Si Bodoh yang Pintar

bodohSuatu ketika seorang pengusaha sedang memotong rambutnya pada tukang cukur yang berdomisili tak jauh dari kantornya, mereka melihat ada seorang anak berusia 10 tahunan berlari-lari dan melompat-lompat di depan mereka.

Tukang cukur berkata, “Itu Benu, dia anak paling bodoh yang pernah saya kenal”.

“Ah masa, apa iya?” jawab pengusaha.

Lalu tukang cukur memanggil si Benu, ia lalu merogoh kantongnya dan mengeluarkan lembaran uang Rp 2.000 dan koin Rp 1.000, lalu menyuruh Benu memilih, “Benu, kamu boleh pilih dan ambil salah satu uang ini, terserah kamu mau pilih yang mana, ayo ambil!”

Benu melihat ke tangan Tukang cukur dimana ada uang Rp 2.000 dan Rp 1.000, lalu dengan cepat tangannya bergerak mengambil uang Rp 1.000.

Tukang cukur dengan perasaan bangga lalu melirik dan berbalik kepada sang pengusaha dan berkata, “Benar kan yang saya katakan tadi, Benu itu memang anak terbodoh yang pernah saya temui. Sudah tak terhitung berapa kali saya ngetes dia seperti itu tadi dan dia selalu mengambil uang logam yang nilainya lebih kecil.”

Setelah sang pengusaha selesai memotong rambutnya, di tengah perjalanan pulang dia bertemu dengan Benu. Karena merasa penasaran dengan apa yang dia lihat sebelumnya, dia pun memanggil Benu dan bertanya, “Benu, tadi saya melihat sewaktu tukang cukur menawarkan uang lembaran Rp 2.000 dan Rp 1.000, saya lihat kok yang kamu ambil uang yang Rp 1.000, kenapa tak ambil yang Rp 2.000, nilainya kan lebih besar 2 kali lipat dari yang Rp 1.000?”

Benu pun tertawa kecil berkata, “Saya tidak akan dapat lagi Rp 1.000 setiap hari, karena tukang cukur itu selalu penasaran kenapa saya tidak ambil yang seribu. Kalau saya ambil yang Rp.2.000, berarti permainannya selesai dan kapan lagi saya dapat uang jajan gratis setiap hari…”

Catatan :

Dalam kehidupan, banyak orang yang merasa dirinya lebih pintar dan lebih tahu segalanya dibandingkan orang lain. Terkadang mereka lebih sibuk menyombongkan diri dan menganggap remeh orang lain, banyak bicara dan bertingkah seakan-akan diri mereka yang paling hebat.

Namun, ukuran kepintaran seseorang hanya TUHAN yang mengetahuinya. Alangkah bijaksananya kita jika tidak menganggap diri sendiri lebih pintar dari orang lain. Di atas langit masih ada langit.

Lebih baik kita dianggap bodoh, tapi memiliki kebijaksanaan dan kecerdasan pemikiran. Ketimbang menganggap diri kita paling pintar tapi kenyataannya justru hanya “kosong” belaka.

einsteins-quote-on-stupid*Sumber asli: http://kisah-renungan.blogspot.nl/2013/05/kepintaran-si-bodoh.html   (dengan sedikit perubahan)

 

Advertisements

“Mes que un club” (Lebih dari sekedar klub)

Berhubung sebentar lagi Liga Spanyol 2014/2015 akan bergulir, saya akan sedikit bercerita tentang sepakbola di tanah negeri matador ini..

Antara Madrid dan Barcelona

Kostum sepakbola pertama yang saya punya adalah kostum Real Madrid, yaitu ketika saya kelas 2 SD, berarti sekitar tahun 1995. Jauh sebelum saya kenal klub Barcelona, saya sudah hafal dengan pemain-pemain Madrid semisal Bodo Illgner, Fernando Hierro, Fernando Redondo maupun Raul Gonzalez. Tidak ada alasan pasti kenapa saat itu saya lebih kenal dan suka Real Madrid, sederhananya, ya suka aja, maklum kan masih anak SD. hehe.

Seinget saya, baru saat ada Rivaldo saya ngeh dengan klub bernama Barcelona. Ketika melihat klub ini, saya heran, koq klub bola ga punya sponsor di bajunya. Ya, saat itu Barcelona memang memiliki kostum garis-garis merah biru polos, tanpa ada tulisan apapun di bagian dadanya. “Ini kampungan banget sih, pasti klub miskin dan ga bagus, sampe ga ada perusahaan yang mau jadi sponsor”, pikir saya saat itu.

Kostum Barcelona dari masa ke masa

Kostum Barcelona dari masa ke masa

Baru ketika kuliah saya mulai tertarik untuk mengenal klub Barcelona. Penyebabnya adalah karena saat itu saya sedang semangat-semangatnya mempelajari tentang sociopreneurship. Dan menurut salah satu training yang pernah saya ikuti, salah satu contoh sociopreneurship paling sukses di dunia adalah klub Barcelona. Loh qo bisa? Ya, ternyata Barcelona dikelola dengan prinsip-prinsip yang unik, yang sangat berbeda dengan klub-klub sepakbola pada umumnya.

Sejarah awal FC Barcelona, sebuah senjata pamungkas bagi sebuah bangsa tanpa negara”

Klub Barcelona didirikan pada tanggal 29 November 1899 oleh 12 orang yang dipimpin oleh Joan Gamper, seorang yang berkebangsaan Swiss. Pendirian sebuah klub sepakbola di tanah Catalan ini menjadi sebuah hal yang sangat berharga bagi warga yang mendiami Catalonia, karena klub ini dianggap sebagai simbol perlawanan dari kaum tertindas bangsa Catalan terhadap “penjajah” Spanyol.

map.spain.petitBagi yang belum tahu, Catalunya atau Catalonia adalah sebuah wilayah otonomi khusus di Spanyol. Mungkin bila di Indonesia mirip dengan Daerah Istimewa Aceh atau Daerah Istimewa Yogyakarta. Ibukota dari Catalunya ini adalah Barcelona. Namun, bangsa Catalan tidak pernah merasa diri mereka sebagai bagian dari Spanyol. Dulu kala, di tahun 1714, kerajaan Spanyol menaklukan wilayah Catalonia. Sejak itu, selama hampir tiga abad rakyat Catalan terus berjuang untuk memisahkan diri dan menjadi bangsa sendiri.

Upaya melepaskan diri dari Spanyol bahkan menjadi pemicu perang saudara pada 1930, Seusai perang saudara, diktator Jenderal Francisco Franco yang berkuasa saat itu melarang semua budaya dan bahasa Catalan. Singkat kata, nasionalisme di Catalonia diberangus habis.

Nah, melalui Barcelona inilah orang Catalan ingin menunjukkan kelebihan mereka dari penjajah Spanyol. Manuel Vazquez Montalban, seorang penulis terkenal dari Spanyol menyebutkan, Barcelona adalah “sebuah senjata pamungkas bagi sebuah bangsa tanpa negara”.

cataloniaKonfilk antara Barcelona dan Real Madrid

Awal dari cerita ‘musuh bebuyutan’ antara Barcelona dan Real Madrid bermula pada saat Jendral Franco berkuasa secara diktator di Spanyol. Catalonia dengan Barcelona-nya menjadi daerah yang “paling dimusuhi” oleh sang jenderal karena bangsa Catalan tidak mau mengakui kalau mereka adalah bagian dari Spanyol.

Jenderal Franco dan kontroversinya di dunia sepakbola

Jenderal Franco dan kontroversinya di dunia sepakbola

Saat zaman kediktatorannya, Franco melarang penggunaan bendera dan bahasa Catalan. Klub Barcelona kemudian menjadi satu-satunya tempat dimana sekumpulan besar orang dapat berkumpul dan berbicara dalam bahasa daerah mereka. Warna biru dan merah, Barcelona menjadi pengganti yang mudah dipahami dari warna merah dan kuning (bendera) Catalonia. Klub Barcelona menjadi semacam klub “anti-franco” dan menjadi simbol perlawanan Catalonia terhadap Franco, dan secara umum, terhadap Spanyol.  Sementara yang dijadikan simbol musuh, tentu saja, adalah klub kesayangan Franco yang bermarkas di ibukota Spanyol, Real Madrid CF. Oleh karenanya, kemudian muncul semboyan “Boleh Kalah Dengan Klub Lain, Asal Tidak Dengan Real Madrid”.

Di tengah rivalitas tersebut, Franco kemudian bertindak lebih jauh. pada tahun 1936, Josep Suñol, Presiden Barcelona waktu itu  dibunuh oleh tentara Fasis. Disusul kemudian sebuah bom dijatuhkan di markas FC Barcelona Social Club pada tahun 1938.

Di lapangan sepakbola, titik nadir permusuhan ini terjadi pada tahun 1943 pada pertandingan semifinal Generalissimo Cup. Pada leg pertama di kandang, Barcelona unggul 3-0. Namun ketika akan bertanding di leg kedua di kandang Madrid, para pemain Barcelona “diinstruksikan” (di bawah ancaman militer) untuk kalah dari Madrid. Barcelona kalah dan gawang mereka kemasukan 11 gol dari Real Madrid. Sebagai bentuk protes, Barcelona bermain serius dalam 1 serangan dan mencetak 1 gol. Skor akhir 11-1, dan 1 gol itu membuat Franco kesal. Pada kasus yang lain, bahkan Kiper Barcelona dijatuhi tuduhan “pengaturan pertandingan” dan dilarang untuk bermain sepakbola lagi seumur hidupnya.

koran

Koran yang membahas pertandingan antara Madrid dan Barcelona

Ketika kedua tim, Barcelona dan Real Madrid, tumbuh dan memerlukan stadion besar, oleh pemerintah, Real Madrid diberikan lahan di Santiago Bernabeu dan dapat membangun stadionnya dalam waktu 3 tahun. Sedangkan Barcelona harus menderita di bawah aturan negara dan project Camp Nou-nya ditunda selama 10 tahun. Saat itu, stadion adalah eleman paling penting bagi klub sepakbola karena pendapatan utama mereka berasal dari penjualan tiket pertandingan. Ketika Real Madrid bisa menikmati stadion yang besar, Barcelona malah harus tetap bermain di stadion tuanya, stadion Les Cort.

Kisruh Transfer Pemain

Tidak hanya itu, ketidakadilan juga terjadi terkait transfer pemain. Mungkin beberapa dari Anda mengenal legenda Real Madrid, Alfredo Di Stefano, tapi apakah Anda tahu kepindahan Di Stefano dari klub Millonarios ke Real Madrid pada tahun 1953 merupakan salah satu transfer paling kontroversial di dunia? Ya, ternyata sebelum dinyatakan pindah ke Real Madrid, Di Stefano lebih dulu melakukan kesepakatan dengan Barcelona. Di saat Di Stefano akan merampungkan kontraknya dengan Barcelona, tiba-tiba saja terjadi “pembajakan” oleh kubu Real Madrid. Entah apa yang sebeneranya terjadi, pada akhirnya Di Stefano malah bergabung dengan Real Madrid dan menjadi kunci kesuksesan Madrid di tahun-tahun itu. Konon katanya saat itu ada campur tangan dari Jenderal Franco yang akhirnya memaksa kubu Barcelona mengikhlaskan pemain incarannya tersebut.

Pada tahun 1973, Barcelona mencoba mengontrak pemain Belanda Johan Cruyff. Di saat yang bersamaan, ternyata Real Madrid juga berusaha mengejar pemain itu. Tetapi kemudian Johan Cruyff secara terang-terangan lebih memilih Barcelona ketimbang Real Madrid karena tidak suka dengan klub sepak bola yang menjadi alat politik sang jenderal Franco. Karena pertentangannya terhadap Real Madrid tersebut, pemerintah Spanyol malah menunda ijin tinggal bagi pemain Belanda ini.

Johan Cruyff

Johan Cruyff

Intinya, pada periode dimana jenderal Franco memimpin Spanyol adalah sebuah periode paling kelam bagi sejarah Barcelona, dan bahkan mungkin memberi torehan yang buruk juga bagi dunia sepakbola di Eropa. Karena saat itu sepakbola dicampuradukan dengan politik.

Sebuah simbol perjuangan dan keberanian

Dalam hal prestasi, Real Madrid memang masih di atas Barcelona. Jarak prestasi itu terjadi terutama pada tahun 1950-1970an, ketika Real Madrid menjadi anak emas Franco dan memiliki kekuatan finansial jauh di atas Barcelona untuk membeli bintang-bintang sepakbola nan bersinar dari seluruh dunia.

Namun begitu, Barcelona tetap memiliki tempat tersendiri bagi para pendukungnya, terutama bagi para penikmat sepakbola. Karena klub ini tidak hanya menjadi simbol sepakbola, tetapi juga sebagai simbol semangat sebuah bangsa. Oleh karenanya, moto klub ini adalah “Mes que un club” atau “Lebih dari sekedar klub”.

mesKarena misi yang dianggap suci oleh orang Catalan itulah, Barcelona selalu menjaga kemurnian tujuan klub. Mereka tidak mau disamakan dengan klub lain, dan tidak mau tunduk dengan nilai-nilai komersial. Semenjak berdiri, Barcelona tidak mengijinkan kostumnya dipasangi iklan. Walaupun pada akhirnya hal yang satu ini dilanggar. Karena alasan ekonomi, akhirnya Barcelona mengijinkan kostum mereka dipasangi iklan.

Karena misi itu pulalah, tidak seperti banyak klub sepak bola lainnya, para pendukung memiliki dan mengoperasikan Barcelona. Pemegang keputusan tertinggi adalah para pendukungnya sendiri, bukan presiden ataupun pemegang saham individu terbesar. Barcelona juga merupakan satu-satunya klub Eropa yang Presidennya dipilih oleh pemegang tiket musiman (pendukung paling murni), bukan pula oleh Dewan Direktur dan bukan pemegang modal. Calon Presiden klub berdebat di televisi, berkampanye mengajukkan progam layaknya pemilihan Presiden sebuah negara.

Hal unik lainnya adalah, dalam pemilihan kapten tim, Barcelona menganut sistem demokrasi, yakni dengan melakukan pemungutan suara dari seluruh anggota tim. Padahal kalau klub lain, kapten tim adalah hak prerogatif dari pelatih.

Barcelona juga selalu mengutamakan pembinaan pemain muda, dimana akademi sepakbolanya, yaitu La Masia, adalah akademi sepakbola terbaik di dunia saat ini. Dari situ telah lahir pemain-pemain hebat, seperti Pep Guardiola, Xavi, Iniesta, Cesc Fabregas, hingga Leonel Messi. Setiap tahun Barcelona boleh saja membeli pemain-pemain hebat untuk meraih prestasi dan membahagiakan para pendukungnya, tapi bila mereka menomorduakan pemain dari produk La Masia, jangan harap pendukungnya akan senang. Bagi para pendukung setia Barcelona, mereka akan lebih bangga melihat pemain-pemain asli binaan La Masia berada di lapangan, ketimbang melihat pemain-pemain bintang yang dibeli dengan harga mahal.

Bocah-bocah La Masia

Bocah-bocah La Masia

Di atas lapangan, Barcelona juga memiliki karakter bermain yang khas. Sebagai sebuah simbol perjuangan dan keberanian, Barcelona pantang bermain bertahan, karena bertahan adalah simbol ketakutan. Kalah atau menang adalah hal biasa. Tapi keberanian memegang karakter, itulah yang menjadi prinsip utama mereka.

Visca Barca

Ya, terlepas dari berbagai kontroversi yang mendera Barcelona dalam satu tahun belakangan dan juga kegagalan di musim 2013/2014, Barcelona tetap merupakan salah satu klub paling unik di dunia. Saat ini, Liga Spanyol 2014/2015 akan segera bergulir. Dengan berbagai perubahan yang telah dilakukan Barcelona, rasanya sah-sah saja bila para pendukungnya berharap Barcelona akan kembali berjaya dengan memenangi berbagai piala.

Tapi bagi saya pribadi, parameter kesuksesan Barcelona bukanlah sekedar sebuah piala. Entah mengapa, saya lebih senang bila mereka berhasil mengorbitkan pemain binaan La Masia, ketimbang harus membeli pemain-pemain mahal dari klub lain. Melihat mereka bermain dengan tetap memegang teguh karakter bermain rasanya lebih penting daripada sekedar kemenangan. Dan yang paling penting, saya berharap Barcelona tetap bisa menjaga kemurnian tujuan klub. Moto “Mes que un club” haruslah tetap menjadi pedoman klub.

Visca Barca!

2d60f1bf75f4eb92514dec0641fe2215

Sewindu U-Green

16 Agustus 2014…

Hari ini, U-Green ITB merayakan hari jadinya yang ke-8. Ulang tahun U-Green kali ini agak cukup spesial, karena saya berada di tempat yang berjarak lebih dari 11,000 km dari Sunken Court E-06, markas kami biasa berkumpul. Ah, jadi rindu masa-masa itu…

Berikut akan saya tuliskan 8 hal random yang terpikirkan tentang U-Green di kepala saya saat ini.

1. Envirovolution 2007

2420_53676947356_2499_nIni adalah salah satu foto legendaris yang paling saya suka. Diambil tahun 2007, saat selesai acara Envirovolution, acara besar pertama yang diadakan U-Green. Disini kami, Greeners 06, masih anak bawang, masih jadi kacung acara, tapi kami dengan senang hati melaksanakan tugas-tugas kami. 🙂

Envirovolution rasanya menjadi momentum proses evolusi U-Green dimulai. Dari acara inilah U-Green mulai dikenal oleh para penghuni Ganesha 10. Dan dari acara ini pulalah U-Green mulai belajar untuk merangkak, berjalan, dan akhirnya mencoba untuk terbang tinggi.

2. Pembicara talkshow di Unjani

DSCF3273Abaikan pose aneh orang yang kurang waras di bawah itu ya, karena bukan itu yang mau diceritakan dari foto ini.hehe.

Jadi foto ini diambil setelah kegiatan talkshow tentang Global Warming yang diadakan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Ahmad Yani (Unjani), dan kami U-Green diundang sebagai salah satu pembicaranya. Dimana yang jadi pembicara adalah Della Kemalasari (Biologi 04, mantan Kepala Program Climate Change & Energy Badan Pengurus Pertama) dan berduet dengan Mifta Ardianti Safitri (T. Lingkungan 06, Kapro CCE yang baru).

Rasanya inilah debut pertama U-Green jadi pembicara di luar kampus ITB. Sambutan dari panitia dan peserta ke U-Green boleh dibilang cukup “wah”, apalagi untuk ukuran organisasi yang saat itu masih berusia satu tahun. Kami, Greeners 06, yang saat itu baru beberapa hari diangkat sebagai badan pengurus langsung merasa bangga luar biasa telah menjadi bagian dari organisasi ini, yang kelak mungkin jadi organisasi besar nantinya.

3. Pelantikan Greeners 07

100_1846Ini adalah salah satu momen spesial bagi U-Green, karena inilah untuk pertama kalinya U-Green mengadakan pelantikan untuk anggota barunya di luar kampus. Kelinci percobaan yang pertama adalah para anggota angkatan 2007, yang akan dilantik sebagai Greeners 07.

Atmosfer di acara ini yang dibangun oleh panitia dan Badan Pengurus pertama, yang mayoritas Greeners 04, sangat pas untuk sebuah organisasi yang baru saja lahir. Unsur kekeluargaan dan kesederhanaan masih sangat terasa dibalik kemasan yang diusahakan tetap serius dan (sedikit) mencekam.

Ada 48 orang yang dilantik pada acara itu. Dimana ternyata selain mahasiswa baru angkatan 2007, ada juga mahasiswa lama angkatan 2005 dan 2006 (2 orang merupakan teman saya dari Teknik Kelautan 2006.hehe) yang ikut prosesi pelantikan ini. Ini adalah bukti bahwa keberagaman U-Green menjadi salah satu kekayaan U-Green. Tiga angkatan mahasiswa dan terdiri dari berbagai jurusan ternyata bisa disatukan dalam nama Greeners 07!

Oiya, foto di atas itu ceritanya salah satu oknum berinisial A*n (Elektro 07) sedang dihukum untuk melakukan push up satu jari.hehe. Di samping kirinya, oknum lain berinisial Jij* (Teknik Lingkungan 07) berusaha mati-matian menahan tawa melihat kawannya itu.haha.

4. Syukwis perdana U-Green

CIMG4640Seinget saya, inilah syukuran wisuda perdana yang diadakan U-Green untuk anggotanya. Saat itu yang diwisuda adalah para Greeners 04. Yang difoto ada Hannifa Fitria, Della Kemalasari dan Karlin Indraswari, ketiganya dari jurusan Biologi 04 dan mantan badan pengurus yang pertama.

Suasana syukwis disini sangatlah sederhana, bahkan boleh dibilang ala kadarnya. Coba lihat kue yang ada di tengah itu, itu adalah hasil racikan anak-anak Greeners 07 dan 08, dengan menumpuk roti dikasi mentega dan mesis dan dikasi potongan jeruk di atasnya. Tapi meskipun sangat sederhana, acara ini tetap menjadi spesial bagi para wisudawan. Bahkan saya melihat raut wajah yang terharu bahagia dari Nifa, Dela dan Karlin atas acara syukwis ini.

Ya, tanpa disadari, hal-hal sederhana seperti inilah yang menjadikan U-Green menjadi organisasi besar.

5. Dewa(n) Penasihat

CIMG2387Setelah kami, Greeners 06, resmi lengser sebagai Badan Pengurus periode 2007-2009, kami membentuk badan baru yang berfungsi sebagai penasihat bagi badan pengurus yang baru, yang kami beri nama Dewan Penasihat (DP). DP ini diketuai oleh Mifta Ardianti Safitri (Teknik Lingkungan 06), dimana dia memimpin dengan tangan besi. Lihat saja, baru resmi diperkenalkan kepada anggota, dia sudah nyuruh Dirga Rochman (Teknik Sipil 06) untuk jalan jongkok, nyuruh M. Fariz (Teknik Lingkungan 06) untuk push-up, dan nyuruh Shinta Putri Andansari (Farmasi 06) untuk berlutut!hahaha..

Yang di atas itu becanda ya. hehe. Intinya, kami Greeners 06 tetap ada untuk U-Green meskipun sudah tidak menjadi badan pengurus lagi. Kali ini kami membalutnya dengan kemasan Dewan Penasihat. Ya meskipun kami lebih banyak hura-huranya, tapi kami berhasil membuat amandemen AD ART U-Green yang sangat komprehensif.

Pada dasarnya, pembentukan DP adalah bentuk aktualisasi kepedulian kami, Greeners 06, terhadap U-Green. Karena kami masih ingin berbuat “sesuatu” untuk organisasi yang telah menyatukan kami bersama sebagai satu keluarga.

6. Kekeluargaan dalam kesederhanaan

1937310_1198561253921_4215235_nNah, ini bukan foto penampungan gelandangan dan anak-anak terlantar ya.hehe. Ini adalah acara buka bareng sekaligus perayaan ulang tahun U-Green yang ke-3, yang diadakan oleh Badan Pengurus 2009-2010 yang diketuai oleh Vera Yulia Rachmawaty (Teknik Metalurghi 07).

Sekre U-Green memang sangat kecil, sehingga tidak akan bisa menampung seluruh anggota bila ada acara semacam ini. Alhasil, berbagai tempat bisa kami sulap menjadi venue acara, dan untuk kali ini terowongan Sunken Court yang menjadi korbannya.hehe.

Meskipun dengan venue yang dibilang seadanya dan hanya beratapkan langit malam, kami semua menikmati acara ini. Lihatlah bagaimana kami semua hikmat menikmati nasi kuning dari tumpeng ulang tahun U-Green. Makan dengan tangan langsung, tanpa sendok, dan bahkan sepiring berdua atau malah sepiring banyakan. Disinilah unsur kekeluargaan menjadi sangat terasa di organisasi ini. 🙂

7. Pak Mamid

20120902_164223Foto di atas bukanlah pertemuan orang tua murid di taman kanak-kanak, melainkan perayaan ulang tahun U-Green yang ke-6, yang kebetulan memang dirayakan di sebuah taman kanak-kanak.hehe.

Nah, sosok yang lagi berdiri itu adalah Pak Mamid, Dr. Ahmad Sjarmidi nama lengkapnya, dosen pembimbing U-Green, yang akan dicari mati-matian oleh ketua U-Green saat ingin minta tanda tangannya untuk keperluan proposal acara.haha.

Konon katanya, beliau dulu adalah salah satu aktivis mahasiswa garis keras. Harusnya dulu beliau ada dalam daftar black list alumni ITB yang tidak bisa jadi dosen ITB, tapi entah gimana ceritanya beliau lolos dari black list itu. Dan sekarang beliau malah jadi salah satu ahli konservasi di Indonesia. Nah, karena mantan aktivis tersebut itulah beliau juga menjadi pembimbing unit PSIK (Perkumpulan Studi Ilmu Kemasyarakatan), unit yang cukup melegenda di ITB karena didirkan oleh Wimar Witoelar dan Sarwono Kusumaatmadja. Jadi boleh dibilang, saat masa saya mahasiswa, U-Green dan PSIK itu seperti saudara seperanakan. (apa coba ini..haha).

Bagi saya, beliau adalah mentor pertama saya dalam hal beraktifitas di kampus. Banyak hal-hal mendasar dalam berorganisasi dan kepemimpinan yang saya pelajari dari beliau. Saya masih ingat betul dua pertanyaan yang beliau lontarkan ketika pertemuan pertama saya dengan beliau.

Jadi menurut kamu, U-Green itu apa?“, “Yang membedakan U-Green dengan organisasi lingkungan yang lain itu apa?“. Dua pertanyaan inilah yang akhirnya menjadi guide saya dalam memimpin U-Green.

Pernah suatu ketika, saya bingung bagaimana caranya untuk membangun sebuah tim yang solid, lalu beliau memberi saran, “Coba kamu atur satu waktu, yang semua badan pengurus kamu bisa, lalu ajak mereka ke suatu tempat, nginep bareng, ngobrol, atau melakukan apapun yang tidak terkait organisasi“. Setelah saya mengikuti saran beliau, akhirnya saya sadar, ternyata sangat penting untuk mempererat kedekatan secara emosional antara sesama badan pengurus. Karena inilah yang menjadi awal pembentukan sebuah tim yang solid. Terima kasih banyak Pak Mamid!

8. Kembang api

206626_1994827468915_924996_nFoto di atas memang ga terlalu jelas, hanya terlihat percikan kembang api dan 2 sosok wanita, tapi sebenernya itu ada satu orang lagi di sebelah kiri, yaitu saya. Apa mau dikata, karna kulit hitam, jadi saya tidak terlihat.haha.

Ceritanya ini terjadi pas menjelang wisudaan April 2011, Badan Pengurus U-Green saat itu berinisiatif untuk mengadakan syukuran wisuda, sama seperti periode-periode sebelumnya, tentu saja dengan konsep yang ala kadarnya, karena jumlah anggota U-Green yang diwisuda setiap periodenya memang tidak terlalu banyak. Nah, beberapa hari sebelum acara syukwis, panitia yang diwakili Egie (Gilang Putri Suryani -Farmasi 08) dan Ardhy (Ardhyan Seto Prabowo – Elektro 08) datang ke saya untuk menanyakan request yang diminta wisudawan.

Ka, untuk syukwis nanti ada request ga, mau ditambahin apa gitu?

Lalu saya menjawab dengan seenaknya, “Saya mau kembang api!” (Kembang api disini adalah kembang api yang biasa digunakan di acara-acara besar, yang ditembakan ke langit itu)

Mendengar itu, mereka berdua langsung lemes, “Yah Ka, itu kan mahal. Budget kita ga ada.”

Saya tahu, harganya memang mahal, jadi ga mungkin syukwis U-Green ada yang begituan. “Hehe..iya saya becanda qo. Kami mah apa aja, udah dirayain sama kalian aja kami udah seneng qo ” jawab saya sambil tersenyum.

Setelah itu saya tidak berpikir apa-apa lagi perihal acara syukwis. Namun tiba-tiba pas acara, kami semua para wisudawan dikejutkan dengan persembahan spesial di akhir acara berupa kembang api! Kembang apinya memang yang skala kecil sih, yang cuma menyembur sekitar satu meter, dan kembang api yang dipegang (seperti yang difoto). Tapi entah kenapa saya merasa ini sangatlah spesial.

Di akhir acara Egie dan Ardhy bilang ke saya, “Kemarin kan Ka Burhan request kembang api, jadi ya kami persembahkan ini buat syukwis kali ini“.

Seketika itu juga saya terharu, dan tanpa disadari malah sempat menitikkan air mata. Terima kasih ya Egie, Ardhy, panitia dan tentu saja U-Green! Kalian telah sukses memberi kenangan indah di akhir masa saya di kampus Ganesha.

Sekali lagi,

Selamat Ulang tahun Sang Hijau! Semoga api semangatmu terus membara untuk menyebarkan virus-virus cinta lingkungan! Dan semoga engkau terus tumbuh mejadi organisasi yang semakin dewasa, yang siap melompat lebih tinggi dan terbang lebih jauh!

Salam hangat dari tempat yang jauh disana..

Antara Alun-alun dan Centrum

(Bagian ke-3 dari tulisan Negeri di bawah laut, baca juga bagian 1 dan bagian 2 )

Tentang City Centrum

Bagi yang pernah berkunjung atau tinggal di Eropa, tentunya tidak asing dengan istilah City Center, Square atau Centrum. Yang terakhir adalah istilah yang biasa digunakan di negeri yang sedang saya tinggali sekarang. Entah kenapa, saat pertama kali menginjakkan kaki di negeri ini, saya sangat tertarik dengan konsep Centrum. Dan entah kenapa saya malah berpikir bahwa sebenarnya ini tidaklah jauh berbeda dengan konsep alun-alun yang ada di Indonesia.

Delft Centrum dilihat dari atas

Delft Centrum dilihat dari atas

Centrum atau City Center sendiri tidak lain dan tidak bukan adalah pusat kota. Tapi ini ya memang benar pusat kota, bukanlah sebuah istilah semata. Karena memang benar ini menjadi tempat berkumpulnya seluruh penduduk, dan segala aktivitas yang melibatkan banyak orang. Jadi bila anda menjadi turis di salah satu kota di negeri ini dan tidak tahu objek wisata yang harus dikunjungi, anda tinggal tanya saja dimana Centrum-nya, niscaya anda bisa menemukan banyak hal disitu. Dan biasanya, objek-objek wisatanya juga tidak terlalu jauh dari Centrum, masih bisa dijangkau dengan berjalan kaki.

Centrum di negeri ini sangatlah identik antara satu kota dan kota lainnya. Yang sudah pasti anda temui di lokasi ini adalah gereja dan lapangan, yang biasa digunakan untuk berbagai macam aktivitas. Yang lainnya tentunya ada city hall, toko souvenir, museum, cafe & restaurant, hotel dan objek wisata lainnya. Centrum juga biasanya (rasanya hampir semua sih) dekat dengan stasiun kereta utama, sehingga memudahkan orang-orang dari luar kota untuk mencapai lokasi ini.

Nah, ketika hari Sabtu, penduduk akan berbondong-bondong datang ke Centrum dengan berjalan kaki atau naik sepeda, sangat jarang yang membawa mobil pribadi (karena memang disini mobil pribadi memang sangat sedikit), untuk sekedar berjalan-jalan, berbelanja, berbincang di cafe & restaurant, berjemur (bila musim panas), atau menikmati sajian acara (bila memang ada acara, semisal musik atau semacamnya). Kakek, nenek, bapak, ibu, remaja, ABG, anak-anak, hingga orang berkursi roda akan berkumpul semua disini.

C360_2014-06-01-14-22-50-519

Warga Delft menikmuti hiburan gratis, tua muda anak-anak hingga orang berkursi roda berkumpul menikmati bersama

Salah satu yang menarik di negeri ini adalah jarang sekali anda temui bangunan yang disebut “mall” atau malah hampir tidak ada. Kalau di Indonesia, mall biasanya sangat identik dengan pusat orang berkumpul, setiap kota pasti wajib memilikinya. Bila tidak punya, sudah pasti kota tersebut akan berganti status menjadi kampung.hehe. Nah, karena tidak adanya mall, disini toko-tokonya itu tersebar di bangunan-bangunan kecil (mirip dengan ruko, tapi ya cuma buat toko, tidak untuk ditinggali) yang mengelilingi Centrum. Jadi orang-orang yang ingin berbelanja akan “dipaksa” untuk rajin jalan kaki. Karena tentu saja jangkauan jarak toko-tokonya lumayan jauh. Tidak seperti toko-toko di mall di Indonesia yang jangkaunnya dekat, dibuat bertingkat, ada eskalator dan lift pula.

compile 1

Lapangan di Centrum digunakan untuk berbagai macam kegiatan: a) Acara karnaval tahunan, b) tes mobil buatan badan research di Delft, c) kompetisi marching band, d) pembuatan jembatan dari krat bir oleh mahasiswa TU Delft.

Lapangan di Centrum digunakan untuk berbagai macam kegiatan: e) Pertunjukan musik dari anak-anak, f) Orchestra mini, g) pasar tradisional (setiap kamis dan sabtu), h) pameran patung.

Lapangan di Centrum digunakan untuk berbagai macam kegiatan: e) Pertunjukan musik dari anak-anak, f) Orchestra mini, g) pasar tradisional (setiap kamis dan sabtu), h) pameran patung.

Intinya, Centrum ini adalah jantungnya sebuah kota. Mungkin banyak yang bilang bahwa orang barat terkesan sangat individualis. Tapi bila anda melihat bagaimana mereka berinteraksi di Centrum, anda akan melihat sisi lain dari orang-orang barat ini. Sisi lain yang mungkin menurut saya lebih “sosial” dan manusiawi ketimbang orang-orang di Indonesia jaman sekarang. Konsep ruang terbuka publik membuat mereka setara, tidak ada perbedaan, karena mereka menatap langit yang sama dan menghirup udara yang sama.

Bagaimana dengan alun-alun?

Entah kenapa, saya merasa bahwa sebenarnya dulu kita sudah kenal dengan konsep Centrum ini, yaitu Alun-alun. Bagi yang kotanya punya alun-alun, saya berani jamin, dua elemen yang sudah pasti ada di alun-alun itu adalah masjid dan lapangan. Ini tentunya sama dengan Centrum disini, dimana masjid diganti dengan gereja. Kalau anda searching di om google, anda akan mendapati definisi yang kurang lebih sama. Dahulu kala alun-alun memang dirancang sebagai pusat administratif dan sosial budaya bagi penduduk pribumi, dimana meliputi interaksi perdagangan, pertunjukan hiburan ataupun olahraga. Alun-alun merupakan ruang terbuka yang memiliki peranan penting bagi suatu kota, karena disinilah tempat bertemunya masyarakat untuk melakukan kegiatan bersama.

Alun2_(1)Nah, lalu apa kabar alun-alun kita? Khusus daerah Jawa, apakah alun-alun masih menjadi pusat interaksi warganya? Atau malah sudah tergantikan dengan tempat lain yang dijuluki dengan sebutan “mall“? Ketika anda ditanya oleh turis dari negara lain tentang dimana pusat kota anda, apakah anda bisa dengan mudah menjawabnya? Apakah anda masih merujuk alun-alun?

Saya berasal dari Cirebon, dan saya sendiri sudah bingung ketika ditanya dimanakah pusat kota Cirebon. Secara otomatis, saya akan menunjuk mall-mall besar di Cirebon sebagai pusat kota. Dan bahkan saya sudah tidak tahu kabar alun-alun Cirebon, apakah masih berguna atau tidak. Kalaupun di alun-alun tersebut ada acara, rasanya yang datang biasanya dianggap masyarakat kelas bawah, orang kampung katanya. Orang-orang yang ekonominya lumayan, akan memilih untuk menghabiskan waktu weekend-nya “nongkrong” di mall. Rasanya lebih keren dan lebih mengikuti perkembangan jaman gitu. Semakin lama, fungsi mall menjadi sangat penting di sebuah kota. Para investor pun menjadi seperti berlomba-lomba untuk membangun mall-mall baru.

02_activity_city_tour_city_hallMungkin tidak ada yang salah dengan semakin pentingnya peran mall di sebuah kota. Tapi entah kenapa saya merasa mall justru membuat orang-orang menjadi individualis. Mall adalah ruang tertutup, tidak ada lapangan atau ruang terbuka yang bisa bebas digunakan masyarakat untuk berinteraksi. Mall dimiliki oleh individu atau perusahaan tertentu, yang tujuannya tentu bersifat komersil. Untuk masuk ke mall, orang bahkan harus diperiksa dulu barang bawaannya, kali-kali ada yang bawa bom mungkin. Rasanya mall juga seperti membuat kelas-kelas tertentu di masyarakat. Mungkin sebagian dari anda sudah tidak asing bahwa mall-mall terkadang memiliki kelasanya sendiri, ada yang khusus untuk kaum elit (karena harga barangnya mahal-mahal) dan ada yang untuk kaum menengah ke bawah. Semakin lama, konsep alun-alun atau ruang terbuka publik pun sudah tidak dikenal lagi oleh masyarakat Indonesia.

>

Ah, ingin sekali rasanya mendapati kembali konsep “pusat kota” di negeri saya tercinta, Indonesia.
Ingin sekali rasanya menemukan ruang terbuka publik, yang menjadi pusat interaksi warga.
Ingin sekali rasanya konsep alun-alun dikembalikan seperti dulu, menjadi tempat berkumpulnya berbagai kegiatan masyarakat.
Ingin sekali melihat kota-kota di Indonesia dikatakan maju bukan karena jumlah mall-nya, melainkan karena berhasil memanfaatkan ruang terbuka publiknya sebagai pusat kota.
Ingin sekali melihat warga kota berbondong-bondong setiap weekend menuju pusat kota untuk sekedar berinteraksi bersama, menikmati sajian hiburan ala kadarnya.
Ingin sekali melihat tua muda, remaja, anak-anak ataupun yang memiliki keterbatasan fisik berkumpul bersama, menatap langit dan menghirup udara yang sama..
Ah…keinginan ini semua entah kapan bisa terwujud..mungkin hanya sebatas dalam mimpi..

bendera17 Agustus 2014

Dirgahayu Indonesia!

Katanya engkau sudah merdeka 69 tahun, tapi apakah engkau memang benar-benar sudah merdeka?
Ah sudahlah, saya tidak berani untuk menuntutmu, karna toh saya juga belum memberikan apa-apa untukmu..maafkan..

Salam hangat untuk nusantaraku tercinta dari salah seorang pemudamu yang sedang berada di tempat yang jauh