Protected: 25 Burung Kertas

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Advertisements

Negeri di bawah Laut #2

Pernahkah anda bertanya-tanya mengapa kita sering menyebut negara kita sendiri dengan sebutan “tanah air”? Kenapa sih harus tanah dan air? Kenapa bukan api dan angin? Elemen tanah, sebagai tempat berkembangnya suatu peradaban tentunya memang elemen yang sudah pasti ada di suatu negara. Air, kita memang dua per tiga wilayahnya adalah lautan. Angin? Bukannya kita juga punya banyak angin? Nah, kalau api kita representasikan sebagai cahaya matahari, kita juga kan kaya akan sinar matahari. Jadi karena kita kaya akan keempat elemen, harusnya ya sekalian aja kita menyebut negara kita dengan : tanah air api angin – ku. (Ya keleusss!!!!:p)

Nah, balik lagi, kenapa sih harus “tanah air”? Atau lebih tepatnya kenapa “air”? Pasti sebagian dari anda akan berpikir bahwa karena negara kita 2/3 wilayahnya terdiri dari lautan. Tapi sebenarnya arti air dalam sebutan “tanah air” itu tidak hanya merepresentasikan laut kita, tapi juga sungai dan sumber mata air di gunung-gunung Indonesia yang sangat melimpah ruah. Meskipun kita punya lebih dari 17 ribu pulau, tapi rasanya hampir setiap pulau memiliki sumber-sumber mata air. Terlebih lagi 6 pulau besar yang pastinya sangat melimpah sumber mata airnya. Lalu pertanyaannya adalah, apa kabar sungai-sungai kita? Apa kabar sumber-sumber mata air kita? Apakah anda akan mengernyitkan dahi? Nah, lalu saya tanya lagi, seberapa banyak dari anda yang di rumahnya minum dari air galon? Seberapa sering anda membeli air mineral kemasan yang selalu kita sebut dengan aqua? Ah, sudah bisa ditebak jawabannya.

Oke, saya akan sedikit bercerita tentang bagaimana negara yang saya tinggali sekarang ini berhubungan dengan elemen yang bernama air.

Air Minum…

Sesaat ketika saya sampai di tempat kosan saya di kota kecil Delft, salah satu hal pertama yang saya cari adalah dispenser dan galon untuk minum. Mungkin karena terbiasa dulu saat ngekos di Bandung dan Jakarta, yang selalu bergantung dengan benda-benda tersebut. Saya pun lalu bertanya pada senior saya yang sudah lebih dulu tinggal di negeri ini tentang bagaimana mendapatkan galon untuk minum. Lalu dia pun bilang, “Mana ada galon disini, kalau mau minum langsung aja dari kran di wastafel!”

Wastafel di kosan saya yang biasa dipake buat minum :)

Wastafel di kosan saya yang biasa dipake buat minum 🙂

Hah? Wastafel? Sontak saya terkejut. Saya memang pernah diceritakan bahwa di negara-negara maju seperti Singapura, kran-kran di tempat umum bisa langsung untuk diminum. Begitu pula ketika saya kuliah di Bandung, kampus saya memiliki 70 buah water tap untuk air minum, tapi itupun kemudian dihentikan karena katanya pipanya telah terkontaminasi. Saya pun jadi parno, kampus saya yang areanya sangat sempit aja bisa terkontaminasi pipanya, nah ini bagaimana bisa negeri ini memelihara pipa-pipa yang panjangnya mungkin mencapai ratusan ribu kilometer, dan memastikan airnya bisa untuk diminum? Hari pertama di negeri ini pun saya habiskan dengan meminum hanya sekitar dua gelas kecil. Rasanya koq aneh banget gitu minum dari wastafel.

Ketika berbelanja di mini market, saya memang tidak menemukan galon satupun, yang biasanya selalu menghiasi etalase di depan mini market Indonesia. Jangan harap juga menemukan tampat isi ulang air galon, yang di negara kita dapat ditemukan di segala penjuru kota maupun desa. Bahkan cukup sulit juga menemukan air mineral kemasan. Sekalinya ketemu, harganya pun sangat mahal, sekitar 1 euro untuk ukuran 1,5 liter, hampir 10 kali harga di Indonesia (1 euro sekitar Rp 16.000,-). Jadi ga mungkin saya membeli air kemasan untuk minum tiap hari, bisa bangkrut seketika saya.haha. Akhirnya, dengan berat hati saya terpaksa harus membiasakan meminum dari air kran.

water cycleSelidik punya selidik, ternyata pengelolaan air di negeri ini adalah salah satu yang terbaik di Eropa, bahkan mungkin dunia. Mereka menjamin air yang keluar untuk kebutuhan rumah tangga maupun industri sudah bersih dan siap untuk diminum, tidak perlu dimasak dulu seperti kebiasaan di Indonesia. Bahkan sebagian besar masyarakat sini percaya bahwa air minum dari water tap jauh lebih bersih dan sehat ketimbang air minum kemasan. Karena konon katanya sebelum sampai di rumah-rumah, air minum ini telah melalui 20 langkah penyaringan dan melalui proses yang sangat terintegrasi!

Dalam pengelolaannya, banyak institusi yang terlibat di negara ini, total mencapai 466 institusi atau operator. Terdiri dari 430 municipalities (semacam Pemda) yang bertanggung jawab dalam pengumpul air buangan di wilayahnya masing-masing, 26 water boards (institusi pemerintahan) yang bertugas khusus menangani pengelolaan air buangan dan terakhir adalah 10 perusahaan swasta sebagai penyalur air minum ke rumah tangga dan industri. Semua institusi tersebut bekerja sama memastikan water cycle berjalan dengan baik di seluruh penjuru negeri, dimana katanya 100% populasi telah terlayani. Rasanya sebuah angka yang fantastis bila dibandingkan dengan negara saya. Khusus untuk perusahaan penyedia air minum, sekitar tahun 1940an negeri ini memiliki lebih dari 200 perusahaan. Dengan pengawasan dan aturan yang ketat, akhirnya saat ini hanya ada 10 perusahaan saja yang secara profesional menyalurkan air minum ke masyarakat maupun industri.

Kiri: area 26 water boards sebagai pengelola air buangan; Kanan: area 10 perusahaan swasta penyedia air minum

Kiri: area 26 water boards sebagai pengelola air buangan; Kanan: area 10 perusahaan swasta penyedia air minum

Kiri: Jumlah perusahaan penyedia air minum, berkurang drastis dari lebih dari 200 di tahun 1940an, menjadi hanya 10 saja saat ini ; Kanan: Data water production dari tahun 1950-sekarang, lihat bagaimana terperincinya mereka

Kiri: Jumlah perusahaan penyedia air minum, berkurang drastis dari lebih dari 200 di tahun 1940an, menjadi hanya 10 saja saat ini ; Kanan: Data water production dari tahun 1950-sekarang, lihat bagaimana terperincinya mereka

Salah satu efek dari bagusnya pengelolaan air minum tersebut adalah berkurangnya konsumsi air minum kemasan, dimana hanya 21.6 liter per orang per tahun saja konsumsi dari masyarakat negeri kincir angin ini. Coba bandingkan dengan tetangganya Jerman yang mencapai 160 liter/orang, rata-rata konsumsi Eropa sendiri adalah 104 liter/orang. Bila dikalikan jumlah penduduk negeri ini, maka total konsumsinya adalah sekitar 358 juta liter per tahun. Mau coba bandingkan dengan Indonesia? Jangan teriak ya, konsumsi air minum kemasan masyarakat Indonesia adalah mencapai 22 milyar liter per tahun!

bottled water consumption in litre per person (2009)

bottled water consumption in litre per person (2009)

Air Sungai…

Di lain waktu, saya sedikit dikagetkan dengan nama sebuah mata kuliah yang terdengar cukup asing bagi saya, padahal hampir semua mata kuliah di kampus sekarang merupakan bentuk pengulangan saat saya kuliah di Bandung dulu. Nama mata kuliahnya adalah Salt Intrusion atau Intrusi Air Laut. Rasanya dulu saya memang diajarkan bahwa air tawar akan bertemu dengan air laut ketika berada di muara sungai, keduanya akan bercampur dan kita kenal dengan istilah air payau. Tapi setelah itu ya sudah, tidak ada yang perlu diperhatikan, bukannya itu memang fenomana alam yang memang sudah harusnya terjadi? Ternyata berbeda dengan negara ini, dimana mereka mengganggap hal tersebut sebagai suatu hal yang harus diperhatikan, bahkan mereka berinvestasi cukup besar untuk meneliti bagaimana efek dari pencampuran air laut ini terhadap kemurnian sungai-sungai mereka.

Contoh pemetaan Salt Intrusion (salt: air laut, brakish: air payau, fresh: air tawar)

Contoh pemetaan Salt Intrusion (salt: air laut, brakish: air payau, fresh: air tawar)

Negeri ini memang hanya memiliki tiga sungai utama, yaitu Rhine, Waal dan Ijsell. Oleh karenanya, mereka sangat berharap kemurnian sungai utama dan juga anak sungainya tetap terjaga, kalaupun ada intrusi air laut yang menyebabkan airnya menjadi payau, mereka harus tahu seberapa jauh air sungai itu menjadi payau, dan bagaimana mencari solusi agar intrusinya tidak semakin jauh atau bahkan dikurangi. Hal ini semata-semata agar mereka bisa mempertahankan kuantitas dan kualitas sumber air tawar dari sungai yang mereka miliki, yang tentu saja digunakan untuk kebutuhan masyarakatnya, seperti pertanian, industri maupun air minum.

Lock

Contoh solusi salt intrusion di Lock pelabuhan

Di beberapa lokasi muara sungai, bangsa ini memiliki dam dan lock (pintu air) yang berfungsi menjadi pembatas antara air tawar dan air laut, sehingga salt intrusion bisa dicegah. Namun untuk lock (pintu air) yang biasanya ditempatkan di dekat pelabuhan, salt intrusion akan tetap terjadi bila pintu dibuka akibat kapal yang harus keluar atau masuk pelabuhan. Nah, untuk yang satu ini, para insinyur di negeri ini berlomba-lomba mencari solusi yang paling efektif dan efisien untuk mengurangi sekaligus mencegah penetrasi yang dilakukan oleh air laut di bagian dasar sungai. Salah satu solusi yang dirancang untuk Pelabuhan Amsterdam adalah dengan membuat gelembung udara yang disemprotkan dari dasar sungai ketika lock dibuka.

Mungkin ini sedikit teknis, tapi intinya adalah pemerintah negara ini akan melakukan berbagai macam cara hanya untuk memastikan sumber-sumber air tawar mereka tetap terjaga termasuk dari intrusi air laut yang pada dasarnya merupakan sebuah fenomena alami.

Nah, mari kita bandingkan dengan bangsa kita. Rasanya tidak ada perhatian khusus dari pemerintah terkait tercampurnya sungai-sungai di Indonesia oleh air laut. Coba anda lihat sungai-sungai di Indonesia yang bertemu langsung dengan laut, penduduk sekitarnya sudah tahu bahwa sungai-sungai itu terisi oleh air payau dan menganggap bahwa memang sudah seharusnya seperti itu. Mereka pasrah saja ketika mengkonsumsi air hasil pompa dari bawah tanah yang  rasanya sangat aneh. Bahkan pemerintah pun hanya duduk-duduk manis saja melihat kondisi seperti ini. Mereka justru berlomba-lomba mendatangkan air minum kemasan yang terdiri dari berbagai macam merek hanya untuk memenuhi kebutuhan air minum saja.

Penutup

pola

Hanya sebagian kecil saja yang saya paparkan di atas terkait Water Management di negara ini, masih banyak lagi hal-hal lainnya yang bisa dipelajari. Bila saya tuliskan semua, akan panjang sekali. hehe.

Renée Jones-Bos, duta besar negara ini untuk Amerika pernah memberi pernyataan tentang bagaimana hubungan negaranya dengan elemen bernama air:

  • Sophisticated, integrated water management is the sine qua non of keeping Dutch feet dry.
  • To be Dutch means that you must Live with Water. 
  • Water management is part of Dutch DNA.

Lihatlah poin terakhir, “Pengelolaan Air merupakan bagian dari DNA orang Belanda”! Merinding saya membaca pernyataan ini. Ternyata paradigma pengelolaan air sudah jauh tertanam di pikiran semua orang di negeri ini, khususnya pemerintahnya. Bahkan mereka menyebut bahwa itu sudah merupakan bagian dari DNA mereka! Tidak heran bila mereka akan melakukan apapun untuk bisa menciptakan pengelolaan air yang baik demi kesejahteraan bangsa mereka.

Lalu bagaimana dengan bangsa saya sendiri? Ah, hanya menimbulkan sakit kepala saja rasanya bila membandingkannya. Indonesia memiliki sumber mata air yang berlimpah, tapi justru malah banyak dikuasai oleh perusahaan-perusahaan air minum kemasan. Tercatat terdapat lebih dari 400 perusahaan dan hampir 600 merek yang ada di pasaran. Lalu bagaimana dengan pengelolaan air minum? PDAM menjadi pemain tunggal dalam menyalurkan air minum ke seluruh masyarakat Indonesia, itupun hanya sebagian kecil saja yang bisa dijangkau. Namanya adalah Perusahaan Daerah Air Minum, tapi produknya justru malah tidak bisa langsung diminum (walaupun saya dengar ada beberapa PDAM yang sudah menjamin airnya bisa langsung diminum), dan para pelanggannya justru lebih senang minum dari air galon atau air minum kemasan. Lebih parahnya lagi, pemerintahnya justru duduk-duduk manis saja, bahkan malah sibuk berpolitik, berkampanye partai mereka masing-masing.

Lalu apa makna sebutan “tanah air” untuk negara kita? Apa yang tersisa di DNA bangsa ini?

Ah, ya sudahlah, toh negara kita kan negara kaya. Biarlah sumber mata airnya dikuasai perusahaan swasta, biarlah sungainya tercemar, biarlah setiap hari membeli air minum kemasan, biarlah pengelolaan airnya sangat buruk, biarlah…biarlah….

Indonesia By Apelphotography

——-

Delft, 21 April 2014

oOo

Source:

Water Management in the Netherlands, Rijkswaterstaat: Ministry of Infrastructure and the Environment, 2011.
Dutch Drinking Water Statistics 2012, Association of Dutch Water Companies (Vewin), 2012.
http://dc.the-netherlands.org

 

Prolog

 

 

Prolog…

Saat masing-masing kita keluar dari persembunyian
Saat masing-masing kita berkumpul untuk mengerti dan saling bicara
Saat kesepakatan dan komitmen itu ada

Rasanya..
seperti berpisah saat tidur dan berjanji akan bertemu dalam mimpi yang sama
Seperti merencanakan memori
untuk nantinya dikenang lagi

Dan rasanya..
semuanya ini seperti mengulang kembali
masa-masa di tahun pertama sekolah ini

Mungkin inilah giliran kita,
untuk tidak sekedar datang ke tempat ini,
tinggal beberapa saat,
lalu pergi dan dilupakan

Atau mungkin hanya untuk mengenal teman lama
yang bertahun-tahun bersama
tapi belum kenal juga

Mungkin inilah giliran kita
untuk bermimpi
terbangun
dan berlari bersama
bersama…

 

 

PS: copyright video & lyrics by Pasar Seni 2014

 

Gunting Batu Kertas

suit gabung

Coba katakan pada saya, siapa diantara anda semua yang belum pernah melakukan suit, baik yang versi Indonesia (telunjuk-jempol-kelingking) atau versi Jepang (gunting-batu-kertas)? Saya berani jamin, semua orang pasti pernah melakukannya bahkan anak-anak sekalipun, terkecuali anak yang masih balita mungkin.hehe. Lalu pernahkah kita bertanya-tanya, kenapa harus ada permainan seperti itu? Atau mungkin lebih tepatnya adalah “aturan”.

Rock

Kenapa aturan? Ya, karena permainan suit memiliki ketentuan-ketentuan yang harus ditaati, walapun kalau dipikirkan secara seksama, ketentuannya kurang masuk logika. Seperti, kenapa batu harus kalah sama kertas atau kenapa kelingking bisa menang melawan jempol. Terlepas dari ketentuan yang tidak masuk akal tersebut, kita semua, yang memainkan suit ini, sudah barang tentu akan menaati aturannya.

lucu 2

Konsep suit itu menurut saya sangat unik, sederhana namun sangat bermakna. Ya, tujuan dari dibuatnya permainan ini adalah untuk mendapatkan seorang pemenang. Namun setiap itemnya justru dibuat bisa saling mengalahkan. Suit tidak diciptakan dengan membuat salah satu item menjadi paling hebat, seperti batu yang tidak terkalahkan baik oleh gunting ataupun kertas dan jempol yang sudah pasti menang melawan telunjuk atau kelingking. Karena kalau seperti itu, pastinya semua orang akan memilih item batu atau jempol. Aturannya justru membuat batu kalah oleh kertas, dan jempol kalah oleh kelingking. Konsep ini seperti sebuah lingkaran keseimbangan. Dan kalau boleh disamakan, rasanya Tuhan juga menciptakan kehidupan ini seperti aturan dalam suit, sebuah lingkaran keseimbangan.

Rasanya Tuhan menciptakan kehidupan dengan konsep bahwa tidak ada kekuatan atau posisi yang absolut, yang akan selalu menang melawan siapapun atau apapun. Tuhan menciptakan pilihan-pilihan, yang tentunya bisa dikalahkan ataupun bisa mengalahkan. Kita bisa memilih mau menjadi batu, gunting ataupun kertas. Yang jelas, setiap pilihan tersebut punya konsekuensinya. Bila kita memilih menjadi batu, kita mungkin dianggap memiliki kekuatan yang paling hebat atau posisi yang paling berkuasa, tapi ternyata dengan sebuah kertas yang tipis dan lemah, batu justru dapat dikalahkan. Begitu pula ketika kita memilih menjadi kertas, yang dianggap berada di kasta terbawah dalam rantai kehidupan, paling lemah dan sangat mudah dirobek oleh gunting, namun ternyata bisa mengalahkan batu yang yang sangat kuat dan berkuasa.

460px-Rock-paper-scissorseeSebagian dari kita mungkin masih mencari-cari jati diri dan perannya dalam sebuah skenario kehidupan. Kita bisa memilih atau memiliki kesempatan untuk menjadi apa dan siapa. Sama seperti halnya ketika kita melakukan suit. Ketika kita memilih salah satu item dalam permainan suit, kita sudah tahu bahwa item tersebut bisa mengalahkan dan dikalahkan, tidak ada rasa pesimis ataupun terlalu optimis. Pilihan yang kita ambil selalu punya peluang untuk menang atau kalah. Dalam permainan suit, menang atau kalah ditentukan oleh plilhan dari lawan kita. Namun, dalam kehidupan, rasanya menang atau kalah justru ditentukan oleh kita sendiri. Bila kita sudah memilih menjadi gunting, dan menganggap semua tantangan dihadapan kita seperti kertas, kita akan menang dengan mudah. Ketika kita menjadi kertas dan menghadapi tantangan hebat yang bagaikan sebuah batu, kita ternyata memiliki peluang utnuk menang. Begitu pula ketika kita pada akhirnya sudah berada di posisi tertinggi atau berkuasa, layaknya sebuah batu, kita harus berhati-hati dengan sedikit keteledoran atau kekeliruan yang diibaratkan seperti kertas, kita bisa terjatuh atau kalah dengan mudahnya.

Ya, sekali lagi, rasanya konsep kehidupan itu mirip dengan aturan dalam suit, semua bisa saling mengalahkan dan dikalahkan, tidak ada kekuatan absolut ataupun kelemahan yang abadi, selalu ada peluang untuk menang. Jadi, pilihlah peran kita, lalu buatlah tantangan-tantangan dihadapan kita menjadi hal yang bisa dikalahkan. Maka, kita akan menang dalam skenario unik kehidupan yang telah diciptakan oleh Tuhan ini.

 “Tidakkah kita bertanya-tanya untuk apakah kita diciptakan, dan peran apa yang kita mainkan dalam skenario dunia? – sfs”

Delft, 6 April 2014

Tentang Jersey Klub Sepakbola

jersey

Beberapa waktu yang lalu saya melihat di sebuah social media, ada foto satu keluarga, suami istri dan bayi mereka mengenakan jersey klub sepakbola. Seketika itu saya berpikir, wahh..keren banget nih satu keluarga, penggemar sepakbola semua kayanya. Tapi setelah saya amati lagi, tapi koq yang dipake sang suami dan istri adalah jersey Real Madrid musim lalu ya, yang masih bertuliskan Bwin di bagian dadanya.

Jujur aja, kostum sepakbola pertama yang saya punya adalah kostum Real Madrid, yaitu ketika saya kelas 2 SD, berarti sekitar tahun 1995. Dulu saya begitu bangga make baju putih Real Madrid bertuliskan Teka di dada dan logo Kelme di sepanjang lengan. Saya sedikit bersyukur karena jersey Real Madrid saat itu disponsori oleh Teka, sebuah perusahaan pemasok alat-alat dapur dan rumah tangga. Coba kalau saat itu Madrid sudah disponsori oleh Bwin, mungkin saat ini saya sudah menjadi dewa judi kali.hehe. Nah lho, memang ada apa dengan Bwin?

Kiri: Jersey 1995; Tengah: Jersey 2010; Kanan: Jersey 2012

Kiri: Jersey 1995; Tengah: Jersey 2010; Kanan: Jersey 2012

Nah, mari kita bahas soal Bwin, seberapa banyak dari anda, para penggemar Real Madrid yang tahu apa itu Bwin, sponsor di jersey Real Madrid di tahun 2007-2013. Saya berani jamin, hanya sebagian kecil yang tahu apa itu Bwin. Bagi yang belum tahu, Bwin itu adalah perusahaan judi online, minuman keras dan bisnis sperma (seks)! Judi online-nya adalah salah satu yang terbesar di dunia. Ya, judi, yang kata Bang Rhoma Irama dibilang meracuni kehidupan dan keimanan.hehe. Saya agak heran ketika beberapa temen saya bangga mengenakan jersey Real Madrid bertuliskan Bwin di dada mereka, tidak sedikit yang mengupload atau menjadikannya profil picture di social media. Bahkan ada yang mengenakannya ke masjid, dan tidak jarang wanita berkerudung juga sering mengenakan jersey ini. Mungkin sebagian dari kita akan bilang, lah emangnya penting gitu kita tau apa arti tulisan di jersey klub kesayangan kita?

Tahukah anda, pemerintah Turki melarang klub-klub sepakbola yang bertanding di tanah mereka mengenakan jersey dengan sponsor yang bertentangan dengan ajaran Islam, seperti judi dan minuman keras. Itulah mengapa ketika musim lalu Real Madrid bertandang ke stadion Turk Telekom Arena, kandang Galatasaray, mereka mengenakan jersey polos, tanpa ada tulisan Bwin. Hal serupa juga pernah terjadi di tahun 2008, ketika Sevilla harus melepas tulisan 888.com, sebuah rumah taruhan mirip dengan Bwin, di jersey mereka saat bermain di kandang Fenerbahce.

madrid vs galatasaray

Selain itu, di tahun 2006, striker Sevilla Frederic Kanoute yang beragama Islam juga menolak untuk mengenakan kostum Sevilla yang disponsori oleh 888.com. Akhirnya pihak klub memberikan jersey khusus untuk Kanoute, yakni polos tanpa tulisan di dada. Dan pada tahun lalu, empat pemain muslim Newcastle United yakni Demba Ba, Papiss Cisse, Cheick Tiote dan Hatem Ben Arfa melakukan protes dan penolakan terhadap sponsor jersey mereka, Wonga.com, yang diketahui merupakan sebuah perusahan rentenir. Namun pada akhirnya para pemain muslim di Newcastle terpaksa harus menggunakan jersey bertuliskan Wonga setiap kali mereka bertanding.

Kiri: Frederic Kanoute (Sevilla); Kanan: Papiss Cisse (Newcastle United)

Kiri: Frederic Kanoute (Sevilla); Kanan: Papiss Cisse (Newcastle United)

Jadi, pentingkah mengetahui apa itu sponsor klub kesayangan kita? Semua kembali pada anda. Saya pribadi, bila saya seorang Madridista, tidak akan mau mengenakan jersey Real Madrid yang bertuliskan Bwin. Soalnya saya takut nanti dimarahin sama bang Rhoma Irama.. Sungguh ter…la..lu..hehe..

Nah, mari kita bandingkan dengan tetangga Real Madrid, yaitu Barcelona.

Ketika pertama kali melihat klub Barcelona, saya heran, koq klub bola ga punya sponsor di bajunya. Ya, saat itu Barcelona memang memiliki kostum garis-garis merah biru polos, tanpa ada tulisan apa-apa di bagian dadanya. “Ini kampungan banget sih, pasti klub miskin dan ga bagus, sampe ga ada perusahaan yang mau jadi sponsor”, pikir saya. Saat itu memang semua klub bola papan atas terkenal dengan tulisan sponsor di dadanya. Kayanya keren gitu make kostum Real Madrid dengan Teka-nya, AC Milan dengan Opel, Inter Milan dengan Pirelli, Juventus dengan Sony, Liverpool dengan Carlsberg, MU dengan Sharp, atau Parma dengan Parmalat.

evolusi jersey barca

Setelah saya tahu alasan jersey Barca tidak memiliki tulisan apapun di bagian dadanya, saya malah jadi kagum, tidak lagi menganggap kampungan seperti awal melihat. Mengapa jersey Barcelona selalu polos tanpa sponsor semenjak klub ini berdiri hingga tahun 2006? Selidik punya selidik, ternyata Barcelona memang berbeda dengan hampir sebagian besar klub sepakbola lainnya. Barcelona memiliki keterikatan yang sangat erat dengan para pendukungnya. Para pendukung Barcelona dianggap berkontribusi saham disana. Dan pemegang keputusan tertinggi di klub tersebut adalah para pendukungnya, bukan presiden ataupun pemegang saham individu terbesar. Selain itu, Barcelona merupakan satu-satunya klub Eropa yang Presidennya dipilih oleh pemegang tiket musiman (pendukung paling murni), bukan pula oleh Dewan Direktur dan bukan pemegang modal. Calon Presiden klub berdebat di televisi, berkampanye mengajukkan progam layaknya pemilihan Presiden sebuah negara.

Selain itu, ketika awal-awal dibentuk, Barcelona dianggap sebagai sebuah simbol perlawanan bangsa Catalonia terhadap rezim diktator Jenderal Franco, yang berlaku sewenang-wenang terhadap bangsa Catalonia. Barcelona disebut sebagai “sebuah senjata pamungkas bagi sebuah bangsa tanpa negara”. Karena misi yang dianggap suci inilah Bareclona selalu menjaga kemurnian tujuan klub. Mereka tidak mau disamakan dengan klub lain dan tidak mau tunduk dengan nilai-nilai komersial.

Nah, karena alasan-alasan itulah maka jersey Barcelona tidak pernah tertulis sponsor apapun, alias selalu polos. Baru pada tahun 2006 ada tulisan UNICEF di dada mereka. Inipun menjadi anomali dibanding klub lainnya. Kalau klub sepakbola pada umumnya mendapat aliran dana dari perusahaan yang tulisannya dipajang di jersey mereka, Barcelona malah memberikan dana pada UNICEF, sekitar 0.7% dari total pendapatan. Ya ternyata, sebagian keuntungan Barcelona itu dialirkan untuk kegiatan-kegiatan sosial yang dilakukan UNICEF, itulah mengapa ada tulisan UNICEF di jersey mereka. Jadi boleh dibilang sebenarnya Barcelona lah yang menjadi sponsor UNICEF, bukan sebaliknya.

Setelah lima tahu bermitra dengan UNICEF, Barcelona akhirnya “melanggar” tradisinya sendiri. Sebelum musim 2011/12, sebuah kesepakatan dengan Qatar Foundation membuat klub Catalan ini mengharuskan menampilkan sponsor di jersey mereka. Ya, karena alasan ekonomi, akhirnya Barcelona menerima kucuran dana dari sebuah sponsor. Logo UNICEF sendiri masih tetap ada tetapi bergeser ke bagian belakang. Qatar Foundation merupakan yayasan yang bergerak untuk memajukan pendidikan, pengetahuan ilmiah, riset dan pengembangan komunitas negara-negara Arab.

2012-2014

Dua tahun berjalan, Barca mengonfirmasi bahwa mereka akan menggunakan logo Qatar Airways di bagian depan seragam, memecahkan tradisi klub yang tidak menggunakan sponsor perusahaan komersil selama 113 tahun berdirinya klub. Ya, banyak yang menyayangkan keputusan Barca ini. Termasuk sang legenda Barca, Johan Cruyff:

“Kami adalah klub terunik di dunia. Tidak ada satu klub pun yang bertahan tanpa sponsor di seragamnya. Sampai pada akhirnya mereka (Yayasan Qatar, red) datang. Barcelona telah menjual keunikan itu hanya untuk enam persen dari anggaran klub per musim. Saya mengerti sekarang klub sedang mengalami masa sulit. Tapi, penjualan seragam kepada sponsor telah menjelaskan bahwa kami tidak kreatif,” sesal Cruyff.

Saya pribadi sangat setuju dengan pendapat Cruyff tersebut. Tapi mau bagaimana lagi, para petinggi klub pasti memiliki alasan yang kuat mengapa akhirnya mereka menerima sponsor perusahaan. Yang jelas, saya lebih bangga menggunakan kostum Barca polos tanpa sponsor atau hanya bertuliskan UNICEF. Semoga beberapa tahun ke depan Barca kembali pada tradisi mereka.

Visca Barca!