Apa sih Pendulum Nusantara itu?

Tol laut = Pendulum Nusantara

Beberapa hari belakangan ini saya menemukan beberapa diskusi di social media terkait program “tol laut” yang diutarakan oleh salah satu capres ketika acara debat 15 Juni kemarin. Namun sayangnya sebagian besar yang membahas ini tidak terlalu tahu apa itu program “tol laut”, sehingga isi dari diskusinya jauh dari pembahasan esensi program, tapi hanya jadi debat dua kubu pendukung capres.

Jujur saja, saya bukan pendukung salah satu capres. Dan saya juga tidak tertarik untuk berbicara politik dan berdebat mana capres yang lebih baik. Saya tidak peduli siapa yang menyebutkan program “tol laut ” ini untuk dijadikan salah satu program unggulan atau media kampanyenya. Tapi ketika esensi program ini menjadi blur hanya karena perdebatan antara dua kubu, saya jadi agak gatel untuk mencoba memberi penjelasan dari sudut pandang saya.

“Tol laut” yang disebutkan salah satu capres, rasanya tidak lain dan tidak bukan adalah program Pendulum Nusantara yang dicetuskan oleh perusahaan tempat saya bekerja, melalui CEO kami, R.J. Lino. Dan kalau memang benar tol laut = pendulum nusantara, berarti ini bukanlah sebuah ide baru dari salah satu capres, melainkan sebuah program yang inisiasinya sudah lebih dari setahun yang lalu dan saat ini sedang dalam proses pelaksanaan. Nah, kali ini saya akan mencoba memberi sedikit pemahaman tentang program yang disebut salah satu capres dengan istilah “tol laut” itu. Oiya, satu yang pasti, istilah tol laut bukanlah membangun jalan tol di atas laut ya! hehe..

Apa sih biaya logistik itu? Kenapa disebut biaya logistik Indonesia tinggi?

Sebelum menjelaskan tentang Pendulum Nusantara, ada baiknya saya beri sedikit gambaran tentang latar belakang program tersebut dicetuskan.

Mungkin sebagian dari anda pernah dengar, atau bahkan mungkin mengalaminya, bahwa beberapa barang tertentu di Indonesia bagian timur harganya jauh lebih mahal dibanding daerah di Indonesia bagian barat. Misalnya harga semen di Pulau Jawa sekitar Rp 70 ribu, tapi di Papua malah mungkin mencapai Rp 1 juta. Atau mungkin beberapa harga bahan pokok, yang memperlihatkan sebuah ketimpangan. Di bawah ini ada sedikit perbandingan data tentang ongkos kirim satu kontainer dari Jakarta ke beberapa kota. Dapat dilihat bahwa ongkos kirim ke Hamburg yang jaraknya 11.000 km ternyata lebih murah daripada ke Padang yang jaraknya hanya 1.000 km.

logistikOngkos yang mahal inilah yang akhirnya menyebabkan harga barang menjadi lebih tinggi daripada seharusnya. Inilah yang disebut biaya logistik, dan kenyataannya biaya logistik nasional itu memang tinggi. Kenapa ini bisa terjadi? Penyebabnya sangat banyak, bisa jadi satu tesis sendiri untuk membahasnya.hehe.

Nah, mari kita fokus kenapa harga barang di Indonesia bagian timur lebih mahal ketimbang di bagian barat. Coba perhatikan peta arus perdagangan domestik di bawah ini, ketebalan garis mencerminkan magnitude perdagangan. Dapat dilihat bahwa arus perdagangan di Indonesia ternyata sangat timpang, dominan di bagian barat, dan sangat kecil di bagian timur, seperti Papua, Maluku, dsb.

trade flow

Kondisi geografis di Indonesia mungkin salah satu yang paling unik di dunia, karena terdiri dari banyak pulau. Untuk mengangkut suatu barang dari satu tempat ke tempat lain, tentunya akan menjadi bergantung terhadap transportasi laut, karena transportasi laut ini memang yang paling murah dalam pengangkutan barang. Ga mungkin kan ngangkut semen dari Jakarta ke Ambon make pesawat terbang? hehe. (eh, bisa aja sih, pake pesawat Hercules, kalau lagi ada bencana. heu )

Nah, dalam prosesnya, pengangkutan barang ini sudah memiliki jalurnya sendiri. Mirip seperti jalur bus atau angkot. Saya analogikan sebagai berikut:

Sebuah bus jurusan Jakarta-Cirebon, akan mulai berangkat dari Jakarta mengangkut penumpang dan kemudian berhenti di terminal akhir di Cirebon. Setelah berhenti di Cirebon, bus yang sama tersebut tentunya akan mulai jalan kembali, dengan jalur yang terbalik, menjadi Cirebon-Jakarta. Pengusaha bus akan untung besar apabila dari satu bus ini berhasil mengangkut banyak penumpang, baik ketika berangkat dari Jakarta, ataupun ketika jalan lagi dari Cirebon. Lalu bagaimana jika ketika dari Jakarta cukup banyak penumpang, tapi saat berangkat dari Cirebon malah ga ada penumpang yang ikut? Tentunya bus tersebut bisa merugi. Lalu kemudian cara agar tidak merugi salah satunya adalah dengan menaikan harga tiket.

Nah, analogi di atas sama dengan sistem transportasi barang. Sebuah kapal berangkat dari Pelabuhan Tanjung Priok menuju Pelabuhan Sorong (Papua) mengangkut berbagai macam kebutuhan pokok, kapal terisi penuh. Tapi ketika sudah sampai di Papua dan akan kembali lagi, ternyata tidak ada atau sangat sedikit barang yang diangkut kapal tersebut. Alhasil, pengusaha kapal pun merugi, sehingga satu-satunya jalan agar tidak merugi adalah menaikan ongkos angkut barangnya. Ketika ongkos angkut barang dinaikan, tentunya akan mengakibatkan harga barang yang dikirim tersebut menjadi lebih mahal ketika dijual. Itulah kenapa akhirnya harga barang-barang di Papua atau daerah timur lainnya menjadi lebih mahal.

Pertanyaan berikutnya adalah, kenapa bisa tidak ada barang lagi yang diangkut oleh kapal dari Papua? Hal ini terjadi karena hampir tidak ada industri disana. Disana memang memiliki beberapa pertambangan, tapi hasil-hasil tambang tersebut jarang dikirim melalui pelabuhan umum. Bahkan tambang seperti Freeport sudah memiliki pelabuhan dan kapal sendiri untuk mengangkut emas-emas yang dihasilkan dari tanah Papua untuk dilarikan langsung ke luar negeri.

Karena tidak ada jumlah barang yang setimpal yang bisa diangkut kembali dari Papua menuju tempat asal kapal tersebut berasal, maka seperti yang terlihat di gambar di atas, flow perdagangan ke Indonesia timur menjadi jauh lebih kecil.

Lalu apa sih Pendulum Nusantara itu?

Dalam bahasa sederhananya, Pendulum Nusantara adalah sebuah sistem transportasi barang dengan menggunakan kapal ukuran besar (kapasitas 3000-4000 TEU) yang melewati sebuah jalur laut utama dari ujung barat hingga ujung timur Indonesia secara rutin. Karena pola gerakannya dari barat ke timur dan kemudian berbalik timur ke barat (seperti gerakan sebuah pendulum ketika digoyangkan), maka program ini disebut Pendulum Nusantara.

Di dalam jalur laut utama tersebut, akan ada 5 pelabuhan utama yang akan disinggahi oleh kapal-kapal ukuran besar, yaitu Belawan (Medan), Tanjung Priok (Jakarta), Tanjung Perak (Surabaya), Makassar dan Sorong (Papua). Lima pelabuhan ini juga berfungsi sebagai titik simpul atau hub regional bagi daerah di sekitarnya (disebut dengan loop). Barang-barang akan dikirim ke pelabuhan di sekitarnya menggunakan kapal yang lebih kecil.

Dengan adanya kapal besar yang rutin berlayar dari barat ke timur dan sebaliknya tersebut diharapkan dapat terjadi transportasi barang yang lebih murah dan efisien, dimana biaya angkutnya tidak hanya bergantung pada satu trayek saja (misalnya: Tanjung Perak-Sorong), melainkan seluruh trayek menjadi memiliki peranan. Dalam hal ini, akan terjadi subsidi biaya dari trayek yang lebih ramai kepada trayek yang lebih sepi.

Tujuan dari program ini sendiri adalah agar terjadi sebuah efisiensi transportasi barang sehingga menurunkan biaya logistik nasional dan pada akhirnya mendorong tumbuhnya industri dan terjadinya pemerataan ekonomi, khususnya untuk Indonesia bagian timur. Skema pengembangannya dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

pendulumSesederhana itukah?

Tentu saja tidak. Kenyataannya, cukup banyak hambatan untuk bisa menerapkan program ini. Salah satunya adalah masalah infrastruktur. Tdak semua pelabuhan dapat mengakomodir kapal berukuran 3000-4000 TEU. Perlu adanya pembenahan infrastruktur atau bahkan pembangunan baru di tiap pelabuhan utama. Untuk hal ini, empat BUMN yang bergerak di bidang operator pelabuhan yaitu Pelindo I, III, IV dan IPC, telah berkomitmen untuk membenahi infrastruktur melalui pembentukan anak perusahaan gabungan PT. Terminal Petikemas Indonesia (TPI). PT. TPI ini yang nantinya akan menjadi operator di lima pelabuhan utama dalam jalur Pendulum Nusantara dan bertanggung jawab dalam standarisasi infrastruktur di tiap pelabuhan tersebut.

Nah, masalah berikutnya adalah kapal. Apakah perusahaan pelayaran di Indonesia memiliki kapal ukuran 3000-4000 TEU? Atau bila harus beli, sanggupkah mereka? Ada opini yang mengatakan bahwa bisa saja BUMN di bidang pelayaran, PT.Pelni, akan didorong sebagai operator shipping untuk Pendulum Nusantara ini. Terkait hal ini, saya tidak bisa memberi penjelasan, karena sudah bukan bidang saya. hehe.

Jadi, program ini memang tidak sederhana. Banyak hal yang harus dibenahi. Tapi bila melihat capaian bila program ini berhasil, rasanya sah-sah saja bila saat ini semua pihak yang berkepentingan mengeluarkan usaha yang keras untuk mewujudkan program ini.

Capaian dari Pendulum Nusantara, menurunkan biaya logistik nasional

Capaian dari Pendulum Nusantara, menurunkan biaya logistik nasional

Ship follow the trade atau trade follow the ship?

Dalam dunia shipping dan logistics, ada istilah: “Ship follow the trade”, yang maksudnya adalah kapal atau jalur pelayaran dan infrastruktur pendukung logistik seperti pelabuhan, jalan, dsb, akan ada ketika di tempat tersebut telah ada industri yang dibangun. Jadi, harus ada industri dulu, baru kapal akan datang.

Kalau diibaratkan dalam transportasi darat, misalnya: ITB telah membangun kampus baru di Jatinangor. Karena ada kampus baru tersebut maka dibuatlah sebuah trayek baru bus DAMRI dari ITB di jalan Ganesha langsung ke Jatinangor untuk mengangkut para mahasiswa yang berkuliah disana.

Nah, teori ini tentunya sah-sah saja. Lalu bagaimana bila teorinya dibalik? Pemda Bandung ternyata membuat trayek baru Ganesha-Jatinangor terlebih dahulu, walaupun mungkin tidak ada mahasiswa atau penumpang yang bakal naik trayek tersebut. Alhasil mungkin saat awal trayek itu jalan, penumpangnya sangat sedikit atau bahkan malah tidak ada. Nah, pihak ITB setelah melihat ada sebuah peluang trayek baru tersebut menjadi timbul inisiatif untuk membangun sebuah kampus baru di Jatinangor. Mungkinkah kasus ini terjadi? Tentu saja mungkin.

Begitu pula dalam hal shipping dan logistics, teori “trade follow the ship” tentunya bisa terjadi. Nah, program Pendulum Nusantara ini justru seperti mengaplikasikan teori tersebut. Mereka membangun jalurnya terlebih dahulu, tanpa perlu tahu apakah akan ada industri baru yang dibangun di Papua, Maluku, dsb atau tidak. Setelah jalur tersebut berjalan, diharapkan justru mendorong para investor untuk berinvestasi membangun industri di daerah-daerah tersebut.

Tentunya konsep ini memang beresiko, itulah mengapa tidak sedikit pihak yang menyangsikan konsep Pendulum Nusantara. Pihak-pihak tersebut beranggapan bahwa lebih baik bangun dulu industri di Papua dan sebagainya, maka jalur transportasi akan ada dengan sendirinya. Namun bila prinsip ini tetap dianut, berarti kita hanya bisa menunggu pemerintah atau investor untuk membangun industri. Lalu pertanyaannya, sampai kapan kita menunggu? Sampai Papua akhirnya memerdekakan diri?

Meminjam perkataan Dirut saya, “Kerjakanlah apa yang menjadi bagian kamu dengan sebaik-baiknya terlebih dahulu. Setelah itu, baru kita dorong pihak lain untuk mengerjakan bagian mereka juga dengan sebaik-baiknya”.

Intinya, kami dari pihak kepelabuhanan dan shipping berusaha mengerjakan bagian kami dengan membuat program Pendulum Nusantara ini. Dengan harapan dapat membantu mengurai permasalahan biaya logistik Indonesia yang tinggi. Sambil berharap juga dapat mendorong tumbuhnya industri baru dan terjadinya pemerataan ekonomi.

Salah satu capaian bila program Pendulum Nusantara diterapkan, mendorong pertumbuhan trafik kontainer

Salah satu capaian bila program Pendulum Nusantara diterapkan, mendorong pertumbuhan trafik kontainer

Mengapa ada opini sumbang?

Bila anda mencari di om google dengan kata kunci “Pendulum Nusantara”, anda tidak hanya menemukan berita-berita positif, tapi ada juga berita yang isinya justru menganggap ini adalah sebuah solusi yang tidak efektif. Kebanyakan berita tersebut berasal dari salah satu pihak, yang notabene juga memiliki peran dalam rantai logistik di Indonesia.

Untuk hal ini, saya mau sedikit memberi analogi. Anggaplah anda mengidap sebuah penyakit yang jarang terjadi, bahkan satu-satunya di desa anda. Dan seluruh desa belum tahu obatnya apa. Lalu tiba-tiba ada orang yang tidak anda kenal datang dan memberi sebuah obat. Orang tersebut memberi penjelasan bahwa obat tersebut dapat menyembuhkan penyakit anda, dan pernah sukses dicoba di desa lain. Nah, apakah anda akan meminum obat tersebut?

Tentu saja anda akan mikir-mikir dulu. Dan sah-sah saja bila anda menolak obat tersebut. Bila anda tahu tentang bidang farmasi, anda bisa meneliti tentang obat tersebut. Tapi bila tidak, anda hanya punya dua pilihan: 1. mencobanya dengan resiko sembuh dan tidak atau 2. menolaknya sambil menunggu penyakit anda menggerogoti tubuh anda. Anda pilih yang mana? Kalau saya jadi anda, tentu saja saya akan mencoba obat tersebut. πŸ™‚

Kesimpulan

Terminal Internasional Peti Kemas Jakarta

Terlepas dari program ini menjadi salah satu media kampanye dari salah satu capres, menurut saya Pendulum Nusantara merupakan salah satu solusi efektif untuk mengurai permasalahan dunia maritim dan logistik di Indonesia yang saat ini keadaanya cukup ruwet.

Meskipun dari kecil kita sering dinyanyikan lagu Nenek Moyangku Seorang Pelaut dan selalu diajarkan tentang kondisi geografis kita yang dua per tiganya lautan, nyatanya sistem transportasi laut dan bahkan bidang maritim kita masih amburadul. Kita jauh tertinggal dari negara-negara lain yang justru memiliki laut yang tidak lebih luas dari kita. Bahkan laut yang seharusnya menjadi sumber kekayaan dan kesejahteraan kita, malah seakan-akan menjadi biang keladi kesengsaraan bangsa kita.

Rasanya sudah seharusnya kita kembali ke ranah asal kita, lebih bersahabat dengan laut. Manfaatkan laut sebagai modal utama untuk mensejahterakan bangsa kita.

Dosen saya pernah berkata: “Ketika SD kita pernah diajarkan bahwa Indonesia adalah negara kepulauan dengan memiliki 17 ribu pulau yang DIPISAHKAN oleh LAUTAN. Seharusnya kita diajarkan bahwa Indonesia memiliki 17 ribu pulau yang DIHUBUNGKAN oleh LAUTAN”.

Ya, sudah seharusnya paradigma bangsa Indonesia diubah, LAUT bukanlah PEMISAH tapi justru PENGHUBUNG!

<>

Delft, 20 Juni 2014

Salam hangat untuk Nusantaraku…

*Note: semua data di tulisan ini dapat dipertanggungjawabkan, bersumber dari IPC (PT. Pelabuhan Indonesia II)

Advertisements

110 thoughts on “Apa sih Pendulum Nusantara itu?

  1. Tulisan ini sangat bagus!! Thanks buat pengertian dan pembelajaran yang ada dalam tulisan ini.. Dan sukses terus untuk anda!

      • Hallo!! Membaca banyak comment dari teman-teman lain saya juga semakin tertarik akan pelabuhan, di Pulau Sumatera Utara sendiri akan di bangun Pelabuhan Internasional Batubara di Kab.Batubara, mengenai pembangunan Pelabuhan ini telah banyak dibicarakan bahkan Menteri Koordinasi Perekonomian Bapak Hatta Rajasa telah Survei ke Kabupaten Batubara. Apakah pembangunan Pelabuhan ini akan Efektif mengingat tidak jauh dari kabupaten batubara terdapat Pelabuhan Belawan yang cukup ramai?? Apabila dibutuhkan akankah pengguna Jasa Pelabuhan Belawan bersedia untuk dipindahkan ke pelabuhan Internasional Batubara?? Terima kasih.

      • Apakah maksud anda Pelabuhan Kuala Tanjung di Kabupaten Batubara? Kalau memang itu, setau saya Kuala Tanjung memang menjadi salah satu proyek pelabuhan besar di dalam program pemerintah MP3EI, yang tentu saja berada di bawah tanggung jawab Kementrian Perekonomian. Rasanya pelabuhan ini sebenarnya sudah ada, tapi masih belum dimaksimalkan. Karena lahannya yang masih luas dan lokasinya yang strategis, maka direncanakan membangun pelabuhan ini menjadi lebih besar, agar bisa menjadi penyangga Pelabuhan Belawan nantinya.
        Oh iya, setau saya juga pelabuhan ini tidak difokuskan untuk pelabuhan internasional batubara, tapi pelabuhan untuk semua kargo dimana awalnya difokuskan ke minyak kelapa sawit. Tapi saya tidak tahu kalau ada perubahan peruntukan sekarang. πŸ™‚
        Nah, kalau terkait efektif atau tidak, karena operator kedua pelabuhan ini sama, yaitu Pelindo I, harusnya bisa diatur dengan mudah peruntukannya, agar masing-masing pelabuhan punya fungsi yang efektif.
        Terkait pengguna jasa, sama seperti di atas, kuncinya ada di Pelindo I. Selama di pelabuhan yang baru bisa memberi advantages yang lebih bagi pengguna jasa, pastinya mereka akan pindah dengan sendirinya.
        Demikian mba. Terima kasih. πŸ™‚

    • Bapak “pengemishikmah” yg terhormat, di awal tulisan ini sudah saya bilang, ini bukan soal capres. Saya hanya membahas esensi programnya. Dan ini bukanlah IDE BARU dari salah satu capres. Ini adalah program yang digagas beberapa BUMN dan didukung oleh pemerintahan yang sekarang. Inisiasinya sudah dimulai lebih dari setahun yang lalu. Saya miris karna program ini seakan-akan diaku sebagai program dari salah satu capres. Saya yakin, siapapun presidennya, program ini akan tetap diajalankan. Yang perlu saya tekankan, saya bukanlah pendukung salah satu capres, dan tulisan ini hanya membahas esensi programnya.
      Dari nickname anda, sepertinya anda cukup paham tentang agama. Jadi, sebelum anda menyuruh orang mikir, bijaksanalah dalam membaca dan memberi komentar terhadap seseorang.
      Salam

      • Bapak hansyah yg terhormat, saya kagum dengan tulisan bapak ini karena bisa menambah wawasan saya pribadi khususnya dan orang lain umumnya. Izinkan saya share di facebook.
        mengenai komentar pengemishikmah yang pesimis itu biarlah jangan dihiraukan, Tapi menurut saya sekalian saja bapak masuk jadi pendukung(jadi tim pakar) capres(nomer 1) dengan ide/gagasan/program PENDULUM NUSANTARA ini agar ada penyeimbang gagasan dari capres(nomer 1) ini terhadap capres (nomer 2) dengan program TOL LAUT nya, Supaya tidak ada pengakuan mutlak dari capres (nomer 2)ini bahwa programnya seolah-olah belum pernah di bahas oleh sumber lain yaitu IPC (PT. Pelabuhan Indonesia II) termasuk bapak hansyah juga didalamnya.
        Terimakasih… salam 1 jari ,,, merdeka!!!

      • sebelumnya mhn maaf mas hansyah, mhn maaf dgn sangat, saya tidak pernah komentar ttg tulisan anda, sudah lama sya tidak buka blog saya ini. memang 1 bulan yg lalu akun blog saya tdak bisa dibuka, saya pikir lupa pasword ternyata blog saya di hack orang lain. baru saja bisa saya perbaiki. saya bukan pengamat dunia politik. saya konsen di ilmu pengetahuan. jadi mhon maaf sekali lagi atas ketidak nyamanan ini. salam hangat. reza πŸ™‚

      • Terima kasih mas Reza atas konfirmasinya. Saya kira Anda sendiri yg comment di blog sy.
        Semoga pelakunya mendapat balasan yg setimpal. Salam.

    • Tol laut disini, bukan secara literally artinya jalan aspal diatas laut, kalau gk salah yg dimaksudkan oleh salah satu kontestan adalah lalulintas/ transportasi antar pelabuhan, dari ujung barat sampai timur wilayah Indonesia. Sarana yang menopang lalu lintas itulah yang menjadi fokusnya, mis: pelabuhan, armada transportasinya lebih diper hatikan .. Gitu kira kira ..

    • Terima kasih Pak Dida Hidayat. Tapi seperti yg sy utarakan di awal, sy membahas ini bukanlah untuk masuk ke dalam ranah politik, sy hanya ingin berbagi apa yg sy tahu, karna kebetulan memang sedikit banyak tahu terkait program Pendulum ini. Rasanya, siapapun presidennya, sy yakin program ini akan tetap berjalan. πŸ™‚
      Salam jari-jari! πŸ™‚

  2. Thanks for sharing… terlepas dari dunia politik yg memuakkan, saya suka membaca ini.. memberikan cahaya terang dibagian otak saya yg masih gelap.. Saya mengerti bagaimana rasanya apabila kita memiliki program duluan tetapi kelompok tertentu yg mengklaim mereka yang punya ide dan seolah-olah yg paling tau proses menjalankan programnya. Padahal…. yaa gitu deehh…

    • Sy sendiri belum belajar logistik secara mendalam, tulisan ini basicnya berdasarkan pengalaman sy yg saat ini bekerja di pelabuhan. Jadi, mungkin orang yg lebih ahli bisa memberi contoh solusi lainnya, bila memang ada yg lebih efektif dan efisien. πŸ™‚

  3. Menghubungkan satu daerah dengan daerah lain dengan suatu sistem transportasi yg komprehensif jelas sangat bagus. Dari paparan yg ada jika proyek ini terwujud (saya harapkan demikian), besar kemungkinan pada periode awal operasional akan terjadi inefisiensi dan artinya harga komoditas yg ‘diseberangkan’ belum bisa turun drastis. Ini dikarenakan saat kapal melalui jalur kembali dari ujung timur (Sorong) masih minim komoditas yg diangkut. Tapi setidaknya saat kembali ke barat tidak benar-benar kosong karena bisa menampung komoditas dari hub berikutnya (Makassar). Bisa jadi ada semacam ‘subsidi silang’ harga ‘tiket’ antar komoditas yg diangkut dari tiap hub untuk mengompensasi biaya operasional secara keseluruhan.
    Harapan berikutnya memang adalah tumbuh dan berkembangnya industri di daerah timur. Sistem transportasi yg menghubungkan setiap wilayah – barat-tengah-timur – dengan baik menjadi semacam stimulus yg sangat sayang jika tidak dioptimalkan.
    Pendulum Nusantara, program yg sangat bagus apalagi ternyata memang sudah mulai dijalankan. Tapi pada masa kampanye seperti saat ini memang apapun bisa diklaim dan dijual sebagai bahan kampanye.

    • Tepat sekali! Untuk awalnya, program ini akan bergantung pada teori “subsidi silang” agar tidak terjadi ketimpangan yang terlalu tinggi untuk biaya logistik di tiap daerah. Selanjutnya, jalur yang sudah ada ini diharapkan mampu mendorong tumbuhnya industri baru. Itulah yang nantinya akan benar-benar membuat biaya logistik nasional menurun.
      Tapi terlepas dari itu semua, rasanya memang sudah saatnya seluruh nusantara ini terhubung dengan jalur laut yang terintegrasi. πŸ™‚

  4. Tulisannya bagus sekali kak Burhan! Awalnya aku juga mengira tol laut itu semacam suramadu, krn waktu debat capres Jkw kurang mengeksplor jawabannya. Untung beliau tegaskan di dialog dengan Kadin kemarin. Tentang pelabuhan yg kurang dalam dsb, sepertinya memang sudah masalah lama ya, sayang credit nya nggak disebut jadi seakan2 ide timsesnya saja. Dulu aku sempat 2 tahun ngurusin distribusi dan memang pengiriman lewat laut banyak ketidakpastian. Selain jadwal kapal yg nggak setiap hari, birokrasi di pelabuhan juga susah dan lama. Anyway, Sukses terus untuk kak Burhan dan Pelindo πŸ™‚

    • Wahh..ini Vanny U-Green kah? Apa kabar Vanny? Sekarang dimana?
      Betul sekali, saat capres tersebut memaparkan, untuk orang awam akan bingung. Karena tidak semua orang tahu tentang bidang ini. Ditambah lagi, ada suatu pola yg membuat seakan-akan ini ide baru dari mereka. Itulah kenapa akhirnya sy membuat tulisan ini Van..hehe.
      Sukses juga untuk Vanny ya! πŸ™‚

  5. Tulisan yang sangat educated, semoga ilmu dan pemikiran anda dapat semakin membangun Indonesia =)
    Untuk Tuhan, Bangsa dan Almamater. Merdeka !!!

  6. Program yang bagus, ini namanya teknologi yang belum diketahui pendahulu kita dulu kala. siapapun presidennya nanti harus punya perencanaan yang matang dalam pembiayaan agar tidak hanya menjadi wacana dan kesempatan untuk mengkorupsi. tampaknya butuh sokongan dana yang cukup besar dan sdm yang handal. saya yakin indonesia mampu jika kedua hal ini dimiliki. semoga perdagangan bebas nanti indonesia jadi jalur lalulintas dunia yang ramai dan menjadi bangsa yang kuat dan kaya dari hasil perdagangan didukung sdm yang kreatif dan transportasi yang mumpuni. aamiin.

    • Saya sepakat! Siapapun presidennya, saya harap program ini dapat dimaksimalkan. Sebenarnya faktor utama untuk menjalankan program ini adalah itikad baik dari pemerintah, karena merekalah yang memegang kunci segala kebijakan. Sayangnya, SDM di pemerintahan kita khususnya di bidang ini masih belum mumpuni.
      Harapannya, pemerintahan ke depan bisa lebih memprioritaskan pembangunan di bidang maritim. agar keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dapat terpenuhi. πŸ™‚

  7. Setuju sama ide nya pak Lino ini, negara kita itu negara maritim, tapi yg berkembang malah transportasi darat. Lucu.
    Tapi sebuah ide itu butuh perjuangan, seperti idenya B.J. Habibie dengan pesawat murah untuk mobilitas orang yg sekarang entah jadi dilaksanakan atau tidak.
    Peduli atau tidak dengan politik, tidak bisa dipungkiri, bisa atau tidaknya IDE itu dilaksanakan dalam tatanan Nasional, sebaik apapun itu konsepnya, sebagus apapun itu rekayasa nya, tetap saja keputusan ada pada orang2 di Senayan sana.
    Lanjutkan perjuangan kawan2 IPC disana..

    • Sepakat mas Aryansah.. terkadang gagasan-gagasan bagus itu mentok hanya karena persoalan politik dan sebagainya. Begitulah bangsa kita..
      Mari sama-sama lakukan perjuangan!:)

  8. saya tertarik dengan skema tol laut ini… πŸ˜€

    kalau dari pengalaman rekan2 di papua, insfrastruktur yang membuat mahal sebenarnya bukan hanya jalan laut saja tapi juga jalan daratnya yang tidak terjangkau, ngirim drum BBM, dan barang kebutuhan lainnya saja harus pakai pesawat.. tapi saya percaya, jalan laut inilah pembuka untuk pengembangan infrastruktur lainnya di wilayah timur.

    yang ingin saya tanyakan, apakah dalam pengembangan pendulum Nusantara ini merupakan step yang terintegrasi dari pemerintah untuk pembangunan jangka panjang wilayah timur? seperti misalkan jika sistem pendulum ini sudah jadi, maka pemerintah sudah punya plan kedepannya misalkan membangun infrastruktur, baru kemudian pabrik – pabrik dan sebagainya untuk kemajuan wilayah timur?

    dan juga katakanlah belum ada itikad baik dari pemerintah dan BUMN lainnya untuk membangun wilayah timur. apakah pengoperasian pendulum ini akan membebani keuangan pelindo?

    salam.

    • Betul sekali, transportasi laut hanya menjadi salah satu bagian saja dari rantai logistik yang panjang. Pada dasarnya, tidak hanya ini yg harus diperbaiki, tapi infrastruktur di darat (moda transportasi yang terintegrasi dari pelabuhan menuju pasar/pemilik barang) juga harus dibenahi.

      Nah, sebenarnya Pendulum Nusantara ini bisa diibaratkan sebagai ide “penyusup”, karena bukan berasal dari pemerintah, tapi justru dari BUMN yang bergerak di bidang kepelabuhanan. Pemerintah sendiri sebenarnya sudah punya beberapa program yang terkait ini, seperti SISLOGNAS (Sistem Logistik Nasional), SISTRANAS (Sistem Transportasi Nasional) dan MP3EI (Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia). Tapi yang kami rasakan, dokumen-dokumen tersebut tidak lebih dari sebuah karya tulis yang indah. Secara kasarnya, kebanyakan teori, aplikasinya tidak ada. Pemerintah pun jadi terlihat bingung harus mengerjakan yang mana dulu. Nah, di tengah kebingungan itulah akhirnya kami memberi sebuah gagasan yang lebih aplikatif dan real ini. Tapi tentu saja ini hanya bagian kecil dari solusi permasalahan logistik dan transportasi nasional.

      Nah, jawaban dari pertanyaan mas/bapak Adrian adalah Pendulum saat ini memang tidak terintegrasi secara tertulis dengan program-program pemerintah yang saya sebutkan di atas tadi. Tapi, dalam keadaan real-nya ini justru seperti stimulus untuk menjalankan program lainnya secara nyata. Jadi, jika pemerintah punya itikad baik, harusnya bisa mengintegrasikan Pendulum dan program-program SISLOGNAS, SISTRANAS serta MP3EI secara nyata sehingga yang disebutkan mas Adrian di atas tadi dapat terwujud.

      Nah, sebenarnya dalam mewujudkan program Pendulum ini, bagian dari Pelindo adalah menyiapkan infrastruktur di pelabuhannya. Sejauh ini, proses pembenahan infrastruktur masih menggunakan keuangan Pelindo sendiri, belum ada bantuan dari pemerintah. Dan sejujurnya, bila Pendulum ini berhasil, pihak Pelindo tidak akan lebih untung dari sekarang. Secara kasarnya, sebenernya kalaupun kami tidak mengusulkan Pendulum ini, kami masih dan mungkin lebih kaya dibanding ada Pendulum. Tapi kan tujuan kami, BUMN, itu tidak memperkaya perusahaan, tapi memberi manfaat bagi bangsa Indonesia.

      Elemen yang kedua adalah perusahaan pelayaran (shipping line), dalam hal ini pemilik kapal. Kondisinya mirip seperti Pelindo. Nah, kalau trafiknya tidak tumbuh., alias tidak ada pembangunan di bagian timur, jelas-jelas mereka bisa merugi. Nah, kalau rugi bagaimana, ya kembali lagi ke awal. biaya logistik tidak jadi turun.hehe.

      Begitu kira-kira mas Adrian.. Semoga bisa menjawab. πŸ™‚

    • Setau saya, pelayaran perintis sampai saat ini masih ada, untuk menjangkau daerah-daerah pelosok. Pelabuhan di Indonesia itu dibagi menjadi beberapa kelas (contohnya: Tanjung Priok-kelas utama, Pontianak-kelas 1, Ciwandan Banten-Kelas 2 ) Nah, ada juga namanya pelabuhan perintis, tapi pelabuhan ini sifatnya tidak komersil, lebih ke sosial. Biasanya secara ekonomi, pelabuhan ini tidak menguntungkan bagi operator pelabuhan, tapi tetap dioperasikan karena tujuan utamanya bukan mencari keuntungan, tapi memberi manfaat bagi masyarakat di daerah yang sulit dijangkau.

  9. Keren, Bur. Kemarin cuma sempat denger sekilas doang dari pembicaraan orang sambil lalu. Hehehe…
    Thanks for sharing.

  10. keren !
    semoga anda dan kawan2 yg berkecimpung di bidang ini bisa memberikan kontribusi yang baik untuk negera.
    semoga niat yang baik akan dimudahkan jalannya, aamiin πŸ™‚

  11. Tulisannya sangat bagus, cuman saya penasaran dengan apakah ini optimum atau tidak?apakah sudah ada yang pernah mencoba memodelkan ini pakai matematika dan buat simulasinya sehingga bisa lihat solusi ini optimum
    atau tidak?kalo ada mohon share,terima kasih

    • Maksud optimumnya seperti apa ya?
      Yang jelas, sebelum gagasan ini diajukan ke pemerintah, kami (IPC) telah menyusun study/kajiannya yang dibantu oleh beberapa konsultan asing. Dalam study tersebut tentunya telah diperhitungkan secara matematika tentang bagaimana jalur yang efektif dan efisien, berapa ukuran kapal yang ideal, berapa pelabuhan utama yang harus disinggahi, berapa uang yang bisa dihemat, berapa trafik yang bisa tumbuh dan sebagainya. Sehingga terciptalah rekomendasi program Pendulum Nusantara yang saya perlihatkan gambarnya di atas.
      Study-nya sendiri terdiri dari lima bagian, masing-masing terdiri dari sekitar 100 halaman. Engga mungkinkan saya bahas semua detailnya disini..hehe. Makanya tulisan ini hanya membahas kulitnya saja. Tapi bila ada yang tertarik diskusi lebih lanjut, saya sangat terbuka. πŸ™‚

  12. Tulisan cerdas dan mencerahkan. Terimakasih atas wawasan baru ini mas hansyah. Sukses untuk programnya. Ijin share juga. Salam

  13. Terima kasih sudah menuliskan gagasan tol laut karena tidak sedikit yang salah persepsi dengan istilah ‘tol laut’. Menurut saya gagasan ini sangat menarik karena kontekstual dengan keadaan geografis Indonesia. Mungkin yang bisa diperkaya adalah studi apakah konsep ini sudah pernah digunakan di negara lain dan evaluasinya. Mengingat konsep ini berskala nasional, kemungkinan besar akan banyak stakeholders yang beririsan di dalamnya dan birokrasi kita masih kurang efisien. Juga mapping korelasi ‘pendulum nusantara’ atau ‘tol laut’ ini pada bidang lain, ekonomi, sosial, lingkungan, karena masih ada stigma negatif tentang program besar yang dianggap hanya condong ke satu isu dan melayani kepentingan tertentu saja. Padahal isu infastruktur dan transportasi bisa sangat berpengaruh pada isu lain yang bersifat publik. Anyways, tulisan yang bagus dan berbobot.

  14. Mashaa Allah keren bur ulasannya. Semoga bisa bermanfaat untuk orang banyak. Cepet beres bur disana, biar bisa kumpul2 lagi. Barrakallahumma fiikum. Salam

  15. Terima kasih sharingnya. Bermanfaat sekali. Kalau bole Saya ingin tanya beberapa hal dari kajian yang sudah dilakukan yaitu 1. Berapa banyak kapal besar itu dibutuhkan di tahap awal. Dan bagaimana jadwal keberangkatannya di atur 2. BErapa lama/besar tingkat ketahanan diukur dalam kerugian yang ditanggung dalam bentuk waktu dan cost sebuah kapal besar perintis mampu bertahan dalam menjalankan program rintisan jika ekonomi belum tumbuh? 3. Karena sifat permintaan pengiriman barang itu perlu waktu cepat, apakah kapal besar sanggup bersaing dengan kapal2 yang lebih kecil (katakanlah efisiensi dalam pengoperasian) yang mampu mengangkut barang dalam jumlah tertentu namun cepat dalam pengirimannya, dan mempunyai juga jalur penghubung antar pelabuhan (sub) seperti yang digambarkan dalam pendulum nusantara ini. Itu dulu terima kasih atas pencerahannya.

    • Kalau tidak salah, dengan menggunakan beberapa asumsi, dibutuhkan 6 kapal 3500 TEU untuk memastikan jadwal 2x seminggu (untuk bersaing dengan port to port services) dan mendapatkan cost per slot yang paling ekonomis. Operator pendulum juga masih mungkin untuk mendapat untung di tahun pertamanya beroperasi.

      • Makasi kang Dadan udah bantu jawab πŸ™‚
        Untuk pak/mas Rudi, sudah dibantu dijawab oleh rekan saya ya, beliau lebih paham terkait ekonomi logistiknya ..

  16. Terimakasih, sangat bermanfaat. Pas sekali dengan materi Matakuliah yang disampaikan dengan dosen saya. Semoga ini bisa disadari seluruh warga Indonesia.

  17. Sebuah paparan yang baik, ringkas, dengan analogi – analogi yang samgat relevan.
    Thanks berat utk penulis saya jadi makin pintar. Salam sukses selalu!

  18. Betul sekali. Ini yg harus diwujudkan segera. Tol Laut….pendulum nusantara ( atau apapun namanya) yg jelas memanfaatkan laut, sebagai ‘masa depan bangsa’ baik dari pemanfaatan sumberdaya maupun konektivitasnya harus segera direalisasikan. Otomatis infrastruktur laut (pelabuhan,kapal) menjadi hal utama. Trims tulisannya…salam

  19. Rencana yg bagus, sebaiknya dijalankan oleh orang yg konsen dan Amanah. konsep pendulum nusantara tsb dicolong atau diberikan oleh pasangan capres tertentu yg belum tentu paham tentang maritim sebaiknya diklarifikasi jangan sampai malah diklaim menjadi program yg baru, padahal program itu sudah ada dan akan dijalankan oleh CEO anda yg bernama R.J Lino yg menjabat diera SBY. 😎
    statement Tol Laut menjebak masyarakat agar terlihat & terkesan tidak mengklaim program yang sudah ada. 👍:)

  20. Rencana yang sangat bagus sekali, sejak lama saya pelaku bisnis jual beli online, biaya logistik yg tinggi menyebabkan daya jual yang menurun di luar pulau jawa…. ini yang menjadi hambatan terbesarnya. Saya baru tahu program ini kira-kira 6 bulanan yang lalu.
    Masalah β€œShip follow the trade” atau “Trade follow the ship”, menurut saya 22nya pasti akan tercapai bila program ini berjalan. Dari mana memulainya? Menurut saya lebih setuju “trade follow the ship” terlebih dahulu. Sebagai contoh adalah efek pembuatan jalur lingkar di darat. Bandingkan perkembangannya sebelum dan sesudah jalur lingkar tersebut dibuat.

  21. Shrusnya pmrntahnya udh brpikir kyk gni dr dulu mnghubungkan smw kpulauan di indonesia bkn mslh logistik or brang2 kbutuhan aja tp pndidikan,kesehatan,sistem keuangan setiap daerah hrusnya trkoneksi smw biar adil dan pmerataan trcpta coba byangin smw dikelola dgn baik&tdk ada korupsi dsana sini indonesia dr dulu udh jd bngsa yg besar tp anehnya dr stiap gnti pmrintahan g ada prubhan pmbangunan hnya d wlyah barat,bagai bumi dan langit untuk di wlyah tmur!
    sektor pariwisata shrusnya bsa di dorong,indonesia alamnya bgus2,pntai,ombak,trumbu karang&laut indah spanjang thun…
    potensinya besar tp sayangnya akses jalan&infrastruktur g mnunjang….
    smga kedepan ada pemimpin yg bsa nyatuin pulau2 dr sbang sampai merauke bukan sekedar nyanyian saja “dr sabang sampai merauke berjajar pulau2 sambung menyambung mnjadi 1 itulah indonesia” punya knsep yg besar untuk indonesia yg kaya akan alam&hsil bumi untuk mncerdaskan&mnsejahterakan seluruh wrga negara indonesia sesuai uud
    1945!

  22. Bagus bgt nih gan artikelnya, saya mw coba sharr jg, supaya Indonesia bisa lebih maju sebagai negara maritim terbesar di dunia.. “Indonesia dihubungkan oleh laut buka dipisahkan”

  23. sangat jelas penjelasaanya
    siapa pun presidennya tentu gagasan tol laut = pendulum nusantara ini harus di coba demi kemakmuran yang merata di negeri ini.
    namun seperti yang kita ketahui semuanya bahwa masalah bangsa ini adanya birokrasi yang berbelit-belit serta pungli dimana-mana.
    saya yakin, baik gagasan pendulum nusantara/tol laut ini akan menemui babak baru apalagi jika gagasan ini bisa merugikan bagi para pelaku logistik yang sudah ada. karena suatu kebijaksanaan baru biasanya ada yang di rugikan.

  24. Menyegarkan… Thanks untuk tulisan yg menambah wawasan ini. Pemaparannya sangat baik dan mudah dimengerti bahkan untuk orang yg sangat awam dgn bidang logistik…. Saya sangat sependapat dengan Direktur anda “Kerjakanlah apa yang menjadi bagian kamu dengan sebaik-baiknya terlebih dahulu. Setelah itu, baru kita dorong pihak lain untuk mengerjakan bagian mereka juga dengan sebaik-baiknya”
    Sukses selalu untuk anda

  25. Tulisannya bagus sekali! Terima kasih atas penjelasannya
    β€œTrade follow the ship” sangat bisa πŸ™‚ Surabaya contohny, bisa jadi kayak sekarg krn wktu itu β€˜kebetulan’ Belanda berlabuhnya di Surabaya, dan mengembangkanny. Buktiny Gresik yang industriny (Trade) gak kalah dari Surabaya, pelabuhan masih belum memadai (ship)..
    Saya termasuk orang yang sangat percaya bahwa perhubungan antar pulau2 ini harus dipermudah, FIRST THING FIRST.. Apapun hasil akhir tujuanny/goalny. Konyol sekali rasanya, kalau kita negara kelautan tapi untuk naik kapal pindah pulau aja, susah ny setengah mati. Minimal ada tujuan untuk MEMPERSATUKAN NUSANTARA, menurut saya itu sudah cukup untuk memulai ini πŸ™‚
    Terima kasih sekali lagi atas elaborasiny. Senang rasanya bertemu dengan orang yang mempunyai passion yang sama di kemaritiman Indonesia πŸ™‚

  26. tulisan yang sangat berbobot sekali.. terima kasih sudah membukakan mata saya.. memang ini tidak ada hubungannya sama sekali tetapi menjadi hal yang lucu ketika menjadi sebuah janji padahal hal itu sedang berlangsung?saya sependapat dengan sis seirarg yang berpendapat bahwa hal ini turut mempersatukan nusantara walaupun tujuan nya adalah pemerataan ekonomi yang cenderung menginginkan keuntungan financial. Program ini salah satu upaya mempersatukan nusantara untuk kembali berjaya seperti dimasa lalu. πŸ™‚ sukses yaa buat tim yang menjalankan. Apapun hambatannya, niscaya akan ada jalan keluarnya jika kita terus tetap berusaha.

  27. Kalo menurut saya pribadi,, Pembelajaran yang saya dapat adalah.. Program ini jika dijalankan hasilnya luar biasa.. kesampingkanlah siapa yang mengajukan,, tapi yang jelas program ini akan lebih cepat terwujud karena termasuk dalam fokus Pembangunan infrastruktur pemerintah nantinya..Terima kasih atas informasinya, terlepas siapa lebih dahulu mengajukan gagasan, Program ini harus terwujud.. πŸ™‚

  28. Beberapa hari yg lalu saya dari Pelabuhan Tanjung Priok, di sana ternyata sedang ada kesibukan yg luar biasa sekali. Ada pembangunan jalan tol utk akses ke pelabuhan, ada juga pembangunan perluasan pelabuhan peti kemas, mungkin ini termasuk program Pendulum Nusantara itu ya. Sewaktu masih di Surabaya, saya juga sering melihat kesibukan yg hampir sama di Tanjung Perak.

    • Betul sekali mas Rotyyu, yg anda lihat itu adalah proyek pembangunan terminal NewPriok. Sebuah terminal petikemas baru yg luasnya akan menyamai luas pelabuhan Tanjung Priok yg skrg, yg usianya udah lebih dr 100 tahun. Tapi ini tidak terkait langsung dgn program Pendulum, karna NewPriok peruntukannya untuk petikemas internasional. (kalau pendulum, untuk domestik).
      Tapi ini menjadi bagian dari usaha kami untuk mengurai berbagai permasalahan bangsa Indonesia di bidang maritim dan logistik.

  29. artikel yang bagus … bahasanya mudah dimengerti..
    tapi sebelumnya saya pernah baca juga artikel yang mengatakan barang mahal di papua bukan gara-gara tidak ada kapal tapi karena mahalnya transportasi udara dari pelabuhan laut ke kota yang susah terjangkau di papua, harga barang di kota yang ada pelabuhannya cukup wajar.
    jadi walaupun tol laut/pendulum nusantara itu lancar, tidak akan berpengaruh terhadap harga yang ada di kota yang jauh dari pelabuhan, katanya,.

    • Seperti yg sy sebutkan di atas, rantai logistik itu sebuah rantai yg panjang, dan byk hal yg mempengaruhi. Memang betul, untuk daerah papua dan sekitarnya prmasalahannya bukan hanya di jalur lautnya saja, tapi juga transportasi dr pelabuhan ke tmpat tujuan. Itulah mengapa ada sistem loop. Dimana dr pelabuhan utama, bs dikirim lg ke pelabuhan2 yg lebih kecil, yg bs menjangkau sedekat mungkin daerah2 pelosok. Nah, bila daerahnya jauh dr pantai, peran moda transportasi lain yg punya peran pnting, dalam hal ini tentunya jalur darat.
      Intinya ini adalah bagian dr solusi sebuah permasalahan yg sangat besar. Ketika ini berhasil, tentunya akan brpengaruh dalam rantai panjang itu.

  30. Ini tulisan bagus bget, jadi tambah paham kenapa dikampung sya jauh lebih malah dripda di TANAH JAWA

  31. Terimakasih atas sharing info dan pengetahuannya.
    Sebetulnya ide ini sudah ada sejak lama, cuma sepertinya belum ada kajian yang lebih mendalam agar efektif dan efisien tercapai sehingga belum ada blueprint yang pasti dari para ahli dan pemerintah. Ternyata sekarang saya baru menemukan blueprint sudah lebih jelas, baik dan terarah.
    Mungkin sisi lain yang harus dibenahi di negeri ini selain pendulum nusantara adalah integrasinya antar moda transportasi dan logistik, sehingga kolaborasi antar daerah bisa lebih efisien. Sehingga pendulum nusantara ini bisa lebih optimal.
    Semoga dengan adanya Presiden baru negeri kita bisa lebih cepat dalam memperbaiki dan mewujudkan harapan baik ini. Sukses selalu untuk kita semua. Salam 2 Jari.

  32. Saya sudah baca tulisan ini beberapa kali sejak tidak terlalu lama setelah dipublish. Tulisan yang keren dan mencerahkan. Tulisan ini banyak saya share ke orang-orang yang masih mikir program tol laut itu muluk-muluk karena dalam pikiran mereka “tol laut” = “jalan tol di atas laut”..hehehe

  33. Pingback: Liputan KOPI Delft 4 2014 (1): Pendulum Nusantara – Laut Adalah Penghubung Bukan Pemisah | KOPI Delft

  34. Begini nih seharusnya, suatu bidang bila dijelaskan oleh yang memang mengerti dan ahli pasti lebih mencerahkan. Ketimbang mengikuti “katanya, katanya, dan katanya” doang. Jujur saya sebelumnya juga nggak ‘ngeh’ sama sekali apa itu tol laut yg diandalkan sang presiden. Saya kira dulu sang presiden ingin membangun ‘suramadu’2 lainnya di seluruh selat2 yg ada di Endonesa ini.hahaha
    Semoga program ini benar2 terealisasi oleh pemerintahan sang presiden sekarang sesuai janji2 kampanyr tempo hari. Agar masyarakat Papua tidak lagi punya niat untuk merdeka.
    Soal ‘dipisahkan’ oleh lautan itu saya setuju. Kelihatannya sepele. Tetapi nyatanya pernyataan seperti ini yg disusupi ke pikiran kita sejak kecil pasti akan tertanam menjadi “mind set” yang salah dan berpengaruh besar ke depannya.
    Sangat mencerahkan, Pak. Dan salam kenal. πŸ™‚

  35. Wah sebuah proyek yg sangat positif, menurut pandangan kami, mamfaat yg didapat bukan hanya pemerataan ekonomi, tetapi juga akan berdampak kpd pemerataan pembangunan dan pertahanan. Salut… Kami sebagai ADMIN di group Garuda Air Defence (Facebook) sangat bangga kalau penulis bersedia bergabung dgn teman2 yg juga mempunyai wawasan seperti saudara, walaupun mungkin dlm bidang yg berbeda… SALAM

  36. Alhamdulillah,…….sebuah tulisan yang bagus. Kebetulan saat ini saya sedang bertugas disebuah perusahaan telekomunikasi yang sedang fokus menggarap tentang yang berkaitan dengan kemaritiman, port, logistik dan hal hal yang berhubungan dengan laut. Termasuk didalamnya toll laut, pendulum nusantara dari sisi ICT nya…….

  37. Pingback: Apa sih Pendulum Nusantara itu? | MY JOURNEY

  38. Pingback: tol laut, pendulum nusantara yang berganti nama | slametsukanto

  39. selamat pagi mas. kalau boleh sumbang pemikiran. Saya sedang melakukan project berupa essay tentang hal ini, saya berpendapat bahwa tingginya harga juga disebabkan banyaknya “agen” yang terlibat sehingga setiap dari mereka mengambil laba sekian persen, sehingga menyebabkan harga barang di tempat terahir sudah termasuk dengan “profit” agen tersebut. terima kasih.

  40. Tulisan ini menambah wawasan saya,rasanya tidak puas kalau hanya sekali baca,harus berulang kali. trimakasih bang.

  41. alhamdulillah bermanfaat banget….tulisan ini jd nambah pengetahuan dan wawasan sy tentang program yang dicanangkan pemerintah…

  42. Salam Kenal kepada hansyah saya Putra Tampubolon (jurusan Logistik Bisnis), saya mau comment mas bertanya, ini merupakan salah satu kemajuan dalam bidang logistik meskipun kemajuan ini masih dalam proses pembuatannya sendiri, dan salah satu tindakan pendukung program Tol Laut ini yaitu membuat pelabuhan-pelabuhan baru yang dimana pelabuhan ini akan membantu proses pendistribusian barang terlebih khusus untuk wilayah-wilayah terpencil (daerah timur) yang dimana perbedaan harga pada daerah tersebut sangatlah tinggi bila dibandingkan dengan wilayah jawa atau sumatra. yang saya mau tanyakan kepada mas hansyah yaitu dari antara pelabuhan-pelabuhan baru yang akan dibangun oleh Bpk presiden kita, menurut mas hansyah sendiri pelabuhan daerah mana yang dapat menjadi pelabuhan internasional yang baru?

    maaf jika pertanyaan saya agak tidak jelas,maksud saya pelabuhan-pelabuhan yang akan dibangun seperti Makkasar New Port, nah yang mau saya jelaskan kembali, apakah makassar new port ini dapat menjadi pelabuhan international? atau masih ada pilihan pelabuhan-pelabuhan baru yang lain.
    semoga pertanyaan saya dapat mas hansyah mengerti, terima kasih dan saya tunggu balasannya.

    • Salam Kenal juga untuk bang/bapak Putra. Terima kasih sudah mampir dan memberi komentar di tulisan ini. Mohon maaf baru dibalas.

      Terkait pertanyaan bang Putra, apakah bisa diperjelas definisi dari pelabuhan internasionalnya yg dimaksud? Apakah maksudnya yg bisa melayani kargo internasional (ekspor impor) atau pelabuhan hub internasional (transhipment) atau malah pelabuhan bertaraf internasional?

      Kalau maksudnya pelabuhan yg dapat melayani kargo internasional, berdasarkan Rencana Induk Pelabuhan Nasional (RIPN), terdapat 35 pelabuhan yg digolongkan Pelabuhan Utama (yg bisa melayani kargo internasional). Makasar salah satunya, selain itu ada Tanjung Priok, Tanjung Perak, Belawan, dll.

      Nah, memang tidak semua pelabuhan bisa melayani kargo internasional, itu biasanya bergantung pada daerah industri di dekat pelabuhan tsb. Misalnya Makassar, karena di daerah sana ada beberapa komoditi yg di ekspor ke luar negeri otomatis dia harus menjadi pelabuhan internasional, untuk mewujudkan rantai logistik yg lebih efisien.
      Jadi kalau sebuah pelabuhan mau dijadikan pelabuhan internasional, harus dipastikan kargo yg dilayani pelabuhan tsb.

      Nah, beda halnya dengan istilah pelabuhan β€œbertaraf” internasional. Harusnya semua pelabuhan di Indonesia ya bertaraf Internasional. Namun saat ini keadaannya, hanya sedikit pelabuhan yg punya standar Internasional. Bahkan masih banyak yg operasionalnya konvensional.

      Demikian penjelasannya, semoga dapat menjawab.

  43. Pingback: Pendulum Nusantara, Proyek Prestisius Harus Becus – Ryo Kusumo

  44. Pingback: Apa sih Pendulum Nusantara itu? – Visi Maritim

  45. Di bagian tengah tulisan, Anda menjelaskan bahwa kapal dari jawa ke papua mengangkut banyak barang, tetapi ketika arus sebaliknya sepi barang. Akhirnya harga tiket mesti dinaikkan. Sementara barang yg harga tiketnya mahal itu kan berarti yg diangkut dari Papua ke Jawa ya? Kenapa yg harganya mahal justru barang yg di Papua? Mohon pencerahannya 😊

    • Terima kasih atas pertanyaannya, sekilas cukup sederhana, tapi sebenernya sangat kompleks untuk menjawabnya. πŸ™‚

      Kita tidak bisa melihat secara parsial untuk pengangkutan menggunakan kapal ini. Jd Jkt – Papua dan Papua – Jkt adalah satu kesatuan. Nah, ketika mereka ingin menaikan tiket/ongkos karna ada ketimpangan di pengangkutan salah satu rute, tentu saja tidak bisa dinaikan harga tiket di rute tsb saja, melainkan keduanya.

      Seperti analogi yg sy pake ttg bus Cirebon – Jakarta di tulisan ini. Ketike rute Jkt – Crb bus full sedangkan Crb – Jkt sepi, tidak mungkin yg dinaikan tiketnya yg Crb – Jkt. Karena, harga normal aja sepi, apalagi dinaikin, bisa-bisa malah ga ada yg mau naik sama sekali. Malah ada kemungkinan yg rutenya sepi malah dimurahin, asal ada penumpang spy balik ke Jkt, dan yg rame mungkin saja jadi tambah dinaikin (karna demandnya banyak).

      Itu salah satu alasannya. Alasan lainnya adalah sebenernya kedua rute tsb menghasilkan barang-barang yg mahal. Tp karna beda jenis barang, jadi kita tidak terlalu terpengaruh trhadap β€œkemahalan” barang-barang yg dr Papua. Misal, barang yg dikirim dari Papua adalah Kerajinan Tangan dsb, yg sebenernya memang harganya mahal. Tapi efeknya tidak terasa dibandingkan masyarakat Papua yg harus membeli mahal barang-barang sembako yg diangkut dr Jkt ke Papua.

      Alasan terakhir adalah, sebenernya kunci logistik tidak hanya transportasi laut, tapi juga ada transportasi darat (dari pelabuhan ke pemilik barang). Nah, ini yg memang tidak saya bahas di tulisan ini. Takutnya menjadi lebih rumit.hehe. Indonesia Timur masih sangat buruk transportasi daratnya, baik dari segi infrastruktur/fasilitas maupun sistem. Inilah yg menyebabkan biaya barang yg dikirimnya menjadi β€œlebih” mahal lagi.

      Demikian penjelasannya. Semoga bisa menjawab pertanyaannya. Kalau masih ada yg ingin ditanyakan lebih detail, silakan email saya.
      Menarik melihat seorang yg berkecimpung di bidang politik dan seorang musisi tertarik di bidang maritim juga. πŸ™‚

  46. Waah thank you banget pencerahannya. Mungkin next time bisa bikin tulisan yg menjelaskan itu (bagaimana harga barang di Papua, Maluku, dkk bisa mahal sekali, sampe 3x lipat Jakarta) secara lebih detail. Saya adalah seorang pembaca, Mas. Tidak peduli apakah Mas menulis tentang logistik, maritim, ekonomi, astronomi, sampai neurosains sekalipun saya akan tetap tertarik untuk baca. Apalagi kalo penjelasannya sangat baik seperti tulisan Mas ini. Kalo boleh sih saya mau dikasih feedback juga. Beberapa artikel saya dapat dibaca di sini: http://www.qureta.com/author/cania-cittairlanie πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s