Pemimpin?

pemimpin“Menurut kamu, apa arti pemimpin?”

Tiba-tiba aja pertanyaan itu dilontarkan ke saya oleh salah seorang senior di saat masa pemilu organisasi yang saya ikuti. Karena saat itu saya masih seorang anggota biasa yang masih bau kencur, polos dan tak berdosa (halah), saya agak bingung menjawabnya. Tapi entah kenapa, kalimat yang kemudian keluar dari mulut saya adalah, “Hmm..ya menurut saya pemimpin itu tidak sama dengan ketua.”

Setelah momen itu, saya kemudian membulatkan tekad (baca: nekat) mencalonkan diri dalam pemilu itu, padahal belum tentu juga ada yang bakal milih.haha. Entah kenapa saya tidak terlalu peduli saya menang atau tidak, tapi satu yang pasti, saya ingin belajar dalam memahami sebuah proses kepemimpinan. Dari sebuah pertanyaan yang mungkin biasa, ternyata menimbulkan bekas yang cukup mendalam (galian kali dalem :p) bagi saya. Maka, tanpa disadari sejak saat itulah saya memulai petualangan memahami tentang arti seorang pemimpin (kemudian diiringi backsound ala film silat :p).

>

By nature or nurtureDalam sebuah training, ada sebuah materi kepemimpinan yang diawali dengan pertanyaan tersebut. Lalu kemudian saya berpikir, “Iya ya, pemimpin itu suatu bakat yang diberikan Tuhan, atau sebuah hal yang bisa diasah? Kalau itu sebuah bakat, dan ternyata saya tidak hadir saat Tuhan membagi-bagikan bakat pemimpin di nirwana sana, apa mungkin saya bisa menjadi seorang pemimpin yang baik?” (ya kaleee)

Jaman dulu kala, ada sebuah teori bernama The Greatma Theory, yang intinya mengatakan: “Leaders are born not made”. Tapi kemudian ada juga sebuah teori sosial yang mengatakan bahwa “Leaders are made not born”. Akan sangat panjang bila membahas tentang keduanya secara detail. Tapi saya akan sedikit memberi pandangan berdasarkan pengalaman saya.

Memang ada beberapa orang yang secara alamiah dapat dengan mudah menjadi pemimpin. Tapi menurut saya, sifat kepemimpinannya itu bukan berdasarkan genetis dan juga agak berbeda dengan sebuah bakat seperti main musik, olahraga atau semacamnya. Biasanya orang yang termasuk golongan ini adalah orang yang memiliki bakground keluarga atau lingkungan yang tanpa disadari mengajarinya tentang kepemimpinan semenjak dia lahir. Entah bapaknya yang mungkin seorang ketua RT, atau mungkin kakeknya yang telah mendirikan sebuah perusahaan keluarga, atau mungkin juga dia pernah diadopsi oleh tetua adat suku pedalaman (ya kaleee). Intinya, orang golongan ini ketika dewasa memang secara alamiah bisa dan piawai memimpin, baik itu berupa kelompok kecil ataupun sebuah organisasi semacam karang taruna, unit kegiatan mahasiswa, atau BEM.

Tapi tidak sedikit juga orang yang berhasil mengasah jiwa kepemimpin mereka seiring pertambahan usianya, walaupun dulu mungkin dia tidak punya background tentang kepemimpinan atau bahkan memiliki sifat yang kata orang tidak cocok untuk jadi seorang pemimpin, seperti pemalu atau kurang percaya diri misalnya. Orang seperti ini biasanya mengalami sebuah turning point yang akhirnya membuatnya jadi ingin belajar tentang kepemimpinan. Momen itu bisa berupa dia menemukan sosok tokoh pemimpin idola, atau bertemu dengan seorang pemimpin yang berhasil menginspirasi dia di organisasi yang dia ikuti, atau juga, yang paling sering terjadi, dia menjadi “tumbal” dalam sebuah proses pemilihan ketua atau semacamnya. Untuk poin yang terakhir, akan ada dua kemungkinan yang terjadi. Ada yang setelah menjadi “tumbal” itu dia jadi belajar tentang kepemimpinan dan akhirnya bisa digolongkan menjadi pemimpin yang piawai. Namun,ada juga yang setelah itu justru tidak memberi efek apa-apa terhadap orang tersebut.

>>

atasan = pemimpinMungkin sebagian besar orang akan mengasosiasikan seorang ketua, bos, direktur atau semacamnya sebagai seorang pemimpin. Tapi entah kenapa, saya memiliki pandangan yang berbeda. Hal ini terjadi karena sepengalaman saya, ada beberapa orang yang punya jabatan “ketua” tetapi sesungguhnya dia tidak menjalankan prinsip-prinsip kepemimpinan sebagaimana mestinya atau terkadang bahkan tidak tahu.

Untuk contoh ini, biasanya sang ketua atau bos tersebut tidak tahu harus dibawa kemana organisasi yang dia pimpin, tidak bisa memberi keputusan dan bahkan tidak dihormati oleh anggotanya. Dan dalam kondisi yang parah, ada juga yang justru disetir oleh orang lain dalam mengatur organisasinya. Sang ketua ini hanya berupa simbol semata, sedangkan yang menjadi pemimpin sebenarnya bukanlah dia.

Selain itu, sebenernya tidak harus menjadi seorang ketua atau semacamnya untuk menjadi seorang pemimpin dan memiliki jiwa kepemimpinan. Pemimpin bisa muncul dari sekelompok kecil teman bermain, tim olahraga, atau juga sebuah keluarga (pemimpin rumah tangga maksudnya.hehe). Intinya, ketua hanyalah sebuah label, sedangkan pemimpin adalah sebuah amanah. Ketika ada orang yang baru saja terpilih menjadi ketua sebuah organisasi atau apapun, sesungguhnya dia ditantang untuk mengemban amanah menjadi seorang pemimpin yang ideal. Bukan diberikan kenikmatan atau keuntungan dengan label “ketua” tersebut.

transformasi>>>

awal yang biasaMungkin sebagian dari kita punya anggapan bahwa pemimpin hebat itu pastinya adalah orang yang punya track record panjang pengalaman memimpin. Tetapi menurut saya, anggapan ini tidak sepenuhnya tepat. Karena pemimpin hebat bisa muncul dari seseorang yang sangat “biasa”, orang-orang yang tahu benar bagaimana rasanya di bawah. Bahkan orang golongan ini tidak jarang yang justru bisa melampaui kesuksesan orang-orang yang tergolong terbiasa menjadi pemimpin.

Pernah mendengar tentang Toyotomi Hideyoshi? Salah satu dari tiga orang pemimpin yang berhasil mempersatukan Jepang. Siapa sangka dia mengawalinya dari seorang pembawa sendal bagi Oda Nobunaga, majikannya. Hingga akhirnya dia justru bisa berada di posisi sang majikannya tersebut dan bahkan mencapai kesuksesan yang lebih besar. (baca: Toyotomi Hideyoshi)

Di salah satu episode serial Game of Thrones, ada percakapan sebagai berikut:
Lord Commander : “Kau ingin memimpin suatu hari nanti?”.
Jon Snow : “Ya”
Lord Commander : “Maka belajarlah bagaimana cara mengikuti!”

Saya sangat setuju terhadap pernyataan Lord Commander, untuk bisa memimpin, kita harus belajar untuk dipimpin terlebih dahulu.

>>>>

melayaniNah, mengapa orang yang berasal dari kalangan “paling biasa” bisa menjadi pemimpin yang hebat? Mungkin salah satunya adalah karena inti dari kepemimpinan adalah melayani, bukan dilayani. Tidak sedikit kita lihat, sosok bos, ketua atau semacamnya yang cenderung ingin selalu dilayani, ingin mendapatkan perlakuan khusus, dan terkadang berlaku seenaknya terhadap bawahan atau anggotanya. Orang golongan ini tentunya tidak termasuk dalam kategori pemimpin yang ideal, karena sekali lagi, inti kepemimpinan adalah “melayani” bukan “dilayani”.

>>>>>

Disegani atau dicintaiPertanyaan ini cukup sulit untuk dijawab. Bahkan saya pun tidak yakin mana yang lebih baik diantara keduanya. Tapi rasanya keseimbangan antara keduanya mungkin menjadi pilihan yang paling tepat, walaupun dalam pelaksanaannya pastinya akan sangat sulit. Sebagian besar, beberapa pemimpin lebih condong ke salah satunya, entah menjadi pemimpin yang sangat baik dan dekat dengan anggotanya sehingga menjadi pemimpin yang dicintai, atau menjadi pemimpin yang tegas bertangan dingin sehingga sangat disegani para anggotanya.

Pilihan itu bisa terjadi karena sifat alamiah sang pemimpin atau kondisi organisasi yang dia pimpin. Bisa jadi sosok yang dicintai akan tepat di kondisi suatu organisasi, atau sebaliknya sifat tegas dan otoriter mungkin diperlukan untuk pengembangan organisasi tersebut ke depannya. Terlepas dari itu semua, rasanya tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk, keseimbangan keduanya atau penyesuaian terhadap kondisi organisasi mungkin adalah yang paling tepat untuk diterapkan.

>>>>>>

resikoPernahkan anda menemukan seorang pemimpin yang plin-plan, terlalu lama atau bahkan tidak bisa mengambil keputusan? Tidak sedikit memang pemimpin yang seperti itu, pemimpin yang tidak berani mengambil resiko. Mungkin tidak sepenuhnya hal tersebut salah, tapi entah kenapa saya lebih percaya bahwa seorang pemimpin harus berani mengambil resiko. Memang benar, sebelum memutuskan sesuatu kita harus mempertimbangkan segala sesuatunya, tetapi waktu mempertimbangkannya tersebut haruslah tidak terlalu lama.

Setiap keputusan pastilah akan timbul pro dan kontra, pasti ada yang senang dan tidak. Saya pernah diajarkan bahwa, jangan pernah berharap bahwa setiap keputusan yang dilakukan akan disenangi semua pihak, karena itu mustahil. Tujuan dari sebuah keputusan adalah agar memberi dampak yang lebih baik, bukan untuk menyenangkan semua pihak.

Selain itu, bukankah ada sebuah kalimat klasik yang berbunyi seperti ini:

“Seorang pemimpin boleh salah, yang tidak boleh adalah ragu-ragu”

So, setiap keputusan pasti mempunyai resiko, satu yang pasti, seorang pemimpin tidak boleh ragu-ragu.

>>>>>>>

pemimpin berikutnyaNah, rasanya ini adalah hal pamungkas yang saya yakini harus dimiliki seorang pemimpin. Mungkin anda pernah mengalami suatu momen dimana dalam sebuah pemilu suatu organisasi, sulit untuk menemukan orang yang mau mencalonkan diri menjadi ketua, entah akhirnya hanya satu orang yang mencalonkan atau bahkan tidak ada sama sekali. Kemudian biasanya para senior akan menyalahkan angkatan tersebut dan men-cap sebagai angkatan yang gagal.

Tapi kalau menurut saya, tidak sepenuhnya salah angkatan tersebut bila tidak ada yang mau nyalonin. Karena sesungguhnya, ada peran sang pemimpin sebelumnya yang bertanggungjawab untuk mempersiapkan calon-calon penerusnya. Bagi saya, tidak ada artinya kesuksesan seorang pemimpin yang berhasil melakukan program kerja besar saat masa kepengurusannya, namun di akhir masa kepengurusannya dia bahkan tidak tahu siapa yang akan menjadi penerusnya.

Selain mengemban amanah tugas-tugas sebagai seorang pemimpin pada periodenya, tantangan seorang pemimpin juga memastikan bahwa selepas periodenya, organisasi itu harus bisa berkembang lebih hebat dengan pemimpin barunya. Jadi, rasanya memang tepat, seorang pemimpin bisa dikategorikan sebagai pemimpin sukses apabila dia berhasil menciptakan pemimpin-pemimpin berikutnya.

<<<>>>

Delft, 16 Februari 2015

*Materi ini pernah disampaikan dalam Latihan Kepemimpinan dan Manajemen Organisasi (LKO) Keluarga Mahasiswa Teknik Kelautan (KMKL) ITB, 24 Februari 2012, penulis hanya menulis ulang dalam bentuk tulisan.

Advertisements

Apalah Arti Bahasa

.

Pernahkah kamu merasa nyaman berbicara lantang dengan bahasamu sendiri sementara orang-orang di sekitarmu justru tidak mengerti ucapanmu. Sesekali kamu mengomentari mereka sambil memalingkan wajah, mengelabui mereka, sehingga tiada satupun yang sadar bahwa sebenarnya mereka sedang dibicarakan olehmu. Kamu seakan menikmati ketidakmengertian mereka, menikmati keberbedaan bahasamu. Walaupun kadang kala terbersit angan di kepalamu, berharap ada diantara mereka yang paham sedikit ucapanmu.

.
Di momen lain, mungkin kamu juga pernah berada di tengah sebuah percakapan dengan bahasa yang asing bagimu? Lalu, kamu merasa sedikit penasaran tentang obrolan itu. Apa yang sedang mereka bicarakan? Apa mungkin sedang membicarakanku? Mungkin itu yang ada di kepalamu. Lalu kemudian timbul keinginanmu untuk mempelajari bahasa mereka, agar bisa mengerti dan berbaur bersama. Apakah itu akan menjadi lebih menyenangkan? Atau justru kamu sudah terlalu nyaman berjalan sendiri di tengah ocehan ramai yang tak kamu mengerti.

.
Ketika kamu bukanlah seorang yang ahli dalam mempelajari bahasa, mungkin saja kamu menjadi sangat iri terhadap orang-orang yang menguasai berbagai macam bahasa. Mereka yang bisa bergaul dengan siapapun dan kapanpun mereka mau. Tak perlu takut bingung dengan ocehan asing. Sampai suatu saat, mungkin mereka melupakan bahasa pertama yang mereka kuasai, karena terbiasa dengan bahasa lain yang dirasa jauh lebih menguntungkan. Tak ada salahnya tentu saja, selama mereka bisa mendifinisikan apa yang mereka mau dan apa yang lawan bicaranya mau.

.
Di saat hanya satu bahasa yang kamu kuasai, pernahkah kamu mengalami kebingungan dengan bahasamu itu? Satu kata memiliki banyak makna, satu kata yang kamu maksud mungkin saja dimengerti berbeda dengan orang lain. Atau mungkin juga kamu kesulitan untuk mencari kata yang tepat dalam mengungkapkan sesuatu dengan bahasamu.
Mungkinkah ada sesuatu yang belum terdefinisi dengan sebuah kata dalam bahasamu? Mungkin saja. Bila begitu, naif kah dirimu bila berharap bahasa lain bisa mendifinisikannya? Lalu kemudian, lagi-lagi timbul keinginan untuk mempelajari bahasa yang bukan bahasamu. Agar bisa mengungkapkan kata-kata yang tak bisa diungkapkan dengan bahasa aslimu, pikirmu.

.
Tunggu dulu, mengapa tidak kamu ciptakan saja kata baru untuk mendifinisikan hal yang tak terdefinisi itu? Bukankah bahasa juga merupakan suatu ciptaan, kebiasaan dan kesepakatan. Ah, memangnya siapa dirimu berani-beraninya menciptakan sebuah kata baru.

.
Kamudian kamu bertanya-tanya, manakah yang lebih bijak, mempelajari bahasa orang lain atau mengajarkan orang lain bahasamu?

.
Ketika kamu memutuskan untuk mempelajari bahasa lain, apakah tujuanmu? Apakah agar kamu tahu apa saja yang orang lain bicarakan, karena siapa tahu mereka membicarakanmu di depan hidungmu. Alasan yang menguntungkan bagi dirimu, tapi bukan bagi mereka tentunya. Karena kamu toh bisa saja mempermainkan mereka, menghina dengan bahasamu tanpa harus takut mereka akan mengerti. Apakah ini bisa dibilang curang?

.
Mengajarkan bahasamu kepada orang lain mungkin saja membuatmu terlihat lebih baik hati. Kamu membuat mereka mengerti setiap kata yang kamu ucapkan, dan tentu saja membuat dirimu tidak bisa lagi mengolok-ngolok dengan bahasamu. Tetapi, apakah orang-orang itu memang mau mempelajari bahasamu? Bagaimana kalau ternyata tidak ada satupun yang mau. Haruskah kamu memaksa, dengan dalih itu akan menguntungkan mereka. Bukankah itu justru terihat egois?

.
Ah sudahlah, terlalu rumit memang, terlalu banyak pertanyaan-pertanyaan. Mengapa Tuhan tidak menciptakan satu bahasa saja? Mengapa harus ada berbagai macam bahasa di muka bumi ini?

Bodoh, tentu saja untuk membuat hidup ini lebih berwarna!

<<>>