Kisah Sebuah Kapal..

Alkisah, di suatu negara antah berantah, terdapat sebuah kapal bernama Renovatio. Kapal ini akan mengarungi samudera luas dengan membawa sebuah misi besar, yaitu menyelamatkan sejumlah warga di suatu wilayah. Kapal ini dinahkodai oleh satu orang Kapten (Nahkoda) kapal, dan dibantu oleh 5 orang Wakil Kapten, puluhan Chief Officer, Second Officer, dan Third Officer, serta ribuan awak kapal.

2645637685_d97e1ece8a_mRenovatio diberi misi untuk membawa sejumlah obat untuk menyelamatkan jutaan warga yang terkena wabah penyakit di suatu wilayah nan jauh disana. Misi ini sangat beresiko, karena belum pernah ada satupun kapal yang mengarungi samudera untuk mencapai wilayah tersebut. Konon katanya, ombak di samudera itu sangat ganas yang dapat menelan kapal ini dengan mudahnya. Sehingga banyak yang bilang, ini adalah sebuah Mission Impossible.

Tidak sedikit awak kapal yang ragu terhadap perjalanan ini, “Kapten, apakah kita mampu melewati samudera tersebut? Katanya ombaknya sangat ganas, mungkin kapal ini bisa kandas”. “Kalau tidak kita coba, kita tidak akan pernah tahu kita mampu atau tidak. Kalau tidak kita arungi samudera itu, kita tidak akan tahu seberapa ganas ombaknya. Jadi, kita harus melaluinya. Dengan kesungguhan hati untuk mewujudkan misi yang mulia ini, kita pasti bisa melaluinya “, jawab sang Kapten dengan lantang.

Sang Kapten kapal sangat percaya bahwa Renovatio pasti berhasil menunaikan misi ini. Sang Kapten, dengan lantangnya berseru kepada seluruh awak kapal untuk meneguhkan hati menunaikan misi ini. “Bila kita bersatu, bersungguh-sungguh, dan yakin dengan tujuan mulia misi ini, pasti kita akan berhasil! Ayo kita pasti bisa!”, begitu orasinya saat kapal ini akan berlayar. Melihat semangat yang berapi-api dari pemimpinnya, ribuan awak kapal ini pun akhirnya terlecut semangatnya.

Akhirnya Renovatio pun berlayar, siap mengarungi samudera yang luas walaupun dengan resiko terburuk, kapal bisa kandas, dan seluruh awak kapal bisa kehilangan nyawanya. Dalam perjalanan, sang Kapten dan para petinggi kapal fokus untuk menjaga semangat dan keyakinan para awaknya. Kesejahteraan para awak kapal sangat dijaga, pemberian makan tidak pernah telat, dan bahkan lauk pauknya jauh lebih enak ketimbang yang biasa mereka makan sebelum-sebelumnya. Mereka percaya, bila kesejahteraan seluruh awak kapal terpenuhi, Renovatio akan sangat siap menantang ombak di depan.

Di sepertiga perjalanan, cuaca mulai terlihat tidak bersahabat, hujan dan badai mulai menerpa Renovatio. Beberapa awak kapal terlihat menjadi khawatir, mereka mulai takut dan tidak yakin dengan apa yang sudah mereka pilih. Ketika beberapa kali ombak besar menerpa, mereka langsung menjerit. Mereka tidak terbiasa dengan kondisi ekstrem seperti ini, karena sebagian besar mereka hanya terbiasa mengarungi laut yang tenang. Akhirnya muncullah beberapa awak kapal yang tidak ingin kapal ini terus melaju. Mereka berpikir, untuk apa kita mengorbankan nyawa kita untuk menolong orang lain di daerah tersebut. Lebih baik kita kembali ke kampung halaman, hidup damai, dan berlayar hanya di laut yang tenang. Kelompok ini pun akhirnya memprovokasi awak kapal lain yang awalnya sudah meneguhkan hati. Mulai timbullah suasana yang tidak kondusif di dalam kapal, perpecahan pun terjadi.

Sang Kapten mencoba untuk menenangkan, “Wahai kawan-kawanku, ingatkah kalian apa tujuan kita? Tujuan kita adalah untuk memberi pertolongan kepada jutaan warga disana. Mereka menunggu kita, bila kita tidak sampai disana tepat waktu, mereka semua bisa mati. Kalau bukan kita yang melakukan ini, siapa lagi. Keluarlah dari zona nyaman kalian. Kita tidak boleh menyerah hanya karena kita belum pernah menghadapi kondisi ekstrem seperti ini sebelumnya. Kita tidak pernah tahu seberapa hebat kita bila kita tidak mencobanya.”

“Tapi ini tidak realistis. Kapal ini bisa kandas kalau terus melaju! Anda bisa membuat kita semua kehilangan nyawa!”, sebagian awak kapal tidak setuju dengan sang Kapten. “Peduli amat dengan nyawa jutaan warga itu, toh mereka bukan keluarga kita. Yang penting adalah nyawa kita sendiri dsini!”, yang lainnya menimpali. Mulailah terjadi keributan. Sebagian awak yang kontra ini meminta jabatan kapten diganti, dan kapal putar balik ke tempat semula. Sebagian lainnya hanya diam saja, mereka kebingungan. Secara naluri, mereka tidak ingin membahayakan diri mereka, tapi di sisi yang lain, mereka juga ingin menolong para warga tersebut.

Sang Kapten tetap teguh pada pendiriannya, dia tidak akan mundur, dan tidak akan membuat kapal ini putar balik. Karena dia percaya bahwa bila memiliki tujuan yang baik, pasti akan dimudahkan jalannya. Sang Kapten dengan tegas berseru, “Saya akan tetap berlayar mewujudkan tujuan kita. Yang percaya dengan saya, ayo kita sama-sama mengarungi laut ini. Yang tidak percaya, silakan pergi dari kapal ini!”

Sebagian awak kapal yang kontra dengan kapten menjadi kebingungan, karena usahanya untuk mengganti sang kapten dan membuat kapal putar haluan gagal. Mereka terus mencoba memprovokasi para awak kapal lain serta para chief, second dan third officer, Akhirnya sebagian dari para officer tersebut terhasut dan bergabung dengan kelompok kontra ini. Mereka mengambil jalan terakhir, yaitu melarikan diri. Mereka menggunakan kapal sekoci (kapal penyelamat) untuk kembali pulang ke tempat semula. Kapal sekoci ini seharusnya digunakan saat kondisi darurat, untuk menyelamatkan seluruh awak kapal bila terjadi sesuatu, tetapi oleh kelompok ini malah digunakan untuk menyelamatkan diri mereka sendiri.

ship_sketch

Akhirnya Renovatio tetap terus berlayar, namun dengan kondisi yang sedikit timpang karena ditinggal beberapa awak kapal dan para officernya, bahkan dua orang wakil kapten pun tidak bersedia melanjutkan perjalanan ini. Kondisi kapal pun tidak sempurna lagi, sebagian kapal sekoci telah hilang, dan beberapa bagian kapal berlubang akibat terjadi keributan antara kelompok pro dan kontra.

Kini, dengan kekuatan yang tersisa, Renovatio tetap berusaha untuk melaju mewujudkan tujuannya. Sang Kapten tetap berada di depan, memimpin dengan keteguhan hati yang tinggi. Para wakil kapten, officer dan awak kapal yang tersisa berada di belakangnya, berusaha untuk tetap teguh dan percaya pada pemimpin mereka. Mereka berharap dapat diberi kekuatan oleh Tuhan untuk mengarungi sisa perjalanan ini.

Apakah Renovatio berhasil mengarungi sisa perjalanannya?

Apakah misi yang diemban Renovatio berhasil terwujud?

Kita tidak tahu..karena kisah ini belum selesai. Perjalanan mereka masih jauh. Kita hanya bisa berharap, semoga kisah ini berakhir dengan indah!

………………………….

Delft, 17 Desember 2013

Sebuah ungkapan dari seorang pemuda yang lahir dan besar di daerah pantai utara Jawa: Cirebon, pernah menuntut ilmu Teknik Kelautan di Bandung, bekerja sebagai buruh pelabuhan di Tanjung Priok, dan sekarang sedang menuntut ilmu (lagi) di sebuah negeri di bawah laut.

Masih mencoba membantu mengurai suatu benang yang kusut, dan berharap dapat merangkainya menjadi sebuah kain yang indah

Advertisements