“Mes que un club” (Lebih dari sekedar klub)

Berhubung sebentar lagi Liga Spanyol 2014/2015 akan bergulir, saya akan sedikit bercerita tentang sepakbola di tanah negeri matador ini..

Antara Madrid dan Barcelona

Kostum sepakbola pertama yang saya punya adalah kostum Real Madrid, yaitu ketika saya kelas 2 SD, berarti sekitar tahun 1995. Jauh sebelum saya kenal klub Barcelona, saya sudah hafal dengan pemain-pemain Madrid semisal Bodo Illgner, Fernando Hierro, Fernando Redondo maupun Raul Gonzalez. Tidak ada alasan pasti kenapa saat itu saya lebih kenal dan suka Real Madrid, sederhananya, ya suka aja, maklum kan masih anak SD. hehe.

Seinget saya, baru saat ada Rivaldo saya ngeh dengan klub bernama Barcelona. Ketika melihat klub ini, saya heran, koq klub bola ga punya sponsor di bajunya. Ya, saat itu Barcelona memang memiliki kostum garis-garis merah biru polos, tanpa ada tulisan apapun di bagian dadanya. “Ini kampungan banget sih, pasti klub miskin dan ga bagus, sampe ga ada perusahaan yang mau jadi sponsor”, pikir saya saat itu.

Kostum Barcelona dari masa ke masa

Kostum Barcelona dari masa ke masa

Baru ketika kuliah saya mulai tertarik untuk mengenal klub Barcelona. Penyebabnya adalah karena saat itu saya sedang semangat-semangatnya mempelajari tentang sociopreneurship. Dan menurut salah satu training yang pernah saya ikuti, salah satu contoh sociopreneurship paling sukses di dunia adalah klub Barcelona. Loh qo bisa? Ya, ternyata Barcelona dikelola dengan prinsip-prinsip yang unik, yang sangat berbeda dengan klub-klub sepakbola pada umumnya.

Sejarah awal FC Barcelona, sebuah senjata pamungkas bagi sebuah bangsa tanpa negara”

Klub Barcelona didirikan pada tanggal 29 November 1899 oleh 12 orang yang dipimpin oleh Joan Gamper, seorang yang berkebangsaan Swiss. Pendirian sebuah klub sepakbola di tanah Catalan ini menjadi sebuah hal yang sangat berharga bagi warga yang mendiami Catalonia, karena klub ini dianggap sebagai simbol perlawanan dari kaum tertindas bangsa Catalan terhadap “penjajah” Spanyol.

map.spain.petitBagi yang belum tahu, Catalunya atau Catalonia adalah sebuah wilayah otonomi khusus di Spanyol. Mungkin bila di Indonesia mirip dengan Daerah Istimewa Aceh atau Daerah Istimewa Yogyakarta. Ibukota dari Catalunya ini adalah Barcelona. Namun, bangsa Catalan tidak pernah merasa diri mereka sebagai bagian dari Spanyol. Dulu kala, di tahun 1714, kerajaan Spanyol menaklukan wilayah Catalonia. Sejak itu, selama hampir tiga abad rakyat Catalan terus berjuang untuk memisahkan diri dan menjadi bangsa sendiri.

Upaya melepaskan diri dari Spanyol bahkan menjadi pemicu perang saudara pada 1930, Seusai perang saudara, diktator Jenderal Francisco Franco yang berkuasa saat itu melarang semua budaya dan bahasa Catalan. Singkat kata, nasionalisme di Catalonia diberangus habis.

Nah, melalui Barcelona inilah orang Catalan ingin menunjukkan kelebihan mereka dari penjajah Spanyol. Manuel Vazquez Montalban, seorang penulis terkenal dari Spanyol menyebutkan, Barcelona adalah “sebuah senjata pamungkas bagi sebuah bangsa tanpa negara”.

cataloniaKonfilk antara Barcelona dan Real Madrid

Awal dari cerita ‘musuh bebuyutan’ antara Barcelona dan Real Madrid bermula pada saat Jendral Franco berkuasa secara diktator di Spanyol. Catalonia dengan Barcelona-nya menjadi daerah yang “paling dimusuhi” oleh sang jenderal karena bangsa Catalan tidak mau mengakui kalau mereka adalah bagian dari Spanyol.

Jenderal Franco dan kontroversinya di dunia sepakbola

Jenderal Franco dan kontroversinya di dunia sepakbola

Saat zaman kediktatorannya, Franco melarang penggunaan bendera dan bahasa Catalan. Klub Barcelona kemudian menjadi satu-satunya tempat dimana sekumpulan besar orang dapat berkumpul dan berbicara dalam bahasa daerah mereka. Warna biru dan merah, Barcelona menjadi pengganti yang mudah dipahami dari warna merah dan kuning (bendera) Catalonia. Klub Barcelona menjadi semacam klub “anti-franco” dan menjadi simbol perlawanan Catalonia terhadap Franco, dan secara umum, terhadap Spanyol.  Sementara yang dijadikan simbol musuh, tentu saja, adalah klub kesayangan Franco yang bermarkas di ibukota Spanyol, Real Madrid CF. Oleh karenanya, kemudian muncul semboyan “Boleh Kalah Dengan Klub Lain, Asal Tidak Dengan Real Madrid”.

Di tengah rivalitas tersebut, Franco kemudian bertindak lebih jauh. pada tahun 1936, Josep Suñol, Presiden Barcelona waktu itu  dibunuh oleh tentara Fasis. Disusul kemudian sebuah bom dijatuhkan di markas FC Barcelona Social Club pada tahun 1938.

Di lapangan sepakbola, titik nadir permusuhan ini terjadi pada tahun 1943 pada pertandingan semifinal Generalissimo Cup. Pada leg pertama di kandang, Barcelona unggul 3-0. Namun ketika akan bertanding di leg kedua di kandang Madrid, para pemain Barcelona “diinstruksikan” (di bawah ancaman militer) untuk kalah dari Madrid. Barcelona kalah dan gawang mereka kemasukan 11 gol dari Real Madrid. Sebagai bentuk protes, Barcelona bermain serius dalam 1 serangan dan mencetak 1 gol. Skor akhir 11-1, dan 1 gol itu membuat Franco kesal. Pada kasus yang lain, bahkan Kiper Barcelona dijatuhi tuduhan “pengaturan pertandingan” dan dilarang untuk bermain sepakbola lagi seumur hidupnya.

koran

Koran yang membahas pertandingan antara Madrid dan Barcelona

Ketika kedua tim, Barcelona dan Real Madrid, tumbuh dan memerlukan stadion besar, oleh pemerintah, Real Madrid diberikan lahan di Santiago Bernabeu dan dapat membangun stadionnya dalam waktu 3 tahun. Sedangkan Barcelona harus menderita di bawah aturan negara dan project Camp Nou-nya ditunda selama 10 tahun. Saat itu, stadion adalah eleman paling penting bagi klub sepakbola karena pendapatan utama mereka berasal dari penjualan tiket pertandingan. Ketika Real Madrid bisa menikmati stadion yang besar, Barcelona malah harus tetap bermain di stadion tuanya, stadion Les Cort.

Kisruh Transfer Pemain

Tidak hanya itu, ketidakadilan juga terjadi terkait transfer pemain. Mungkin beberapa dari Anda mengenal legenda Real Madrid, Alfredo Di Stefano, tapi apakah Anda tahu kepindahan Di Stefano dari klub Millonarios ke Real Madrid pada tahun 1953 merupakan salah satu transfer paling kontroversial di dunia? Ya, ternyata sebelum dinyatakan pindah ke Real Madrid, Di Stefano lebih dulu melakukan kesepakatan dengan Barcelona. Di saat Di Stefano akan merampungkan kontraknya dengan Barcelona, tiba-tiba saja terjadi “pembajakan” oleh kubu Real Madrid. Entah apa yang sebeneranya terjadi, pada akhirnya Di Stefano malah bergabung dengan Real Madrid dan menjadi kunci kesuksesan Madrid di tahun-tahun itu. Konon katanya saat itu ada campur tangan dari Jenderal Franco yang akhirnya memaksa kubu Barcelona mengikhlaskan pemain incarannya tersebut.

Pada tahun 1973, Barcelona mencoba mengontrak pemain Belanda Johan Cruyff. Di saat yang bersamaan, ternyata Real Madrid juga berusaha mengejar pemain itu. Tetapi kemudian Johan Cruyff secara terang-terangan lebih memilih Barcelona ketimbang Real Madrid karena tidak suka dengan klub sepak bola yang menjadi alat politik sang jenderal Franco. Karena pertentangannya terhadap Real Madrid tersebut, pemerintah Spanyol malah menunda ijin tinggal bagi pemain Belanda ini.

Johan Cruyff

Johan Cruyff

Intinya, pada periode dimana jenderal Franco memimpin Spanyol adalah sebuah periode paling kelam bagi sejarah Barcelona, dan bahkan mungkin memberi torehan yang buruk juga bagi dunia sepakbola di Eropa. Karena saat itu sepakbola dicampuradukan dengan politik.

Sebuah simbol perjuangan dan keberanian

Dalam hal prestasi, Real Madrid memang masih di atas Barcelona. Jarak prestasi itu terjadi terutama pada tahun 1950-1970an, ketika Real Madrid menjadi anak emas Franco dan memiliki kekuatan finansial jauh di atas Barcelona untuk membeli bintang-bintang sepakbola nan bersinar dari seluruh dunia.

Namun begitu, Barcelona tetap memiliki tempat tersendiri bagi para pendukungnya, terutama bagi para penikmat sepakbola. Karena klub ini tidak hanya menjadi simbol sepakbola, tetapi juga sebagai simbol semangat sebuah bangsa. Oleh karenanya, moto klub ini adalah “Mes que un club” atau “Lebih dari sekedar klub”.

mesKarena misi yang dianggap suci oleh orang Catalan itulah, Barcelona selalu menjaga kemurnian tujuan klub. Mereka tidak mau disamakan dengan klub lain, dan tidak mau tunduk dengan nilai-nilai komersial. Semenjak berdiri, Barcelona tidak mengijinkan kostumnya dipasangi iklan. Walaupun pada akhirnya hal yang satu ini dilanggar. Karena alasan ekonomi, akhirnya Barcelona mengijinkan kostum mereka dipasangi iklan.

Karena misi itu pulalah, tidak seperti banyak klub sepak bola lainnya, para pendukung memiliki dan mengoperasikan Barcelona. Pemegang keputusan tertinggi adalah para pendukungnya sendiri, bukan presiden ataupun pemegang saham individu terbesar. Barcelona juga merupakan satu-satunya klub Eropa yang Presidennya dipilih oleh pemegang tiket musiman (pendukung paling murni), bukan pula oleh Dewan Direktur dan bukan pemegang modal. Calon Presiden klub berdebat di televisi, berkampanye mengajukkan progam layaknya pemilihan Presiden sebuah negara.

Hal unik lainnya adalah, dalam pemilihan kapten tim, Barcelona menganut sistem demokrasi, yakni dengan melakukan pemungutan suara dari seluruh anggota tim. Padahal kalau klub lain, kapten tim adalah hak prerogatif dari pelatih.

Barcelona juga selalu mengutamakan pembinaan pemain muda, dimana akademi sepakbolanya, yaitu La Masia, adalah akademi sepakbola terbaik di dunia saat ini. Dari situ telah lahir pemain-pemain hebat, seperti Pep Guardiola, Xavi, Iniesta, Cesc Fabregas, hingga Leonel Messi. Setiap tahun Barcelona boleh saja membeli pemain-pemain hebat untuk meraih prestasi dan membahagiakan para pendukungnya, tapi bila mereka menomorduakan pemain dari produk La Masia, jangan harap pendukungnya akan senang. Bagi para pendukung setia Barcelona, mereka akan lebih bangga melihat pemain-pemain asli binaan La Masia berada di lapangan, ketimbang melihat pemain-pemain bintang yang dibeli dengan harga mahal.

Bocah-bocah La Masia

Bocah-bocah La Masia

Di atas lapangan, Barcelona juga memiliki karakter bermain yang khas. Sebagai sebuah simbol perjuangan dan keberanian, Barcelona pantang bermain bertahan, karena bertahan adalah simbol ketakutan. Kalah atau menang adalah hal biasa. Tapi keberanian memegang karakter, itulah yang menjadi prinsip utama mereka.

Visca Barca

Ya, terlepas dari berbagai kontroversi yang mendera Barcelona dalam satu tahun belakangan dan juga kegagalan di musim 2013/2014, Barcelona tetap merupakan salah satu klub paling unik di dunia. Saat ini, Liga Spanyol 2014/2015 akan segera bergulir. Dengan berbagai perubahan yang telah dilakukan Barcelona, rasanya sah-sah saja bila para pendukungnya berharap Barcelona akan kembali berjaya dengan memenangi berbagai piala.

Tapi bagi saya pribadi, parameter kesuksesan Barcelona bukanlah sekedar sebuah piala. Entah mengapa, saya lebih senang bila mereka berhasil mengorbitkan pemain binaan La Masia, ketimbang harus membeli pemain-pemain mahal dari klub lain. Melihat mereka bermain dengan tetap memegang teguh karakter bermain rasanya lebih penting daripada sekedar kemenangan. Dan yang paling penting, saya berharap Barcelona tetap bisa menjaga kemurnian tujuan klub. Moto “Mes que un club” haruslah tetap menjadi pedoman klub.

Visca Barca!

2d60f1bf75f4eb92514dec0641fe2215

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s