Gunting Batu Kertas

suit gabung

Coba katakan pada saya, siapa diantara anda semua yang belum pernah melakukan suit, baik yang versi Indonesia (telunjuk-jempol-kelingking) atau versi Jepang (gunting-batu-kertas)? Saya berani jamin, semua orang pasti pernah melakukannya bahkan anak-anak sekalipun, terkecuali anak yang masih balita mungkin.hehe. Lalu pernahkah kita bertanya-tanya, kenapa harus ada permainan seperti itu? Atau mungkin lebih tepatnya adalah “aturan”.

Rock

Kenapa aturan? Ya, karena permainan suit memiliki ketentuan-ketentuan yang harus ditaati, walapun kalau dipikirkan secara seksama, ketentuannya kurang masuk logika. Seperti, kenapa batu harus kalah sama kertas atau kenapa kelingking bisa menang melawan jempol. Terlepas dari ketentuan yang tidak masuk akal tersebut, kita semua, yang memainkan suit ini, sudah barang tentu akan menaati aturannya.

lucu 2

Konsep suit itu menurut saya sangat unik, sederhana namun sangat bermakna. Ya, tujuan dari dibuatnya permainan ini adalah untuk mendapatkan seorang pemenang. Namun setiap itemnya justru dibuat bisa saling mengalahkan. Suit tidak diciptakan dengan membuat salah satu item menjadi paling hebat, seperti batu yang tidak terkalahkan baik oleh gunting ataupun kertas dan jempol yang sudah pasti menang melawan telunjuk atau kelingking. Karena kalau seperti itu, pastinya semua orang akan memilih item batu atau jempol. Aturannya justru membuat batu kalah oleh kertas, dan jempol kalah oleh kelingking. Konsep ini seperti sebuah lingkaran keseimbangan. Dan kalau boleh disamakan, rasanya Tuhan juga menciptakan kehidupan ini seperti aturan dalam suit, sebuah lingkaran keseimbangan.

Rasanya Tuhan menciptakan kehidupan dengan konsep bahwa tidak ada kekuatan atau posisi yang absolut, yang akan selalu menang melawan siapapun atau apapun. Tuhan menciptakan pilihan-pilihan, yang tentunya bisa dikalahkan ataupun bisa mengalahkan. Kita bisa memilih mau menjadi batu, gunting ataupun kertas. Yang jelas, setiap pilihan tersebut punya konsekuensinya. Bila kita memilih menjadi batu, kita mungkin dianggap memiliki kekuatan yang paling hebat atau posisi yang paling berkuasa, tapi ternyata dengan sebuah kertas yang tipis dan lemah, batu justru dapat dikalahkan. Begitu pula ketika kita memilih menjadi kertas, yang dianggap berada di kasta terbawah dalam rantai kehidupan, paling lemah dan sangat mudah dirobek oleh gunting, namun ternyata bisa mengalahkan batu yang yang sangat kuat dan berkuasa.

460px-Rock-paper-scissorseeSebagian dari kita mungkin masih mencari-cari jati diri dan perannya dalam sebuah skenario kehidupan. Kita bisa memilih atau memiliki kesempatan untuk menjadi apa dan siapa. Sama seperti halnya ketika kita melakukan suit. Ketika kita memilih salah satu item dalam permainan suit, kita sudah tahu bahwa item tersebut bisa mengalahkan dan dikalahkan, tidak ada rasa pesimis ataupun terlalu optimis. Pilihan yang kita ambil selalu punya peluang untuk menang atau kalah. Dalam permainan suit, menang atau kalah ditentukan oleh plilhan dari lawan kita. Namun, dalam kehidupan, rasanya menang atau kalah justru ditentukan oleh kita sendiri. Bila kita sudah memilih menjadi gunting, dan menganggap semua tantangan dihadapan kita seperti kertas, kita akan menang dengan mudah. Ketika kita menjadi kertas dan menghadapi tantangan hebat yang bagaikan sebuah batu, kita ternyata memiliki peluang utnuk menang. Begitu pula ketika kita pada akhirnya sudah berada di posisi tertinggi atau berkuasa, layaknya sebuah batu, kita harus berhati-hati dengan sedikit keteledoran atau kekeliruan yang diibaratkan seperti kertas, kita bisa terjatuh atau kalah dengan mudahnya.

Ya, sekali lagi, rasanya konsep kehidupan itu mirip dengan aturan dalam suit, semua bisa saling mengalahkan dan dikalahkan, tidak ada kekuatan absolut ataupun kelemahan yang abadi, selalu ada peluang untuk menang. Jadi, pilihlah peran kita, lalu buatlah tantangan-tantangan dihadapan kita menjadi hal yang bisa dikalahkan. Maka, kita akan menang dalam skenario unik kehidupan yang telah diciptakan oleh Tuhan ini.

 “Tidakkah kita bertanya-tanya untuk apakah kita diciptakan, dan peran apa yang kita mainkan dalam skenario dunia? – sfs”

Delft, 6 April 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s