Dari Buffon untuk yang Senantiasa Dipunggunginya

“Usiaku 12 ketika aku mulai memalingkan wajahku darimu, melupakan masa lalu demi memberimu jaminan di masa depan. Aku sudah bertindak menurut kata hati. Aku telah bertindak dengan naluri. Tapi di hari ketika aku berhenti menatapmu juga menjadi hari aku mulai mencintaimu.

Untuk melindungimu, demi menjadi pelindungmu yang pertama dan terakhir, aku sudah berjanji pada diri sendiri agar tidak lagi sering-sering melihat wajahmu. Atau aku akan melakukannya sejarang mungkin. Setiap kali melihatmu rasanya menyakitkan; membalikkan tubuhku dan menyadari bahwa aku sudah mengecewakanmu. Lagi. Dan lagi.

Kita selalu berada pada dua titik berbeda tapi kita saling melengkapi, seperti mentari dan rembulan. Terpaksa hidup berdampingan tanpa bisa saling lama-lama bersentuhan. Lebih dari 25 tahun lalu aku sudah membuat ikrar; aku bersumpah melindungimu. Menjagamu. Menjadi perisai dari seluruh musuhmu. Aku selalu memikirkan kepentinganmu, meletakkannya di atas kepentinganku sendiri.

Usiaku 12 ketika aku mulai memunggungi gawang. Dan aku akan terus melakukannya selama kaki, kepala, dan hatiku masih mampu.”

CeE7PYVWAAAQWu-.jpg-large

 

Sumber: Detiksport, Telegraph

 

Advertisements

Kisah Miris dari Ennio Tardini

Prolog

Aku tahu aku sudah bukan apa-apa bagimu, begitupun sebaliknya.
Tetapi entah mengapa, begitu pedih rasanya hati ini melihatmu sekarat, menunggu ajal. Terlintas kembali memori indah bersamamu, ketika aku selalu mendukungmu tanpa pamrih, ketika kau mengajarkan banyak hal kepadaku dan memori lain yang begitu membekas.
Bagiku, kau akan selalu ada di hati.
Hanya doa yang bisa aku sampaikan kepadamu.
Bertahan dan segera bangkitlah!

Paragraf di atas bukanlah sebuah ungkapan cinta seorang lelaki kepada wanita pujaannya, melainkan sebuah ungkapan seorang suporter sepakbola terhadap klub sepakbola pertama yang ia puja, yang kini sedang diambang kehancuran.

Awal mula

Di tahun 1998, setelah menonton Piala Dunia pertamanya di usianya yang belum genap 11 tahun, ia mencoba untuk mulai memantapkan hatinya kepada salah satu klub sepakbola. Mungkin bagian dari proses pencarian jati dirinya. Karena egonya yang begitu tinggi, ia tidak ingin menyukai klub yang terlalu sering digembar-gemborkan atau yang memang sudah memiliki banyak pendukung. Ia tidak ingin memilih Juventus atau Milan, klub favorit kakaknya, atau Real Madrid, yang jerseynya merupakan jersey bola pertama yang ia punya, atau mungkin Manchester United yang saat itu sedang merajai Liga Inggris. Mereka sudah sangat terkenal dan sudah terlalu sering meraih trophy, pikirnya.

Pada akhirnya ia justru memilih Parma Footbal Club (atau dulu bernama Parma Associazione Calcio) sebagai klub favoritnya. Uniknya, hal pertama yang membuatnya tertarik justru karena warna jerseynya. Saat itu Parma memang baru saja merevolusi jerseynya menjadi sangat mencolok, garis horizontal kuning-biru.

form9899_bisSejak didirikan di tahun 1913, klub ini hanya berkutat di kasta terendah Liga Italia. Serie C, Serie D dan bahkan liga amatir pernah mereka jalani. Sampai akhirnya mereka pertama kali promosi ke Serie A di tahun 1990/1991. Meskipun klub ini terbilang masih hijau, ia justru sangat bersamangat untuk mendukung klub ini, sebuah klub yang baru muncul ke permukaan dan sedang merintis kisahya di sepakbola Italia dan dunia.

Bagian dari Il Sette Magnifico

Musim 1998/1999 adalah musim pertamanya mendukung penuh sebuah klub sepakbola. Setiap pertandingan Parma yang disiarkan di televisi sudah pasti tidak ia lewatkan. Meskipun beberapa pertandingan ditayangkan dini hari, ia dengan sigap bangun tanpa bantuan jam alarm, karena memang tidak ada barang itu di rumahnya. Ia juga mulai mmemperkenalkan kepada teman-temannya sebagai Parmanisti atau Parmagiani. Bahkan bila ia ditanya apa warna favoritnya, ia akan dengan tegas menjawab kuning-biru, merujuk kepada jersey dan julukan Parma Il Gialloblu (Si Kuning-Biru).

85388634_oPada musim itu Parma menjadi salah satu pesaing serius dalam memperebutkan scudetto. Sebuah tim yang sangat solid dengan berisikan pemain-pemain yang merupakan pemain besar pada jamannya. Siapa yang tidak kenal Hernan Crespo, Enrico Chiesa, Dino Baggio, Juan Sebastian Veron, Lilian Thuram, Nestor Sensini, Mario Stanic, Fabio Cannavaro atau Gianluigi Buffon. Nama-nama itu membuat Parma menjadi disegani sekaligus memantapkan sebagai satu dari tujuh klub terbaik di Italia, atau dikenal dengan Il Sette Magnifico.

Lalu siapa pemain favoritnya di skuad Parma saat itu? Ia memilih Gianluigi Buffon. Penjaga gawang Parma yang ternyata telah menjadi pilihan utama semenjak usinya masih 18 tahun. Buffon juga rupanya masuk dalam skuad Italia di Piala Dunia 1998, menjadi kiper ketiga di bawah Angelo Peruzzi dan Gianluca Pagliuca. Karena Buffon jugalah akhirnya ia memilih posisi sebagai penjaga gawang dikala ia bermain sepakbola dengan teman-temannya. Mungkin ia berharap kelak menjadi kiper handal seperti Buffon, yang dijuluki Superman.

gigi-buffon-parmaMomen Indah

Final Piala UEFA 1999 mungkin menjadi kenangan paling indah baginya bersama Parma. Seminggu setelah ia bergembira karena Parma memenangi Coppa Italia, ia bersiap menyaksikan partai final antara Parma vs Marseille. Sebelum jam 1 dinihari, ia sudah sigap nongkrong di depan tv yang gambarnya terkadang dirubungi semut. Parma tampil sangat dominan di pertandingan itu. Gol-gol dari Hernan Crespo, Paolo Vanoli dan Enrico Chiesa menegaskan keperkasaan Parma sekaligus menjadikan skor yang cukup mencolok 3-0.

Parma pun berhak mengangkat trophy Piala UEFA. Betapa gembiranya ia menyaksikan tim pujaannya memenangi dua piala sekaligus dalam satu musim. Bahkan sesaat setalah peluit akhir pertandingan final itu berbunyi, saking gembiranya ia berlarian di dalam rumahnya sambil berteriak “Forza Parma”. Tentu saja itu membuat seisi rumahnya pada bangun terkaget-kaget, karena saat itu jam masih menunjukkan pukul 3 pagi!

2124764_w21Ketika kelas 1 SMP, ia bahkan pernah membuat kliping perjalanan Parma di musim kompetisi 2000/2001dalam sebuah buku. Saat itu internet belum seheboh sekarang, satu-satunya informasi sepakbola yang paling mudah didapat adalah dari koran olahraga. Setiap Selasa dan Jumat ia akan setia mendatangi tukang koran langganannya. Bila ada berita atau ulasan tentang Parma, ia akan membeli koran itu, kemudian mengguntingnya dan menempelkannya di bukunya. Meskipun ia harus merelakan uang jajannya untuk membeli sebuah koran, ia dengan senang hati melakukannya, bahkan selama satu tahun penuh.

Malapetaka

Namun, malapetaka terjadi ketika Parmalat, sponsor utama Parma, bangkrut. Kebijakan klub pun berubah. Ia begitu kecewa melihat para pemain bintang Parma mulai angkat kaki dari Ennio Tardini. Bahkan hatinya hancur ketika sang pemain idola, Gianluigi Buffon, pindah ke klub rival Juventus, yang harga transfernya memecahkan rekor sebagai kiper termahal didunia.

Terkadang, secercah kegembiraan muncul tatkala ia melihat pemain-pemain muda yang berhasil diorbitkan oleh Parma. Sebastian Frey, Paolo Cannavaro, Alberto Gillardino dan Marco Marchionni adalah sederet nama generasi berikutnya yang memberi sedikit harapan untuk menjaga nama besar Parma. Namun lagi-lagi para pemain tersebut pun tak bertahan lama. Sedikit demi sedikit perasaannya terhadap Parma mulai luntur. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk memandang sepakbola dari sisi yang berbeda.

Sekarat menunggu ajal

FC+Parma+Celebrate+100+years+Anniversary+MENyDASS1bTlKini, kondisi Parma benar-benar memprihatinkan. Di usianya yang sudah 100 tahun, klub ini justru semakin terseok-seok. Masalah keungan menjadi biang keladinya. Ada sedikit harapan ketika pada musim 2013/2014 Parma berhasil mengakhiri kompetisi di posisi 6, sehingga bisa mengikuti kompetisi Europe League. Namun, karena terjerat kasus tidak membayar pajak dan telat menggaji pemain, akhirnya UEFA memutuskan mencoret Parma dan menggantinya dengan Torino. Kemalangan Parma tidak sampai disitu, saat ini bahkan kondisinya menjadi jauh lebih parah. Hingga pekan ke 23 Liga Italia, Parma terkubur di dasar klasemen dengan hanya mampu menang 3 kali dan seri 2 kali. Sisanya, mereka kalah 18 kali.

Namun bukan itu yang membuat Parma sekarat. Parma ternyata memiliki kondisi keungan yang sangat kritis. Bayangkan saja, para pemain dan staf Parma sudah tidak digaji sejak Juli 2014. Bahkan pertandingan Parma melawan Udinese pada minggu lalu harus ditunda karena Parma tidak sanggup membayar petugas keamanan. Konon katanya, saat ini Parma hanya memiliki uang 40 ribu Euro (sekitar Rp 585 juta), sedangkan utang mereka dikabarkan mencapai 100 juta Euro (sekitar Rp 1.4 triliun).

Pasokan listrik di markas latihan di Collecchio telah diputus. Akibatnya, para pemain tim junior, yang dilatih Hernan Crespo, harus mandi dengan air dingin karena mesin pemanas air tak berfungsi tanpa listrik. Mereka tak mampu membayar jasa cuci seragam. Akibatnya, para pemain harus membawa pulang pakaian kotor mereka dan dibersihkan sendiri. Toko merchandise Parma di Stadion Ennio Tardini telah tutup. Barang-barang di ruang ganti, seperti kursi yang biasa diduduki pelatih Roberto Donadoni, printer, mesin cuci, disita untuk dilelang.

Parma pun diibaratkan seperti kapal Titanic yang tinggal menunggu karam. Klub ini sudah diambang kebangkrutan, bahkan ada kemungkinan mereka tidak akan sanggup menyelesaikan satu musim kompetisi. Kalau mereka dinyatakan bangkrut, seluruh laga tersisa mereka musim ini diputuskan dimenangi oleh lawan-lawan mereka dengan skor 3-0.

prmDoa dan harapan

Meskipun sudah tidak lagi fanatik terhadap Parma, ia tetap saja merasa sedih dan terpukul melihat klub favorit pertamanya itu sekarat. Ia ingin sekali membantu, tapi tentu saja tidak akan ada yang bisa ia lakukan. Setiap hari ia menunggu berita baru dari Parma, berharap ada sedikit kabar baik, meskipun ia tau, peluang itu sangat kecil.

Hanya doa yang bisa ia sampaikan. Berharap klub ini bisa bertahan dan segera bangkit lagi. Namun, bila pada akhirnya klub ini menemui ajalnya, ia hanya ingin mengucapkan kata Terima Kasih. Terima kasih atas semua pengalaman dan memori indah bersamamu.

Forza Parma!

tumblr_inline_mhc6bubI5M1qz4rgp<<>>

Delft, 5 Maret 2015
Dari seseorang yang pernah mengagumimu

Apalah Arti Bahasa

.

Pernahkah kamu merasa nyaman berbicara lantang dengan bahasamu sendiri sementara orang-orang di sekitarmu justru tidak mengerti ucapanmu. Sesekali kamu mengomentari mereka sambil memalingkan wajah, mengelabui mereka, sehingga tiada satupun yang sadar bahwa sebenarnya mereka sedang dibicarakan olehmu. Kamu seakan menikmati ketidakmengertian mereka, menikmati keberbedaan bahasamu. Walaupun kadang kala terbersit angan di kepalamu, berharap ada diantara mereka yang paham sedikit ucapanmu.

.
Di momen lain, mungkin kamu juga pernah berada di tengah sebuah percakapan dengan bahasa yang asing bagimu? Lalu, kamu merasa sedikit penasaran tentang obrolan itu. Apa yang sedang mereka bicarakan? Apa mungkin sedang membicarakanku? Mungkin itu yang ada di kepalamu. Lalu kemudian timbul keinginanmu untuk mempelajari bahasa mereka, agar bisa mengerti dan berbaur bersama. Apakah itu akan menjadi lebih menyenangkan? Atau justru kamu sudah terlalu nyaman berjalan sendiri di tengah ocehan ramai yang tak kamu mengerti.

.
Ketika kamu bukanlah seorang yang ahli dalam mempelajari bahasa, mungkin saja kamu menjadi sangat iri terhadap orang-orang yang menguasai berbagai macam bahasa. Mereka yang bisa bergaul dengan siapapun dan kapanpun mereka mau. Tak perlu takut bingung dengan ocehan asing. Sampai suatu saat, mungkin mereka melupakan bahasa pertama yang mereka kuasai, karena terbiasa dengan bahasa lain yang dirasa jauh lebih menguntungkan. Tak ada salahnya tentu saja, selama mereka bisa mendifinisikan apa yang mereka mau dan apa yang lawan bicaranya mau.

.
Di saat hanya satu bahasa yang kamu kuasai, pernahkah kamu mengalami kebingungan dengan bahasamu itu? Satu kata memiliki banyak makna, satu kata yang kamu maksud mungkin saja dimengerti berbeda dengan orang lain. Atau mungkin juga kamu kesulitan untuk mencari kata yang tepat dalam mengungkapkan sesuatu dengan bahasamu.
Mungkinkah ada sesuatu yang belum terdefinisi dengan sebuah kata dalam bahasamu? Mungkin saja. Bila begitu, naif kah dirimu bila berharap bahasa lain bisa mendifinisikannya? Lalu kemudian, lagi-lagi timbul keinginan untuk mempelajari bahasa yang bukan bahasamu. Agar bisa mengungkapkan kata-kata yang tak bisa diungkapkan dengan bahasa aslimu, pikirmu.

.
Tunggu dulu, mengapa tidak kamu ciptakan saja kata baru untuk mendifinisikan hal yang tak terdefinisi itu? Bukankah bahasa juga merupakan suatu ciptaan, kebiasaan dan kesepakatan. Ah, memangnya siapa dirimu berani-beraninya menciptakan sebuah kata baru.

.
Kamudian kamu bertanya-tanya, manakah yang lebih bijak, mempelajari bahasa orang lain atau mengajarkan orang lain bahasamu?

.
Ketika kamu memutuskan untuk mempelajari bahasa lain, apakah tujuanmu? Apakah agar kamu tahu apa saja yang orang lain bicarakan, karena siapa tahu mereka membicarakanmu di depan hidungmu. Alasan yang menguntungkan bagi dirimu, tapi bukan bagi mereka tentunya. Karena kamu toh bisa saja mempermainkan mereka, menghina dengan bahasamu tanpa harus takut mereka akan mengerti. Apakah ini bisa dibilang curang?

.
Mengajarkan bahasamu kepada orang lain mungkin saja membuatmu terlihat lebih baik hati. Kamu membuat mereka mengerti setiap kata yang kamu ucapkan, dan tentu saja membuat dirimu tidak bisa lagi mengolok-ngolok dengan bahasamu. Tetapi, apakah orang-orang itu memang mau mempelajari bahasamu? Bagaimana kalau ternyata tidak ada satupun yang mau. Haruskah kamu memaksa, dengan dalih itu akan menguntungkan mereka. Bukankah itu justru terihat egois?

.
Ah sudahlah, terlalu rumit memang, terlalu banyak pertanyaan-pertanyaan. Mengapa Tuhan tidak menciptakan satu bahasa saja? Mengapa harus ada berbagai macam bahasa di muka bumi ini?

Bodoh, tentu saja untuk membuat hidup ini lebih berwarna!

<<>>

La Masia : Tempat dimana mimpi itu dimulai..

La Masia vs La Fabrica: Pembinaan vs Isi Dompet?

Seperti pada kebanyakan ibu kota, setiap pagi dan sore jalan-jalan di kota Madrid tak pernah lengang. Banyak orang berlalu-lalang. Pun di pinggiran kota Madrid, Valdebebas. Meskipun terletak di pinggiran kota Madrid, namun kawasan itu tak pernah sepi dan setiap hari dipenuhi oleh anak-anak muda. Maklum, di area itu ada Ciudad Real Madrid, komplek akademi La Fabrica milik El Real.

Setiap pagi dan sore pula, ratusan anak muda itu giat berlatih. Mengoper, mendribel, ataupun latihan shooting. Meski terasa sulit, anak-anak muda itu selalu menaruh asa: suatu saat dirinya akan bermain di Santiago Barnebau, homebase Los Merengues. Sebenarnya mereka sadar bahwa harapan mereka terlalu tinggi. Tim kebanggannya memang terkenal sebagai tim yang doyan membeli pemain jadi ketimbang menggunakan jasa pemain muda binaan.

Pada sudut kota lain, pada sebuah distrik di Barcelona, hal yang sama juga dilakukan oleh banyak anak muda. Mereka juga belatih sepakbola selayaknya yang ada di Madrid. Berlatih mengoper, lalu bergerak dengan cepat. Sebagaimana para pemuda Madrid, mereka juga menaruh harap dapat bermain di stadion kebanggan mereka, yang terletak sekitar lima kilometer dari tempat mereka berlatih, Nou Camp.

Akademi-Sepakbola-La-Masia-420x229

Bedanya, bagi mereka yang berlatih di La Masia, mimpi untuk bermain di tim utama tampaknya tak sesukar mereka yang berlatih di La Fabrica. Sebabnya, klub kebanggaan mereka, Barcelona, lebih bisa memberikan kesempatan kepada pemain muda daripada membeli pemain bintang.

Konon katanya, Barca lebih suka mengeluarkan uang hanya untuk pemain yang benar-benar mereka butuhkan. Sedangkan El Real, lebih gemar membeli pemain bintang untuk mendapatkan uang segar dari penjualan komersial.

Ya, Real Madrid memang superior dalam raihan gelar, tapi mereka kadang dianggap inferior dalam urusan pembinaan. Atas keterbatasannya, Real Madrid banyak diejek oleh fans Barca. Mereka mengganggap bahwa El Clasico tak ubahnya “cantera vs cartera”, pembinaan vs isi dompet. Ejekan ini bisa jadi tepat, karena seperti yang kita tahu, pemain binaan Barca memang selalu mendominasi starting IX Blaugrana. Ini berbeda 180 derajat dengan Real Madrid.

Tentang La Masia

2011-01-26_MASIA_17.v1319470873

Rumah bata coklat yang kecil dan sederhana bergaya Catalunia ini berdiri tanpa kemewahan ketika pendukung Barcelona berbondong-bondong bergerak menuju Nou Camp.

Ini adalah rumah -La Masia- yang menjadi dasar kesuksesan Barca. Memang, keistimewaan La Masia yang arti harfiahnya “rumah petani” itu tidak tergambar dari bentuk fisiknya. Tapi seluruh warga Barcelona sangat mencintai dan menghormati La Masia, karena di sinilah DNA pemain dan filosofi permainan menekan, menguasai bola, menyerang yang sangat mematikan dicetak.

Coba amati Barcelona bermain, maka Anda akan menemukan jawabannya. Saat Barcelona bermain, mereka seperti dilarang memainkan umpan-umpan udara. Bola harus menjejak tanah. Umpan-umpan pendek haruslah mengalir cepat. Penguasaan bola menjadi inti permainan mereka. Itulah yang disebut Tiki-Taka. Itulah yang diajarkan di La Masia. Dan itulah yang diadopsi Barcelona dan Timnas Spanyol.

“Di La Masia, kami tidak dilatih bermain untuk menang, melainkan untuk berkembang dengan segala keahlian yang diperlukan sebagai pemain bagus. Kami berlatih setiap hari dengan bola melekat di kaki setiap saat,” ujar Lionel Messi, salah satu jebolan terbaik La Masia.

maxresdefault

Di dinding ruang makan terpampang foto upacara kelulusan kapten Barcelona Carles Puyol dan pelatih Pep Guardiola. Sementara itu, di dapur seorang juru masak menyapa dengan ramah, dan para pemain bisa menyelesaikan pekerjaan rumah mereka di ruang belajar di tingkat dua. Suasana di La Masia memang terkesan merupakan perpaduan antara tradisi dengan harapan, suasana menyenangkan dan kebiasaan. Memang tidak ada sisi istimewa lain dari tempat ini, tetapi lokasi seluas 600 meter persegi inilah yang membuat sistem pendidikan pemain Barcelona sangat unik dalam memproduksi pemain bola kelas dunia.

La Masia terdiri dari 15 tim, 290 pemain dan 110 pegawai dan pelatih. Dari 290 pemain, 90 persen diataranya berasal dari Spanyol, dengan 50 persen di antaranya adalah orang-orang Catalunia. Sebut saja Victor Valdes, Carles Puyol, Xavi, Iniesta, Sergio Busquets, Bojan Krkic, Gerrard Pique, Fabregas, Jordi Alba. Sisanya, 10 persen adalah pemain-pemain muda dari luar Spanyol. Lionel Messi adalah contohnya. Sudah ada 500 lebih pemain yang dihasilkan La Masia sejak 1979 silam.

Meskipun telah sukses membina anak asuhannya menjadi pemain-pemain profesional, akademi La Masia mempunyai kebijakan yang menarik dan baik untuk para anak asuhnya yaitu tidak mengesampingkan pendidikan formal. Tidak sedikit akademi sepakbola di dunia yang mengharuskan pesertanya berhenti sekolah formal di usia 15 tahun dan fokus pada dunia sepakbola. Namun berbeda di La Masia, para peserta diwajibkan menyelesaikan pendidikan formal mereka dan akan mendapatkan sanksi jika tidak memperoleh nilai bagus.

Kunci kesuksesan Barcelona

Dalam beberapa tahun terakhir, Barca dianggap sebagai klub terbaik dan tersukses di dunia. Mungkin terkesan mendadak dan terjadi begitu cepat. Tapi, tentu saja tidak sama sekali. Semua ini adalah buah dari kerja keras dalam membentuk dan memoles bibit muda menjadi pemain bertalenta tinggi.

Jauh sebelum munculnya Lionel Messi dkk, generasi emas La Masia pertama muncul di tahun 1990an ketika tanpa disangka-sangka di bawah komando Johan Cruyff, Barcelona berhasil mendapatkan trofi piala Eropa tahun 1992. Saat itu nama-nama Guillermo Amor, Albert Ferrer, dan Josep Guerdiola adalah lulusan pertama La Masia yang dapat membuktikan dan mengabulkan harapan Barcelona.

Para alumni La Masia

Para alumni La Masia

Pada periode berikutnya, tentu kita sudah tahu siapa saja para alumni La Masia. Ada Ivan de la Pena, Carles Puyol, dan Xavi Hernandez di periode akhir 90an. Lalu disusul nama-nama Pepe Reina, Victor Valdes, Cesc Fabregas, Sergio Busquets, Gerard Pique, Andres Iniesta, Mikel Arteta, dan tentu saja Lionel Messi. Kini, La Masia terus melahirkan talenta baru macam Pedro Rodriguez, Bojan Krkic, Thiago Alcantara, Christian Tello hingga yang teranyar Gerard Deulefou.

Bahkan pada November 2012, untuk pertama kalinya dalam sejarah, Barcelona menurunkan 11 pemain yang merupakan alumni La Masia. Ini merupakan suatu yang istimewa dan sebuah pencapaian mengesankan di era sepak bola yang makin kosmopolitan. Sebagai kontras, Chelsea hanya menurunkan satu pemain Inggris saat melawan Manchester City pada hari yang sama, yakni Ashley Cole.

Inilah-11-pemain-Barca-saat-melawan-Levante-yang-diisi-oleh-pemain-pemain-La-Masia

Jika ada penunjukan tujuh keajaiban dunia di sepak bola, mustahil tidak menyebut nama La Masia sebagai salah satunya. La Masia adalah magis. Ia adalah rumah pencetak pemain berkualitas. Sukses Barcelona menjadi satu-satunya klub sepanjang sejarah yang memenangi enam trofi di musim 2009/10 adalah karena magis La Masia. Tujuh di antara 11 pemain yang menjadi line up timnas Spanyol saat menjuarai Piala Dunia 2010 juga merupakan alumnus La Masia. Bukti kesuksesan lainnya adalah ketika pada 2010, tiga finalis Ballon d’Or berasal dari La Masia: Messi, Iniesta dan Xavi.

messi_iniesta_xavi

Satu hal yang pasti, di tengah kiprah para jutawan yang ramai-ramai menjadi pemilik klub dan menggelontorkan uang di bursa transfer, Barcelona membuktikan jika mereka bisa memproduksi pemain kelas dunia bahkan terbaik di dunia. Fenomena ini juga membuktikan, sepak bola tak melulu soal bisnis dan uang. Ibarat emas, Barca memilih menambang, mengolah sendiri bongkahan emas alam, hingga memiliki nilai seperti saat ini. Tidak dengan membeli di toko emas. Inilah La Masia d’Or, emas La Masia.

So, Visca La Masia, Visca Barca!

heroes-de-la-masia

<<>>

*Merupakan saduran dari beberapa sumber, dengan sedikit gubahan. Link sumber:

http://master303.com/blog/kala-barca-bermain-dengan-11-alumni-la-masia/
https://edyelfaruqie.wordpress.com/category/barcelona/la-masia/
http://sport.detik.com/aboutthegame/read/2014/03/23/085518/2533838/1480/la-masia-vs-la-fabrica-pembinaan-vs-isi-dompet
http://tidakmenarik.wordpress.com/2011/03/02/mengunjungi-la-masia-rumah-batu-tempat-legenda-sepak-bola-dunia-ditempa/

Kisah Lain tentang Kampusku #1

Tidak sengaja iseng meluncur di om google dan ternyata terdampar di artikel unik tentang kampus saya dulu. Setelah hampir tiga tahun lulus dari kampus itu, ternyata banyak hal yang baru saya tahu sekarang. Ah, oon juga nih saya..haha.. Berikut beberapa cerita tentang sisi lain dari kampusku, sebuah kampus kecil yang nangkring di tengah kota Bandung.

:::

Technische Hoogeschool te-Bandoeng

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Technische_Hogeschool_aan_het_IJzermanpark_te_Bandung_Java_TMnr_10002359

“Niet Eindhoven maar Bandoeng was de tweede Nederlandse TH”

Bukan TH Eindhoven, melainkan TH Bandung-lah TH Belanda yang kedua. Kalimat tersebut diucapkan Professor Duparc, guru besar matematika TH Delft. Mungkin terdengar berlebihan namun memang faktanya demikian. Polytechnische School te Delft yang dibentuk tahun 1904 ditingkatkan statusnya menjadi Technische Hoogeschool Delft tahun 1905. Lima belas tahun kemudian kalangan swasta Belanda mendirikan TH kedua di Bandung (3 Juli 1920). Baru kemudian tahun 1956 didirikanlah TH ketiga di Eindhoven, dimana Rektor keduanya adalah guru besar TH Bandung & mantan Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Teknik Nood Universiteit/Universiteit van Indonesie Bandung (Maret 1946-1950).

TH Delft sekarang berganti nama menjadi TU Delft (Delft University of Technology), dan TH Eindhoven menjadi TU Eindhoven. TH Bandung sendiri tentu saja berganti nama menjadi Institut Teknologi Bandung (ITB). TU Delft adalah Universitas teknik paling terkenal dan konon terbaik di Belanda. Beberapa diantara kami menyebutnya ini adalah ITB-nya Belanda. Dari kisah di atas berarti bisa dibilang ITB dan TU Delft itu sebenarnya kakak adik, tapi ibunya siapa ya? :p  Saya sendiri sekarang kuliah di Delft, tapi bukan di TU Delft sih, ya tetangganya lah.. hehe. Kapan-kapan saya maen ah ke tempat kakak almamater saya. haha.

<>

Layout Simetris ITB

bandung_1933_north_1

sumber: bandungsae.com

Jadi dulu kampus Technische Hoogeschool berada di kawasan Bandung utara yang bangunan-bangunannya ditata secara simetris dengan poros utara-selatan yang sejajar dengan sumbu utara-selatan area rencana pusat pemerintahan Hindia Belanda yaitu di kawasan disekitar Gedung Sate sampai dengan Jl. Tubagus Ismail sekarang (namun terhenti karena adanya PD II). Poros tersebut jika ditarik ke utara akan tepat menuju ke Gunung Tangkuban Perahu.

<>

Kisah Peresmian Kampus ITB 2 Maret 1959 (1)

76

Mahasiswa yg bertugas sbg Panitia Pameran berpose disamping papan petunjuk arah (masih pake kapur tulis mennn..:p)

Kalau tentang ITB yang sempat jadi bagian dari UI pasti sebagian besar udah pada tau lah ya. Nah, ini ada beberapa kisah lucu terkait proses pembentukan ITB yang diutarakan oleh pak Hadiwaratama.

…..Dari Aldy Anwar-lah kami tahu kabar adanya rencana pembentukan institusi baru. Saat itu dia bilang FT dan FIPIA mau dipisah dari UI dan akan didirikan Perguruan Tinggi baru. Istilah sekarang mungkin“ “pemekaran”! Ternyata dikemudian hari Fakultas Kedokteran Hewan dan Fakultas Pertanian-nya dipisah dari UI juga, dan jadi IPB. Lantas Universitas apa namanya? Katanya bukan Universitas, tapi Institut. Waduh kecewa nian saat itu, kok Institut, apa pula itu! Kami kan belum akrab dengan nama Institut, belum kenal MIT meskipun Aldy mencoba menjelaskannya! Rasanya kok tidak nyaman gitu lho! Universitas lebih keren!

Lantas namanya apa? Katanya lagi dirembug-rembug, oleh dewa-dewa kali ya! Yang pasti Institut Teknologi. Nama kemungkinan Bung Karno, tapi masih ada yang tidak setuju karena BK masih hidup. Akhirnya terbetik berita namanya Bandung. Waduh rasanya kok jadi kecil, masa dari Indonesia terus cuma jadi Bandung. Awal-awal makai nama ITB kok gimana yah, canggung! Hampir-hampir tidak ada kebanggaan, orang tidak kenal. Penduduk Bandung lebih kenal TH! Kalau sekarang kan lain brand immage-nya melangit, sekalipun di atas langit masih ada langit. Nya ITB tea..haha.

<>

Kisah Peresmian Kampus ITB 2 Maret 1959 (2)

Ternyata eh ternyata, saat peresmian Kampus ITB tanggal 2 Maret 1959, selain didatangi langsung oleh Presiden Soekarno, juga didatangi oleh Presiden Vietnam Utara, Ho Chi Minh. Kelak Ho Chi Minh ini dijadikan nama kota pengganti kota Saigon, yang merupakan salah satu kota terbesar di Vietnam. Nah, berikut kisahnya:

sukarno5hociminh

Dua Presiden dalam satu payung… Presiden RI Ir. Soekarno & Presiden Vietnam Utara Ho Ci Minh (Paman Hoo)

“Kemudian keduanya diantar berjalan ke dalam kampus, ke tempat duduknya. Kalau sekarang kan tidak mungkin keamanan Presiden selonggar itu. Penulis dan teman-teman pengamanan gerbang depan, berdiri-berdiri saja di sekitar regol jam, sambil mengawasi.

Kesan penulis melihat dari dekat kedua Pemimpin Besar bangsa masing-masing itu masih melekat sampai saat ini. Yang satu sedang berjuang merebut kembali Irian Barat, yang satunya sedang berjuang merebut kembali Vietnam Selatan. Bukan main hebat keduanya.

Tetapi penampilan jauh berbeda, yang satu keren chic/necis pakai peci dan kaca mata hitam, tak lupa tongkat komando, jalannya tegap pakai setelan jas safari sedang yang satunya pakai baju/jas potong Cina kain blacu, jadi tidak putih lah, pakai trompah (pasti bikinan Vietnam karena saat itu belum ada trompah bandol/ban bodol ITB), kulit muka putih bersih, rambut putih, jenggot putih Cina – bukan Arab jadi nggak lebat gitu lho! Jalannya tidak setegap Bung Karno, cenderung bagaimana ya?! Mirip Cina klontong yang keluar masuk desa/kampung sambil mutar-mutar klontongannya dan bunyi tung tung…. tung tung…. tung tung, cuma tidak bertopi.

Bung Karno memanggilnya“Paman Hoo. Betul-betul bersahaja penampilan pemimpin besar Vietnam itu. Sekarang ekonomi dan industri Vietnam sudah bangkit. Indonesia tidak bisa lagi mengandalkan comparative advantage upah buruh murah, kecuali kemahiran dan profesionalitas.

Karena jaga ngawasi pintu masuk, penulis tidak perhatikan apa pidato Bung Karno maupun Ho Chi Minh. Pasti masalah perjuangan! Karena peresmian lembaga tinggi pendidikan, penulis sepintas dengar pidato begini:

Ilmu itu bagaikan air amerta, air kehidupan, jadi jangan takut sekalipun berada di tengah racun kita harus berani mendapatkannya.

Entah Bung Karno entah Menteri Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan (saat itu Dr. Priyono) yang mengucapkan, lupa. Dr. Priyono, pakar Kesastraan Jawa Kuna dalam sambutannya menyebut “para mahasiswa dan mahasiswati. Ketika Bung Karno mulai pidato nyebut “para mahasiswa dan …………….., berhenti sejenak pendengar terdiam tegang apa akan sama dengan Dr. Priyono tidak, ternyata akhirnya bilang ………… “mahasiswi” ! Semua bertepuk tangan riuh, mungkin karena lepas dari ketegangan. Penulis juga ikut tepuk tangan, karena “itu” pasti akan menjadi istilah resmi! Begitulah awal “mahasiswi” !

Entah di ITB itu, atau di mana Bung Karno mulai membakar semangat dengan suara berapi-api. Kita bukan bangsa tempe………………….. dst, dst ! Padahal tiap hari kita makan tempe tahu. Kalau sarapan enggak ada tempe dan tahu goreng + sambal kecap rasanya cemplang! Apa maksudnya sebagai bangsa yang lembek, mudah membusuk ?! Bukankah sambal tempe bosok kalau nasinya liwet anget bukan main pula nikmatnya, apalagi itu di waktu hujan sore-sore!”

Jangan jadi bangsa tempe! :p

Jangan jadi bangsa tempe! :p

Sumber lain tentang Pidato….

Dalam sambutannya Presiden Soekarno menyinggung peran yang diinginkan dari ITB, yaitu untuk berfungsi sebagai lembaga pendidikan ilmiah & teknologi, untuk dapat membawa Indonesia menuju ke suatu negara modern dengan industrinya.

Beliau sengaja menyebut dua hal, yaitu untuk tidak mengaplikasikan ide-ide swadesinya Mahatma Gandhi, akan tetapi mengembangkan Indonesia sebagai negara modern dengan industrinya dimana listrik berperan besar. Beliau menyatakan bahwa dalam dua puluh lima tahun listrik harus telah sampai di puncak-puncak gunung & adalah kewajiban ITB untuk dapat turut menciptakannya.

56

Hayo loh anak Elektro..ini udah 54 tahun sejak Bung Karno pidato loh! :p Apa kabar listrik di ujung-ujung terpencil negara kita ya? Untung aja dulu Teknik Kelautan belum ada, coba kalau udah ada, mungkin Bung Karno akan bilang gini dalam pidatonya, “Kita adalah negara maritim, semua wilayah di seluruh Nusantara harus terhubung dengan membuat pelabuhan-pelabuhan untuk mengangkut barang dan manusia & adalah kewajiban ITB untuk dapat turut menciptakannya!” Nah, kalo udah gini saya yang anak KL kan jadi merasa tersipu-sipu malu..haha..

<>

Hikayat Lambang Ganesha untuk Lambang ITB

Inilah penuturan Prof. A. D. Pirous (mantan guru besar Desain Komunikasi Visual FSRD ITB, Bapak DKV ITB & Bapak DKV Indonesia) tentang lahirnya lambang ITB:

Sebagai sebuah perguruan tinggi yang baru, ITB tentu memerlukan sebuah Iambang yang khas, sebagai identitas ITB yang dapat dipakai atau ditampilkan dalam segala bentuk kegiatan ITB. Lambang yang pernah ada yang dipakai sejak 1946 sampai 1950, ketika perguruan tinggi tersebut masih bernama Faculteit van Technische Wetenschap Bandoeng, tentulah tidak terpakai Iagi. Demikian pula lambang yang dipakai ketika masih rnenjadi bagian dari Universitas Indonesia, dengan bentuk Iambang yang menampilkan gambar stilasi dari pohon pisang kipas yang masa itu masih banyak tumbuh menghias halaman depan kampus UI di Salemba harus diakhiri penggunaannya. Lambang UI ini pernah dipakai di kampus antara 1950-1959.

Logo TH 1920-1942Logo TH 1920-1942

Logo Faculteit van Technische Wetenschap Bandoeng 1946-1952Logo Faculteit van Technische Wetenschap Bandoeng 1946-1952

LogoUI-bwLogo Faculteit Teknik Universiteit Indonesia Bandoeng 1952-1959

Timbullah masalah bagaimana menciptakan Iambang yang baru bagi ITB. Menurut cerita yang pernah disampaikan oIeh almarhum A. Sadali yang konon mendapat informasi dari alm Prof. S. Soemardja dari Seni Rupa ITB; Beliau mengisahkan pada saya sebagai berikut:

“Setelah berminggu-minggu belum juga ditemukan objek atau bentuk yang dapat dikembangkan menjadi dasar Iambang, tercetuslah gagasan untuk mengajak beberapa guru besar saat itu seperti Prof. Ir. Soetedjo, Prof. S. Soemardja, Prof. Soemono, Prof. Ir. R.O. Kosasih dll utk berjalan-jalan di sekitar kampus untuk mencari ide. Mereka berkeliling sekitar kampus sambil menatap Gunung Tangkuban Perahu, menyimak keunikan bangunan aula dengan atap dan konstruksinya yang khas, melihat taman yang berada di depan pintu gerbang masuk kampus, sambil mengkaji sejarah awal berdirinya perguruan tinggi di kampus itu.

Mereka tetap saja belum menemukan hal-hal yang spesifik untuk dijadikan awal gagasan. Pada akhirnya rombongan ini sampai ke jam outdoor yang terpasang tidak jauh dari gerbang depan kampus. Ini merupakan satu-satunya jam umum yang masih kita temukan sampai sekarang. Ketika menatap jam tersebut mereka melihat dua buah patung Ganesha kecil yang dipasang di bawah jam tersebut. Tepatnya di sisi kiri dan kanan jalan dan menghadap ke depan. Patung-patung Ganesha tersebut masih Iengkap dengan atributnya, yang merupakan hasil temuan beberapa tahun sebelumnya dari penggalian di situs-situs candi di Jawa Tengah oIeh para arkeolog asing. Selain dari dua patung Ganesha itu masih ada pula beberapa patung penemuan Iainnya yang disimpan di Bagian Seni Rupa. Kesemua patung tersebut, konon belum ikut didaftarkan di Musem Gajah di Jakarta.

Ketika melihat kedua patung Ganesha yang duduk dengan tenang, tiba-tiba semua bersepakat untuk memulai wawasan mengembangkan lambang ITB dari patung Ganesha tersebut. Tindakan selanjutnya adalah kembali meminta bantuan Bagian Seni Rupa untuk menjelmakan sosok patung 3 dimensi tersebut ke dalam bentuk gambar 2 dimensi yang kelak dapat dipakai sebagai Iambang.

Lalu Bagian Seni Rupa menugaskan Srihadi S., seorang pelukis muda yang dianggap paling berbakat, untuk rnembuatkan desainnya yang kemungkinan dibantu pula oleh beberapa asisten. Setelah berproses lama lahirlah bentuk Iambang yang didesain oleh Srihadi, yang kita kenal sampai sekarang sebagai lambang ITB.”

LogoITB2000
Arti Lambang Ganesa:
Ganesa melambangkan Ilmu dan Teknologi yang mengandung unsur-unsur simbolik sebagai berikut:
a. Gading yang patah melambangkan kerelaan berkorban dalam menuntut kemajuan ilmu pengetahuan.
b. Cawan melambangkan sumber ilmu yang tak habis-habisnya.
c. Tasbih, tali manik-manik melambangkan kebijaksanaan.
d. Kapak melambangkan keberanian dan kebijakan.
e. Selendang yang disampirkan di pundak melambangkan kesucian.
f. Buku yang terbuka melambangkan himpunan ilmu pengetahuan.

Nah, mengenai logo ini, ada yang bilang konon katanya logo ITB yang dulu (Tehnische Hoogeschool) itu ada unsur freemasonnya. Benarkah seperti itu?

ITB freemason

<>

Bersambung…

Link sumber artikel

Kepada om cucuganesha, selaku agan yang memposting kisah Babad Tanah Ganesha, mohon izin untuk mencuplik beberapa bagian dari thread yang agan buat. Semoga agan mau mengizinkannya..hehe..

Teknik Kegalauan bukan Teknik Kelautan

Malam ini saya membaca sebuah link yang lucu di group KMKL ITB.. Ah..tiba-tiba jadi teringat masa-masa kuliah di KL dulu. Teringat dengan mata kuliah KL dengan singkatan dan sebutan yang cukup  unik..

AnRekDas    : Analisis Rekayasa Dasar
MekFlu         : Mekanika Fluida
MekRek        : Mekanika Rekayasa
GarTek         : Gambar Teknik
ProbStat      : Analisis Probabilitas & Statistik
OsFis            : Oseanografi Fisik
MekGel        : Mekanika Gelombang
Acak             : Gelombang Acak
Panjang       : Gelombang Panjang
AnNum        : Analisis Numerik
EkRek          : Ekonomi Rekayasa
H2                : Hidrologi & Hidrolika
DinStruk     : Dinamika Struktur
DaKus         : Dasar Akustik Bawah Air
BBL              : Bahan Bangunan Laut
Kapal           : Dasar-dasar Teknik Perkapalan
ProsPan      : Proses Pantai
BanTai        : Bangunan Pantai
BaLaPan     : Bangunan Lepas Pantai
KapSel        : Kapita Selekta Infrastruktur

Dari singkatan-singkatan ini, favorit saya adalah BanTai dan BaLaPan, selain sebutannya yang lucu, juga karena tugas-tugasnya yang menuntut kita untuk balapan dengan waktu dan setelah itu dibantai saat presentasi..hahaha.

Jadi engga salah kalau KL bukan singkatan dari Teknik Kelautan tapi Teknik Kegalauan seperti tulisan di bawah ini. hehe..

—-

Teknik Kegalauan bukan Teknik Kelautan

Entah kenapa tiba-tiba timeline twitter malam ini penuh sama “kegalauan” anak-anak KL. entah karena stress ujian atau apa,hehehe. lama-lama KL nggak lagi singkatan Teknik Kelautan tapi jadi Teknik Kegalauan 🙂

ini dia beberapa kegalauan teman2 awak :

o   Bolehkah saya membuat dermaga di hatimu? Saya bingung mau melabuhkan kapal cinta saya di mana #galaudermaga.

o   Cintaku hingga ke dasar elemen-elemen tubuhmu, hatimu.. #galaudasardasarelemenhingga.

o   Kamu bahkan mengalahkan pelajaran ku. Finite Element Method. You’re In-finite #galauhingga.

o   Proses mencintai itu ibarat pantai, ada pasang dan surut, bahkan terkadang dihantam gelombang keras. #galauprosespantai.

o   Inflasi hatiku naik turun tak menentu. karna kamu #galauEkrek #ngulangEkrek #fak

o   Dalamnya hatimu membuatku harus membuat dermaga dengan tipe deck on pile baja ka.rena nilai spt»40..mahal memang..tapi kuat.. #galaudermaga.

o   Menjalani masa pacaran ibarat masuk dalam laboratorium, semua penuh eksperimen dan kejutan #galauMetodaEksperimenLaboratorium.

o   Sayang, kita harus melalui trestle dulu sebelum mengarungi lautan cinta. #galaudermaga.

o   kamu membuat semua tak berdimensi lagi. tak ada penjelasan logis #galauMetlab.

o   Kondisi perairan hatimu emang sulit untuk dibuat dermaga..ombak terlalu tinggi..tapi tahukah kamu aku siap membuat breakwater? #galaudermaga

o   Aku ga butuh dermaga buat melabuhkan cintaku. tinggal seret kamu ke KUA aja deh. gitu kok repot #galaudermaga .

o   Tak ada yang bisa memodelkan prototype cinta, skala 1 : ‘tak hingga’ tidak mungkin untuk dimodelkan #GalauMetlab

o   Frekuensi alami struktur itu seperti hati, dpt bergetar kencang jk mengalami resonansi akibat ‘hati’ lain. #galauDinstruk

o   3 satelit tidak cukup untuk mengetahui posisiku di hatimu. butuh satu satelit lagi untuk mengoreksi #galauPADL

o   Untuk menanam tiang pancang dibutuhkan bberapa pukulan, tetapi untuk mnanam cintaku padamu hanya btuh satu perkataan. -harlly- #galaudermaga

o   Mngkin jacket platform dirancang tuk kuat menghadapi badai 100 tahun, tapi struktur rancanganku di hatimu lebih kuat dari itu #galauoffshore

o   Obat patah hati adalah pengerukan & reklamasi. Mengganti ‘material’ lama dengan ‘material’ yang baru. #galauReklamasiDanPengerukan

o   Aku ingin melabuhkan kapalku di dermaga hatimu..tapi ternyata sudah ada kapal lain yang berlabuh.. #galaudermagacurcol

.

(by: @ajiebkp, @wiwidddd, @gerhardfernanto, @gilanggiffary, @oddylazuardi, @octarezasiahaan, @dhaneswaraal, @iiqbal)

ps: ayoo masuk Teknik Kelautan ITB 🙂 *numpang promosi masbro

dari aseptia

—-

*link asli : http://yeahmahasiswa.com/post/4229752636/teknik-kegalauan-bukan-teknik-kelautan