Mari ke laut beramai-ramai!

Tentang mars anak Kelautan

Ah, tiba-tiba saja saya teringat salah satu mars yang paling sering saya dengar dan kumandangkan saat kuliah di Bandung dulu..

Jaya KMKL ITB

Bangunlah KMKL ITB
Bersama kita melangkah maju ke depan
Bulatkan tekadmu untuk membangun Negara Indonesia

Di laut kita jaya
Di darat kaya raya
Semoga kalau mati masuk surga

Singkirkan penghalang
Wujudkan impian
Pantang menyerah

Lihatlah karya kami di lautan
Berdiri kokoh tegap melawan gelombang
Layaknya kami menghadapi semua rintangan

Jaya KMKL ITB!

205723_1916061911254_5943159_n

Mars KMKL dikumandangkan saat Wisuda April 2011 (KMKL = Keluarga Mahasiswa Teknik Kelautan)

Dari semua lirik yang ada di mars tersebut, ada tiga kalimat yang rasanya akan selalu terngiang-ngiang di kepala setiap anggota KMKL dan alumninya. Tiga kalimat tersebut adalah:

“Di laut kita jaya
Di darat kaya raya
Semoga kalau mati masuk surga”

Terkadang bagian lirik ini membuat orang-orang yang mendengarnya menjadi tergelitik. Terutama saat kalimat “Semoga kalau mati masuk surga”. hehe. Saya sendiri sampai saat ini belum sempat berdiskusi dengan pencipta mars KMKL ini, tentang mengapa liriknya seperti itu. Tapi saya mencoba merenungi, mengapa kalimat “di laut kita jaya” ditempatkan di awal? Mungkin saja maksudnya adalah agar alumni teknik kelautan menempatkan tujuan kejayaan laut Indonesia sebagai prioritas utama, bukannya memperkaya diri.

Hal menarik lainnya adalah: kaya raya dan mati masuk surga adalah harapan yang sifatnya pribadi untuk diri sendiri, dan ternyata ditempatkan bukan sebagai prioritas utama. Sedangkan yang ditempatkan pertama adalah impian jaya di lautan yang rasanya adalah sebuah impian bersama, impian sebuah bangsa mungkin. Jadi, rasanya mars KMKL sudahlah sangat tepat dalam menggambarkan tujuannya untuk Indonesia, permasalahannya adalah, sudah sejauh apa usaha untuk mewujudkan tujuan tersebut?

Diskusi tentang maritim di sebuah kota kecil

Kopi Delft

Iklan KOPI Delft

Beberapa waktu yang lalu, PPI Delft mengadakan acara rutin Kolokium PPI Delft (KOPI Delft), dimana salah satu topik yang dibahas adalah tentang dunia maritim, yang salah satu fokusnya adalah tentang program Pendulum Nusantara. Tidak disangka, antusiasme mahasiswa Indonesia yang kuliah di Delft sangat tinggi terhadap tema ini. Tidak kurang dari 50 orang hadir, dan konon katanya ini adalah rekor partisipasi terbanyak dalam kegiatan KOPI Delft.

Bahkan, ada dua orang senior yang sudah lama tinggal di Belanda yang turut hadir di acara tersebut. Pak Gerard Pichel, yang mengaku asli Makasar, khusus datang ke kampus UNESCO-IHE dari tempat tinggalnya yang berjarak 110 km dari Delft untuk berpartisipasi di acara KOPI Delft dengan tema maritim tersebut.

You tau, itu poros maritim is my dream juga. Makanya saya tertarik datang kesini. Saya senang sekali berdiskusi dengan student Indonesia disini,” komentar Pak Gerard, yang sudah dari tahun 1965 tinggal di Belanda. Satu orang lainnya adalah Pak Roy Hilman, satu angkatan dengan Pak Gerard, yang tidak kalah bersemangatnya juga membahas tentang dunia kelautan Indonesia, padahal beliau sudah bertahun-tahun tidak pulang ke kampung halamannya.

Ketika berdiskusi dengan dua sosok senior ini entah kenapa badan saya merinding. Mereka yang sudah begitu lama meninggalkan Indonesia saja masih memikirkan dan memiliki mimpi besar tentang dunia maritim Indonesia. Lalu bagaimana dengan kita, pemuda pemudi yang sepanjang usianya dihabiskan di tanah air nusantara? Malu rasanya bila kita tidak memberi sedikit ruang di pikiran kita tentang masa depan dunia maritim Indonesia.

Acara KOPI Delft itu sendiri rasanya seperti menjadi sebuah momentum bagi warga PPI Delft yang tertarik di bidang maritim. Bagi yang belum tahu tentang kondisi terkini transportasi laut di Indonesia, akhirnya menjadi tahu. Bagi yang sudah tahu, akhirnya saling terkoneksi satu sama lain. Bahkan setelah satu tahun saya tinggal di Delft, saya baru tahu bahwa ternyata cukup banyak mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh program master dan doktoralnya di bidang logistik, transportasi laut dan kepelabuhanan di Delft. Pada akhirnya saya pribadi sangat bersyukur bisa terlibat di acara KOPI Delft itu.

IMG-20141023-WA0003

Suasana KOPI Delft

Masalah kemaritiman Indonesia memang sangat ruwet, ibaratnya seperti benang kusut. Meskipun kita selalu bilang Nenek moyangku seorang Pelaut, nyatanya kita malah semakin jauh dengan “laut”. Hafida Fahmiasari, salah seorang pelajar Delft yang juga konsern di bidang ini pun pernah berkomentar:”Pelaut yang dahulu gagah ternyata sekarang mulai menjauh dari air, entah lupa atau memang sudah takut dengan air.”

Tapi entah kenapa, setelah melihat antusiasme para pelajar Indonesia di Delft berdiskusi tentang dunia maritim, saya merasa bukan hal yang mustahil untuk meluruskan benang-benang kusut tersebut. Beberapa diantara kami bersepakat untuk membuat diskusi lanjutan terkait permasalahan transportasi laut dan kepelabuhanan. Tentunya ini sebagai bentuk usaha kecil kami untuk berkontribusi kepada nusantara, mewujudkan sebuah mimpi untuk membuat Indonesia kembali jaya di lautan. Mungkin boleh dibilang diskusi bukanlah sebuah solusi nyata untuk mengatasi suatu permasalahan. Tapi bukankah kemerdekaan Indonesia juga tidak lepas dari hasil diskusi para pelajarnya?

Mari ke laut beramai-ramai

nenk moyangku orang pelautTerlepas dari pemerintahan baru yang kelihatannya akan memprioritaskan bidang maritim, rasanya memang sudah saatnya bangsa Indonesia lebih dekat dengan laut. Jangan lagi menganggap laut sebagai pemisah, karena laut justru adalah penghubung. Jangan lagi mengkambinghitamkan laut sebagai biang keladi kesenjangan kemakmuran, karena harusnya laut adalah sebuah potensi untuk memajukan ekonomi di seluruh penjuru nusantara.

Jangan lagi mengkonotasikan laut sebagai istilah negatif, apalagi mengasosiasikan laut sebagai tempat pembuangan cewek matre, seperti yang group rap Neo bilang: “Cewek matre cewek matre, ke laut aje!” :p

Sudah saatnya sekarang kita semua bergerak demi kejayaan lautan nusantara. Seperti lirik terakhir lagu Nenek Moyangku seorang pelaut: “Pemuda berani bangkit sekarang, ke laut kita beramai-ramai“.

Jadi, mari kita ke laut beramai-ramai! 😀

Delft, 23 Oktober 2014

Advertisements