La Masia : Tempat dimana mimpi itu dimulai..

La Masia vs La Fabrica: Pembinaan vs Isi Dompet?

Seperti pada kebanyakan ibu kota, setiap pagi dan sore jalan-jalan di kota Madrid tak pernah lengang. Banyak orang berlalu-lalang. Pun di pinggiran kota Madrid, Valdebebas. Meskipun terletak di pinggiran kota Madrid, namun kawasan itu tak pernah sepi dan setiap hari dipenuhi oleh anak-anak muda. Maklum, di area itu ada Ciudad Real Madrid, komplek akademi La Fabrica milik El Real.

Setiap pagi dan sore pula, ratusan anak muda itu giat berlatih. Mengoper, mendribel, ataupun latihan shooting. Meski terasa sulit, anak-anak muda itu selalu menaruh asa: suatu saat dirinya akan bermain di Santiago Barnebau, homebase Los Merengues. Sebenarnya mereka sadar bahwa harapan mereka terlalu tinggi. Tim kebanggannya memang terkenal sebagai tim yang doyan membeli pemain jadi ketimbang menggunakan jasa pemain muda binaan.

Pada sudut kota lain, pada sebuah distrik di Barcelona, hal yang sama juga dilakukan oleh banyak anak muda. Mereka juga belatih sepakbola selayaknya yang ada di Madrid. Berlatih mengoper, lalu bergerak dengan cepat. Sebagaimana para pemuda Madrid, mereka juga menaruh harap dapat bermain di stadion kebanggan mereka, yang terletak sekitar lima kilometer dari tempat mereka berlatih, Nou Camp.

Akademi-Sepakbola-La-Masia-420x229

Bedanya, bagi mereka yang berlatih di La Masia, mimpi untuk bermain di tim utama tampaknya tak sesukar mereka yang berlatih di La Fabrica. Sebabnya, klub kebanggaan mereka, Barcelona, lebih bisa memberikan kesempatan kepada pemain muda daripada membeli pemain bintang.

Konon katanya, Barca lebih suka mengeluarkan uang hanya untuk pemain yang benar-benar mereka butuhkan. Sedangkan El Real, lebih gemar membeli pemain bintang untuk mendapatkan uang segar dari penjualan komersial.

Ya, Real Madrid memang superior dalam raihan gelar, tapi mereka kadang dianggap inferior dalam urusan pembinaan. Atas keterbatasannya, Real Madrid banyak diejek oleh fans Barca. Mereka mengganggap bahwa El Clasico tak ubahnya “cantera vs cartera”, pembinaan vs isi dompet. Ejekan ini bisa jadi tepat, karena seperti yang kita tahu, pemain binaan Barca memang selalu mendominasi starting IX Blaugrana. Ini berbeda 180 derajat dengan Real Madrid.

Tentang La Masia

2011-01-26_MASIA_17.v1319470873

Rumah bata coklat yang kecil dan sederhana bergaya Catalunia ini berdiri tanpa kemewahan ketika pendukung Barcelona berbondong-bondong bergerak menuju Nou Camp.

Ini adalah rumah -La Masia- yang menjadi dasar kesuksesan Barca. Memang, keistimewaan La Masia yang arti harfiahnya “rumah petani” itu tidak tergambar dari bentuk fisiknya. Tapi seluruh warga Barcelona sangat mencintai dan menghormati La Masia, karena di sinilah DNA pemain dan filosofi permainan menekan, menguasai bola, menyerang yang sangat mematikan dicetak.

Coba amati Barcelona bermain, maka Anda akan menemukan jawabannya. Saat Barcelona bermain, mereka seperti dilarang memainkan umpan-umpan udara. Bola harus menjejak tanah. Umpan-umpan pendek haruslah mengalir cepat. Penguasaan bola menjadi inti permainan mereka. Itulah yang disebut Tiki-Taka. Itulah yang diajarkan di La Masia. Dan itulah yang diadopsi Barcelona dan Timnas Spanyol.

“Di La Masia, kami tidak dilatih bermain untuk menang, melainkan untuk berkembang dengan segala keahlian yang diperlukan sebagai pemain bagus. Kami berlatih setiap hari dengan bola melekat di kaki setiap saat,” ujar Lionel Messi, salah satu jebolan terbaik La Masia.

maxresdefault

Di dinding ruang makan terpampang foto upacara kelulusan kapten Barcelona Carles Puyol dan pelatih Pep Guardiola. Sementara itu, di dapur seorang juru masak menyapa dengan ramah, dan para pemain bisa menyelesaikan pekerjaan rumah mereka di ruang belajar di tingkat dua. Suasana di La Masia memang terkesan merupakan perpaduan antara tradisi dengan harapan, suasana menyenangkan dan kebiasaan. Memang tidak ada sisi istimewa lain dari tempat ini, tetapi lokasi seluas 600 meter persegi inilah yang membuat sistem pendidikan pemain Barcelona sangat unik dalam memproduksi pemain bola kelas dunia.

La Masia terdiri dari 15 tim, 290 pemain dan 110 pegawai dan pelatih. Dari 290 pemain, 90 persen diataranya berasal dari Spanyol, dengan 50 persen di antaranya adalah orang-orang Catalunia. Sebut saja Victor Valdes, Carles Puyol, Xavi, Iniesta, Sergio Busquets, Bojan Krkic, Gerrard Pique, Fabregas, Jordi Alba. Sisanya, 10 persen adalah pemain-pemain muda dari luar Spanyol. Lionel Messi adalah contohnya. Sudah ada 500 lebih pemain yang dihasilkan La Masia sejak 1979 silam.

Meskipun telah sukses membina anak asuhannya menjadi pemain-pemain profesional, akademi La Masia mempunyai kebijakan yang menarik dan baik untuk para anak asuhnya yaitu tidak mengesampingkan pendidikan formal. Tidak sedikit akademi sepakbola di dunia yang mengharuskan pesertanya berhenti sekolah formal di usia 15 tahun dan fokus pada dunia sepakbola. Namun berbeda di La Masia, para peserta diwajibkan menyelesaikan pendidikan formal mereka dan akan mendapatkan sanksi jika tidak memperoleh nilai bagus.

Kunci kesuksesan Barcelona

Dalam beberapa tahun terakhir, Barca dianggap sebagai klub terbaik dan tersukses di dunia. Mungkin terkesan mendadak dan terjadi begitu cepat. Tapi, tentu saja tidak sama sekali. Semua ini adalah buah dari kerja keras dalam membentuk dan memoles bibit muda menjadi pemain bertalenta tinggi.

Jauh sebelum munculnya Lionel Messi dkk, generasi emas La Masia pertama muncul di tahun 1990an ketika tanpa disangka-sangka di bawah komando Johan Cruyff, Barcelona berhasil mendapatkan trofi piala Eropa tahun 1992. Saat itu nama-nama Guillermo Amor, Albert Ferrer, dan Josep Guerdiola adalah lulusan pertama La Masia yang dapat membuktikan dan mengabulkan harapan Barcelona.

Para alumni La Masia

Para alumni La Masia

Pada periode berikutnya, tentu kita sudah tahu siapa saja para alumni La Masia. Ada Ivan de la Pena, Carles Puyol, dan Xavi Hernandez di periode akhir 90an. Lalu disusul nama-nama Pepe Reina, Victor Valdes, Cesc Fabregas, Sergio Busquets, Gerard Pique, Andres Iniesta, Mikel Arteta, dan tentu saja Lionel Messi. Kini, La Masia terus melahirkan talenta baru macam Pedro Rodriguez, Bojan Krkic, Thiago Alcantara, Christian Tello hingga yang teranyar Gerard Deulefou.

Bahkan pada November 2012, untuk pertama kalinya dalam sejarah, Barcelona menurunkan 11 pemain yang merupakan alumni La Masia. Ini merupakan suatu yang istimewa dan sebuah pencapaian mengesankan di era sepak bola yang makin kosmopolitan. Sebagai kontras, Chelsea hanya menurunkan satu pemain Inggris saat melawan Manchester City pada hari yang sama, yakni Ashley Cole.

Inilah-11-pemain-Barca-saat-melawan-Levante-yang-diisi-oleh-pemain-pemain-La-Masia

Jika ada penunjukan tujuh keajaiban dunia di sepak bola, mustahil tidak menyebut nama La Masia sebagai salah satunya. La Masia adalah magis. Ia adalah rumah pencetak pemain berkualitas. Sukses Barcelona menjadi satu-satunya klub sepanjang sejarah yang memenangi enam trofi di musim 2009/10 adalah karena magis La Masia. Tujuh di antara 11 pemain yang menjadi line up timnas Spanyol saat menjuarai Piala Dunia 2010 juga merupakan alumnus La Masia. Bukti kesuksesan lainnya adalah ketika pada 2010, tiga finalis Ballon d’Or berasal dari La Masia: Messi, Iniesta dan Xavi.

messi_iniesta_xavi

Satu hal yang pasti, di tengah kiprah para jutawan yang ramai-ramai menjadi pemilik klub dan menggelontorkan uang di bursa transfer, Barcelona membuktikan jika mereka bisa memproduksi pemain kelas dunia bahkan terbaik di dunia. Fenomena ini juga membuktikan, sepak bola tak melulu soal bisnis dan uang. Ibarat emas, Barca memilih menambang, mengolah sendiri bongkahan emas alam, hingga memiliki nilai seperti saat ini. Tidak dengan membeli di toko emas. Inilah La Masia d’Or, emas La Masia.

So, Visca La Masia, Visca Barca!

heroes-de-la-masia

<<>>

*Merupakan saduran dari beberapa sumber, dengan sedikit gubahan. Link sumber:

http://master303.com/blog/kala-barca-bermain-dengan-11-alumni-la-masia/
https://edyelfaruqie.wordpress.com/category/barcelona/la-masia/
http://sport.detik.com/aboutthegame/read/2014/03/23/085518/2533838/1480/la-masia-vs-la-fabrica-pembinaan-vs-isi-dompet
http://tidakmenarik.wordpress.com/2011/03/02/mengunjungi-la-masia-rumah-batu-tempat-legenda-sepak-bola-dunia-ditempa/

Advertisements

Tentang Dua Dosa Besar

Beberapa hari yang lalu saya melihat kabar di social media bahwa teman-teman saya yang tergabung dalam Growbox ternyata berhasil masuk dalam acara Kick Andy. Meskipun saya ga sempet melihat episode mereka ditayangkan, tapi rasanya saya ikut bangga atas kesuksesan teman-teman saya ini. Saya memang bukan bagian dari tim mereka, tapi ketika awal-awal Growbox ini muncul, saya percaya ini merupakan salah satu bisnis unik yang mungkin akan terkenal di kemudian hari. Berhasil diwawancarai di Kick Andy mungkin hanya menjadi awal pembuktian kesuksesan mereka. Sekali lagi selamat ya Aldi, Robbi, dkk!

Ah, tiba-tiba saja saya teringat tentang sebuah mitos dua dosa besar. Ya, dua dosa besar yang konon dimiliki oleh sebagian besar alumni Ganesha, tidak terkecuali saya.

view_481-1206238487_contriSaat itu di awal tahun 2008, ada sebuah talkshow memperingati hari jadi kampus kami. Sebuah talkshow yang disiarkan di salah satu stasiun tv swasta dan dipandu oleh Andy F. Noya. Ya, saat itu acara Kick Andy dengan venue dan tema tentang kampus saya. Dari semua hal yang dibahas disana, ada satu hal yang saya ingat sampai sekarang, bahkan hal tersebut telah mendoktrinisasi saya di sisa waktu di kampus Ganesha. Adalah Pak Kusmayanto Kadiman, mantan rektor (2001-2004) dan mantan menteri Riset dan Teknologi (2004-2009), yang mengatakan suatu hal terkait dosa besar. Kurang lebih kalimatnya seperti ini:

“Semua mahasiswa di kampus ini memiliki satu dosa besar. Apa dosa besar itu? Yaitu ketika mereka bersaing saat mengikuti ujian masuk kampus ini dan akhirnya berhasil lolos, mereka telah menyingkirkan banyak siswa lainnya dari seluruh penjuru Indonesia, yang juga sangat ingin masuk kampus ini. Dosa besar ini bisa ditebus atau malah menjadi berlipat ganda saat mereka telah lulus dari kampus ini. Bila mereka melamar pekerjaan di perusahaan-perusahaan besar, bersaing dengan alumni dari kampus lain, maka dosa besar itu telah menjadi dua. Dosa besar itu baru akan impas bila saat lulus nanti, alumni kampus ini membuka lapangan pekerjaan sendiri, berwirausaha, lalu mengajak orang-orang dari kampus lain. Maka, hilanglah dosa besar itu.”

Semenjak acara inilah akhirnya saya mencoba mengisi sisa waktu saya di kampus Ganesha dengan hal-hal yang berbau entrepreneurship. Saya ingin mencoba untuk menebus dosa besar saya, alih-alih melipat gandakannya. Sinjang Batik, Mushroom Factory, Lentera Angin Nusantara (LAN) dan PLONGO merupakan beberapa ide bisnis yang pernah menghiasi hari-hari saya, yang telah menjadi media dalam penebusan dosa saya, walaupun ternyata belum berhasil, bila tidak ingin dibilang gagal.heuu.  Ya, ternyata tidak semudah itu dalam membangun sebuah bisnis dan sebuah lapangan pekerjaan. Tidak semudah seperti yang ditayangkan di acara-acara TV, walaupun mungkin ada yang cukup mudah, tapi rasanya itu sangat jarang sekali. Sebagian besar dari mereka yang mencapai kesuksesan dalam wirausaha pasti meraihnya dengan jerih payah dan pengorbanan.

logo-logo

Karena itu pulalah, maka saya begitu menghargai teman-teman dan senior-senior saya yang hingga kini masih bertahan di jalannya. Masih bertahan dengan idealismenya, untuk bekerja dengan usaha sendiri, dengan jerih payah sendiri, bukan dengan bekerja di perusahaan swasta, pegawai negeri atau malah perusahaan asing. Entah kenapa, saya lebih tertarik mendengar kabar tentang munculnya bisnis-bisnis baru dari alumni Ganesha, ketimbang kabar dari alumni-alumni yang berhasil bekerja di perusahaan besar, punya jabatan tinggi atau gaji yang sangat besar.

Waktu 4,5 tahun kuliah di kampus yang konon katanya terbaik di Indonesia ini telah memberi saya banyak pelajaran dan juga mengenalkan saya dengan bayak orang hebat. Orang-orang yang teguh di jalannya, orang-orang yang percaya akan mimpi-mimpi mereka. Percaya bahwa hal kecil yang mereka lakukan merupakan perwujudan usaha mereka untuk membalas budi kepada Nusantara tercinta. Ada beberapa dari mereka yang hingga kini selalu memberi inspirasi bagi saya, diantaranya:

Ada Ka Sano (M. Bijaksana Junerosano – Teknik Lingkungan 00) yang masih tetap eksis dengan Greeneration Indonesia dan tas Bagoes-nya, dibantu juga oleh sahabat saya Tian (Christian Natalie – Teknik Lingkungan 06) yang masih bertahan dengan idealismenya. Greeneration Indonesia adalah perusahaan yang memperkenalkan gaya hidup ramah lingkungan.

Lalu ada Shana (Shana Fatina Sukarsono – Teknik Industri 04) yang menjabat sebagai CEO Tinamitra Mandiri, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang energi terbarukan. Kini mereka fokus dalam konversi bahan bakar gas untuk angkot (angkutan kota) di Cirebon, kampung halaman saya.

Ada Aqsath (Aqsath Rasyid Naradhipa – Teknik Informatika 06) yang masih berada di jalannya untuk mewujudkan mimpinya melalui perusahaan yang dibangunnya dari nol, yaitu NoLimit.

Ada Yuri (Yuri Alfa Centauri – Desain Produk 06) yang masih bertahan dengan kesederhanaannya, hidup dengan menjadi pengajar dan juga pengembangan desain produk. Kini dia sedang merintis brand-nya sendiri: Ainoir.

Ada Jody (Arya Jodipati – Kriya 04) yang masih eksis dengan Kiwari Industri.

Mas Bambang (Bambang Setiawan – Teknik Sipil 04), seorang insinyur yang malah terjun menjadi peternak jangkrik. Namun dari situlah ternyata dia bisa memberi manfaat bagi masyarakat banyak.

Aldi (Ronaldiaz Hartantyo – Arsitektur 07) dan Robbi (Robbi Zidna Ilman – Arsitektur 07) dengan Growbox-nya yang masih sedang bertumbuh pesat.

Dan tentu saja Amel (Amalia Fajriyanti – Teknik Fisika 07), yang hingga kini masih bertahan di Lentera Angin Nusantara bersama mas Ricky Elson, berjuang untuk memberi secercah cahaya di ujung Nusantara tercinta.

logo lg

Rasanya masih banyak lagi alumni-alumni yang masih berjuang di jalannya, berjuang untuk sekedar mempertahankan idealisme, yang entah sampai kapan bisa bertahan. Saya tahu persis, beberapa diantara mereka justru hidup dalam kesederhanaan. Mereka bisa saja melamar ke sebuah perusahaan, mendapat gaji di atas rata-rata, hidup nyaman, tidak ada resiko dan tidak perlu ada sebuah pengorbanan. Tapi nyatanya, mereka memilih untuk tidak di jalan itu, mereka memilih untuk tetap berada di jalan yang mungkin sangat terjal dan berliku, sangat penuh resiko, dan sewaktu-waktu akan menuntut pengorbanan dari mereka.

Meskipun jalan itu tidak mudah, mereka melakukannya dengan senang hati karena memang passion mereka disitu. Itulah mimpi mereka. Ada kepuasaan tersendiri ketika mereka berhasil mewujudkan target-target mereka. Dan yang pastinya, kalau mengacu pada teori Pak Kusmayanto, orang-orang ini adalah kelompok yang telah berhasil menebus dosa besar mereka.

Lalu bagaimana mereka yang memilih untuk menjadi pegawai, seperti saya sekarang ini? Apa dosanya semakin membesar? Ah, itu kan kata Pak Kusmayanto, bukan kata Tuhan. Mungkin Tuhan tidak menganggap bahwa alumni Ganesha yang menjadi pegawai itu memiliki dua dosa besar dan yang berwirausaha telah menebus dosanya. Mungkin dosa-dosa itu juga tidak ada di catatan malaikat Raqib dan Atid, jadi kenapa harus dipermasalahkan? Toh setiap orang, tidak terkecuali alumni kampus ini punya hak untuk memilih jalan hidup mereka. Rasanya sah-sah saja mereka memilih jalan yang lebih aman dan nyaman.

Hmm…tapi kalau saya disuruh memilih, rasanya saya masih memendam hasrat untuk berjalan di sebuah jalan yang lebih menantang, mewujudkan sebuah mimpi yang masih tertunda. Ya, meskipun mungkin dosa besar itu hanya sebuah mitos atau bahkan sebuah anekdot, saya tetap berharap bisa terbebas dari dosa besar itu, dosa yang mungkin benar adanya bila kita bekerja hanya untuk kepentingan pribadi semata, tanpa memberi manfaat bagi masyarakat banyak. Ya, semoga ada jalan untuk mewujudkan mimpi itu.  Semoga..

tumblr_lxk1yv9gFJ1qafsilo1_12801

<<>>

Delft Centrum, 27 Mei 2014