Kou Kou the Fisherman

Kou Kou the Fisherman
-Endah N Rhesa-

I’m Kou Kou the Fisherman that lives near the coast of this island
Wind and stars are my friends, they told me where to go
Life is tough, yes it’s tough, but don’t give up

I’m sailing in the sea, surviving in this blue ocean
I’m taking my fishing rod, here I am stay on my boat
Life is tough, yes it’s tough, but don’t give up

I feel the air, it whispers my name
The water is calm and it’ll be as right as rain

The time is running I said to myself , “Fish or cut bait, Kou?”
But then there’s something big, swimming towards my boat

Life is tough, yes it’s tough, but don’t give up
Life is good, yes it’s good, I’ve got food!

<<>>

Advertisements

Tentang Ganesha Hijau dan Mimpi Kolaborasi #1

Berawal dari program kerja

Logo GHGanesha Hijau lahir pada awal periode Kabinet KM ITB 2008/2009 yang dikomandoi oleh presiden KM ITB wanita pertama, Shana Fatina Sukarsono (Teknik Industri 04). Ganesha Hijau merupakan sebuah program kerja di bawah Kementrian Pendidikan dan Keilmuan dimana menterinya adalah M. Ridho Fithri Wikarta (Teknik Kimia 05). Sosok yang menjadi penggagas ide ini adalah Wiedy Yang Essa (Biologi 04) yang menjabat sebagai wakil menteri P & K. Sedangkan kordinator programnya sendiri adalah Tina Kusumaningrum (Mikrobiologi 05).

Inti program kerja GH saat itu adalah melakukan propaganda kampanye gaya hidup ramah lingkungan kepada seluruh civitas akademika ITB. Visi GH yang dicetuskan Kabinet saat itu adalah “Mengembangkan dan mendorong kesadaran berperilaku hidup bersih yang selaras dengan alam”. Ada tiga kegiatan besar yang dilakukan GH, yaitu Pelatihan Zero Waste Management & Event, Garbage Fun Day dan Seminar Nasional Lingkungan Hidup. Profil lengkap GH bisa diliat di gambar di bawah ini, dimana ini adalah brosur profil pertama yang diterbitkan kementrian P & K terkait GH.

10508386_10152306144638640_114502142_nMeskipun awalnya hanya sebatas program kerja, GH didesain sebagai sebuah gerakan, bukan hanya event semata. Oleh karenanya, GH juga merupakan bagian dari Gerakan Kebangkitan Nasional (GKN) yang diusung Shana melalui KM ITB.

GKN

Meskipun GH sudah dicetuskan sejak awal Kabinet 2008/2009 resmi bekerja (April 2008), namun GH baru benar-benar diperkenalkan kepada seluruh civitas akademika sekitar setahun kemudian, yaitu bertepatan dengan kegiatan Seminar Nasional Lingkungan Hidup yang bertemakan Clean Development Mechanism (19 Maret 2009). Boleh dibilang inilah tanggal lahirnya Ganesha Hijau, dimana saat itu dilakukan deklarasi bersama oleh lembaga-lembaga yang sudah sejak lama konsern di gerakan lingkungan, yaitu U-Green, HMTL (Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan), Nymphaea (Himpunan Mahasiswa Biologi) dan HIMATEK (Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia). Disinilah awalnya semangat kolaborasi itu dibentuk.

postergh1

Kebutuhan Berkolaborasi

Sebenarnya, jauh sebelum acara launching GH pada Maret 2009 itu dan juga sebelum GH dibentuk, semangat kolaborasi di gerakan lingkungan sudah mulai muncul. Tepatnya pada Februari 2008 saat ada sebuah kegiatan bersama memperingati Hari Air Sedunia. Dimana saat itu salah satu NGO (Non Governmental Organization) di bidang lingkungan mengajak kerja sama U-Green, HMTL, Nymphaea dan Liga Film Mahasiswa (LFM) untuk mengadakan pemutaran film dan diskusi.

Nah, dalam periode sejak event Hari Air sampai Seminar Nasional itu, intensitas interaksi diantara lembaga-lembaga yang konsern di gerakan lingkungan semakin tinggi. Dalam beberapa diskusi, para pemimpin lembaga tersebut sadar bahwa masing-masing lembaga memiliki tujuan yang sama, bahkan terkadang juga memiliki metode dan tema isu lingkungan yang sama. Sebagai contoh, U-Green memiliki program U-Green Goes to School dan HMTL punya program Eco-School. Kedua program ini sangat identik, karena sama-sama mengusung tema edukasi lingkungan ke sekolah-sekolah (SD dan SMP).

Timbul pertanyaan, mengapa mereka tidak mengadakan acara bersama-sama saja? Mengapa tidak saling berkolaborasi? Bukankah bila banyak lembaga yang terlibat efeknya jadi bisa lebih besar? Lalu pertanyaan berikutnya, siapa yang bertanggung jawab dalam kolaborasi ini?

kola

Diantara semua lembaga yang konsern di lingkungan, posisi U-Green saat itu adalah yang paling strategis. Karena U-Green bukanlah sebuah himpunan jurusan melainkan sebuah unit yang anggotanya terdiri dari berbagai macam jurusan, yang mungkin merupakan anggota aktif di HMTL, HIMATEK ataupun Nymphaea. Karena hal itulah sempat ada ide bahwa U-Green saja yang bertugas untuk bertanggung jawab dalam kolaborasi berbagai lembaga. Tapi tentu saja ide ini tidak bisa diterima, karena status unit dan himpunan adalah setara dalam hierarki Keluarga Mahasiswa ITB. Selain itu pula, tiap lembaga sudah memiliki peran dan tugasnya masing-masing. Maka, perlu ada sebuah wadah lain yang bisa mengkolaborasikannya.

Pada dasarnya, tugas kolaborasi dan sinergisasi adalah tanggung jawab Kabinet KM ITB. Lalu, pada bagian manakah yang bertanggung jawab akan isu lingkungan? Nah, dalam situasi inilah akhirnya Ganesha Hijau menjadi jawaban yang paling efektif. Dalam event Ganesha Hijau sebelumnya, beberapa lembaga secara tidak sadar sudah melakukan kolaborasi dengan mengirim anggota-anggotanya membantu dalam pelaksanaan acara. Oleh karenanya, mengapa tidak sekalian saja Ganesha Hijau dijadikan wadah kolaborasi.

Periode awal Ganesha Hijau dan Eco-Campus

Ketika Shana lengser dan digantikan oleh Ridwansyah Yusuf Ahmad (Planologi 05) – Kabinet KM ITB 2009/2010, struktur kabinet KM ITB pun berubah. Disinilah akhirnya ide wadah kolaborasi ini diwujudkan, dimana Ganesha Hijau bukan lagi berupa program kerja, melainkan sudah berbentuk badan semi otonom, yang bertanggung jawab kepada kementrian. Dalam periode ini, tampuk kepemimpinan GH beralih dari Tina (periode April 2008 – April 2009) ke Ridho yang terpaksa “turun jabatan”. Ridho, yang dulunya menteri Pendidikan & Kelimuan, menjabat sebagai koordinator GH hanya sekitar 4 bulan (April – Agustus 2009). Periode inilah periode yang paling krusial karena proses metafora GH sedang berlangsung. GH yang awalnya didesain sebagai sebuah gerakan, kini bertambah fungsi menjadi sebuah wadah kolaborasi.

Ridho fokus dalam proses kolaborasi lembaga dengan mengadakan pertemuan rutin. Pertemuan ini disebut sebagai forum Ganesha Hijau, dimana akhirnya beberapa lembaga lain ikut bergabung. HMP (Himpunan Mahasiswa Planologi) dan IMA-G (Ikatan Mahasiswa Arsitektur) ikut bergabung menyusul U-Green, HMTL , HIMATEK dan Nymphaea yang sudah lebih dulu bergabung. Dalam periode ini pulalah, Ridho berhasil mendefinisikan GH dan juga membuat kerangka awal perwujudan ITB Eco-Campus.

roadmap

Road map ITB eco-campus versi pertama, dibuat saat periode kepengurusan Ridho

Mengapa Eco-Campus? Karena isu Eco-Campus inilah yang menjadi benang merah dari program kerja berbagai lembaga yang konsern di bidang lingkungan tersebut. Isu lingkungan memang sangat banyak, tapi rasanya untuk skala kampus, perwujudan sebuah kampus yang berwawasan lingkungan merupakan tanggung jawab dari seluruh civitas akademika. Oleh karenanya, lembaga-lembaga yang tergabung di GH sepakat untuk mengusung Eco-Campus sebagai tujuan utama dari wadah kolaborasi ini. Dimana artinya, berbagai program dari tiap lembaga harus bisa memberi dampak nyata bagi permasalahan lingkungan yang ada di kampus.

Periode pembangunan fondasi. Apakah Ganesha Hijau = U-Green?

Boleh dibilang Ridho sebenarnya bukanlah kordinator GH, tetapi hanya penanggung jawab sementara, agar tidak terjadi kekosongan di tubuh GH saat periode pergantian kabinet dari Shana ke Yusuf. Setelah kabinet Yusuf resmi terbentuk dan mulai bekerja, GH harusnya sudah memiliki kordinator yang baru. Karena satu dan lain hal, ternyata cukup susah menemukan sosok yang tepat untuk memegang amanah sebagai kordinator, maka akhirnya Ridho pun menjabat hingga 4 bulan lebih, sembari mencari “korban” yang tepat.

Di akhir bulan Agustus 2009, diadakan sebuah musyawarah untuk menentukan siapa kordinator GH berikutnya. Semua lembaga yang sudah tergabung di GH mengirim perwakilannya. Secara ajaib, hasil musyawarah tersebut adalah meminta kepada Burhanudinsyah (Teknik Kelautan 06), yang merupakan mantan ketua U-Green, untuk memegang komando Ganesha Hijau. Pada awalnya Burhan sempat menolak, karena saat itu dia sedang menjabat sebagai sekjen di Keluarga Mahasiswa Teknik Kelautan (KMKL). Akan sangat berat tentunya merangkap dua jabatan sekaligus. Tapi setelah lobi dari para pemimpin lembaga dan juga atas izin Ketua KMKL, Burhan akhirnya menerima amanah itu, melanjutkan tongkat estafet dari Ridho.

Tantangan terbesar dalam periode ini adalah membuat paradigma yang tepat akan Ganesha Hijau. Karena ternyata semakin seringnya menggembar-gemborkan tentang Ganesha Hijau, semakin banyak juga persepsi yang tidak tepat yang berkembang di kalangan mahasiswa saat itu. Banyak mahasiswa yang mengira GH adalah suatu lembaga baru yang mirip dengan U-Green. Mengapa harus ada GH bila sudah ada U-Green? Itulah isu yang paling berkembang. Beberapa anggota senior U-Green pun sempat mengajak berdiskusi, sekedar menanyakan tentang definisi dan urgensi terbentuknya GH.

Oleh karenanya, penunjukan Burhan sebagai kordinator GH saat itu dirasa cukup tepat, mengingat Burhan adalah mantan ketua U-Green. Sehingga diharapkan mampu membetulkan persepsi tentang GH dan juga sembari membangun “koridor” yang tepat untuk GH agar tidak beririsan atau bertabrakan dengan lembaga-lembaga yang konsern di bidang lingkungan, khususnya U-Green. Fungsi GH sebagai sebuah wadah kolaborasi dan simbol gerakan bersama haruslah dijalankan dengan sebaik-baiknya. Karena saat ini dan ke depannya, ITB akan sangat memerlukan wadah dan fungsi kolaborasi ini.

kolaaa

Think Tank dan peran lembaga

Burhan memimpin GH hanya sekitar 8 bulan (Agustus 2009 – April 2010), karena pada April 2010 tersebut masa bakti Kabinet KM ITB 2009/2010 selesai. Dalam periode kepengurusannya, Burhan melanjutkan apa yang telah diinisiasi oleh Ridho. Dia memantapkan definisi GH, meliputi struktur organisasi dan peran perwakilan lembaga, serta membuat kerangka yang lebih detail tentang ITB Eco-Campus.

Dalam periode inilah muncul istilah “think tank”. Dimana setiap lembaga yang tergabung di GH wajib mengirimkan perwakilannya untuk tergabung di think tank. Tugas think tank ini adalah saling memberi informasi dan edukasi terkait kegiatan-kegiatan di lembaganya, sehingga akan diketahui kegiatan mana yang ternyata bisa dikolaborasikan dan juga saling menambah wawasan bagi tiap perwakilannya. Selain itu, think tank juga bertugas memberi informasi ke lembaganya terkait hal-hal baru dari lembaga lain. Jadi boleh dibilang, think tank ini adalah double agent. Mereka agent lembaga untuk GH, dan juga agent GH untuk lembaganya. Dalam keberjalannya, think tank ini juga membantu dalam pembuatan kerangka ITB Eco-Campus dan perwujudan program turunannya.

Pada periode ini pula, lembaga yang bergabung di GH bertambah, dimana KMPA (Keluarga Mahasiswa Pecinta Alam), Amisca (Himpunan Mahasiswa Kimia) dan INDDES (Himpunan Mahasiswa Desain Produk) ikut bergabung.

struktur gh

Bersambung ….

<<>>

.

Bagian tambahan:

Lalu apa itu Ganesha Hijau?

Pada intinya, Ganesha Hijau merupakan sebuah gerakan bersama mahasiswa ITB untuk mewujudkan ITB sebagai kampus yang berwawasan lingkungan dan sebagai sebuah wadah bagi lembaga-lembaga kemahasiswaan ITB yang peduli terhadap permasalahan lingkungan.

Visi dari Ganesha Hijau sendiri adalah Mewujudkan ITB sebagai kampus yang berwawasan lingkungan dan leading issue dalam menyikapi permasalahan lingkungan hidup bangsa”.

Jadi, pada dasarnya Ganesha Hijau bukanlah sebuah lembaga seperti himpunan atau unit. Bila sebuah lembaga (baik himpunan maupun unit) memiliki anggota yaitu mahasiswa, Ganesha Hijau justru memiliki anggota berupa lembaga-lembaga. Maka ketika Ganesha Hijau akan mengadakan suatu kegiatan yang membutuhkan SDM, SDMnya tentu saja berasal dari lembaga-lembaga yang menjadi anggotanya. Itulah yang menjadikan GH sebagai sebuah wadah kolaborasi dan gerakan bersama. Bila sampai GH mengadakan sebuah open recruitment anggota terutama targetnya adalah mahasiswa TPB, baik itu untuk membantu struktural maupun sekedar event, maka rasanya GH sudah tidak sesuai lagi dengan fungsi dan koridor asalnya.

Beberapa kali penulis ditanyakan pendapatnya tentang bagaimana jika Ganesha Hijau berubah menjadi sebuah Kementrian dari yang sebelumnya hanya sebuah Badan semi Otonom. Menurut penulis, tidak masalah apapun bentukan dari Ganesha Hijau ke depannya, asalkan tetap berada pada koridornya dan juga berjalan sesuai fungsinya. Dua fungsi utama GH adalah simbol gerakan dan wadah. Jadi, ketika GH akhirnya berubah menjadi sebuah Kementrian, harusnya fungsi ini tetap berjalan.

Pada akhirnya, GH pasti akan terus berkembang, entah menjadi sebuah kementrian atau jenis badan yang lain. Dan berbagai program dan ide baru juga akan bermunculan. Tapi meskipun begitu, seharusnya tujuan utama untuk mewujudkan ITB sebagai kampus yang berwawasan lingkungan tidaklah boleh dilupakan. Ganesha Hijau atau apapun namanya kelak, harus tetap bisa menjadi motor sekaligus penanggung jawab perwujudan ITB Eco-Campus ini.

Jadi, pertanyaannya bukanlah apa kabar Ganesha Hijau sekarang, melainkan sudah sejauh apakah perwujudan ITB Eco-Campus saat ini?

ecocampus

<<>>

Delft, 3 Juli 2014

Penulis merupakan saksi perkembangan Ganesha Hijau pada periode 2008-2011. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi para “pasukan hijau” ITB saat ini.

Salam Hijau!