan-kerajaan maritim yang lebih terkenal dengan istilah Bandar yang berarti daerah wilayah perdagangan yang dipimpin oleh penguasa pelabuhan dengan gelar Syah Bandar, berkembang Bandar pelabuhan pada saat itu termaju adalah Pasai di Aceh, Banten, Demak, Cirebon, Tuban, Gresik, Makasar (Kerajaan Goa dan Tallo), Buton, Ternate , Tidore, Jaylolo dan Bacan yang kesemuanya merupakan kota-kota pelabuhan atau Bandar yang menjadi lintasan perdagangan rempah-rempah dari kepulauan Maluku menuju India melalui Selat Malaka dan kemudian menyebar ke Timur Tengah sampai Eropa. Sebuah sejarah yang luar biasa tentunya.

Dari kondisi geografis pun, jelas-jelas kita sangat kental dengan unsur laut, dua per tiga dari luas daratan, luar biasa bukan? Bahkan istilah lain untuk menyebut negara ini adalah “tanah air”. Tanah: merujuk pada daratan sebagai unsur utama suatu peradaban tentunya. Air: karena sebagian besar luasan Negara ini adalah lautan. Jadi, jelas-jelas bangsa Indonesia memang ditakdirkan untuk dekat dengan unsur air atau laut.

Bila kita lihat kondisi sekarang ini, timbul suatu pertanyaan, masih pantaskah lagu itu diajarkan dan dinyanyikan kepada anak-anak? Kalau memang nenek moyang kita seorang pelaut, lalu apa kabar laut kita? Apa kabar pantai kita? Apa kabar pulau-pulau kecil kita? Apa kabar pelabuhan kita? Apa kabar dunia maritim kita? Ah, ingin nangis rasanya bila memikirkan itu.

Kita pasti sudah cukup tahu bahwa masyarakat di kawasan pesisir itu memiliki standar ekonomi di bawah rata-rata. Kawasan pantura atau pantai utara jawa identik dengan masyarakat kelas bawah, miskin. Tingkat pendidikan yang rendah dan tingkat ekonominya, akhirnya menimbulkan efek domino lainnya, yaitu mental dan perilaku yang buruk masyarakatnya. Tidak jarang daerah pesisir identik dengan kawasan rawan kejahatan. Bahkan di ibukota sekalipun, Tanjung Priok misalnya, menjadi salah satu daerah yang sangat dihindari oleh masyarakat Jakarta. Coba bandingkan dengan Negara-negara lain, kota yang berkembang pesat dan makmur justru lebih banyak berada di tepi pantai, maju karena perdagangan yang melalui pelabuhannya, misalnya Rotterdam, Liverpool, Busan, dsb. Lalu kenapa kita justru terbalik? Sebuah fakta yang sangat ironis tentunya.

Pelabuhan Tanjung Priok, pelabuhan terbesar dan tersibuk di Indonesia, 70% ekspor impor Indonesia melalui pelabuhan ini, namun tidak ada apa-apanya dibanding Pelabuhan Singapura atau Pelabuhan Tanjung Pelepas milik Malaysia. Kapal yang sanggup masuk ke pelabuhan ini hanya kapal generasi ke-3, padahal sekarang sudah sampai generasi ke-10. Bayangkan, 17 ribu pulau, tapi tidak memiliki pelabuhan yang tergolong the best in the world, kalah oleh Singapura yang negaranya hanya satu pulau kecil yang ‘mejeng’ di selat Malaka, dan juga kalah oleh Malaysia yang bahkan dulu harus mengimpor tenaga guru dari Indonesia. Mau coba bandingkan juga dengan Hongkong, China, UEA, Belanda, Jepang? Ah, tetap saja kita seperti gelandangan yang disandingkan dengan pengusaha papan atas.

Konon katanya nenek moyang kita pelaut yang handal dan pembuat kapal yang hebat. Lalu sekarang? Adakah Shipping Line kita yang berhasil mendunia? Rasanya kita hanya melihat logo Maersk Line milik Denmark, NYK milik Jepang, Shipping Line China, dan Shipping Line lain milik Negara lain. Kapal? Tidak jauh berbeda, rasanya kita belum bisa membuat kapal-kapa berkaliber kelas dunia, Post Panamax, Post Mega Panamax, dsb. Pernah ada kapal yang cukup besar milik Indonesia, MT Sinar Kudus, itupun malah dibajak oleh perompak Somalia.

Imbas dari hal tersebut adalah tingginya cost logistic di Indonesia. Diperparah lagi dengan jalur birokrasi yang super ribet. Jadi jangan heran bila barang-barang yang melalui proses ekspor impor memiliki harga jual yang tinggi. Ada fakta lucu yang menunjukkan buruknya logistic dan supply chain management di Indonesia; pernah kah kalian sadari bahwa jeruk Pontianak lebih mahal ketimbang jeruk mandarin? Tentunya ini sungguh tidak logis. Kalau kita lihat peta, diukur menggunakan penggaris manapun jarak Pontianak-Jakarta jauh lebih pendek ketimbang jarak China-Jakarta. Lalu bagaimana ini bisa terjadi? Penjelasannya mungkin akan saya buat di tulisan berikutnya.

Kita juga mungkin sering mendengar bahwa kapal-kapal penangkap ikan Negara lain secara illegal menangkap ikan di laut Indonesia. Kekayaan alam kita dengan mudahnya diambil oleh Negara lain. Jalur laut kita sudah seperti jalan umum yang dengan mudahnya dilalui kapal asing bahkan kapal militer sekalipun. Rasanya tidak akan ada habisnya bila menjabarkan hal-hal ironis yang terjadi di bangsa ini.

Lalu dimanakah sisa-sisa sejarah yang mengatakan Indonesia itu Negara maritim? Inikah kondisi Negara yang dua per tiganya lautan, memiliki 17 ribu lebih pulau, memiliki panjang pantai terpanjang kedua di dunia, memiliki kekayaan laut yang hebat? Siapakah yang harus disalahkan dengan kondisi ini, masyarakat, pemerintah, atau presidennya? Atau kita tidak berhak menyalahakan siapa-siapa karena ini adalah suatu takdir dari Sang Pencipta? Ah, rasanya ingin segera bangun dari mimpi buruk berada di Negara ini.

#

Sebuah ungkapan dari seorang pemuda yang lahir dan besar di daerah pantai utara Jawa-Cirebon, pernah menuntut ilmu Teknik Kelautan di Bandung, dan sekarang bekerja sebagai buruh pelabuhan di Tanjung Priok. 

Masih mencoba membantu mengurai suatu benang yang kusut, dan berharap dapat merangkainya menjadi sebuah kain yang indah.

Advertisements

“Sesuatu Yang Tertunda”

“Sesuatu Yang Tertunda”
-Padi-

Disini aku sendiri
Menatap relung-relung hidup
Aku merasa hidupku
Tak seperti yang kuinginkan

Terhampar begitu banyak
Warna kelam sisi hidup ku
Seperti yang mereka tahu
Seperti yang mereka tahu

Aku merasa disudutkan kenyataan
Menuntut diriku dan tak sanggup ku melawan
Butakan mataku semua tentang keindahan
Menggugah takutku menantang sendiriku

Temui cinta
Lepaskan rasa
Temui cinta
Lepaskan rasa

Disini aku sendiri
Masih seperti dulu yang takut
Aku merasa hidupku pun surut
Ku tumpulkan harap
Terkapar begitu rupa samar
Seperti yang kurasakan
Kenyataan itu pahit
Kenyataan itu sangatlah pahit

Temui cinta
Lepaskan rasa
Temui cinta
Lepaskan rasa