Di Sebuah Warung Kopi

Di salah satu sudut ruangan, seorang gadis berambut pirang duduk menghadap jendela. Kedua tangannya ditopangkan ke dagu sambil sesekali ia memejamkan mata. Sebuah buku tulis dibiarkan terbuka di depannya. Apakah ia sedang memikirkan sesuatu? Atau mungkin saja ia hanya sedang mencoba untuk terlelap lalu bermimpi, menikmati kesendirian di keramaian tempat ini.

Beberapa kursi di sebelahnya, sesosok pria besar sedang seriusnya menulis. Mengerjakan tugas kuliah atau mungkin menulis catatan pribadinya, entahlah. Yang jelas, ia lebih memilih bersembunyi di balik tembok ketimbang menatap langit cerah di balik jendela. Hingga cangkir kopinya kosong, ia tidak memalingkan wajahnya dari buku dan tembok di hadapannya. Mungkin ia malu dengan tubuh besarnya, atau ia memang tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya.

Di balik meja bar, seorang barista wanita dengan telatennya membuatkan setiap pesanan para pengunjung, mulai dari espresso, americano, cappuccino hingga moccacino. Senyum tulusnya selalu tersungging, begitu menikmati pekerjaannya, seakan ia memang terlahir untuk meracik kopi. Meskipun hampir sepanjang hari berada di balik meja, tak terlihat, tak dapat dipungkiri dia lah yang menentukan rasa tempat ini.

Di depan pintu, seorang pria dengan coat hitam tampak sedikit cemas. Rasanya sudah cukup lama ia disana, mondar-mandir sambil beberapa kali melihat jam tangannya. Mungkin ia sedang menunggu seseorang. Sebuah kencan kah, atau mungkin sebuah urusan bisnis? Lalu, mengapa ia harus menunggu di depan pintu? Bukankah lebih baik menunggu di dalam, sambil duduk dan meminum kopi. Ah, mungkin saja ia ingin merasakan kenikmatan kopi disini bersama orang yang ia tunggu itu.

Tepat di tengah ruangan, dengan santai sepasang kakek dan nenek duduk bersandar di atas sofa. Wajah keriput dan rambut yang beruban tidak menghilangkan senyum bahagia diantara keduanya. Tak tahu apa yang sedang mereka bicarakan, mungkin saja mereka sedang bernostalgia mengingat masa yang lalu. Atau mungkin saja mereka hanya ingin membuat iri orang-orang disini yang tak memiliki pasangan.

Lalu, apa yang aku lakukan? Ah, tentu saja aku duduk di kursi favoritku, memperhatikan seisi ruangan sambil minum segelas kopi, lalu menuliskan tentang cerita ini.

<>

# di salah satu sudut kota Delft
# di penghujung tahun 2014

Advertisements

Panggilan Sembilan Puluh Detik

Pernahkah kamu merindukan percakapan hangat di sebuah meja makan…
tanpa melihat saudara atau temanmu memainkan sebuah handphone?

Pernahkah kamu merindukan perhatian utuh dari pasanganmu…
saat sedang berdua?
Perhatian yang tak terbagi dengan telepon genggamnya?

Seringkah kamu berada di sebuah kerumunan..
dimana semua orang asyik dengan dirinya sendiri?
Menikmati kesendirian di sebuah kebersamaan.

Di sisi lain,
Apakah kamu pernah terpaksa menjawab pertanyaan-pertanyaan…
yang bersifat sangat pribadi…
oleh anggota keluarga, yang harus kamu jawab…
demi menjaga hubungan darah?

Pernahkah kamu mengenakan pakaian tertentu…
karena teman-temanmu mengenakan pakaian yang serupa?
Dan menghindari jenis musik tertentu…
agar terhindar dari celaan?

Individualitas adalah hal yang pelik.
Terlalu banyak individualitas…
dan kita menjadi makhluk yang memiliki kepedulian rendah terhadap dunia.
Asyik sendiri dengan nasib pribadi.

Terlalu sedikit individualitas,
dan kita menjadi robot.
Sebuah fotokopian yang seragam.

*Oleh: Pasar Seni ITB 2014

Andai Saat Ini Saat Itu

Sebuah catatan di tahun 1995…

Pukul 7 tepat, para siswa kelas 2 SD Pagi Petang sudah berbaris rapi di depan kelas untuk segera masuk ke kelas barunya. Raut gembira dan penuh semangat menghiasi setiap wajah para siswa tersebut. Hari ini adalah hari pertama tahun ajaran baru, hari yang sangat dinantikan oleh anak-anak ini setelah mereka liburan yang cukup panjang.

“Anak-anak, sekarang akan ada rapat guru, jadi Ibu harus meninggalkan kelas dulu. Kalian jangan ribut ya, dan jangan keluar kelas!” perintah Bu Maemunah, sang wali kelas.

“Iya Bu Guru!” jawab anak-anak serempak.

.

Agung, sang ketua kelas, bergumam sendiri sambil melihat ke dalam tasnya, “Ini dia saatnya.”

Sudah tidak terhitung lagi berapa kali Agung memeriksa ke dalam tasnya. Mulai dari semalam sebelum tidur, bangun tidur, setelah mandi, mau sarapan, dan bahkan saat berada di belakang motor bapaknya, di perjalanan menuju sekolah. Rupanya ia sedang memastikan tempat pensil barunya yang bergambar Satria Baja Hitam, ada di tas itu. Ia ingin memamerkannya kepada teman-temannya.

Sesaat setelah Bu Maemunah keluar kelas, Agung pun langsung beranjak dari kursinya, “Hai teman-teman, mau liat engga, ini tempat pensil baru aku, keren kan?”

Beberapa temannya langsung mengerubunginya. Mereka berebut ingin melihat dan memegang tempat pensil bergambar Satria Baja Hitam itu.

“Wah keren ya Gung, aku juga nanti mau minta ke bapak ah beli yang kaya gitu.”

“Ini pasti mahal ya Gung?”

“Beli dimana Gung?” teman-temannya mulai banyak yang berkomentar.

Agung pun dengan sabarnya menjawab pertanyaan teman-temannya itu. Dalam hati, Agung sangat girang karena ia berhasil memamerkan barang barunya itu.

.

Dodi, sang juara kelas, rupanya tidak mau kalah, “Aku juga punya barang baru, nih coba liat jam tangan aku!”

Kemudian ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi, sebuah jam digital dengan tutup bergambar kepala Ultraman melingkar di tangannya.

“Wah itu dibeliin siapa Dod?” tanya salah satu temannya.

“Ini dibeliin ayah aku karena kemarin aku ranking satu,” jawab Dodi bangga.

Kemudian tanpa ada yang meminta, ia juga membuka buku rapotnya, yang tertulis di dalamnya kalau ia mendapat ranking satu di kelas 1 kemarin. Sontak teman-temannya pun kagum dan bertepuk tangan.

.

Kemudian, tanpa ada yang mengkomandoi, para siswa kelas 2 ini mulai bergiliran memamerkan apapun yang mereka punya di tahun ajaran baru ini. Yang mereka pamerkan pun beragam, ya, sangat-sangat beragam.

Sindi, murid paling cantik di kelas memperlihatkan buku diary yang baru dibelikan oleh kakaknya, “Ini buku diary aku. Kakak aku ngajarin aku untuk menulis diary.”

“Wah, memang diary itu harus ditulis apa Sin?” tanya temannya yang belum pernah tau tentang buku diary.

“Katanya, harus ditulisin pengalaman-pengalaman kita. Nih aku bacakan yang udah aku tulis ya: ‘Dear Diary, hari ini aku diajak mamah ke pasar. Mamah membeli banyak sekali sayuran. Kemudian pulangnya aku minta dibelikan es krim, enak sekali rasanya.’ begitu isinya,” jelas Sindi diiringi anggukan teman-temannya.

.

Kali ini giliran Tono, “Aku engga ada barang baru, tapi aku pengen kasi liat kalian foto-foto ini. Kemarin pas liburan, aku sama keluarga pergi ke Kebun Binatang di luar kota, ini foto-fotonya, bagus kan?”

Rupanya, sehari sebelum masuk sekolah, Tono merengek-rengek ke bapaknya untuk segera mencetak foto-foto itu, agar bisa segera diperlihatkan ke teman-temannya. Kemudian, foto-foto itu pun mulai tersebar ke seluruh teman-temannya, yang hampir sebagian besar memang belum pernah pergi ke Kebun Binatang itu. Tono pun tersenyum puas karena berhasil membuat teman-temannya iri.

.

Rika, murid perempuan yang bertubuh cukup besar, sangat antusias ketika mendapat giliran. Ia kemudian membuka kotak bekal makannya, “Hari ini mamah aku ngebuatin aku risoles spesial, katanya ini pertama kalinya mamah aku buat ini.”

“Wah kayanya enak, boleh engga kita cobain Ri?” tanya beberapa temannya.

“Hmm..kalau kalian minta semua, nanti aku engga kebagian. Lain kali aja ya, nanti aku bilangin ke mamah untuk buatin yang banyak.”

“Yahh”, beberapa temannya begumam agak kecewa.

.

Dian sedikit kebingungan karena tidak punya barang atau foto yang bisa dipamerkan. Padahal sebentar lagi gilirannya untuk memamerkannya di depan teman-temannya. Kemudian tiba-tiba saja dia melihat ke ibunya yang kebetulan hari itu menungguinya hingga selesai sekolah.

“Hmm, teman-teman, sebentar ya!” kata Dian saat mendapat giliran. Kemudian ia lari ke luar kelas.

Ibunya yang menunggu di luar kelas sambil menggendong adiknya kaget melihat DIan keluar kelas, “Dian, kenapa kamu ke luar kelas?”

“Mah, Dian pinjem Ali dulu ya sebentar!” pinta Dian sambil merebut gendongan Ali dari ibunya.

“Loh ini ada apa Dian? Eh, hati-hati gendongnya, awas jatuh!” ibunya panik.

“Iya, pokonya Dian pinjem sebentar!” Kemudian Dian pun kembali memasuki kelas sambil menggendong adiknya itu.

“Teman-teman, aku mau kasi liat ini. Ini Ali, adik aku yang baru lahir seminggu yang lalu. Lucu engga?” pamer Dian sambil tersenyum bangga.

Sontak teman-temannya pun kaget, tidak menyangka Dian justru memamerkan adiknya yang masih bayi. Dengan wajah yang masih kebingungan, teman-temannya pun kemudian mulai mengomentari si bayi mungil itu.

.

Andi, anak paling bandel, rupanya tidak kalah kreatif. Ia juga tidak punya sesuatu barang yang bisa dipamerkan. Lalu ia malah memamerkan rambut cepaknya, “Nih teman-teman, aku punya rambut baru, kemarin baru aja dicukur!”

Tapi teman-temannya tidak bergeming, mereka merasa itu bukan sesuatu yang spesial.

Melihat reaksi teman-temannnya yang tidak sesuai harapan, Andi pun kemudian menambahkan, “Ini dicukurnya di salon terkenal yang ada di mall loh! Harganya mahal kalau cukur disana!”

“Wahhhh..” jawab serentak teman-temannya kemudian.

Kali ini Andi sedikit berbohong, jelas-jelas rambutnya itu dicukur oleh ayahnya sendiri.

.

Berikutnya, ada anak yang memamerkan sepatu baru, tas baru, botol minum baru, pokoknya apapun yang baru. Tak terasa hampir semua anak mendapat giliran, sampai tibalah giliran Zaki, murid paling pendiam di kelas.

Di kursinya, Zaki sangat cemas dan bingung, karena semua barang yang ia bawa tidak ada yang baru. Ia ingin berkata sejujurnya, tapi ia takut akan dikucilkan oleh teman sekelas, karena akan menjadi satu-satunya anak yang tidak memamerkan barang baru. Sebenarnya ia bisa saja mengaku-ngaku salah satu barangnya adalah barang baru, toh mungkin teman-temannya akan percaya saja. Tapi sepertinya ia tidak punya keberanian untuk itu.

“Ayo Zaki, sekarang giliran kamu. Apa yang akan kamu perlihatkan ke kita semua?” tanya teman-temannya antusias.

Sambil gemetaran, Zaki pun kemudian berdiri dari kursinya.

“Hmmm…aa..kuu… ”

Braakkk..tiba-tiba saja pintu kelas terbuka, Bu Maemunah kemudian masuk kelas.

“Ayo anak-anak, kembali ke kursi kalian masing-masing. Sekarang kita mulai pelajarannya ya!”

.

selesai

Note: Cerita ini hanya fiktif belaka. Tidak ada alasan tertentu dalam pemilihan nama tokoh.

Siang dan Malam yang Tak Biasa

siangOh siang, mengapa kau begitu terburu-buru untuk pergi? Apakah kau takut dengan malam?

Coba kau lihat pohon-pohon itu! Daun-daunnya berguguran, karena tau kau tidak bisa mendampingi mereka lebih lama, seperti biasa. Namun, tak peduli berapa banyak yang dikorbankan, mereka akan tetap menyimpan harapan dan kerinduan padamu! Mereka akan selalu berharap kau akan datang menemani mereka lagi, lebih lama, suatu saat nanti.

Mengapa kau menutup mata akan itu semua? Ataukah ini hanya akal-akalanmu saja untuk menguji kesetian mereka padamu? Sungguh naif mungkin, mereka yang terlalu berharap dan rindu padamu. Ya, siapa sangka kau justru tersenyum di atas sana di kala mereka semua bersedih karena kehadiranmu yang hanya sesaat.

malam2Wahai malam, mengapa kini kau menjelma menjadi lebih angkuh?

Sayap-sayap dinginmu datang lebih cepat dan kuat, mencengkram tubuh ringkih manusia yang masih berkeliaran di luar sana. Memupus keriangan dan memaksa mereka untuk segera pulang. Mereka hanya berani menatapmu dari balik tirai jendela. Mereka takut kepadamu, apakah itu yang kau inginkan?

Dulu kau datang dengan malu-malu, mengiringi manusia melepas penatnya. Kau lipur lara mereka dengan sejuknya angin dan indahnya bintang. Kau akan selalu ada, bahkan untuk mereka yang tak pernah menganggapmu ada. Lalu mengapa kini kau marah? Apakah kau bosan hanya dijadikan tempat pelarian manusia? Atau mungkin saja kau hanya ingin memberi pelajaran bagi mereka yang tidak pernah menghargaimu.

.

Ah siang, malam, mengapa kini kalian tak seperti biasa?

Siang, mungkin saja kau benar. Kalau saja kau selalu hadir untuk mereka seperti biasa, mungkin mereka tidak akan pernah mengerti seberapa pentingnya dirimu. Ketiadaanmu telah membuat mereka tahu berapa harga yang pantas untuk sebuah kehadiranmu.

Malam, mungkin juga kau tidak salah. Kalau saja kau tidak marah dan membawa sayap dinginmu, mungkin mereka tidak akan pernah tahu pengorbananmu melepas lelah mereka. Kemarahanmu telah memberi pelajaran kepada mereka agar tidak pernah menyia-nyiakan keberadaanmu.

.

Ya sudahlah, apapun itu, yang jelas siang dan malam di tempat asalku tidak pernah berlaku tak biasa seperti kalian disini.

.

<<>>

Warung Kopi Delft, 12 Desember 2014