Tentang Sang Hijau

Sore ini saya iseng mengintip group U-Green di facebook, sekedar ingin mengetahui kabar terbaru, kali aja U-Green udah bubar. Syukur alhamdulillah, saat saya intip, suasananya masih ramai lancar (kaya jalan tol aja :p). Berarti U-Green belum bubar. haha. Ternyata saat ini U-Green lagi proses pemilihan ketua baru. WOW! Udah ada ketua baru lagi aja. Perasaan, ketua yang kemaren aja belum pernah sungkeman sama saya.haha. *siapa elu :p

Saya jadi tergerak untuk menuliskan sesuatu tentang U-Green ini, sekedar untuk bernostalgia mengenang masa-masa indah dulu..halah..(Baca juga: terima kasih sang hijau)

Tentang U-Green ITB

U-green logoMungkin bagi mahasiswa ITB angkatan 2004 ke bawah (2003, 2002, dst), unit bernama U-Green ini terasa asing di telinga. Mereka mungkin lebih kenalnya Greenpeace, yang biasa mangkal di pintu gerbang ITB. haha. Ya, U-Green memang tergolong sebuah unit yang masih hijau (seperti namanya :p). 16 Agustus nanti U-Green genap berusia 8 tahun. Kalau dianalogikan sebagai manusia, ya berarti tahun ini U-Green sudah masuk SD. Tapi meskipun masih anak SD, ternyata U-Green sudah menjelma menjadi salah satu unit kegiatan mahasiswa yang paling eksis di ITB. Jumlah anggotanya pun tergolong yang cukup banyak untuk ukuran unit dari rumpun pendidikan. Bahkan saat saya mahasiswa dulu, setiap tahunnya yang mendaftar untuk menjadi anggota U-Green selalu di atas 500 orang!

Uniknya ketika saya masuk ITB di tahun 2006, U-Green ternyata baru saja resmi terbentuk. Ya, menurut AD/ART U-Green memang dibentuk pada tanggal 16 Agustus 2006, walaupun sebenarnya inisiasi pembentukannya sudah dari sebelumnya. U-Green sendiri dibentuk atas dasar keprihatinan mahasiswa-mahasiswa ITB atas kondisi lingkungan dan bumi yang sudah tidak baik lagi. Mungkin bagi mahasiswa Teknik Lingkungan (mayoritas pemrakarsa pembentukan U-Green), mereka bisa merealisasikannya melalui himpunan mereka, HMTL, tapi bagaimana bagi mahasiswa dari jurusan lain, Tambang, Geodesi, Perminyakan, atau mungkin Kelautan? Emangnya anak jurusan lain ga boleh cinta sama anak lingkungan, eh cinta sama lingkungan maksudnya. :p Oleh karena itu, untuk mewadahi kecintaan akan lingkungan dari semua mahasiswa dari berbagai jurusan, maka dibentuklah sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa bernama U-Green. Sesederhana itu alasannya.

“Sebuah alasan yang sangat sederhana untuk suatu mimpi yang tidak sederhana”

Oiya, konon katanya juga ketika awal dibentuk, nama unit ini bukanlah U-Green tapi Unit Hejo yang disingkat jadi U-Jo. Karena mayoritas anggotanya adalah cewe, jadi bisa ditebaklah ya apa motivasi yang cowo-cowo untuk gabung dengan unit ini, apa lagi kalau bukan mencari jodoh. Makanya U-Jo juga bisa dibilang sebagai Unit Jodoh! hehe. Karena dirasa Hejo tidak mewakili ke-universalan, makanya digantilah dengan Green, sehingga jadilah U-Green seperti yang sekarang kita kenal.

Arti Kekeluargaan

Salah satu hal yang membuat dulu saya akhirnya menambatkan hati pada U-Green adalah karena suasana kekeluargaannya yang sangat kental. Yang saya rasakan adalah tidak ada perbedaan perlakuan untuk semua anggotanya. Mau yang anak TL, KL, SI, Bio atau SBM sekalipun memiliki status yang sama. Bahkan untuk saya yang saat itu masih ga tau apa-apa tentang permasalahan lingkungan. Jangankan tau tentang global warming, wong buang sampah aja saya masih buang di tas temen saya.hehe. Pokonya, siapapun yang ingin berkontribusi terhadap lingkungan silakan masuk dan aktif di U-Green, begitulah aturannya.

Pernah beberapa hari setelah saya dilantik sebagai Greeners (sebutan untuk anggota U-Green), saya dikasi secara cuma-cuma kunci sekre U-Green. Dan pada suatu siang, saya iseng untuk masuk ke sekre, yang berlokasi di Sunken Court E-06, dan kebetulan saat itu ga da sapa-sapa. Di dalam sekre ada beberapa barang yang cukup berharga, kulkas, tv, dan sofa. Tiba-tiba aja saya berpikir, “Ini unit gila juga ya, ngasi kunci ke gw secara cuma-cuma tanpa ada tes kejujuran atau tes dedikasi dulu kek. Kalo gw jahat kan gw bisa gondol nih kulkas, tv dan sofa, lumayan di kosan ga ada yang begini.haha.” Tapi karna saya anaknya baik hati, tidak sombong dan rajin menabung, akhirnya saya urungkan niat ngegondol barang-barang itu (lagian berat juga :p). Malahan, setelah kejadian itu akhirnya saya berjanji dalam hati, akan membalas kepercayaan yang telah dikasi oleh unit ini kepada saya. Ya, saya akan berkontribusi lebih di organisasi ini, yang kelak saya anggap sebagai “keluarga” saya di kampus Ganesha.

Sekre tercinta, Sunken Court E-06

Sekre tercinta, Sunken Court E-06

Budaya Musyawarah

Bagi saya, ini adalah salah satu kelebihan U-Green dibanding organisasi-organisasi lain yang pernah saya hinggapi, yaitu budaya Musyawarah. Untuk memilih ketuanya, U-Green memang menggunakan mekanisme musyawarah anggota bukan pemungutan suara atau voting seperti organisasi lain pada umumnya. (kecuali untuk pemilihan ketua angkatan pertama, yang saat itu masih menggunakan sistem voting). Saya sendiri telah mengalami berbagai peran dalam proses musyawarah anggota ini.

Yang pertama, saya merasakan bagaimana deg-degannya menunggu hasil musyawarah, karena saat itu saya berperan sebagai calon yang sedang dibicarakan di musyawarah tersebut bersama dengan Dirga dan Tian, dua calon lainnya. Menunggu 2 jam rasanya seperti menunggu bintang jatuh, lamaaa banget. lebay mode on :p Yang kedua, saya bertindak sebagai pimpinan sidang dalam musyawarah pemilihan ketua U-Green ke-3. Saat itu calonnya ada 4 orang, jadi kebayang susahnya memimpin musyawarah tersebut. Tapi alhamdulillah musyawarahnya mencapai mufakat tanpa harus ada voting, dan juga tanpa harus ada pertumpahan darah.haha. Dan hebatnya, ketua yang terpilih adalah seorang perempuan! Yang ketiga, inilah yang paling saya suka, karena saya hanya bertindak sebagai peserta saat pemilihan ketua U-Green ke-4, jadi saya bebas mengutarakan pendapat. Saat itu calaonnya ada 5 orang! Pasti pusing banget tuh yang jadi pimpinan sidang. hehe.

Ya, semoga aja U-Green terus mempertahankan budaya musyawarah ini. Karena tanpa disadari, ini adalah kekayaan mereka, kekayaan yang bisa mempererat ikatan diantara para anggotanya.

Suasana saat musyawarah pemilihan ketua U-Green ke-2, 1 Oktober 2007

Kiri: 3 calon yang sedang deg-degan mendengarkan hasil dari musyawarah; Kanan: beberapa detik kemudian setelah diumumkan hasilnya, kami saling berepelukan dan tertawa (tapi kami bukan maho ya!!!)

Kiri: 3 calon yang sedang deg-degan mendengarkan hasil dari musyawarah; Kanan: beberapa detik kemudian setelah diumumkan hasilnya, kami saling berpelukan dan tertawa (tapi kami bukan maho ya!!!)

Bayi yang sudah harus terbang

Di setiap rapat atau kumpul-kumpul, saya seringkali menyebutkan kepada anggota U-Green yang lain bahwa U-Green itu ibaratnya adalah bayi (karena saat itu baru berusia 2 tahunan), tapi sudah harus belajar terbang, bukan lagi belajar merangkak atau berjalan. Mengapa seperti itu? Karena saat itu perkembangan U-Green sangatlah pesat, permasalahan lingkungan sedang hot-hotnya, berimbas pada meningkatnya antusiasme mahasiswa baru untuk bergabung, mahasiswa lama yang tidak kesampean masuk U-Green juga tidak kalah penasaran. Peran U-Green semakin strategis karena memiliki anggota dari berbagai jurusan. Pada akhirnya, orang-orang di luar sana menunggu kontribusi U-Green untuk memberikan solusi terhadap berbagai permasalahan lingkungan baik di kampus maupun kota Bandung. Itulah kenapa saya menyebutnya dengan “terbang”. Karena ternyata di usia yang masih balita ini, tantangan U-Green sangatlah besar, ditambah lagi ekspektasi yang cukup tinggi dari pihak luar. Jadi, saat itu U-Green tidak bisa hanya berleha-leha, seperti organisasi yang masih berusia balita pada umumnya.

Entah bagaimana awalnya, ternyata U-Green juga menginspirasi kampus-kampus lain untuk membentuk unit kegiatan mahasiswa di bidang lingkungan. Ada GreenConcept di IPB, Pondok Hijau di Udayana, GreenAnt di UnPar, 123 (One to Tree) di Undip, lalu ada di UNS dan beberapa kampus lainnya (lupa yang lainnya. :p). Ini menjadi kebanggaan sekaligus beban bagi U-Green. U-Green harus bisa memberi teladan yang baik bagi organisasi-organisasi itu. Ya, analogi lainnya adalah, U-Green yang masih balita ini ternyata sudah memiliki banyak adik, subur amat ya orang tuanya. haha.

u-green..to be continued….

<<<>>>

Sang Hijau dalam bingkai

SiGab (2)Persiapan acara SiGab #1 (Bersih-bersih Gasibu). Inilah kampanye lingkungan pertama yang saya ikutin. Kami mengeliling Gasibu pada hari Minggu pagi yang penuh akan pasar tumpah, memberi edukasi kepada seluruh pedagang dan masyarakat tentang budaya membuang sampah pada tempatnya dan memilah sampah. Setelah acara ini, kami angkatan 2006 akhirnya dilantik jadi Greeners 06. Hurayy..:)

oOo

Image(096)Setelah dilantik jadi Greeners, harus berkewajiban menanam pohon. Maka menanamlah kami beramai-ramai di Sabuga ITB, dekat pusat pengelolaan sampah ITB.

oOo

Picture 317Detik-detik pelantikan Greeners 2008. Kasian juga ya mereka pada ditutup matanya. Tadinya malah pengen sekalian disuruh buka baju. haha.

oOo

CIMG2395My Dream Team!!! (tidak semua ada di foto ini) Terima kasih banyak atas kebersamaannya selama 1 tahun 5 bulan dan 4 hari! 🙂
Masa kepengurusan Greeners 2006 ini mungkin akan menjadi yang terlama dalam sejarah U-Green, karena saat itu Badan Pengurusnya memang naik secara prematur. Setelah angkatan 2004, harusnya adalah 2005, tapi berhubung angkatan 2005-nya “ga ada”, jadilah angkatan 2006 yang langsung naik. Karena kehilangan satu angkatan ini, maka kami harus mensiasati dengan memperpanjang periode kepengurusan. Periode kepengurusan kami adalah 2007/2009 (1 Oktober 2007 – 5 April 2009). Meskipun prematur, kami akhirnya bisa membuktikan bahwa kami adalah tim yang hebat!

oOo

“Sebuah perjalanan panjang yang melelahkan, namun memberi arti istimewa bagi sebuah keluarga. Butuh pengorbanan dan keihklasan untuk mewujudkan sebuah impian bersama. Terima kasih untuk Sang Hijau yang telah menyatukan kami semua dalam suatu ikatan yang tulus.” -Burhanudinsyah-

Delft, 15 Maret 2014

Advertisements

Kisah Lain tentang Kampusku #1

Tidak sengaja iseng meluncur di om google dan ternyata terdampar di artikel unik tentang kampus saya dulu. Setelah hampir tiga tahun lulus dari kampus itu, ternyata banyak hal yang baru saya tahu sekarang. Ah, oon juga nih saya..haha.. Berikut beberapa cerita tentang sisi lain dari kampusku, sebuah kampus kecil yang nangkring di tengah kota Bandung.

:::

Technische Hoogeschool te-Bandoeng

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Technische_Hogeschool_aan_het_IJzermanpark_te_Bandung_Java_TMnr_10002359

“Niet Eindhoven maar Bandoeng was de tweede Nederlandse TH”

Bukan TH Eindhoven, melainkan TH Bandung-lah TH Belanda yang kedua. Kalimat tersebut diucapkan Professor Duparc, guru besar matematika TH Delft. Mungkin terdengar berlebihan namun memang faktanya demikian. Polytechnische School te Delft yang dibentuk tahun 1904 ditingkatkan statusnya menjadi Technische Hoogeschool Delft tahun 1905. Lima belas tahun kemudian kalangan swasta Belanda mendirikan TH kedua di Bandung (3 Juli 1920). Baru kemudian tahun 1956 didirikanlah TH ketiga di Eindhoven, dimana Rektor keduanya adalah guru besar TH Bandung & mantan Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Teknik Nood Universiteit/Universiteit van Indonesie Bandung (Maret 1946-1950).

TH Delft sekarang berganti nama menjadi TU Delft (Delft University of Technology), dan TH Eindhoven menjadi TU Eindhoven. TH Bandung sendiri tentu saja berganti nama menjadi Institut Teknologi Bandung (ITB). TU Delft adalah Universitas teknik paling terkenal dan konon terbaik di Belanda. Beberapa diantara kami menyebutnya ini adalah ITB-nya Belanda. Dari kisah di atas berarti bisa dibilang ITB dan TU Delft itu sebenarnya kakak adik, tapi ibunya siapa ya? :p  Saya sendiri sekarang kuliah di Delft, tapi bukan di TU Delft sih, ya tetangganya lah.. hehe. Kapan-kapan saya maen ah ke tempat kakak almamater saya. haha.

<>

Layout Simetris ITB

bandung_1933_north_1

sumber: bandungsae.com

Jadi dulu kampus Technische Hoogeschool berada di kawasan Bandung utara yang bangunan-bangunannya ditata secara simetris dengan poros utara-selatan yang sejajar dengan sumbu utara-selatan area rencana pusat pemerintahan Hindia Belanda yaitu di kawasan disekitar Gedung Sate sampai dengan Jl. Tubagus Ismail sekarang (namun terhenti karena adanya PD II). Poros tersebut jika ditarik ke utara akan tepat menuju ke Gunung Tangkuban Perahu.

<>

Kisah Peresmian Kampus ITB 2 Maret 1959 (1)

76

Mahasiswa yg bertugas sbg Panitia Pameran berpose disamping papan petunjuk arah (masih pake kapur tulis mennn..:p)

Kalau tentang ITB yang sempat jadi bagian dari UI pasti sebagian besar udah pada tau lah ya. Nah, ini ada beberapa kisah lucu terkait proses pembentukan ITB yang diutarakan oleh pak Hadiwaratama.

…..Dari Aldy Anwar-lah kami tahu kabar adanya rencana pembentukan institusi baru. Saat itu dia bilang FT dan FIPIA mau dipisah dari UI dan akan didirikan Perguruan Tinggi baru. Istilah sekarang mungkin“ “pemekaran”! Ternyata dikemudian hari Fakultas Kedokteran Hewan dan Fakultas Pertanian-nya dipisah dari UI juga, dan jadi IPB. Lantas Universitas apa namanya? Katanya bukan Universitas, tapi Institut. Waduh kecewa nian saat itu, kok Institut, apa pula itu! Kami kan belum akrab dengan nama Institut, belum kenal MIT meskipun Aldy mencoba menjelaskannya! Rasanya kok tidak nyaman gitu lho! Universitas lebih keren!

Lantas namanya apa? Katanya lagi dirembug-rembug, oleh dewa-dewa kali ya! Yang pasti Institut Teknologi. Nama kemungkinan Bung Karno, tapi masih ada yang tidak setuju karena BK masih hidup. Akhirnya terbetik berita namanya Bandung. Waduh rasanya kok jadi kecil, masa dari Indonesia terus cuma jadi Bandung. Awal-awal makai nama ITB kok gimana yah, canggung! Hampir-hampir tidak ada kebanggaan, orang tidak kenal. Penduduk Bandung lebih kenal TH! Kalau sekarang kan lain brand immage-nya melangit, sekalipun di atas langit masih ada langit. Nya ITB tea..haha.

<>

Kisah Peresmian Kampus ITB 2 Maret 1959 (2)

Ternyata eh ternyata, saat peresmian Kampus ITB tanggal 2 Maret 1959, selain didatangi langsung oleh Presiden Soekarno, juga didatangi oleh Presiden Vietnam Utara, Ho Chi Minh. Kelak Ho Chi Minh ini dijadikan nama kota pengganti kota Saigon, yang merupakan salah satu kota terbesar di Vietnam. Nah, berikut kisahnya:

sukarno5hociminh

Dua Presiden dalam satu payung… Presiden RI Ir. Soekarno & Presiden Vietnam Utara Ho Ci Minh (Paman Hoo)

“Kemudian keduanya diantar berjalan ke dalam kampus, ke tempat duduknya. Kalau sekarang kan tidak mungkin keamanan Presiden selonggar itu. Penulis dan teman-teman pengamanan gerbang depan, berdiri-berdiri saja di sekitar regol jam, sambil mengawasi.

Kesan penulis melihat dari dekat kedua Pemimpin Besar bangsa masing-masing itu masih melekat sampai saat ini. Yang satu sedang berjuang merebut kembali Irian Barat, yang satunya sedang berjuang merebut kembali Vietnam Selatan. Bukan main hebat keduanya.

Tetapi penampilan jauh berbeda, yang satu keren chic/necis pakai peci dan kaca mata hitam, tak lupa tongkat komando, jalannya tegap pakai setelan jas safari sedang yang satunya pakai baju/jas potong Cina kain blacu, jadi tidak putih lah, pakai trompah (pasti bikinan Vietnam karena saat itu belum ada trompah bandol/ban bodol ITB), kulit muka putih bersih, rambut putih, jenggot putih Cina – bukan Arab jadi nggak lebat gitu lho! Jalannya tidak setegap Bung Karno, cenderung bagaimana ya?! Mirip Cina klontong yang keluar masuk desa/kampung sambil mutar-mutar klontongannya dan bunyi tung tung…. tung tung…. tung tung, cuma tidak bertopi.

Bung Karno memanggilnya“Paman Hoo. Betul-betul bersahaja penampilan pemimpin besar Vietnam itu. Sekarang ekonomi dan industri Vietnam sudah bangkit. Indonesia tidak bisa lagi mengandalkan comparative advantage upah buruh murah, kecuali kemahiran dan profesionalitas.

Karena jaga ngawasi pintu masuk, penulis tidak perhatikan apa pidato Bung Karno maupun Ho Chi Minh. Pasti masalah perjuangan! Karena peresmian lembaga tinggi pendidikan, penulis sepintas dengar pidato begini:

Ilmu itu bagaikan air amerta, air kehidupan, jadi jangan takut sekalipun berada di tengah racun kita harus berani mendapatkannya.

Entah Bung Karno entah Menteri Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan (saat itu Dr. Priyono) yang mengucapkan, lupa. Dr. Priyono, pakar Kesastraan Jawa Kuna dalam sambutannya menyebut “para mahasiswa dan mahasiswati. Ketika Bung Karno mulai pidato nyebut “para mahasiswa dan …………….., berhenti sejenak pendengar terdiam tegang apa akan sama dengan Dr. Priyono tidak, ternyata akhirnya bilang ………… “mahasiswi” ! Semua bertepuk tangan riuh, mungkin karena lepas dari ketegangan. Penulis juga ikut tepuk tangan, karena “itu” pasti akan menjadi istilah resmi! Begitulah awal “mahasiswi” !

Entah di ITB itu, atau di mana Bung Karno mulai membakar semangat dengan suara berapi-api. Kita bukan bangsa tempe………………….. dst, dst ! Padahal tiap hari kita makan tempe tahu. Kalau sarapan enggak ada tempe dan tahu goreng + sambal kecap rasanya cemplang! Apa maksudnya sebagai bangsa yang lembek, mudah membusuk ?! Bukankah sambal tempe bosok kalau nasinya liwet anget bukan main pula nikmatnya, apalagi itu di waktu hujan sore-sore!”

Jangan jadi bangsa tempe! :p

Jangan jadi bangsa tempe! :p

Sumber lain tentang Pidato….

Dalam sambutannya Presiden Soekarno menyinggung peran yang diinginkan dari ITB, yaitu untuk berfungsi sebagai lembaga pendidikan ilmiah & teknologi, untuk dapat membawa Indonesia menuju ke suatu negara modern dengan industrinya.

Beliau sengaja menyebut dua hal, yaitu untuk tidak mengaplikasikan ide-ide swadesinya Mahatma Gandhi, akan tetapi mengembangkan Indonesia sebagai negara modern dengan industrinya dimana listrik berperan besar. Beliau menyatakan bahwa dalam dua puluh lima tahun listrik harus telah sampai di puncak-puncak gunung & adalah kewajiban ITB untuk dapat turut menciptakannya.

56

Hayo loh anak Elektro..ini udah 54 tahun sejak Bung Karno pidato loh! :p Apa kabar listrik di ujung-ujung terpencil negara kita ya? Untung aja dulu Teknik Kelautan belum ada, coba kalau udah ada, mungkin Bung Karno akan bilang gini dalam pidatonya, “Kita adalah negara maritim, semua wilayah di seluruh Nusantara harus terhubung dengan membuat pelabuhan-pelabuhan untuk mengangkut barang dan manusia & adalah kewajiban ITB untuk dapat turut menciptakannya!” Nah, kalo udah gini saya yang anak KL kan jadi merasa tersipu-sipu malu..haha..

<>

Hikayat Lambang Ganesha untuk Lambang ITB

Inilah penuturan Prof. A. D. Pirous (mantan guru besar Desain Komunikasi Visual FSRD ITB, Bapak DKV ITB & Bapak DKV Indonesia) tentang lahirnya lambang ITB:

Sebagai sebuah perguruan tinggi yang baru, ITB tentu memerlukan sebuah Iambang yang khas, sebagai identitas ITB yang dapat dipakai atau ditampilkan dalam segala bentuk kegiatan ITB. Lambang yang pernah ada yang dipakai sejak 1946 sampai 1950, ketika perguruan tinggi tersebut masih bernama Faculteit van Technische Wetenschap Bandoeng, tentulah tidak terpakai Iagi. Demikian pula lambang yang dipakai ketika masih rnenjadi bagian dari Universitas Indonesia, dengan bentuk Iambang yang menampilkan gambar stilasi dari pohon pisang kipas yang masa itu masih banyak tumbuh menghias halaman depan kampus UI di Salemba harus diakhiri penggunaannya. Lambang UI ini pernah dipakai di kampus antara 1950-1959.

Logo TH 1920-1942Logo TH 1920-1942

Logo Faculteit van Technische Wetenschap Bandoeng 1946-1952Logo Faculteit van Technische Wetenschap Bandoeng 1946-1952

LogoUI-bwLogo Faculteit Teknik Universiteit Indonesia Bandoeng 1952-1959

Timbullah masalah bagaimana menciptakan Iambang yang baru bagi ITB. Menurut cerita yang pernah disampaikan oIeh almarhum A. Sadali yang konon mendapat informasi dari alm Prof. S. Soemardja dari Seni Rupa ITB; Beliau mengisahkan pada saya sebagai berikut:

“Setelah berminggu-minggu belum juga ditemukan objek atau bentuk yang dapat dikembangkan menjadi dasar Iambang, tercetuslah gagasan untuk mengajak beberapa guru besar saat itu seperti Prof. Ir. Soetedjo, Prof. S. Soemardja, Prof. Soemono, Prof. Ir. R.O. Kosasih dll utk berjalan-jalan di sekitar kampus untuk mencari ide. Mereka berkeliling sekitar kampus sambil menatap Gunung Tangkuban Perahu, menyimak keunikan bangunan aula dengan atap dan konstruksinya yang khas, melihat taman yang berada di depan pintu gerbang masuk kampus, sambil mengkaji sejarah awal berdirinya perguruan tinggi di kampus itu.

Mereka tetap saja belum menemukan hal-hal yang spesifik untuk dijadikan awal gagasan. Pada akhirnya rombongan ini sampai ke jam outdoor yang terpasang tidak jauh dari gerbang depan kampus. Ini merupakan satu-satunya jam umum yang masih kita temukan sampai sekarang. Ketika menatap jam tersebut mereka melihat dua buah patung Ganesha kecil yang dipasang di bawah jam tersebut. Tepatnya di sisi kiri dan kanan jalan dan menghadap ke depan. Patung-patung Ganesha tersebut masih Iengkap dengan atributnya, yang merupakan hasil temuan beberapa tahun sebelumnya dari penggalian di situs-situs candi di Jawa Tengah oIeh para arkeolog asing. Selain dari dua patung Ganesha itu masih ada pula beberapa patung penemuan Iainnya yang disimpan di Bagian Seni Rupa. Kesemua patung tersebut, konon belum ikut didaftarkan di Musem Gajah di Jakarta.

Ketika melihat kedua patung Ganesha yang duduk dengan tenang, tiba-tiba semua bersepakat untuk memulai wawasan mengembangkan lambang ITB dari patung Ganesha tersebut. Tindakan selanjutnya adalah kembali meminta bantuan Bagian Seni Rupa untuk menjelmakan sosok patung 3 dimensi tersebut ke dalam bentuk gambar 2 dimensi yang kelak dapat dipakai sebagai Iambang.

Lalu Bagian Seni Rupa menugaskan Srihadi S., seorang pelukis muda yang dianggap paling berbakat, untuk rnembuatkan desainnya yang kemungkinan dibantu pula oleh beberapa asisten. Setelah berproses lama lahirlah bentuk Iambang yang didesain oleh Srihadi, yang kita kenal sampai sekarang sebagai lambang ITB.”

LogoITB2000
Arti Lambang Ganesa:
Ganesa melambangkan Ilmu dan Teknologi yang mengandung unsur-unsur simbolik sebagai berikut:
a. Gading yang patah melambangkan kerelaan berkorban dalam menuntut kemajuan ilmu pengetahuan.
b. Cawan melambangkan sumber ilmu yang tak habis-habisnya.
c. Tasbih, tali manik-manik melambangkan kebijaksanaan.
d. Kapak melambangkan keberanian dan kebijakan.
e. Selendang yang disampirkan di pundak melambangkan kesucian.
f. Buku yang terbuka melambangkan himpunan ilmu pengetahuan.

Nah, mengenai logo ini, ada yang bilang konon katanya logo ITB yang dulu (Tehnische Hoogeschool) itu ada unsur freemasonnya. Benarkah seperti itu?

ITB freemason

<>

Bersambung…

Link sumber artikel

Kepada om cucuganesha, selaku agan yang memposting kisah Babad Tanah Ganesha, mohon izin untuk mencuplik beberapa bagian dari thread yang agan buat. Semoga agan mau mengizinkannya..hehe..

Lentera Angin dan Sang Penari Langit

Prolog: 8 jahitan

BAAANG!! Rasanya seperti anda berlari dengan kecepatan 10 meter per detik dan kemudian menabrak sebuah tembok. Sakit karena lukanya tidak terlalu terasa, tapi yang sangat terasa adalah sensasi pusingnya. Untung saja saat itu saya tidak langsung jatuh dari menara bambu itu. Ya itulah rasanya ketika kepala anda beradu dengan sebuah baling-baling turbin angin. Karena tidak konsentrasi saat akan menghentikan putaran baling-baling, saya harus merelakan bagian dahi kanan saya terluka cukup dalam dan harus dijahit sebanyak 8 jahitan! Gara-gara benturan itu juga, satu dari lima baling-baling turbin angin yang sedang kami uji cobakan menjadi rusak. “Hebat juga kekuatan tengkorak manusia,” pikirku saat itu. haha.

pengujian cirebon

Suasana pengujian di Cirebon, beberapa jam sebelum kepala saya terbentur

Petemuan dengan Ricky Elson

“Wah, jangan main-main ini,” selorohku ketika diceritakan oleh Zula, Deni dan Junita tentang akan ada pengiriman sebuah protoype mesin micro wind turbin dari Jepang ke markas kecil kami di Inkubator Bisnis ITB.  Ya, saat itu saya diceritakan tentang pertemuan mereka dengan seseorang bernama Ricky Elson di bandara Soekarno Hatta. Ricky Elson ini sedang mencari partner untuk membangun sebuah project besar bertemakan energi terbarukan, yaitu pembangkit listrik tenaga angin. Dia mencari partner pemuda-pemudi yang memiliki semangat membangun bangsa dan memiliki idealisme yang tinggi. Kebetulan saat itu kami memang sedang “iseng” mengulik beberapa potensi energi terbarukan. Dan tampaknya dia melihat kami sebagai target yang cocok.

Ricky Elson, itulah nama mentor, inspirator, motivator, sekaligus motor penggerak project yang kami kerjakan saat itu. Bagi saya pribadi, kisah hidupnya sungguh luar biasa. Berasal dari keluarga yang sangat sederhana di daerah Padang sana, dia akhirnya bisa mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Jepang, setelah sebelumnya sempat kuliah di Universitas Andalas beberapa bulan. Kisah perjuangan dia di Jepang dan semangat hidupnya membuat saya merinding sekaligus malu. Malu karena rasanya waktu yang saya habiskan untuk kuliah di kampus Ganesha ini tidak dipergunakan dengan baik.

Mas Ricky, biasa kami panggil, sudah lebih dari 13 tahun sekolah dan bekerja di Jepang. Dia adalah ahli motor yang sudah memiliki banyak paten (motor disini artinya bukan sepeda motor ya, anak mesin pastinya tau apa itu motor. hehe). Dalam beberapa tahun terakhir, dia serius mengembangkan micro wind turbin atau pembangkit listrik tenaga angin skala micro. Mengapa harus skala micro? Karena menurut beliau, itulah yang cocok untuk kondisi geografis dan angin di Indonesia dan juga agar mudah untuk diinstalasi di berbagai pelosok tanah air yang belum tersentuh dengan listrik. Setelah melalui berbagai perjuangan, akhirnya mas Ricky bisa menciptakan sebuah prototype micro wind turbin yang harapannya bisa diaplikasikan untuk tanah airnya tercinta, Indonesia. Tapi bagaimanakah cara itu semua dibawa ke Indonesia, sedangkan saat itu mas Ricky masih bekerja di sebuah perusahaan motor terkemuka di Jepang? Tuhan tentunya telah menyiapkan skenarionya.

Kiri: komponen-komponen prototype turbin angin pertama yang dikirim langsung oleh mas Ricky dari Jepang; Kanan: proses pemasangan turbin angin di Dago, Bandung

Kiri: komponen-komponen prototype turbin angin pertama yang dikirim langsung oleh mas Ricky dari Jepang; Kanan: proses pemasangan turbin angin di Dago, Bandung

Metamorfosis Alterco menjadi LAN

Alterco, itulah tim kecil yang kami bentuk, sebuah keisengan dari beberapa mahasiswa tingkat akhir yang ingin mengisi hari-hari terakhirnya di kampus Ganesha dengan sesuatu yang berkesan. Formasi awal Alterco adalah Junita (T. Industri 06), Deni (Planologi 06), Zula (Planologi 06) dan saya sendiri. Awalnya Alterco hanya loncat dari satu kompetisi ke kompetisi yang lain, dan kami mengusung tentang energi terbarukan. Kami sempat masuk menjadi finalis di beberapa kompetisi dan lolos dalam program kewirausahaan mahasiswa. Tapi kami belum sempat untuk merealisasikan ide-ide kami. Barulah saat bertemu Ricky Elson kami mendapatkan kesempatan itu.

Dengan terjadinya kesepakatan antara kami dan mas Ricky, maka Alterco resmi fokus dalam mengembangkan pembangkit listrik tenaga angin. Itu artinya kami harus membentuk tim baru yang lebih kompeten dan juga mungkin sebuah brand baru. Lentera Angin Nusantara atau LAN, itulah nama baru yang akhirnya kami sepakati untuk tim ini, atau mungkin nama perusahaan kami kelak, ketika akhirnya project kami ini berhasil. Jadi, LAN merupakan bentuk metamorfosis dari Alterco. Mengapa Lentera? Karena kami ingin memberikan secercah kecil cahaya yang dapat menerangi di tengah kegelapan, untuk Nusantara tercinta ini.

Tidak terbayang seorang mahasiswa teknik kelautan justru malah mengerjakan project turbin angin. Mungkin kalau pembangkit listrik tenaga arus laut atau microhydro masih sedikit nyambung dengan jurusan saya. Tapi kalau angin? Jaka Sembung naik odong-odong, enggak nyambung donk! Agak bingung memang dengan jalan hidup saya saat itu, apalagi konsentrasi saya terpecah karena harus menyelesaikan tugas akhir, kalau mau lulus dari ITB, dan juga sedang membangun bisnis kuliner Mushroom Factory. Tapi entah kenapa, saya seperti digerakkan oleh suatu energi tertentu untuk membantu project ini.

Pembentukan tim LAN

tim LAN dan TSD

Tim LAN generasi pertama bersama The Sky Dancer

Dari semua tim yang pernah saya ikutin dan membantu dalam pembentukannya, tim LAN adalah yang paling unik. Ya, biasanya ketika saya mengajak seseorang untuk bergabung dalam sebuah tim, kriteria utama adalah memiliki passion dan visi yang sama, background jurusan tidak masalah. Tapi untuk LAN, keduanya adalah yang utama. Kami perlu orang-orang yang punya kompetensi dalam bidang tertentu, tapi juga punya passion dan visi yang sama dalam membangun sebuah bisnis dari awal. Saya pribadi sangat menikmati proses “pencarian” orang-orang yang akan bergabung dengan LAN ini.

Kami berempat nekat untuk datang ke Laboratorium Penerbangan, yang di dalamnya ada pesawat terbang beneran (baru kali itu saya mengunjungi lab tersebut.hehe), hanya untuk mencari anak Penerbangan yang tertarik di bidang baling-baling turbin angin dan juga memiliki passion dan visi yang sama. Dan ternyata kami bertemu Ade (T. Penerbangan 07). Lalu Ade mengajak Conk (T. Penerbangan 07), mereka berdua sangat antusias dengan apa yang akan kami kerjakan. Kemudian dengan beberapa koneksi pertemanan, kami beruntung mendapatkan dua orang mantan anggota T-Files, yaitu Fuad (T. Penerbangan 05) dan Nida (Oseanografi 03). T-Files adalah sebuah perusahaan energi yang baru dibangun, mirip dengan LAN, tapi mereka di bidang pembangkit listrik tenaga arus laut.

Untuk mendapat transfer knowledge yang lebih cepat dari mas Ricky, maka kami perlu anak mesin yang paham tentang generator dan proses yang terjadi di turbin angin, akhirnya saya mengajak rekan lama saya, Sandra (T. Mesin 06) dan Depe (T. Mesin 07). Tak disangka, Conk juga berhasil mengajak Amel (T. Fisika 07), kelak Amel inilah satu-satunya orang yang tetap bertahan di LAN hingga sekarang. Sebagai pelengkap, saya mengajak Babay (T. Lingkungan 06), saya mempersiapkan dia untuk menjadi pengganti saya bila saya benar-benar harus meninggalkan LAN.

Tim LAN saat Outing di Taman Hutan Raya

Tim LAN saat Outing di Taman Hutan Raya; (Sebelah kiri: Tim LAN saat bermain game team building favorit saya, “bambu ajaib”)

Sang Penari Langit

TSD“The Sky Dancer” atau TSD-500, itulah nama produk yang kami sematkan untuk prototype produk tipe pertama (daya 500 Watt), dan untuk produk satu lagi kami beri nama “Kolecher” (daya 250 Watt). The Sky Dancer atau Sang Penari Langit rasanya merupakan usulan nama dari Mas Ricky, karena memang beliau lah yang membuat prototype ini dari nol. Kami tim LAN, belum berkontribusi dalam pembuatan dua prototype turbin angin ini. Entah mengapa, saya sangat suka dengan nama versi Indonesianya. Ada sebuah kenikmatan tersendiri ketika melihat sang penari langit berputar kencang karena angin. Dan tentu saja, sang penari langit inilah yang menyebabkan dahi saya dijahit 8 jahitan. hehe.

Sebuah jalan yang panjang, terjal dan berliku

Tidak mudah memang membangun sebuah bisnis dari nol, apalagi bisnis yang tidak hanya money oriented istilah lainnya adalah sociopreneurship. Tujuan kami memang tidak hanya mencari keuntungan, tetapi ada tujuan lain yang lebih penting dari itu, yaitu menerangi pelosok-pelosok daerah di negeri ini. Sebuah kebahagiaan bagi kami bila sang penari langit bisa memberi manfaat bagi masyarakat di tempat yang nan jauh disana, yang sangat membutuhkan listrik barang hanya beberapa jam saja, tidak perlu seharian. Butuh beberapa tahun untuk benar-benar melihat hasil dari apa yang kami usahakan, tidak akan semudah seperti membalikkan telapak tangan. Mungkin karena alasan itulah beberapa anggota LAN memilih untuk tidak ikut bergabung lagi, termasuk saya sendiri.

Mei 2011, akhirnya saya memutuskan untuk bekerja di Jakarta. Artinya, saya akan meninggalkan teman-teman saya di LAN. Sebuah keputusan yang sulit memang, tapi itulah jalan yang harus saya ambil. Banyak alasan yang menyebabkan saya akhirnya memilih untuk bekerja, tetapi rasanya alasan-alasan itu hanya akan menjadi sebuah pembelaan semata. Saya tidak akan memberikan suatu pembelaan. Beberapa kali saya masih menyempatkan ke Bandung saat weekend, sekedar untuk melihat wajah-wajah mereka dan tentu saja memberi dorongan semangat, dan sesekali membantu bila memang diperlukan. Sampai akhirnya sekitar bulan September 2011, saya benar-benar harus mengikhlaskan LAN, saya harus rela meninggalkan kawan-kawan saya disana yang sedang berjuang memberi setitik cahaya untuk nusantara tercinta.

Saya tidak melarikan diri kawan, saya hanya sedang mencari jalan memutar

Kembalinya mas Ricky ke Indonesia

Waktu itu di awal tahun 2013, saya sudah lebih dari satu tahun tidak tahu kabar LAN dan mas Ricky, tiba-tiba saja saya dikagetkan oleh pesan dari Junita, “Bur, mas Ricky kecelakaan!”. Saat itu Junita juga sudah tidak di LAN lagi. Saya pun bertanya kecelakaan karena apa dan bagaimana keadaannya. Alhamdulillah ternyata mas Ricky tidak apa-apa, tidak terluka sama sekali. Tapi ternyata kecelakaan yang dialami mas Ricky ini telah menjadi sebuah berita yang cukup heboh, bukan karena mas Ricky-nya memang, tapi karena saat itu yang mengemudikan mobilnya adalah Dahlan Iskan. Koq bisa Dahlan Iskan? Ya, ternyata mas Ricky mengalami kecelakaan bersama Dahlan Iskan saat menguji mobil listrik Tucuxi.

Pendawa Lima Putra Petir, itulah sebutan untuk lima orang pilihan Dahlan Iskan yang dipanggil kembali ke Indonesia untuk mengembangkan mobil listrik. Dan salah satunya ternyata Ricky Elson! Ya, ternyata akhirnya mas Ricky benar-benar kembali ke Indonesia, dia keluar dari perusahaannya di Jepang, untuk membantu Indonesia dalam pengembangan mobil listrik. Senang dan bahagia rasanya mendengar kabar mas Ricky ini. Saya tidak tahu bagaimana ceritanya mas Ricky bisa dikenal dan diketahui oleh seorang Dahlan Iskan, tapi yang jelas, Tuhan memang sudah menciptakan skenario terindah untuk setiap makhluknya. (tentang Pendawa Lima Putra Petir)

o—-

Pertemuan kembali dengan kincir angin

Langit di Delta Works ditemani sang penari langit

Dua tahun berselang, entah ada kaitannya atau tidak, saya mendapat kesempatan untuk melanjutkan sekolah di sebuah negeri yang terkenal dengan sebutan negeri kincir angin. Kincir angin?! Ah, saya jadi kembali teringat dengan sang penari langit dan LAN.

Kincir angin disini tentunya sangat berbeda dengan apa yang pernah saya dan teman-teman LAN kembangkan, disini ukurannya jauh lebih besar. Hampir di setiap sudut di tepi pantai negara ini terdapat turbin angin raksasa. Dan setiap kali saya melihat turbin angin disini, saya akan tersenyum sembari memegang dahi saya, “Hmm, saya pernah tertabrak oleh baling-baling seperti itu, dengan ukuran yang lebih kecil tentunya.”

Kalau dulu saya sangat menikmati saat melihat sang penari langit menari di langit Nusantara dengan sedikit malu-malu, kali ini saya pun menikmati saat melihat sang penari langit ukuran raksasa versi negara ini menari dengan pongahnya. Ah, apa kabar ya sang penari langit nusantara? Apa dia masih menari dengan malu-malu?

Apa kabar LAN sekarang?

LAN telah berada di jalur yang diharapkan, itulah yang sekilas saya lihat dari perkembangan LAN via akun social media milik mas Ricky dan Amel. LAN tentunya sudah jauh berbeda dengan LAN yang pernah saya singgahi dulu. Mereka sudah berhasil memasang turbin angin di beberapa lokasi, termasuk yang cukup jauh di Sumba, Nusa Tenggara Timur. Laboratorium yang dibuat di Ciheras pun berfungsi dengan baik, karena acap kali didatangi oleh mahasiswa-mahasiswa yang ingin belajar tentang turbin angin. Info terakhir yang saya dapat dari Babay, LAN ternyata sudah resmi menjadi PT (Perseroan Terbatas), itu artinya LAN sudah memasuki babak baru yang lebih profesional.

Berikut link terkait berita LAN:

Listrik Tenaga Angin masuk Sumba

Turbin Angin Pasok Listrik untuk Desa Miskin NTT

Kenalkan Teknologi Energi Angin

Senang dan bahagia rasanya bila LAN selangkah demi selangkah mendekati apa yang dicita-citakan. Saya memang sudah bukan bagian dari LAN lagi, bahkan sebagian besar anggota LAN saat ini tidak saya kenal, tapi yang jelas saya ikut bahagia dengan kesuksesan mereka. Saya ikut bangga karena pernah berada disana, walaupun hanya sebentar. Saya bangga karena berkat LAN, saya bisa belajar tentang banyak hal, mulai dari hal-hal yang menyangkut angin dan kelistrikan hingga tentang pelajaran-pelajaran kehidupan. Bersama LAN saya jadi sedikit tahu tentang bagaimana konsep energi gerak diubah menjadi energi listrik, bagaimana sebuah generator bekerja, bagaimana jumlah dan bentuk baling-baling mempengaruhi efisiensi energi yang dihasilkan, bagaimana cara menghitung kecepatan angin, seterusnya dan seterusnya hingga mengetahui keseluruhan proses yang terjadi pada sebuah turbin angin. Dan yang paling penting tentunya, bersama LAN saya belajar bagaimana arti sebuah perjuangan dan pengorbanan.

Tetap semangat kawanku LAN! Jangan putus asa untuk mewujudkan mimpimu untuk menerangi ujung Nusantara! “Everything is okay in the end, if it’s not ok, then it’s not the end”.

Terima kasih LAN, terima kasih sang penari langit!
Sampai bertemu lagi di tempat itu, di tempat yang kita cita-citakan!

Source : Amalia Fajriyanti photo

Source : Ricky Elson photo


<<<>>>

Negeri Kincir Angin, 2 Maret 2014
Salam Hangat untuk Nusantaraku..

Ucapan terima kasih untuk sahabat-sahabatku, ex-LAN: Junita Riany, Akbari (Babay), Zulangga Utama Fahren, M Deni Jayusman, Hazwan Alrasyid (Ade), Dammani Kananda (Conk), Fuad Surastyo Pranoto, Nida Baihaqi, Sandra Prasetyo, Dian Prayogi Susanto (Depe), Wirid Birastri; dan yang masih eksis di LAN: Amalia Fajriyanti, Ricky Elson

 

Teknik Kegalauan bukan Teknik Kelautan

Malam ini saya membaca sebuah link yang lucu di group KMKL ITB.. Ah..tiba-tiba jadi teringat masa-masa kuliah di KL dulu. Teringat dengan mata kuliah KL dengan singkatan dan sebutan yang cukup  unik..

AnRekDas    : Analisis Rekayasa Dasar
MekFlu         : Mekanika Fluida
MekRek        : Mekanika Rekayasa
GarTek         : Gambar Teknik
ProbStat      : Analisis Probabilitas & Statistik
OsFis            : Oseanografi Fisik
MekGel        : Mekanika Gelombang
Acak             : Gelombang Acak
Panjang       : Gelombang Panjang
AnNum        : Analisis Numerik
EkRek          : Ekonomi Rekayasa
H2                : Hidrologi & Hidrolika
DinStruk     : Dinamika Struktur
DaKus         : Dasar Akustik Bawah Air
BBL              : Bahan Bangunan Laut
Kapal           : Dasar-dasar Teknik Perkapalan
ProsPan      : Proses Pantai
BanTai        : Bangunan Pantai
BaLaPan     : Bangunan Lepas Pantai
KapSel        : Kapita Selekta Infrastruktur

Dari singkatan-singkatan ini, favorit saya adalah BanTai dan BaLaPan, selain sebutannya yang lucu, juga karena tugas-tugasnya yang menuntut kita untuk balapan dengan waktu dan setelah itu dibantai saat presentasi..hahaha.

Jadi engga salah kalau KL bukan singkatan dari Teknik Kelautan tapi Teknik Kegalauan seperti tulisan di bawah ini. hehe..

—-

Teknik Kegalauan bukan Teknik Kelautan

Entah kenapa tiba-tiba timeline twitter malam ini penuh sama “kegalauan” anak-anak KL. entah karena stress ujian atau apa,hehehe. lama-lama KL nggak lagi singkatan Teknik Kelautan tapi jadi Teknik Kegalauan 🙂

ini dia beberapa kegalauan teman2 awak :

o   Bolehkah saya membuat dermaga di hatimu? Saya bingung mau melabuhkan kapal cinta saya di mana #galaudermaga.

o   Cintaku hingga ke dasar elemen-elemen tubuhmu, hatimu.. #galaudasardasarelemenhingga.

o   Kamu bahkan mengalahkan pelajaran ku. Finite Element Method. You’re In-finite #galauhingga.

o   Proses mencintai itu ibarat pantai, ada pasang dan surut, bahkan terkadang dihantam gelombang keras. #galauprosespantai.

o   Inflasi hatiku naik turun tak menentu. karna kamu #galauEkrek #ngulangEkrek #fak

o   Dalamnya hatimu membuatku harus membuat dermaga dengan tipe deck on pile baja ka.rena nilai spt»40..mahal memang..tapi kuat.. #galaudermaga.

o   Menjalani masa pacaran ibarat masuk dalam laboratorium, semua penuh eksperimen dan kejutan #galauMetodaEksperimenLaboratorium.

o   Sayang, kita harus melalui trestle dulu sebelum mengarungi lautan cinta. #galaudermaga.

o   kamu membuat semua tak berdimensi lagi. tak ada penjelasan logis #galauMetlab.

o   Kondisi perairan hatimu emang sulit untuk dibuat dermaga..ombak terlalu tinggi..tapi tahukah kamu aku siap membuat breakwater? #galaudermaga

o   Aku ga butuh dermaga buat melabuhkan cintaku. tinggal seret kamu ke KUA aja deh. gitu kok repot #galaudermaga .

o   Tak ada yang bisa memodelkan prototype cinta, skala 1 : ‘tak hingga’ tidak mungkin untuk dimodelkan #GalauMetlab

o   Frekuensi alami struktur itu seperti hati, dpt bergetar kencang jk mengalami resonansi akibat ‘hati’ lain. #galauDinstruk

o   3 satelit tidak cukup untuk mengetahui posisiku di hatimu. butuh satu satelit lagi untuk mengoreksi #galauPADL

o   Untuk menanam tiang pancang dibutuhkan bberapa pukulan, tetapi untuk mnanam cintaku padamu hanya btuh satu perkataan. -harlly- #galaudermaga

o   Mngkin jacket platform dirancang tuk kuat menghadapi badai 100 tahun, tapi struktur rancanganku di hatimu lebih kuat dari itu #galauoffshore

o   Obat patah hati adalah pengerukan & reklamasi. Mengganti ‘material’ lama dengan ‘material’ yang baru. #galauReklamasiDanPengerukan

o   Aku ingin melabuhkan kapalku di dermaga hatimu..tapi ternyata sudah ada kapal lain yang berlabuh.. #galaudermagacurcol

.

(by: @ajiebkp, @wiwidddd, @gerhardfernanto, @gilanggiffary, @oddylazuardi, @octarezasiahaan, @dhaneswaraal, @iiqbal)

ps: ayoo masuk Teknik Kelautan ITB 🙂 *numpang promosi masbro

dari aseptia

—-

*link asli : http://yeahmahasiswa.com/post/4229752636/teknik-kegalauan-bukan-teknik-kelautan