Balada seekor Unta

042..

Alkisah di sebuah negeri Gurun Pasir yang dihuni bangsa Unta, sang Raja Unta menyuruh salah seorang prajuritnya untuk mengemban misi khusus menyusup ke sebuah negeri tetangga. Prajurit unta tersebut ditugaskan untuk mencari berbagai informasi dan pengetahuan yang bisa berguna bagi kesejahteraan bangsa unta. Karena statusnya yang hanya seorang prajurit, unta tersebut tidak punya pilihan selain menerima tugas tersebut, meskipun sebenarnya dia tidak ingin meninggalkan negerinya.

Negeri yang menjadi tujuan prajurit unta itu adalah sebuah negeri yang disebut dengan negeri Padang Rumput. Mayoritas penduduk negeri tersebut adalah bangsa kuda. Karena alasan itu, Raja unta menasihati sang prajurit untuk menyamar menjadi seekor kuda, agar dia tidak dicurigai dan bisa berbaur seperti rakyat biasa di negeri itu. Kembali dengan berat hati, sang prajurit unta pun berusaha menyamar menjadi seekor kuda. Dengan susah payah ia merubah tampilan fisiknya agar lebih terlihat seperti seekor kuda. Tidak lupa, ia pun belajar bahasa kuda, yang masih satu rumpun dengan bahasa bangsa unta.

Seorang diri sang prajurit unta pun melakukan perjalanan jauh menuju negeri Padang Rumput. Dia harus meninggalkan negeri Gurun Pasir yang ia cintai, meninggalkan keluarga dan sahabat-sahabatnya entah hingga berapa lama. Di perjalanan, ia bertemu dengan segerombolan kuda zebra, yang rupanya akan menuju negeri Padang Rumput juga. Ia pun mencoba untuk berbaur, tentu saja dengan penyamaran sebagai seekor kuda. Hingga akhirnya ia bergabung dengan gerombolan itu melanjutkan perjalanan ke negeri yang mereka tuju. Rupanya penyamarannya cukup berhasil, karena tidak ada satupun dari gerombolan zebra yang menyadari bahwa sang prajurit unta itu bukanlah seekor kuda.

kuda_zps1c82a736

Sesampainya di negeri Padang Rumput, sang prajurit unta pun sangat tercengang, melihat negeri yang begitu hijau dan indah. Rumput yang menjadi sumber makanan utama, terhampar di seluruh penjuru negeri. Sungai-sungai mengalir dengan jernih. Tidak ada satupun rakyat di negeri ini yang kelaparan. Bahkan rupa dari rakyat kuda di negeri ini terlihat sangat sehat, kuat, anggun dan elegan. Kondisi ini sangatlah berbeda dengan negeri asalnya, yang sangat gersang dan panas. Rumput dan pepohonan sangat jarang ditemukan pun begitu dengan sumber mata air. Menahan lapar berhari-hari sudah menjadi hal yang biasa bagi bangsa unta. Tidak hanya itu, rupa rakyat unta boleh dibilang cukup nelangsa, terlihat kurus, lusuh dan kotor.

Melihat keadaan yang sangat bertolak belakang ini, akhirnya sang unta mengerti mengapa ia harus menyamar menjadi seekor kuda. Mungkin saja kalau tetap bertampang unta, ia akan dilecehkan dan dianggap rendah di negeri ini.

Waktu-waktu awal di negeri ini, sang unta sangat senang dan bahagia. Dia berjalan ke berbagai tempat, memakan berbagai macam rumput yang ada, meminum air sungai yang segar, bergaul dan berbincang dengan banyak kuda, serta banyak hal lagi yang ia lakukan mengikuti pola hidup bangsa kuda. Sesaat ia pun lupa tentang negeri asalnya, pun tentang jati diri ia sebenarnya yang hanya seekor unta.

Namun, semakin lama ia di negeri ini, ia merasa ada sesuatu yang hilang. Sesuatu yang tidak bisa tergantikan meskipun dengan kenikmatan yang ada disini. Ia merasa bahwa pola hidup bangsa kuda bukanlah pola hidupnya. Ia pun rindu dengan negeri asalnya, yang gersang dan tandus.

Di negeri padang rumput ini, semuanya memang sangat berbeda. Rakyat kuda setiap harinya hanya makan rumput sambil berteduh di pohon rindang, berusaha untuk menjaga tubuhnya tetap indah agar bisa dijadikan manusia sebagai hewan peliharaan. Mereka harus menggunakan suatu alas kaki khusus agar bisa berjalan jauh dan berlari cepat.

Capaian tertinggi dari rakyat kuda adalah digunakan sebagai kuda balap oleh manusia. Di negeri manusia sana, balapan kuda sangatlah populer. Ratusan orang menonton kuda-kuda berlomba lari. Bila tidak cukup kencang berlari, sang joki pun tidak segan untuk memukulnya dengan sebuah pecutan. Bila tidak cukup kuat dan cepat, kuda-kuda tersebut bisa dijadikan hewan peliharaan manusia. Kuda-kuda tersebut akan dipoles sedemikian rupa agar bisa tampak indah, sehingga menjadi tontonan yang menarik bagi manusia lainnya.

Hal ini tentu saja sangat berbeda dengan kondisi bangsa unta. Unta diciptakan dengan tubuh yang tidak sebagus kuda. Unta memiliki punuk yang membuatnya jadi aneh dan wajah yang terlihat seperti hewan bodoh. Namun begitu, unta memiliki banyak kelebihan yang tidak dimiliki bangsa kuda. Kaki-kaki unta diciptakan khusus untuk berjalan di berbagai medan. Medan padang pasir yang sulit dan sangat panas akan dengan mudah dilewati. Walaupun unta membawa beban ratusan kilogram, kaki unta tidak akan terperosok ke dalam pasir.

camel_drinking.img_assist_custom-600x418

Selain itu, unta terlatih untuk menahan lapar, ia bisa bertahan hingga 3 minggu tidak makan dan minum. Ketika mendapatkan sumber makanan dan minuman, ia bisa menyimpannya di dalam tubuhnya sebagai cadangan. Ia juga bisa meminum air sebanyak sepertiga berat badannya hanya dalam waktu 10 menit. Tidak hanya itu, bagian kelopak mata unta dapat tembus cahaya sehingga ia bisa tetap melihat walaupun matanya tertutup dan bulu matanya bisa saling mengait membentuk semacam teralis untuk melindungi mata dari debu dan butiran pasir akibat hembusan badai pasir.

Karena perbedaan-perbedaan itulah, sang prajurit unta merasa ada yang hilang dari hidupnya di negeri padang rumput ini. Meskipun segala kenikmatan ada di negeri ini, ia merasa kosong. Ia tidak bisa berbincang dengan teman bangsa kudanya tentang apa yang ada di pikirannya. Terkadang ia berharap sang Raja unta mengutus prajurit unta lainnya datang ke negeri ini, agar ia bisa berbincang dan berbagi. Sekedar berbincang tentang gurun pasir yang gersang dan panas, tentang bagaimana cara bertahan hidup dan makan ala kadarnya, tentang bekerja dengan ikhlas untuk membantu manusia melakukan perjalanan di padang pasir serta tentang mimpi-mimpinya untuk negeri asalnya.

Dalam kegundahannya itu, sang unta pun hanya bisa berharap agar tugasnya di negeri ini bisa cepat selesai. Agar ia bisa pulang kembali ke negeri asalnya, bertemu keluarga dan sahabat-sahabatnya serta yang lebih penting, kembali hidup menjadi seekor unta seperti sedia kala. Ya, sang unta hanya bisa berharap.

Ah unta, suruh siapa juga kamu menjadi unta…

camel-163703_640

<<<>>>

Note:
Jenis hewan di tulisan ini hanya bentuk pengasosiasian, bukan bermaksud untuk mendeskritkan jenis hewan tertentu. Mohon maaf bila kebetulan ada unta ataupun kuda yang kebetulan membaca tulisan ini dan merasa tersinggung karena tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya. :p

 

Advertisements

Apa sih Pendulum Nusantara itu?

Tol laut = Pendulum Nusantara

Beberapa hari belakangan ini saya menemukan beberapa diskusi di social media terkait program “tol laut” yang diutarakan oleh salah satu capres ketika acara debat 15 Juni kemarin. Namun sayangnya sebagian besar yang membahas ini tidak terlalu tahu apa itu program “tol laut”, sehingga isi dari diskusinya jauh dari pembahasan esensi program, tapi hanya jadi debat dua kubu pendukung capres.

Jujur saja, saya bukan pendukung salah satu capres. Dan saya juga tidak tertarik untuk berbicara politik dan berdebat mana capres yang lebih baik. Saya tidak peduli siapa yang menyebutkan program “tol laut ” ini untuk dijadikan salah satu program unggulan atau media kampanyenya. Tapi ketika esensi program ini menjadi blur hanya karena perdebatan antara dua kubu, saya jadi agak gatel untuk mencoba memberi penjelasan dari sudut pandang saya.

“Tol laut” yang disebutkan salah satu capres, rasanya tidak lain dan tidak bukan adalah program Pendulum Nusantara yang dicetuskan oleh perusahaan tempat saya bekerja, melalui CEO kami, R.J. Lino. Dan kalau memang benar tol laut = pendulum nusantara, berarti ini bukanlah sebuah ide baru dari salah satu capres, melainkan sebuah program yang inisiasinya sudah lebih dari setahun yang lalu dan saat ini sedang dalam proses pelaksanaan. Nah, kali ini saya akan mencoba memberi sedikit pemahaman tentang program yang disebut salah satu capres dengan istilah “tol laut” itu. Oiya, satu yang pasti, istilah tol laut bukanlah membangun jalan tol di atas laut ya! hehe..

Apa sih biaya logistik itu? Kenapa disebut biaya logistik Indonesia tinggi?

Sebelum menjelaskan tentang Pendulum Nusantara, ada baiknya saya beri sedikit gambaran tentang latar belakang program tersebut dicetuskan.

Mungkin sebagian dari anda pernah dengar, atau bahkan mungkin mengalaminya, bahwa beberapa barang tertentu di Indonesia bagian timur harganya jauh lebih mahal dibanding daerah di Indonesia bagian barat. Misalnya harga semen di Pulau Jawa sekitar Rp 70 ribu, tapi di Papua malah mungkin mencapai Rp 1 juta. Atau mungkin beberapa harga bahan pokok, yang memperlihatkan sebuah ketimpangan. Di bawah ini ada sedikit perbandingan data tentang ongkos kirim satu kontainer dari Jakarta ke beberapa kota. Dapat dilihat bahwa ongkos kirim ke Hamburg yang jaraknya 11.000 km ternyata lebih murah daripada ke Padang yang jaraknya hanya 1.000 km.

logistikOngkos yang mahal inilah yang akhirnya menyebabkan harga barang menjadi lebih tinggi daripada seharusnya. Inilah yang disebut biaya logistik, dan kenyataannya biaya logistik nasional itu memang tinggi. Kenapa ini bisa terjadi? Penyebabnya sangat banyak, bisa jadi satu tesis sendiri untuk membahasnya.hehe.

Nah, mari kita fokus kenapa harga barang di Indonesia bagian timur lebih mahal ketimbang di bagian barat. Coba perhatikan peta arus perdagangan domestik di bawah ini, ketebalan garis mencerminkan magnitude perdagangan. Dapat dilihat bahwa arus perdagangan di Indonesia ternyata sangat timpang, dominan di bagian barat, dan sangat kecil di bagian timur, seperti Papua, Maluku, dsb.

trade flow

Kondisi geografis di Indonesia mungkin salah satu yang paling unik di dunia, karena terdiri dari banyak pulau. Untuk mengangkut suatu barang dari satu tempat ke tempat lain, tentunya akan menjadi bergantung terhadap transportasi laut, karena transportasi laut ini memang yang paling murah dalam pengangkutan barang. Ga mungkin kan ngangkut semen dari Jakarta ke Ambon make pesawat terbang? hehe. (eh, bisa aja sih, pake pesawat Hercules, kalau lagi ada bencana. heu )

Nah, dalam prosesnya, pengangkutan barang ini sudah memiliki jalurnya sendiri. Mirip seperti jalur bus atau angkot. Saya analogikan sebagai berikut:

Sebuah bus jurusan Jakarta-Cirebon, akan mulai berangkat dari Jakarta mengangkut penumpang dan kemudian berhenti di terminal akhir di Cirebon. Setelah berhenti di Cirebon, bus yang sama tersebut tentunya akan mulai jalan kembali, dengan jalur yang terbalik, menjadi Cirebon-Jakarta. Pengusaha bus akan untung besar apabila dari satu bus ini berhasil mengangkut banyak penumpang, baik ketika berangkat dari Jakarta, ataupun ketika jalan lagi dari Cirebon. Lalu bagaimana jika ketika dari Jakarta cukup banyak penumpang, tapi saat berangkat dari Cirebon malah ga ada penumpang yang ikut? Tentunya bus tersebut bisa merugi. Lalu kemudian cara agar tidak merugi salah satunya adalah dengan menaikan harga tiket.

Nah, analogi di atas sama dengan sistem transportasi barang. Sebuah kapal berangkat dari Pelabuhan Tanjung Priok menuju Pelabuhan Sorong (Papua) mengangkut berbagai macam kebutuhan pokok, kapal terisi penuh. Tapi ketika sudah sampai di Papua dan akan kembali lagi, ternyata tidak ada atau sangat sedikit barang yang diangkut kapal tersebut. Alhasil, pengusaha kapal pun merugi, sehingga satu-satunya jalan agar tidak merugi adalah menaikan ongkos angkut barangnya. Ketika ongkos angkut barang dinaikan, tentunya akan mengakibatkan harga barang yang dikirim tersebut menjadi lebih mahal ketika dijual. Itulah kenapa akhirnya harga barang-barang di Papua atau daerah timur lainnya menjadi lebih mahal.

Pertanyaan berikutnya adalah, kenapa bisa tidak ada barang lagi yang diangkut oleh kapal dari Papua? Hal ini terjadi karena hampir tidak ada industri disana. Disana memang memiliki beberapa pertambangan, tapi hasil-hasil tambang tersebut jarang dikirim melalui pelabuhan umum. Bahkan tambang seperti Freeport sudah memiliki pelabuhan dan kapal sendiri untuk mengangkut emas-emas yang dihasilkan dari tanah Papua untuk dilarikan langsung ke luar negeri.

Karena tidak ada jumlah barang yang setimpal yang bisa diangkut kembali dari Papua menuju tempat asal kapal tersebut berasal, maka seperti yang terlihat di gambar di atas, flow perdagangan ke Indonesia timur menjadi jauh lebih kecil.

Lalu apa sih Pendulum Nusantara itu?

Dalam bahasa sederhananya, Pendulum Nusantara adalah sebuah sistem transportasi barang dengan menggunakan kapal ukuran besar (kapasitas 3000-4000 TEU) yang melewati sebuah jalur laut utama dari ujung barat hingga ujung timur Indonesia secara rutin. Karena pola gerakannya dari barat ke timur dan kemudian berbalik timur ke barat (seperti gerakan sebuah pendulum ketika digoyangkan), maka program ini disebut Pendulum Nusantara.

Di dalam jalur laut utama tersebut, akan ada 5 pelabuhan utama yang akan disinggahi oleh kapal-kapal ukuran besar, yaitu Belawan (Medan), Tanjung Priok (Jakarta), Tanjung Perak (Surabaya), Makassar dan Sorong (Papua). Lima pelabuhan ini juga berfungsi sebagai titik simpul atau hub regional bagi daerah di sekitarnya (disebut dengan loop). Barang-barang akan dikirim ke pelabuhan di sekitarnya menggunakan kapal yang lebih kecil.

Dengan adanya kapal besar yang rutin berlayar dari barat ke timur dan sebaliknya tersebut diharapkan dapat terjadi transportasi barang yang lebih murah dan efisien, dimana biaya angkutnya tidak hanya bergantung pada satu trayek saja (misalnya: Tanjung Perak-Sorong), melainkan seluruh trayek menjadi memiliki peranan. Dalam hal ini, akan terjadi subsidi biaya dari trayek yang lebih ramai kepada trayek yang lebih sepi.

Tujuan dari program ini sendiri adalah agar terjadi sebuah efisiensi transportasi barang sehingga menurunkan biaya logistik nasional dan pada akhirnya mendorong tumbuhnya industri dan terjadinya pemerataan ekonomi, khususnya untuk Indonesia bagian timur. Skema pengembangannya dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

pendulumSesederhana itukah?

Tentu saja tidak. Kenyataannya, cukup banyak hambatan untuk bisa menerapkan program ini. Salah satunya adalah masalah infrastruktur. Tdak semua pelabuhan dapat mengakomodir kapal berukuran 3000-4000 TEU. Perlu adanya pembenahan infrastruktur atau bahkan pembangunan baru di tiap pelabuhan utama. Untuk hal ini, empat BUMN yang bergerak di bidang operator pelabuhan yaitu Pelindo I, III, IV dan IPC, telah berkomitmen untuk membenahi infrastruktur melalui pembentukan anak perusahaan gabungan PT. Terminal Petikemas Indonesia (TPI). PT. TPI ini yang nantinya akan menjadi operator di lima pelabuhan utama dalam jalur Pendulum Nusantara dan bertanggung jawab dalam standarisasi infrastruktur di tiap pelabuhan tersebut.

Nah, masalah berikutnya adalah kapal. Apakah perusahaan pelayaran di Indonesia memiliki kapal ukuran 3000-4000 TEU? Atau bila harus beli, sanggupkah mereka? Ada opini yang mengatakan bahwa bisa saja BUMN di bidang pelayaran, PT.Pelni, akan didorong sebagai operator shipping untuk Pendulum Nusantara ini. Terkait hal ini, saya tidak bisa memberi penjelasan, karena sudah bukan bidang saya. hehe.

Jadi, program ini memang tidak sederhana. Banyak hal yang harus dibenahi. Tapi bila melihat capaian bila program ini berhasil, rasanya sah-sah saja bila saat ini semua pihak yang berkepentingan mengeluarkan usaha yang keras untuk mewujudkan program ini.

Capaian dari Pendulum Nusantara, menurunkan biaya logistik nasional

Capaian dari Pendulum Nusantara, menurunkan biaya logistik nasional

Ship follow the trade atau trade follow the ship?

Dalam dunia shipping dan logistics, ada istilah: “Ship follow the trade”, yang maksudnya adalah kapal atau jalur pelayaran dan infrastruktur pendukung logistik seperti pelabuhan, jalan, dsb, akan ada ketika di tempat tersebut telah ada industri yang dibangun. Jadi, harus ada industri dulu, baru kapal akan datang.

Kalau diibaratkan dalam transportasi darat, misalnya: ITB telah membangun kampus baru di Jatinangor. Karena ada kampus baru tersebut maka dibuatlah sebuah trayek baru bus DAMRI dari ITB di jalan Ganesha langsung ke Jatinangor untuk mengangkut para mahasiswa yang berkuliah disana.

Nah, teori ini tentunya sah-sah saja. Lalu bagaimana bila teorinya dibalik? Pemda Bandung ternyata membuat trayek baru Ganesha-Jatinangor terlebih dahulu, walaupun mungkin tidak ada mahasiswa atau penumpang yang bakal naik trayek tersebut. Alhasil mungkin saat awal trayek itu jalan, penumpangnya sangat sedikit atau bahkan malah tidak ada. Nah, pihak ITB setelah melihat ada sebuah peluang trayek baru tersebut menjadi timbul inisiatif untuk membangun sebuah kampus baru di Jatinangor. Mungkinkah kasus ini terjadi? Tentu saja mungkin.

Begitu pula dalam hal shipping dan logistics, teori “trade follow the ship” tentunya bisa terjadi. Nah, program Pendulum Nusantara ini justru seperti mengaplikasikan teori tersebut. Mereka membangun jalurnya terlebih dahulu, tanpa perlu tahu apakah akan ada industri baru yang dibangun di Papua, Maluku, dsb atau tidak. Setelah jalur tersebut berjalan, diharapkan justru mendorong para investor untuk berinvestasi membangun industri di daerah-daerah tersebut.

Tentunya konsep ini memang beresiko, itulah mengapa tidak sedikit pihak yang menyangsikan konsep Pendulum Nusantara. Pihak-pihak tersebut beranggapan bahwa lebih baik bangun dulu industri di Papua dan sebagainya, maka jalur transportasi akan ada dengan sendirinya. Namun bila prinsip ini tetap dianut, berarti kita hanya bisa menunggu pemerintah atau investor untuk membangun industri. Lalu pertanyaannya, sampai kapan kita menunggu? Sampai Papua akhirnya memerdekakan diri?

Meminjam perkataan Dirut saya, “Kerjakanlah apa yang menjadi bagian kamu dengan sebaik-baiknya terlebih dahulu. Setelah itu, baru kita dorong pihak lain untuk mengerjakan bagian mereka juga dengan sebaik-baiknya”.

Intinya, kami dari pihak kepelabuhanan dan shipping berusaha mengerjakan bagian kami dengan membuat program Pendulum Nusantara ini. Dengan harapan dapat membantu mengurai permasalahan biaya logistik Indonesia yang tinggi. Sambil berharap juga dapat mendorong tumbuhnya industri baru dan terjadinya pemerataan ekonomi.

Salah satu capaian bila program Pendulum Nusantara diterapkan, mendorong pertumbuhan trafik kontainer

Salah satu capaian bila program Pendulum Nusantara diterapkan, mendorong pertumbuhan trafik kontainer

Mengapa ada opini sumbang?

Bila anda mencari di om google dengan kata kunci “Pendulum Nusantara”, anda tidak hanya menemukan berita-berita positif, tapi ada juga berita yang isinya justru menganggap ini adalah sebuah solusi yang tidak efektif. Kebanyakan berita tersebut berasal dari salah satu pihak, yang notabene juga memiliki peran dalam rantai logistik di Indonesia.

Untuk hal ini, saya mau sedikit memberi analogi. Anggaplah anda mengidap sebuah penyakit yang jarang terjadi, bahkan satu-satunya di desa anda. Dan seluruh desa belum tahu obatnya apa. Lalu tiba-tiba ada orang yang tidak anda kenal datang dan memberi sebuah obat. Orang tersebut memberi penjelasan bahwa obat tersebut dapat menyembuhkan penyakit anda, dan pernah sukses dicoba di desa lain. Nah, apakah anda akan meminum obat tersebut?

Tentu saja anda akan mikir-mikir dulu. Dan sah-sah saja bila anda menolak obat tersebut. Bila anda tahu tentang bidang farmasi, anda bisa meneliti tentang obat tersebut. Tapi bila tidak, anda hanya punya dua pilihan: 1. mencobanya dengan resiko sembuh dan tidak atau 2. menolaknya sambil menunggu penyakit anda menggerogoti tubuh anda. Anda pilih yang mana? Kalau saya jadi anda, tentu saja saya akan mencoba obat tersebut. 🙂

Kesimpulan

Terminal Internasional Peti Kemas Jakarta

Terlepas dari program ini menjadi salah satu media kampanye dari salah satu capres, menurut saya Pendulum Nusantara merupakan salah satu solusi efektif untuk mengurai permasalahan dunia maritim dan logistik di Indonesia yang saat ini keadaanya cukup ruwet.

Meskipun dari kecil kita sering dinyanyikan lagu Nenek Moyangku Seorang Pelaut dan selalu diajarkan tentang kondisi geografis kita yang dua per tiganya lautan, nyatanya sistem transportasi laut dan bahkan bidang maritim kita masih amburadul. Kita jauh tertinggal dari negara-negara lain yang justru memiliki laut yang tidak lebih luas dari kita. Bahkan laut yang seharusnya menjadi sumber kekayaan dan kesejahteraan kita, malah seakan-akan menjadi biang keladi kesengsaraan bangsa kita.

Rasanya sudah seharusnya kita kembali ke ranah asal kita, lebih bersahabat dengan laut. Manfaatkan laut sebagai modal utama untuk mensejahterakan bangsa kita.

Dosen saya pernah berkata: “Ketika SD kita pernah diajarkan bahwa Indonesia adalah negara kepulauan dengan memiliki 17 ribu pulau yang DIPISAHKAN oleh LAUTAN. Seharusnya kita diajarkan bahwa Indonesia memiliki 17 ribu pulau yang DIHUBUNGKAN oleh LAUTAN”.

Ya, sudah seharusnya paradigma bangsa Indonesia diubah, LAUT bukanlah PEMISAH tapi justru PENGHUBUNG!

<>

Delft, 20 Juni 2014

Salam hangat untuk Nusantaraku…

*Note: semua data di tulisan ini dapat dipertanggungjawabkan, bersumber dari IPC (PT. Pelabuhan Indonesia II)

Kejutan Tim Futsal PPI Delft

Groningen (8/6). Terjadi sebuah kejutan besar dari cabang futsal di kejuaraan Groningen Cup XIII, dimana tim futsal PPI Delft tanpa diduga berhasil melenggang ke babak semifinal. Tim yang dikomandoi oleh Kiki Wirianto ini berhasil mengalahkan lawan-lawannya di babak penyisihan dan perempat final. Namun, pada akhirnya mereka harus mengakui ketangguhan tim PPI Amsterdam II di babak semifinal. Juara dari cabang futsal ini sendiri adalah tim PPI Jerman Selatan yang di final berhasil mengkandaskan perlawanan Amsterdam II dengan skor 4 -2.

Juara futsal Groens Cup, tim Jerman Selatan

Juara futsal Groens Cup, tim Jerman Selatan

Realistis

Tim Delft tidak memiliki target apa-apa di kejuaraan Groens Cup kali ini, mengingat beberapa minggu sebelumnya mereka gagal total di kejuaraan Tilburg Communal League. Selain itu beberapa pemain andalannya seperti Vittorio Kurniawan, Sutjianto Buntoro dan kiper Andhika Surya tidak bisa ikut bergabung karena cidera. Untuk menutup kekurangan tersebut, mereka memanggil lima pemain debutan, yaitu Ali Afandi, Delon Tumanggor, Daniel Sihombing, Maralus Simbolon dan pemain naturalisasi Adi Ahmad Fadhil.

“Ya, di kejuaraan kali ini, rasanya kami harus realistis, karena berada di grup yang cukup berat. Target kami hanya bermain sebaik-baiknya dan memberi pengalaman kepada para pemain debutan,” komentar kapten Kiki ketika memimpin timnya tiba di ACLO Sport Center, Groningen.

Bahkan salah satu pemainnya, Arif Rohman Hakim, berkomentar dengan sedikit bercanda, “Kami engga nyiapain untuk nginep mas, karena besok juga kami ga mungkin main lagi, jadi setelah ini langsung pulang.” Komentar Arif ini pun diikuti tawa oleh beberapa pemain lain.

Tim Delft memang berada di grup yang berat, yaitu di Grup C bersama tuan rumah Groningen dan tim kuat Amsterdam I. Itulah yang menyebabkan mereka tidak ingin berpikir terlalu jauh.

IMG-20140608-WA0023-1

Kalah di pertandingan pertama

Di pertandingan pertama, Delft harus mengakui ketangguhan Groningen dengan skor 1-4. Satu-satunya gol dari Delft diciptakan oleh Kiki. Sedangkan 4 gol yang diciptakan oleh Groningen semuanya berasal dari tendangan jarak jauh. Sepertinya kehilangan kiper Andhika menjadi titik lemah Delft. Bahkan mereka harus mencoba 3 pemain untuk dijadikan sebagai kiper. Di starting line up, Fajar Faizal ditunjuk sebagai kiper, namun secara mengejutkan Fajar kebobolan 3 gol cepat, sehingga harus diganti oleh Daniel. Namun lagi-lagi Daniel juga tidak bisa menahan serangan yang dilancarkan Groningen. Pada babak kedua, Ali Afandi dicoba menjadi kiper dan ternyata tampil cukup memuaskan.

“Sebelum kejuaraan, kami memang sudah mempersiapkan Fajar sebagai kiper, namun di pertandingan tadi sepertinya dia sedikit grogi, sehingga kebobolan gol-gol cepat. Namun, perjudian dengan meminta Ali Afandi untuk menjadi kiper di babak kedua ternyata membuahkan hasil yang memuaskan,” komentar Burhan selaku pemain merangkap pelatih kiper.

Lolos dari grup neraka

Di pertandingan kedua dan juga merupakan pertandingan penentuan, Delft melawan Amsterdam I. Tidak ada pilihan lain bagi Delft selain menang untuk bisa mempertahankan asa untuk lolos ke babak perempat final. Di awal babak pertama, Delft langsung mengambil insiatif penyerangan dengan mengandalkan ujung tombak Rihan Handaulah. Setelah beberapa kali mendapat peluang, akhirnya Kiki memecah kebuntuan menjadi 1-0, yang bertahan hingga turun minum. Di babak kedua, Rihan yang di pertandingan sebelumnya tampil lesu. kali ini tampil trengginas dengan mencetak 2 gol. Skor akhir 3 – 0 untuk kemenangan Delft bertahan hingga peluit akhir dibunyikan.

Di pertandingan berikutnya, secara dramatis Amsterdam I berhasil mengalahkan Groningen 2-1. Namun, kemenangan ini tidak cukup untuk mengantarkan mereka lolos ke perempat final. Karena semua tim di grup C memiliki nilai yang sama, yaitu 3. Berdasarkan peraturan selisih gol, maka Groningen memiliki agregat paling baik (5-3), diikuti oleh Delft (4-4) baru kemudian Amsterdam I (2-4). Sehingga yang lolos adalah Groningen dan Delft.

“Kami beruntung berhasil lolos dengan keunggulan agregat gol. Kemenangan 3-0 melawan Amsterdam I menjadi kuncinya. Kalau kami tidak mencetak 3 gol, mungkin kami gagal lolos, “ komentar Herminarto Nugroho, pemain sekaligus manajer tim Delft.

IMG-20140608-WA0025

Menang telak di perempat final

Sempat terjadi protes dari beberapa tim terkait pengundian turnamen. Mereka menuntut panitia untuk melakukan pengundian ulang perempat final. Namun akhirnya panitia memutuskan untuk tetap pada keputusan awal, hanya pada babak semifinal saja yang akan diacak kembali. Hal ini berarti tim Delft tetap bertemu tim Koalisi (Enschede-Deventer-Nijmegen), selaku juara grup D.

Melawan tim Koalisi, Delft memilih untuk tidak bermain terlalu terbuka, sehingga strategi catenaccio menjadi pilihan di awal-awal pertandingan. Namun justru melalui sebuah serangan yang tidak diduga, tim Koalisi berhasil unggul terlebih dahulu 1-0. Setelah tertinggal, Delft langsung mengubah strategi lebih menyerang, dan terbukti berhasil. Kiki menyamakan kedudukan dari sebuah tendangan bebas. Berikutnya, Delft berbalik unggul melalui kaki Rihan, 2-1. Skor ini bertahan hingga turun minum.

Di babak kedua, tim Koalisi lebih banyak mengambil insiatif penyerangan karena mereka harus menyamakan kedudukan. Namun dari skema serangan balik, Delft justru berhasil menambah gol melalui Rihan (2 gol) dan Daniel. Skor akhir 5-1 untuk Delft. Itu artinya secara tanpa diduga ternyata Delft berhasil melaju ke babak semifinal.

“Ini luar biasa! Rasanya ini adalah pencapaian tertinggi tim futsal Delft,” komentar Rihan, top skorer tim sekaligus satu-satunya pemain yang ikut bermain juga di Groens Cup tahun sebelumnya.

Tiga semifinalis lainnya adalah Groningen, Amsterdam II dan Jerman Selatan. Babak semifinal sendiri dimainkan pada hari berikutnya.

IMG-20140607-WA0015-1

Gugur di semifinal

Di babak semifinal, Delft harus kehilangan dua pemainnya yaitu Fajar Faisal dan Arif Rohman yang cidera saat bertanding di babak perempat final. Hal ini tentu saja menjadi kerugian bagi Delft.

“Pertandingan kemarin ditambah perjalanan panjang Delft-Groningen cukup menguras stamina para pemain. Jadi rasanya kami nothing to lose aja di pertandingan ini, toh mencapai semifinal sudah merupakan prestasi bagi kami,” komentar Ade Faisal, pemain paling gaek di tim Delft.

Melawan Amsterdam II, Delft kembali menggunakan strategi catenaccio untuk meredam serangan sekaligus mencoba menguras stamina tim lawan. Namun strategi ini menjadi berantakan ketika tim Amsterdam II dihadiahi penalti oleh wasit akibat Burhan yang dianggap melanggar peman Amsterdam II di kotak penalti. Penaltinya sendiri sukses dikonversi oleh pemain nomer 9, skor menjadi 0-1. Berikutnya, tim Delft mencoba untuk lebih menyerang, namun ternyata lewat skema serangan balik, tim Amsterdam II berhasil menambah gol. Ketika peluit akhir dibunyikan, skor menunjukan 0-6 untuk Amsterdam II. Delft pun terhenti di babak semifinal.

IMG-20140608-WA0024

Jatuh untuk segera bangkit

Dalam kenferensi pers usai pertandingan, tim Delft menegaskan bahwa pencapaian semifinal merupakan sebuah prestasi tersendiri bagi tim Delft. Apalagi, pencapaian ini lebih baik dari tim-tim yang mengalahkan mereka di Tilburg Communal League. Tim Tilburg tidak lolos grup, tim Eindhoven dan tim Rotterdam gugur di perempat final. Jadi setidaknya mereka telah berkembang lebih baik setelah kegagalan di Tilburg.

“Selama ini kami selalu berlatih di lapangan yang lebih kecil, jadi setelah turnamen ini rasanya kami harus mulai berlatih di lapangan yang lebih besar, supaya stamina dan skill tim kami lebih terasah,” jelas Hariadi Jejey, selaku asisten pelatih Delft.

Kapten Kiki juga menegaskan bahwa setelah kekalahan di semifinal ini, tim Delft akan berusaha untuk bangkit lagi, “Kekalahan ini memang cukup menyakitkan, tapi kami tidak boleh berlama-lama sedih. Kami harus segera bangkit lagi. Kami harus berlatih keras untuk menjadi tim yang lebih kuat.”

.

Tim futsal Delft telah menjadi salah satu keunikan tersendiri di kejuaraan Groningen Cup kali ini. Sebelum turnamen, banyak orang yang memandang sebelah mata terhadap tim ini, namun dengan semangat dan kesolidan  tim, mereka berhasil membalikan prediksi banyak pihak. Mereka berhasil membuat kejutan dengan berhasil lolos ke semifinal. Semoga mereka bisa berprestasi lebih tinggi lagi di kejuaraan-kejuaraan berikutnya. Sampai jumpa di Groningen Cup tahun depan. Doei!

IMG-20140607-WA0016

Skuad lengkap tim futsal Delft. Atas (ki-ka) : Farah Puspita (physiotherapist), Maralus Simbolon (DF), Fajar Faizal (GK/DF), Burhanudinsyah (DF/MF), Arif Rohman (MF/CF), Wahyu Cahyo Utomo (Scoutings), Rihan Handaulah (CF), Herminarto Nugroho (DF/MF), Yudha Prawira (President of club), Nada Ristya (Fitness coach); Bawah (ki-ka) : Kiki Wirianto (MF/CF), Hariadi Jejey (Assistant coach), Ali Afandi (GK/MF), Delon Tumanggor (DF/MF), Daniel Sihombing (DF/MF), Adi Ahmad Fadhil (DF/MF).

Ditulis oleh:

C360_2014-06-07-15-15-30-672Han_22
Penulis bukan wartawan olahraga, hanya seorang pecinta sepakbola yang tinggal di Delft

 

 

Dekat di hati

DEKAT DI HATI

# RAN

Dering telfonku membuatku tersenyum di pagi hari
Kau bercerita semalam kita bertemu dalam mimpi
Entah mengapa aku merasakan hadirmu di sini
Tawa candamu menghibur saat ku sendiri

# Aku di sini dan kau di sana
Hanya berjumpa via suara
Namun ku selalu menunggu
Saat kita akan berjumpa

Meski kau kini jauh di sana
Kita memandang langit yang sama
Jauh di mata namun dekat di hati

Dering telfonku membuatku tersenyum di pagi hari
Tawa candamu menghibur saat ku sendiri

# Aku di sini dan kau di sana
Hanya berjumpa via suara
Namun ku selalu menunggu
Saat kita akan berjumpa

Meski kau kini jauh di sana
Kita memandang langit yang sama
Jauh di mata namun dekat di hati

.
Jarak dan waktu takkan berarti
Karena kau akan selalu di hati
Bagai detak jantung yang ku bawa
Kemanapun ku pergi oh oh oh

Meski kau kini jauh di sana
Kita memandang langit yang sama
Jauh di mata namun dekat di hati
Dekat di hati, dekat di hati

—–

Untuk seseorang yang jauh disana, namun dekat di hati 🙂