Kisah Miris dari Ennio Tardini

Prolog

Aku tahu aku sudah bukan apa-apa bagimu, begitupun sebaliknya.
Tetapi entah mengapa, begitu pedih rasanya hati ini melihatmu sekarat, menunggu ajal. Terlintas kembali memori indah bersamamu, ketika aku selalu mendukungmu tanpa pamrih, ketika kau mengajarkan banyak hal kepadaku dan memori lain yang begitu membekas.
Bagiku, kau akan selalu ada di hati.
Hanya doa yang bisa aku sampaikan kepadamu.
Bertahan dan segera bangkitlah!

Paragraf di atas bukanlah sebuah ungkapan cinta seorang lelaki kepada wanita pujaannya, melainkan sebuah ungkapan seorang suporter sepakbola terhadap klub sepakbola pertama yang ia puja, yang kini sedang diambang kehancuran.

Awal mula

Di tahun 1998, setelah menonton Piala Dunia pertamanya di usianya yang belum genap 11 tahun, ia mencoba untuk mulai memantapkan hatinya kepada salah satu klub sepakbola. Mungkin bagian dari proses pencarian jati dirinya. Karena egonya yang begitu tinggi, ia tidak ingin menyukai klub yang terlalu sering digembar-gemborkan atau yang memang sudah memiliki banyak pendukung. Ia tidak ingin memilih Juventus atau Milan, klub favorit kakaknya, atau Real Madrid, yang jerseynya merupakan jersey bola pertama yang ia punya, atau mungkin Manchester United yang saat itu sedang merajai Liga Inggris. Mereka sudah sangat terkenal dan sudah terlalu sering meraih trophy, pikirnya.

Pada akhirnya ia justru memilih Parma Footbal Club (atau dulu bernama Parma Associazione Calcio) sebagai klub favoritnya. Uniknya, hal pertama yang membuatnya tertarik justru karena warna jerseynya. Saat itu Parma memang baru saja merevolusi jerseynya menjadi sangat mencolok, garis horizontal kuning-biru.

form9899_bisSejak didirikan di tahun 1913, klub ini hanya berkutat di kasta terendah Liga Italia. Serie C, Serie D dan bahkan liga amatir pernah mereka jalani. Sampai akhirnya mereka pertama kali promosi ke Serie A di tahun 1990/1991. Meskipun klub ini terbilang masih hijau, ia justru sangat bersamangat untuk mendukung klub ini, sebuah klub yang baru muncul ke permukaan dan sedang merintis kisahya di sepakbola Italia dan dunia.

Bagian dari Il Sette Magnifico

Musim 1998/1999 adalah musim pertamanya mendukung penuh sebuah klub sepakbola. Setiap pertandingan Parma yang disiarkan di televisi sudah pasti tidak ia lewatkan. Meskipun beberapa pertandingan ditayangkan dini hari, ia dengan sigap bangun tanpa bantuan jam alarm, karena memang tidak ada barang itu di rumahnya. Ia juga mulai mmemperkenalkan kepada teman-temannya sebagai Parmanisti atau Parmagiani. Bahkan bila ia ditanya apa warna favoritnya, ia akan dengan tegas menjawab kuning-biru, merujuk kepada jersey dan julukan Parma Il Gialloblu (Si Kuning-Biru).

85388634_oPada musim itu Parma menjadi salah satu pesaing serius dalam memperebutkan scudetto. Sebuah tim yang sangat solid dengan berisikan pemain-pemain yang merupakan pemain besar pada jamannya. Siapa yang tidak kenal Hernan Crespo, Enrico Chiesa, Dino Baggio, Juan Sebastian Veron, Lilian Thuram, Nestor Sensini, Mario Stanic, Fabio Cannavaro atau Gianluigi Buffon. Nama-nama itu membuat Parma menjadi disegani sekaligus memantapkan sebagai satu dari tujuh klub terbaik di Italia, atau dikenal dengan Il Sette Magnifico.

Lalu siapa pemain favoritnya di skuad Parma saat itu? Ia memilih Gianluigi Buffon. Penjaga gawang Parma yang ternyata telah menjadi pilihan utama semenjak usinya masih 18 tahun. Buffon juga rupanya masuk dalam skuad Italia di Piala Dunia 1998, menjadi kiper ketiga di bawah Angelo Peruzzi dan Gianluca Pagliuca. Karena Buffon jugalah akhirnya ia memilih posisi sebagai penjaga gawang dikala ia bermain sepakbola dengan teman-temannya. Mungkin ia berharap kelak menjadi kiper handal seperti Buffon, yang dijuluki Superman.

gigi-buffon-parmaMomen Indah

Final Piala UEFA 1999 mungkin menjadi kenangan paling indah baginya bersama Parma. Seminggu setelah ia bergembira karena Parma memenangi Coppa Italia, ia bersiap menyaksikan partai final antara Parma vs Marseille. Sebelum jam 1 dinihari, ia sudah sigap nongkrong di depan tv yang gambarnya terkadang dirubungi semut. Parma tampil sangat dominan di pertandingan itu. Gol-gol dari Hernan Crespo, Paolo Vanoli dan Enrico Chiesa menegaskan keperkasaan Parma sekaligus menjadikan skor yang cukup mencolok 3-0.

Parma pun berhak mengangkat trophy Piala UEFA. Betapa gembiranya ia menyaksikan tim pujaannya memenangi dua piala sekaligus dalam satu musim. Bahkan sesaat setalah peluit akhir pertandingan final itu berbunyi, saking gembiranya ia berlarian di dalam rumahnya sambil berteriak “Forza Parma”. Tentu saja itu membuat seisi rumahnya pada bangun terkaget-kaget, karena saat itu jam masih menunjukkan pukul 3 pagi!

2124764_w21Ketika kelas 1 SMP, ia bahkan pernah membuat kliping perjalanan Parma di musim kompetisi 2000/2001dalam sebuah buku. Saat itu internet belum seheboh sekarang, satu-satunya informasi sepakbola yang paling mudah didapat adalah dari koran olahraga. Setiap Selasa dan Jumat ia akan setia mendatangi tukang koran langganannya. Bila ada berita atau ulasan tentang Parma, ia akan membeli koran itu, kemudian mengguntingnya dan menempelkannya di bukunya. Meskipun ia harus merelakan uang jajannya untuk membeli sebuah koran, ia dengan senang hati melakukannya, bahkan selama satu tahun penuh.

Malapetaka

Namun, malapetaka terjadi ketika Parmalat, sponsor utama Parma, bangkrut. Kebijakan klub pun berubah. Ia begitu kecewa melihat para pemain bintang Parma mulai angkat kaki dari Ennio Tardini. Bahkan hatinya hancur ketika sang pemain idola, Gianluigi Buffon, pindah ke klub rival Juventus, yang harga transfernya memecahkan rekor sebagai kiper termahal didunia.

Terkadang, secercah kegembiraan muncul tatkala ia melihat pemain-pemain muda yang berhasil diorbitkan oleh Parma. Sebastian Frey, Paolo Cannavaro, Alberto Gillardino dan Marco Marchionni adalah sederet nama generasi berikutnya yang memberi sedikit harapan untuk menjaga nama besar Parma. Namun lagi-lagi para pemain tersebut pun tak bertahan lama. Sedikit demi sedikit perasaannya terhadap Parma mulai luntur. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk memandang sepakbola dari sisi yang berbeda.

Sekarat menunggu ajal

FC+Parma+Celebrate+100+years+Anniversary+MENyDASS1bTlKini, kondisi Parma benar-benar memprihatinkan. Di usianya yang sudah 100 tahun, klub ini justru semakin terseok-seok. Masalah keungan menjadi biang keladinya. Ada sedikit harapan ketika pada musim 2013/2014 Parma berhasil mengakhiri kompetisi di posisi 6, sehingga bisa mengikuti kompetisi Europe League. Namun, karena terjerat kasus tidak membayar pajak dan telat menggaji pemain, akhirnya UEFA memutuskan mencoret Parma dan menggantinya dengan Torino. Kemalangan Parma tidak sampai disitu, saat ini bahkan kondisinya menjadi jauh lebih parah. Hingga pekan ke 23 Liga Italia, Parma terkubur di dasar klasemen dengan hanya mampu menang 3 kali dan seri 2 kali. Sisanya, mereka kalah 18 kali.

Namun bukan itu yang membuat Parma sekarat. Parma ternyata memiliki kondisi keungan yang sangat kritis. Bayangkan saja, para pemain dan staf Parma sudah tidak digaji sejak Juli 2014. Bahkan pertandingan Parma melawan Udinese pada minggu lalu harus ditunda karena Parma tidak sanggup membayar petugas keamanan. Konon katanya, saat ini Parma hanya memiliki uang 40 ribu Euro (sekitar Rp 585 juta), sedangkan utang mereka dikabarkan mencapai 100 juta Euro (sekitar Rp 1.4 triliun).

Pasokan listrik di markas latihan di Collecchio telah diputus. Akibatnya, para pemain tim junior, yang dilatih Hernan Crespo, harus mandi dengan air dingin karena mesin pemanas air tak berfungsi tanpa listrik. Mereka tak mampu membayar jasa cuci seragam. Akibatnya, para pemain harus membawa pulang pakaian kotor mereka dan dibersihkan sendiri. Toko merchandise Parma di Stadion Ennio Tardini telah tutup. Barang-barang di ruang ganti, seperti kursi yang biasa diduduki pelatih Roberto Donadoni, printer, mesin cuci, disita untuk dilelang.

Parma pun diibaratkan seperti kapal Titanic yang tinggal menunggu karam. Klub ini sudah diambang kebangkrutan, bahkan ada kemungkinan mereka tidak akan sanggup menyelesaikan satu musim kompetisi. Kalau mereka dinyatakan bangkrut, seluruh laga tersisa mereka musim ini diputuskan dimenangi oleh lawan-lawan mereka dengan skor 3-0.

prmDoa dan harapan

Meskipun sudah tidak lagi fanatik terhadap Parma, ia tetap saja merasa sedih dan terpukul melihat klub favorit pertamanya itu sekarat. Ia ingin sekali membantu, tapi tentu saja tidak akan ada yang bisa ia lakukan. Setiap hari ia menunggu berita baru dari Parma, berharap ada sedikit kabar baik, meskipun ia tau, peluang itu sangat kecil.

Hanya doa yang bisa ia sampaikan. Berharap klub ini bisa bertahan dan segera bangkit lagi. Namun, bila pada akhirnya klub ini menemui ajalnya, ia hanya ingin mengucapkan kata Terima Kasih. Terima kasih atas semua pengalaman dan memori indah bersamamu.

Forza Parma!

tumblr_inline_mhc6bubI5M1qz4rgp<<>>

Delft, 5 Maret 2015
Dari seseorang yang pernah mengagumimu

Advertisements