Dari Buffon untuk yang Senantiasa Dipunggunginya

“Usiaku 12 ketika aku mulai memalingkan wajahku darimu, melupakan masa lalu demi memberimu jaminan di masa depan. Aku sudah bertindak menurut kata hati. Aku telah bertindak dengan naluri. Tapi di hari ketika aku berhenti menatapmu juga menjadi hari aku mulai mencintaimu.

Untuk melindungimu, demi menjadi pelindungmu yang pertama dan terakhir, aku sudah berjanji pada diri sendiri agar tidak lagi sering-sering melihat wajahmu. Atau aku akan melakukannya sejarang mungkin. Setiap kali melihatmu rasanya menyakitkan; membalikkan tubuhku dan menyadari bahwa aku sudah mengecewakanmu. Lagi. Dan lagi.

Kita selalu berada pada dua titik berbeda tapi kita saling melengkapi, seperti mentari dan rembulan. Terpaksa hidup berdampingan tanpa bisa saling lama-lama bersentuhan. Lebih dari 25 tahun lalu aku sudah membuat ikrar; aku bersumpah melindungimu. Menjagamu. Menjadi perisai dari seluruh musuhmu. Aku selalu memikirkan kepentinganmu, meletakkannya di atas kepentinganku sendiri.

Usiaku 12 ketika aku mulai memunggungi gawang. Dan aku akan terus melakukannya selama kaki, kepala, dan hatiku masih mampu.”

CeE7PYVWAAAQWu-.jpg-large

 

Sumber: Detiksport, Telegraph

 

Advertisements

“Mes que un club” (Lebih dari sekedar klub)

Berhubung sebentar lagi Liga Spanyol 2014/2015 akan bergulir, saya akan sedikit bercerita tentang sepakbola di tanah negeri matador ini..

Antara Madrid dan Barcelona

Kostum sepakbola pertama yang saya punya adalah kostum Real Madrid, yaitu ketika saya kelas 2 SD, berarti sekitar tahun 1995. Jauh sebelum saya kenal klub Barcelona, saya sudah hafal dengan pemain-pemain Madrid semisal Bodo Illgner, Fernando Hierro, Fernando Redondo maupun Raul Gonzalez. Tidak ada alasan pasti kenapa saat itu saya lebih kenal dan suka Real Madrid, sederhananya, ya suka aja, maklum kan masih anak SD. hehe.

Seinget saya, baru saat ada Rivaldo saya ngeh dengan klub bernama Barcelona. Ketika melihat klub ini, saya heran, koq klub bola ga punya sponsor di bajunya. Ya, saat itu Barcelona memang memiliki kostum garis-garis merah biru polos, tanpa ada tulisan apapun di bagian dadanya. “Ini kampungan banget sih, pasti klub miskin dan ga bagus, sampe ga ada perusahaan yang mau jadi sponsor”, pikir saya saat itu.

Kostum Barcelona dari masa ke masa

Kostum Barcelona dari masa ke masa

Baru ketika kuliah saya mulai tertarik untuk mengenal klub Barcelona. Penyebabnya adalah karena saat itu saya sedang semangat-semangatnya mempelajari tentang sociopreneurship. Dan menurut salah satu training yang pernah saya ikuti, salah satu contoh sociopreneurship paling sukses di dunia adalah klub Barcelona. Loh qo bisa? Ya, ternyata Barcelona dikelola dengan prinsip-prinsip yang unik, yang sangat berbeda dengan klub-klub sepakbola pada umumnya.

Sejarah awal FC Barcelona, sebuah senjata pamungkas bagi sebuah bangsa tanpa negara”

Klub Barcelona didirikan pada tanggal 29 November 1899 oleh 12 orang yang dipimpin oleh Joan Gamper, seorang yang berkebangsaan Swiss. Pendirian sebuah klub sepakbola di tanah Catalan ini menjadi sebuah hal yang sangat berharga bagi warga yang mendiami Catalonia, karena klub ini dianggap sebagai simbol perlawanan dari kaum tertindas bangsa Catalan terhadap “penjajah” Spanyol.

map.spain.petitBagi yang belum tahu, Catalunya atau Catalonia adalah sebuah wilayah otonomi khusus di Spanyol. Mungkin bila di Indonesia mirip dengan Daerah Istimewa Aceh atau Daerah Istimewa Yogyakarta. Ibukota dari Catalunya ini adalah Barcelona. Namun, bangsa Catalan tidak pernah merasa diri mereka sebagai bagian dari Spanyol. Dulu kala, di tahun 1714, kerajaan Spanyol menaklukan wilayah Catalonia. Sejak itu, selama hampir tiga abad rakyat Catalan terus berjuang untuk memisahkan diri dan menjadi bangsa sendiri.

Upaya melepaskan diri dari Spanyol bahkan menjadi pemicu perang saudara pada 1930, Seusai perang saudara, diktator Jenderal Francisco Franco yang berkuasa saat itu melarang semua budaya dan bahasa Catalan. Singkat kata, nasionalisme di Catalonia diberangus habis.

Nah, melalui Barcelona inilah orang Catalan ingin menunjukkan kelebihan mereka dari penjajah Spanyol. Manuel Vazquez Montalban, seorang penulis terkenal dari Spanyol menyebutkan, Barcelona adalah “sebuah senjata pamungkas bagi sebuah bangsa tanpa negara”.

cataloniaKonfilk antara Barcelona dan Real Madrid

Awal dari cerita ‘musuh bebuyutan’ antara Barcelona dan Real Madrid bermula pada saat Jendral Franco berkuasa secara diktator di Spanyol. Catalonia dengan Barcelona-nya menjadi daerah yang “paling dimusuhi” oleh sang jenderal karena bangsa Catalan tidak mau mengakui kalau mereka adalah bagian dari Spanyol.

Jenderal Franco dan kontroversinya di dunia sepakbola

Jenderal Franco dan kontroversinya di dunia sepakbola

Saat zaman kediktatorannya, Franco melarang penggunaan bendera dan bahasa Catalan. Klub Barcelona kemudian menjadi satu-satunya tempat dimana sekumpulan besar orang dapat berkumpul dan berbicara dalam bahasa daerah mereka. Warna biru dan merah, Barcelona menjadi pengganti yang mudah dipahami dari warna merah dan kuning (bendera) Catalonia. Klub Barcelona menjadi semacam klub “anti-franco” dan menjadi simbol perlawanan Catalonia terhadap Franco, dan secara umum, terhadap Spanyol.  Sementara yang dijadikan simbol musuh, tentu saja, adalah klub kesayangan Franco yang bermarkas di ibukota Spanyol, Real Madrid CF. Oleh karenanya, kemudian muncul semboyan “Boleh Kalah Dengan Klub Lain, Asal Tidak Dengan Real Madrid”.

Di tengah rivalitas tersebut, Franco kemudian bertindak lebih jauh. pada tahun 1936, Josep Suñol, Presiden Barcelona waktu itu  dibunuh oleh tentara Fasis. Disusul kemudian sebuah bom dijatuhkan di markas FC Barcelona Social Club pada tahun 1938.

Di lapangan sepakbola, titik nadir permusuhan ini terjadi pada tahun 1943 pada pertandingan semifinal Generalissimo Cup. Pada leg pertama di kandang, Barcelona unggul 3-0. Namun ketika akan bertanding di leg kedua di kandang Madrid, para pemain Barcelona “diinstruksikan” (di bawah ancaman militer) untuk kalah dari Madrid. Barcelona kalah dan gawang mereka kemasukan 11 gol dari Real Madrid. Sebagai bentuk protes, Barcelona bermain serius dalam 1 serangan dan mencetak 1 gol. Skor akhir 11-1, dan 1 gol itu membuat Franco kesal. Pada kasus yang lain, bahkan Kiper Barcelona dijatuhi tuduhan “pengaturan pertandingan” dan dilarang untuk bermain sepakbola lagi seumur hidupnya.

koran

Koran yang membahas pertandingan antara Madrid dan Barcelona

Ketika kedua tim, Barcelona dan Real Madrid, tumbuh dan memerlukan stadion besar, oleh pemerintah, Real Madrid diberikan lahan di Santiago Bernabeu dan dapat membangun stadionnya dalam waktu 3 tahun. Sedangkan Barcelona harus menderita di bawah aturan negara dan project Camp Nou-nya ditunda selama 10 tahun. Saat itu, stadion adalah eleman paling penting bagi klub sepakbola karena pendapatan utama mereka berasal dari penjualan tiket pertandingan. Ketika Real Madrid bisa menikmati stadion yang besar, Barcelona malah harus tetap bermain di stadion tuanya, stadion Les Cort.

Kisruh Transfer Pemain

Tidak hanya itu, ketidakadilan juga terjadi terkait transfer pemain. Mungkin beberapa dari Anda mengenal legenda Real Madrid, Alfredo Di Stefano, tapi apakah Anda tahu kepindahan Di Stefano dari klub Millonarios ke Real Madrid pada tahun 1953 merupakan salah satu transfer paling kontroversial di dunia? Ya, ternyata sebelum dinyatakan pindah ke Real Madrid, Di Stefano lebih dulu melakukan kesepakatan dengan Barcelona. Di saat Di Stefano akan merampungkan kontraknya dengan Barcelona, tiba-tiba saja terjadi “pembajakan” oleh kubu Real Madrid. Entah apa yang sebeneranya terjadi, pada akhirnya Di Stefano malah bergabung dengan Real Madrid dan menjadi kunci kesuksesan Madrid di tahun-tahun itu. Konon katanya saat itu ada campur tangan dari Jenderal Franco yang akhirnya memaksa kubu Barcelona mengikhlaskan pemain incarannya tersebut.

Pada tahun 1973, Barcelona mencoba mengontrak pemain Belanda Johan Cruyff. Di saat yang bersamaan, ternyata Real Madrid juga berusaha mengejar pemain itu. Tetapi kemudian Johan Cruyff secara terang-terangan lebih memilih Barcelona ketimbang Real Madrid karena tidak suka dengan klub sepak bola yang menjadi alat politik sang jenderal Franco. Karena pertentangannya terhadap Real Madrid tersebut, pemerintah Spanyol malah menunda ijin tinggal bagi pemain Belanda ini.

Johan Cruyff

Johan Cruyff

Intinya, pada periode dimana jenderal Franco memimpin Spanyol adalah sebuah periode paling kelam bagi sejarah Barcelona, dan bahkan mungkin memberi torehan yang buruk juga bagi dunia sepakbola di Eropa. Karena saat itu sepakbola dicampuradukan dengan politik.

Sebuah simbol perjuangan dan keberanian

Dalam hal prestasi, Real Madrid memang masih di atas Barcelona. Jarak prestasi itu terjadi terutama pada tahun 1950-1970an, ketika Real Madrid menjadi anak emas Franco dan memiliki kekuatan finansial jauh di atas Barcelona untuk membeli bintang-bintang sepakbola nan bersinar dari seluruh dunia.

Namun begitu, Barcelona tetap memiliki tempat tersendiri bagi para pendukungnya, terutama bagi para penikmat sepakbola. Karena klub ini tidak hanya menjadi simbol sepakbola, tetapi juga sebagai simbol semangat sebuah bangsa. Oleh karenanya, moto klub ini adalah “Mes que un club” atau “Lebih dari sekedar klub”.

mesKarena misi yang dianggap suci oleh orang Catalan itulah, Barcelona selalu menjaga kemurnian tujuan klub. Mereka tidak mau disamakan dengan klub lain, dan tidak mau tunduk dengan nilai-nilai komersial. Semenjak berdiri, Barcelona tidak mengijinkan kostumnya dipasangi iklan. Walaupun pada akhirnya hal yang satu ini dilanggar. Karena alasan ekonomi, akhirnya Barcelona mengijinkan kostum mereka dipasangi iklan.

Karena misi itu pulalah, tidak seperti banyak klub sepak bola lainnya, para pendukung memiliki dan mengoperasikan Barcelona. Pemegang keputusan tertinggi adalah para pendukungnya sendiri, bukan presiden ataupun pemegang saham individu terbesar. Barcelona juga merupakan satu-satunya klub Eropa yang Presidennya dipilih oleh pemegang tiket musiman (pendukung paling murni), bukan pula oleh Dewan Direktur dan bukan pemegang modal. Calon Presiden klub berdebat di televisi, berkampanye mengajukkan progam layaknya pemilihan Presiden sebuah negara.

Hal unik lainnya adalah, dalam pemilihan kapten tim, Barcelona menganut sistem demokrasi, yakni dengan melakukan pemungutan suara dari seluruh anggota tim. Padahal kalau klub lain, kapten tim adalah hak prerogatif dari pelatih.

Barcelona juga selalu mengutamakan pembinaan pemain muda, dimana akademi sepakbolanya, yaitu La Masia, adalah akademi sepakbola terbaik di dunia saat ini. Dari situ telah lahir pemain-pemain hebat, seperti Pep Guardiola, Xavi, Iniesta, Cesc Fabregas, hingga Leonel Messi. Setiap tahun Barcelona boleh saja membeli pemain-pemain hebat untuk meraih prestasi dan membahagiakan para pendukungnya, tapi bila mereka menomorduakan pemain dari produk La Masia, jangan harap pendukungnya akan senang. Bagi para pendukung setia Barcelona, mereka akan lebih bangga melihat pemain-pemain asli binaan La Masia berada di lapangan, ketimbang melihat pemain-pemain bintang yang dibeli dengan harga mahal.

Bocah-bocah La Masia

Bocah-bocah La Masia

Di atas lapangan, Barcelona juga memiliki karakter bermain yang khas. Sebagai sebuah simbol perjuangan dan keberanian, Barcelona pantang bermain bertahan, karena bertahan adalah simbol ketakutan. Kalah atau menang adalah hal biasa. Tapi keberanian memegang karakter, itulah yang menjadi prinsip utama mereka.

Visca Barca

Ya, terlepas dari berbagai kontroversi yang mendera Barcelona dalam satu tahun belakangan dan juga kegagalan di musim 2013/2014, Barcelona tetap merupakan salah satu klub paling unik di dunia. Saat ini, Liga Spanyol 2014/2015 akan segera bergulir. Dengan berbagai perubahan yang telah dilakukan Barcelona, rasanya sah-sah saja bila para pendukungnya berharap Barcelona akan kembali berjaya dengan memenangi berbagai piala.

Tapi bagi saya pribadi, parameter kesuksesan Barcelona bukanlah sekedar sebuah piala. Entah mengapa, saya lebih senang bila mereka berhasil mengorbitkan pemain binaan La Masia, ketimbang harus membeli pemain-pemain mahal dari klub lain. Melihat mereka bermain dengan tetap memegang teguh karakter bermain rasanya lebih penting daripada sekedar kemenangan. Dan yang paling penting, saya berharap Barcelona tetap bisa menjaga kemurnian tujuan klub. Moto “Mes que un club” haruslah tetap menjadi pedoman klub.

Visca Barca!

2d60f1bf75f4eb92514dec0641fe2215

Kejutan Tim Futsal PPI Delft

Groningen (8/6). Terjadi sebuah kejutan besar dari cabang futsal di kejuaraan Groningen Cup XIII, dimana tim futsal PPI Delft tanpa diduga berhasil melenggang ke babak semifinal. Tim yang dikomandoi oleh Kiki Wirianto ini berhasil mengalahkan lawan-lawannya di babak penyisihan dan perempat final. Namun, pada akhirnya mereka harus mengakui ketangguhan tim PPI Amsterdam II di babak semifinal. Juara dari cabang futsal ini sendiri adalah tim PPI Jerman Selatan yang di final berhasil mengkandaskan perlawanan Amsterdam II dengan skor 4 -2.

Juara futsal Groens Cup, tim Jerman Selatan

Juara futsal Groens Cup, tim Jerman Selatan

Realistis

Tim Delft tidak memiliki target apa-apa di kejuaraan Groens Cup kali ini, mengingat beberapa minggu sebelumnya mereka gagal total di kejuaraan Tilburg Communal League. Selain itu beberapa pemain andalannya seperti Vittorio Kurniawan, Sutjianto Buntoro dan kiper Andhika Surya tidak bisa ikut bergabung karena cidera. Untuk menutup kekurangan tersebut, mereka memanggil lima pemain debutan, yaitu Ali Afandi, Delon Tumanggor, Daniel Sihombing, Maralus Simbolon dan pemain naturalisasi Adi Ahmad Fadhil.

“Ya, di kejuaraan kali ini, rasanya kami harus realistis, karena berada di grup yang cukup berat. Target kami hanya bermain sebaik-baiknya dan memberi pengalaman kepada para pemain debutan,” komentar kapten Kiki ketika memimpin timnya tiba di ACLO Sport Center, Groningen.

Bahkan salah satu pemainnya, Arif Rohman Hakim, berkomentar dengan sedikit bercanda, “Kami engga nyiapain untuk nginep mas, karena besok juga kami ga mungkin main lagi, jadi setelah ini langsung pulang.” Komentar Arif ini pun diikuti tawa oleh beberapa pemain lain.

Tim Delft memang berada di grup yang berat, yaitu di Grup C bersama tuan rumah Groningen dan tim kuat Amsterdam I. Itulah yang menyebabkan mereka tidak ingin berpikir terlalu jauh.

IMG-20140608-WA0023-1

Kalah di pertandingan pertama

Di pertandingan pertama, Delft harus mengakui ketangguhan Groningen dengan skor 1-4. Satu-satunya gol dari Delft diciptakan oleh Kiki. Sedangkan 4 gol yang diciptakan oleh Groningen semuanya berasal dari tendangan jarak jauh. Sepertinya kehilangan kiper Andhika menjadi titik lemah Delft. Bahkan mereka harus mencoba 3 pemain untuk dijadikan sebagai kiper. Di starting line up, Fajar Faizal ditunjuk sebagai kiper, namun secara mengejutkan Fajar kebobolan 3 gol cepat, sehingga harus diganti oleh Daniel. Namun lagi-lagi Daniel juga tidak bisa menahan serangan yang dilancarkan Groningen. Pada babak kedua, Ali Afandi dicoba menjadi kiper dan ternyata tampil cukup memuaskan.

“Sebelum kejuaraan, kami memang sudah mempersiapkan Fajar sebagai kiper, namun di pertandingan tadi sepertinya dia sedikit grogi, sehingga kebobolan gol-gol cepat. Namun, perjudian dengan meminta Ali Afandi untuk menjadi kiper di babak kedua ternyata membuahkan hasil yang memuaskan,” komentar Burhan selaku pemain merangkap pelatih kiper.

Lolos dari grup neraka

Di pertandingan kedua dan juga merupakan pertandingan penentuan, Delft melawan Amsterdam I. Tidak ada pilihan lain bagi Delft selain menang untuk bisa mempertahankan asa untuk lolos ke babak perempat final. Di awal babak pertama, Delft langsung mengambil insiatif penyerangan dengan mengandalkan ujung tombak Rihan Handaulah. Setelah beberapa kali mendapat peluang, akhirnya Kiki memecah kebuntuan menjadi 1-0, yang bertahan hingga turun minum. Di babak kedua, Rihan yang di pertandingan sebelumnya tampil lesu. kali ini tampil trengginas dengan mencetak 2 gol. Skor akhir 3 – 0 untuk kemenangan Delft bertahan hingga peluit akhir dibunyikan.

Di pertandingan berikutnya, secara dramatis Amsterdam I berhasil mengalahkan Groningen 2-1. Namun, kemenangan ini tidak cukup untuk mengantarkan mereka lolos ke perempat final. Karena semua tim di grup C memiliki nilai yang sama, yaitu 3. Berdasarkan peraturan selisih gol, maka Groningen memiliki agregat paling baik (5-3), diikuti oleh Delft (4-4) baru kemudian Amsterdam I (2-4). Sehingga yang lolos adalah Groningen dan Delft.

“Kami beruntung berhasil lolos dengan keunggulan agregat gol. Kemenangan 3-0 melawan Amsterdam I menjadi kuncinya. Kalau kami tidak mencetak 3 gol, mungkin kami gagal lolos, “ komentar Herminarto Nugroho, pemain sekaligus manajer tim Delft.

IMG-20140608-WA0025

Menang telak di perempat final

Sempat terjadi protes dari beberapa tim terkait pengundian turnamen. Mereka menuntut panitia untuk melakukan pengundian ulang perempat final. Namun akhirnya panitia memutuskan untuk tetap pada keputusan awal, hanya pada babak semifinal saja yang akan diacak kembali. Hal ini berarti tim Delft tetap bertemu tim Koalisi (Enschede-Deventer-Nijmegen), selaku juara grup D.

Melawan tim Koalisi, Delft memilih untuk tidak bermain terlalu terbuka, sehingga strategi catenaccio menjadi pilihan di awal-awal pertandingan. Namun justru melalui sebuah serangan yang tidak diduga, tim Koalisi berhasil unggul terlebih dahulu 1-0. Setelah tertinggal, Delft langsung mengubah strategi lebih menyerang, dan terbukti berhasil. Kiki menyamakan kedudukan dari sebuah tendangan bebas. Berikutnya, Delft berbalik unggul melalui kaki Rihan, 2-1. Skor ini bertahan hingga turun minum.

Di babak kedua, tim Koalisi lebih banyak mengambil insiatif penyerangan karena mereka harus menyamakan kedudukan. Namun dari skema serangan balik, Delft justru berhasil menambah gol melalui Rihan (2 gol) dan Daniel. Skor akhir 5-1 untuk Delft. Itu artinya secara tanpa diduga ternyata Delft berhasil melaju ke babak semifinal.

“Ini luar biasa! Rasanya ini adalah pencapaian tertinggi tim futsal Delft,” komentar Rihan, top skorer tim sekaligus satu-satunya pemain yang ikut bermain juga di Groens Cup tahun sebelumnya.

Tiga semifinalis lainnya adalah Groningen, Amsterdam II dan Jerman Selatan. Babak semifinal sendiri dimainkan pada hari berikutnya.

IMG-20140607-WA0015-1

Gugur di semifinal

Di babak semifinal, Delft harus kehilangan dua pemainnya yaitu Fajar Faisal dan Arif Rohman yang cidera saat bertanding di babak perempat final. Hal ini tentu saja menjadi kerugian bagi Delft.

“Pertandingan kemarin ditambah perjalanan panjang Delft-Groningen cukup menguras stamina para pemain. Jadi rasanya kami nothing to lose aja di pertandingan ini, toh mencapai semifinal sudah merupakan prestasi bagi kami,” komentar Ade Faisal, pemain paling gaek di tim Delft.

Melawan Amsterdam II, Delft kembali menggunakan strategi catenaccio untuk meredam serangan sekaligus mencoba menguras stamina tim lawan. Namun strategi ini menjadi berantakan ketika tim Amsterdam II dihadiahi penalti oleh wasit akibat Burhan yang dianggap melanggar peman Amsterdam II di kotak penalti. Penaltinya sendiri sukses dikonversi oleh pemain nomer 9, skor menjadi 0-1. Berikutnya, tim Delft mencoba untuk lebih menyerang, namun ternyata lewat skema serangan balik, tim Amsterdam II berhasil menambah gol. Ketika peluit akhir dibunyikan, skor menunjukan 0-6 untuk Amsterdam II. Delft pun terhenti di babak semifinal.

IMG-20140608-WA0024

Jatuh untuk segera bangkit

Dalam kenferensi pers usai pertandingan, tim Delft menegaskan bahwa pencapaian semifinal merupakan sebuah prestasi tersendiri bagi tim Delft. Apalagi, pencapaian ini lebih baik dari tim-tim yang mengalahkan mereka di Tilburg Communal League. Tim Tilburg tidak lolos grup, tim Eindhoven dan tim Rotterdam gugur di perempat final. Jadi setidaknya mereka telah berkembang lebih baik setelah kegagalan di Tilburg.

“Selama ini kami selalu berlatih di lapangan yang lebih kecil, jadi setelah turnamen ini rasanya kami harus mulai berlatih di lapangan yang lebih besar, supaya stamina dan skill tim kami lebih terasah,” jelas Hariadi Jejey, selaku asisten pelatih Delft.

Kapten Kiki juga menegaskan bahwa setelah kekalahan di semifinal ini, tim Delft akan berusaha untuk bangkit lagi, “Kekalahan ini memang cukup menyakitkan, tapi kami tidak boleh berlama-lama sedih. Kami harus segera bangkit lagi. Kami harus berlatih keras untuk menjadi tim yang lebih kuat.”

.

Tim futsal Delft telah menjadi salah satu keunikan tersendiri di kejuaraan Groningen Cup kali ini. Sebelum turnamen, banyak orang yang memandang sebelah mata terhadap tim ini, namun dengan semangat dan kesolidan  tim, mereka berhasil membalikan prediksi banyak pihak. Mereka berhasil membuat kejutan dengan berhasil lolos ke semifinal. Semoga mereka bisa berprestasi lebih tinggi lagi di kejuaraan-kejuaraan berikutnya. Sampai jumpa di Groningen Cup tahun depan. Doei!

IMG-20140607-WA0016

Skuad lengkap tim futsal Delft. Atas (ki-ka) : Farah Puspita (physiotherapist), Maralus Simbolon (DF), Fajar Faizal (GK/DF), Burhanudinsyah (DF/MF), Arif Rohman (MF/CF), Wahyu Cahyo Utomo (Scoutings), Rihan Handaulah (CF), Herminarto Nugroho (DF/MF), Yudha Prawira (President of club), Nada Ristya (Fitness coach); Bawah (ki-ka) : Kiki Wirianto (MF/CF), Hariadi Jejey (Assistant coach), Ali Afandi (GK/MF), Delon Tumanggor (DF/MF), Daniel Sihombing (DF/MF), Adi Ahmad Fadhil (DF/MF).

Ditulis oleh:

C360_2014-06-07-15-15-30-672Han_22
Penulis bukan wartawan olahraga, hanya seorang pecinta sepakbola yang tinggal di Delft

 

 

La Masia : Tempat dimana mimpi itu dimulai..

La Masia vs La Fabrica: Pembinaan vs Isi Dompet?

Seperti pada kebanyakan ibu kota, setiap pagi dan sore jalan-jalan di kota Madrid tak pernah lengang. Banyak orang berlalu-lalang. Pun di pinggiran kota Madrid, Valdebebas. Meskipun terletak di pinggiran kota Madrid, namun kawasan itu tak pernah sepi dan setiap hari dipenuhi oleh anak-anak muda. Maklum, di area itu ada Ciudad Real Madrid, komplek akademi La Fabrica milik El Real.

Setiap pagi dan sore pula, ratusan anak muda itu giat berlatih. Mengoper, mendribel, ataupun latihan shooting. Meski terasa sulit, anak-anak muda itu selalu menaruh asa: suatu saat dirinya akan bermain di Santiago Barnebau, homebase Los Merengues. Sebenarnya mereka sadar bahwa harapan mereka terlalu tinggi. Tim kebanggannya memang terkenal sebagai tim yang doyan membeli pemain jadi ketimbang menggunakan jasa pemain muda binaan.

Pada sudut kota lain, pada sebuah distrik di Barcelona, hal yang sama juga dilakukan oleh banyak anak muda. Mereka juga belatih sepakbola selayaknya yang ada di Madrid. Berlatih mengoper, lalu bergerak dengan cepat. Sebagaimana para pemuda Madrid, mereka juga menaruh harap dapat bermain di stadion kebanggan mereka, yang terletak sekitar lima kilometer dari tempat mereka berlatih, Nou Camp.

Akademi-Sepakbola-La-Masia-420x229

Bedanya, bagi mereka yang berlatih di La Masia, mimpi untuk bermain di tim utama tampaknya tak sesukar mereka yang berlatih di La Fabrica. Sebabnya, klub kebanggaan mereka, Barcelona, lebih bisa memberikan kesempatan kepada pemain muda daripada membeli pemain bintang.

Konon katanya, Barca lebih suka mengeluarkan uang hanya untuk pemain yang benar-benar mereka butuhkan. Sedangkan El Real, lebih gemar membeli pemain bintang untuk mendapatkan uang segar dari penjualan komersial.

Ya, Real Madrid memang superior dalam raihan gelar, tapi mereka kadang dianggap inferior dalam urusan pembinaan. Atas keterbatasannya, Real Madrid banyak diejek oleh fans Barca. Mereka mengganggap bahwa El Clasico tak ubahnya “cantera vs cartera”, pembinaan vs isi dompet. Ejekan ini bisa jadi tepat, karena seperti yang kita tahu, pemain binaan Barca memang selalu mendominasi starting IX Blaugrana. Ini berbeda 180 derajat dengan Real Madrid.

Tentang La Masia

2011-01-26_MASIA_17.v1319470873

Rumah bata coklat yang kecil dan sederhana bergaya Catalunia ini berdiri tanpa kemewahan ketika pendukung Barcelona berbondong-bondong bergerak menuju Nou Camp.

Ini adalah rumah -La Masia- yang menjadi dasar kesuksesan Barca. Memang, keistimewaan La Masia yang arti harfiahnya “rumah petani” itu tidak tergambar dari bentuk fisiknya. Tapi seluruh warga Barcelona sangat mencintai dan menghormati La Masia, karena di sinilah DNA pemain dan filosofi permainan menekan, menguasai bola, menyerang yang sangat mematikan dicetak.

Coba amati Barcelona bermain, maka Anda akan menemukan jawabannya. Saat Barcelona bermain, mereka seperti dilarang memainkan umpan-umpan udara. Bola harus menjejak tanah. Umpan-umpan pendek haruslah mengalir cepat. Penguasaan bola menjadi inti permainan mereka. Itulah yang disebut Tiki-Taka. Itulah yang diajarkan di La Masia. Dan itulah yang diadopsi Barcelona dan Timnas Spanyol.

“Di La Masia, kami tidak dilatih bermain untuk menang, melainkan untuk berkembang dengan segala keahlian yang diperlukan sebagai pemain bagus. Kami berlatih setiap hari dengan bola melekat di kaki setiap saat,” ujar Lionel Messi, salah satu jebolan terbaik La Masia.

maxresdefault

Di dinding ruang makan terpampang foto upacara kelulusan kapten Barcelona Carles Puyol dan pelatih Pep Guardiola. Sementara itu, di dapur seorang juru masak menyapa dengan ramah, dan para pemain bisa menyelesaikan pekerjaan rumah mereka di ruang belajar di tingkat dua. Suasana di La Masia memang terkesan merupakan perpaduan antara tradisi dengan harapan, suasana menyenangkan dan kebiasaan. Memang tidak ada sisi istimewa lain dari tempat ini, tetapi lokasi seluas 600 meter persegi inilah yang membuat sistem pendidikan pemain Barcelona sangat unik dalam memproduksi pemain bola kelas dunia.

La Masia terdiri dari 15 tim, 290 pemain dan 110 pegawai dan pelatih. Dari 290 pemain, 90 persen diataranya berasal dari Spanyol, dengan 50 persen di antaranya adalah orang-orang Catalunia. Sebut saja Victor Valdes, Carles Puyol, Xavi, Iniesta, Sergio Busquets, Bojan Krkic, Gerrard Pique, Fabregas, Jordi Alba. Sisanya, 10 persen adalah pemain-pemain muda dari luar Spanyol. Lionel Messi adalah contohnya. Sudah ada 500 lebih pemain yang dihasilkan La Masia sejak 1979 silam.

Meskipun telah sukses membina anak asuhannya menjadi pemain-pemain profesional, akademi La Masia mempunyai kebijakan yang menarik dan baik untuk para anak asuhnya yaitu tidak mengesampingkan pendidikan formal. Tidak sedikit akademi sepakbola di dunia yang mengharuskan pesertanya berhenti sekolah formal di usia 15 tahun dan fokus pada dunia sepakbola. Namun berbeda di La Masia, para peserta diwajibkan menyelesaikan pendidikan formal mereka dan akan mendapatkan sanksi jika tidak memperoleh nilai bagus.

Kunci kesuksesan Barcelona

Dalam beberapa tahun terakhir, Barca dianggap sebagai klub terbaik dan tersukses di dunia. Mungkin terkesan mendadak dan terjadi begitu cepat. Tapi, tentu saja tidak sama sekali. Semua ini adalah buah dari kerja keras dalam membentuk dan memoles bibit muda menjadi pemain bertalenta tinggi.

Jauh sebelum munculnya Lionel Messi dkk, generasi emas La Masia pertama muncul di tahun 1990an ketika tanpa disangka-sangka di bawah komando Johan Cruyff, Barcelona berhasil mendapatkan trofi piala Eropa tahun 1992. Saat itu nama-nama Guillermo Amor, Albert Ferrer, dan Josep Guerdiola adalah lulusan pertama La Masia yang dapat membuktikan dan mengabulkan harapan Barcelona.

Para alumni La Masia

Para alumni La Masia

Pada periode berikutnya, tentu kita sudah tahu siapa saja para alumni La Masia. Ada Ivan de la Pena, Carles Puyol, dan Xavi Hernandez di periode akhir 90an. Lalu disusul nama-nama Pepe Reina, Victor Valdes, Cesc Fabregas, Sergio Busquets, Gerard Pique, Andres Iniesta, Mikel Arteta, dan tentu saja Lionel Messi. Kini, La Masia terus melahirkan talenta baru macam Pedro Rodriguez, Bojan Krkic, Thiago Alcantara, Christian Tello hingga yang teranyar Gerard Deulefou.

Bahkan pada November 2012, untuk pertama kalinya dalam sejarah, Barcelona menurunkan 11 pemain yang merupakan alumni La Masia. Ini merupakan suatu yang istimewa dan sebuah pencapaian mengesankan di era sepak bola yang makin kosmopolitan. Sebagai kontras, Chelsea hanya menurunkan satu pemain Inggris saat melawan Manchester City pada hari yang sama, yakni Ashley Cole.

Inilah-11-pemain-Barca-saat-melawan-Levante-yang-diisi-oleh-pemain-pemain-La-Masia

Jika ada penunjukan tujuh keajaiban dunia di sepak bola, mustahil tidak menyebut nama La Masia sebagai salah satunya. La Masia adalah magis. Ia adalah rumah pencetak pemain berkualitas. Sukses Barcelona menjadi satu-satunya klub sepanjang sejarah yang memenangi enam trofi di musim 2009/10 adalah karena magis La Masia. Tujuh di antara 11 pemain yang menjadi line up timnas Spanyol saat menjuarai Piala Dunia 2010 juga merupakan alumnus La Masia. Bukti kesuksesan lainnya adalah ketika pada 2010, tiga finalis Ballon d’Or berasal dari La Masia: Messi, Iniesta dan Xavi.

messi_iniesta_xavi

Satu hal yang pasti, di tengah kiprah para jutawan yang ramai-ramai menjadi pemilik klub dan menggelontorkan uang di bursa transfer, Barcelona membuktikan jika mereka bisa memproduksi pemain kelas dunia bahkan terbaik di dunia. Fenomena ini juga membuktikan, sepak bola tak melulu soal bisnis dan uang. Ibarat emas, Barca memilih menambang, mengolah sendiri bongkahan emas alam, hingga memiliki nilai seperti saat ini. Tidak dengan membeli di toko emas. Inilah La Masia d’Or, emas La Masia.

So, Visca La Masia, Visca Barca!

heroes-de-la-masia

<<>>

*Merupakan saduran dari beberapa sumber, dengan sedikit gubahan. Link sumber:

http://master303.com/blog/kala-barca-bermain-dengan-11-alumni-la-masia/
https://edyelfaruqie.wordpress.com/category/barcelona/la-masia/
http://sport.detik.com/aboutthegame/read/2014/03/23/085518/2533838/1480/la-masia-vs-la-fabrica-pembinaan-vs-isi-dompet
http://tidakmenarik.wordpress.com/2011/03/02/mengunjungi-la-masia-rumah-batu-tempat-legenda-sepak-bola-dunia-ditempa/

Tentang Jersey Klub Sepakbola

jersey

Beberapa waktu yang lalu saya melihat di sebuah social media, ada foto satu keluarga, suami istri dan bayi mereka mengenakan jersey klub sepakbola. Seketika itu saya berpikir, wahh..keren banget nih satu keluarga, penggemar sepakbola semua kayanya. Tapi setelah saya amati lagi, tapi koq yang dipake sang suami dan istri adalah jersey Real Madrid musim lalu ya, yang masih bertuliskan Bwin di bagian dadanya.

Jujur aja, kostum sepakbola pertama yang saya punya adalah kostum Real Madrid, yaitu ketika saya kelas 2 SD, berarti sekitar tahun 1995. Dulu saya begitu bangga make baju putih Real Madrid bertuliskan Teka di dada dan logo Kelme di sepanjang lengan. Saya sedikit bersyukur karena jersey Real Madrid saat itu disponsori oleh Teka, sebuah perusahaan pemasok alat-alat dapur dan rumah tangga. Coba kalau saat itu Madrid sudah disponsori oleh Bwin, mungkin saat ini saya sudah menjadi dewa judi kali.hehe. Nah lho, memang ada apa dengan Bwin?

Kiri: Jersey 1995; Tengah: Jersey 2010; Kanan: Jersey 2012

Kiri: Jersey 1995; Tengah: Jersey 2010; Kanan: Jersey 2012

Nah, mari kita bahas soal Bwin, seberapa banyak dari anda, para penggemar Real Madrid yang tahu apa itu Bwin, sponsor di jersey Real Madrid di tahun 2007-2013. Saya berani jamin, hanya sebagian kecil yang tahu apa itu Bwin. Bagi yang belum tahu, Bwin itu adalah perusahaan judi online, minuman keras dan bisnis sperma (seks)! Judi online-nya adalah salah satu yang terbesar di dunia. Ya, judi, yang kata Bang Rhoma Irama dibilang meracuni kehidupan dan keimanan.hehe. Saya agak heran ketika beberapa temen saya bangga mengenakan jersey Real Madrid bertuliskan Bwin di dada mereka, tidak sedikit yang mengupload atau menjadikannya profil picture di social media. Bahkan ada yang mengenakannya ke masjid, dan tidak jarang wanita berkerudung juga sering mengenakan jersey ini. Mungkin sebagian dari kita akan bilang, lah emangnya penting gitu kita tau apa arti tulisan di jersey klub kesayangan kita?

Tahukah anda, pemerintah Turki melarang klub-klub sepakbola yang bertanding di tanah mereka mengenakan jersey dengan sponsor yang bertentangan dengan ajaran Islam, seperti judi dan minuman keras. Itulah mengapa ketika musim lalu Real Madrid bertandang ke stadion Turk Telekom Arena, kandang Galatasaray, mereka mengenakan jersey polos, tanpa ada tulisan Bwin. Hal serupa juga pernah terjadi di tahun 2008, ketika Sevilla harus melepas tulisan 888.com, sebuah rumah taruhan mirip dengan Bwin, di jersey mereka saat bermain di kandang Fenerbahce.

madrid vs galatasaray

Selain itu, di tahun 2006, striker Sevilla Frederic Kanoute yang beragama Islam juga menolak untuk mengenakan kostum Sevilla yang disponsori oleh 888.com. Akhirnya pihak klub memberikan jersey khusus untuk Kanoute, yakni polos tanpa tulisan di dada. Dan pada tahun lalu, empat pemain muslim Newcastle United yakni Demba Ba, Papiss Cisse, Cheick Tiote dan Hatem Ben Arfa melakukan protes dan penolakan terhadap sponsor jersey mereka, Wonga.com, yang diketahui merupakan sebuah perusahan rentenir. Namun pada akhirnya para pemain muslim di Newcastle terpaksa harus menggunakan jersey bertuliskan Wonga setiap kali mereka bertanding.

Kiri: Frederic Kanoute (Sevilla); Kanan: Papiss Cisse (Newcastle United)

Kiri: Frederic Kanoute (Sevilla); Kanan: Papiss Cisse (Newcastle United)

Jadi, pentingkah mengetahui apa itu sponsor klub kesayangan kita? Semua kembali pada anda. Saya pribadi, bila saya seorang Madridista, tidak akan mau mengenakan jersey Real Madrid yang bertuliskan Bwin. Soalnya saya takut nanti dimarahin sama bang Rhoma Irama.. Sungguh ter…la..lu..hehe..

Nah, mari kita bandingkan dengan tetangga Real Madrid, yaitu Barcelona.

Ketika pertama kali melihat klub Barcelona, saya heran, koq klub bola ga punya sponsor di bajunya. Ya, saat itu Barcelona memang memiliki kostum garis-garis merah biru polos, tanpa ada tulisan apa-apa di bagian dadanya. “Ini kampungan banget sih, pasti klub miskin dan ga bagus, sampe ga ada perusahaan yang mau jadi sponsor”, pikir saya. Saat itu memang semua klub bola papan atas terkenal dengan tulisan sponsor di dadanya. Kayanya keren gitu make kostum Real Madrid dengan Teka-nya, AC Milan dengan Opel, Inter Milan dengan Pirelli, Juventus dengan Sony, Liverpool dengan Carlsberg, MU dengan Sharp, atau Parma dengan Parmalat.

evolusi jersey barca

Setelah saya tahu alasan jersey Barca tidak memiliki tulisan apapun di bagian dadanya, saya malah jadi kagum, tidak lagi menganggap kampungan seperti awal melihat. Mengapa jersey Barcelona selalu polos tanpa sponsor semenjak klub ini berdiri hingga tahun 2006? Selidik punya selidik, ternyata Barcelona memang berbeda dengan hampir sebagian besar klub sepakbola lainnya. Barcelona memiliki keterikatan yang sangat erat dengan para pendukungnya. Para pendukung Barcelona dianggap berkontribusi saham disana. Dan pemegang keputusan tertinggi di klub tersebut adalah para pendukungnya, bukan presiden ataupun pemegang saham individu terbesar. Selain itu, Barcelona merupakan satu-satunya klub Eropa yang Presidennya dipilih oleh pemegang tiket musiman (pendukung paling murni), bukan pula oleh Dewan Direktur dan bukan pemegang modal. Calon Presiden klub berdebat di televisi, berkampanye mengajukkan progam layaknya pemilihan Presiden sebuah negara.

Selain itu, ketika awal-awal dibentuk, Barcelona dianggap sebagai sebuah simbol perlawanan bangsa Catalonia terhadap rezim diktator Jenderal Franco, yang berlaku sewenang-wenang terhadap bangsa Catalonia. Barcelona disebut sebagai “sebuah senjata pamungkas bagi sebuah bangsa tanpa negara”. Karena misi yang dianggap suci inilah Bareclona selalu menjaga kemurnian tujuan klub. Mereka tidak mau disamakan dengan klub lain dan tidak mau tunduk dengan nilai-nilai komersial.

Nah, karena alasan-alasan itulah maka jersey Barcelona tidak pernah tertulis sponsor apapun, alias selalu polos. Baru pada tahun 2006 ada tulisan UNICEF di dada mereka. Inipun menjadi anomali dibanding klub lainnya. Kalau klub sepakbola pada umumnya mendapat aliran dana dari perusahaan yang tulisannya dipajang di jersey mereka, Barcelona malah memberikan dana pada UNICEF, sekitar 0.7% dari total pendapatan. Ya ternyata, sebagian keuntungan Barcelona itu dialirkan untuk kegiatan-kegiatan sosial yang dilakukan UNICEF, itulah mengapa ada tulisan UNICEF di jersey mereka. Jadi boleh dibilang sebenarnya Barcelona lah yang menjadi sponsor UNICEF, bukan sebaliknya.

Setelah lima tahu bermitra dengan UNICEF, Barcelona akhirnya “melanggar” tradisinya sendiri. Sebelum musim 2011/12, sebuah kesepakatan dengan Qatar Foundation membuat klub Catalan ini mengharuskan menampilkan sponsor di jersey mereka. Ya, karena alasan ekonomi, akhirnya Barcelona menerima kucuran dana dari sebuah sponsor. Logo UNICEF sendiri masih tetap ada tetapi bergeser ke bagian belakang. Qatar Foundation merupakan yayasan yang bergerak untuk memajukan pendidikan, pengetahuan ilmiah, riset dan pengembangan komunitas negara-negara Arab.

2012-2014

Dua tahun berjalan, Barca mengonfirmasi bahwa mereka akan menggunakan logo Qatar Airways di bagian depan seragam, memecahkan tradisi klub yang tidak menggunakan sponsor perusahaan komersil selama 113 tahun berdirinya klub. Ya, banyak yang menyayangkan keputusan Barca ini. Termasuk sang legenda Barca, Johan Cruyff:

“Kami adalah klub terunik di dunia. Tidak ada satu klub pun yang bertahan tanpa sponsor di seragamnya. Sampai pada akhirnya mereka (Yayasan Qatar, red) datang. Barcelona telah menjual keunikan itu hanya untuk enam persen dari anggaran klub per musim. Saya mengerti sekarang klub sedang mengalami masa sulit. Tapi, penjualan seragam kepada sponsor telah menjelaskan bahwa kami tidak kreatif,” sesal Cruyff.

Saya pribadi sangat setuju dengan pendapat Cruyff tersebut. Tapi mau bagaimana lagi, para petinggi klub pasti memiliki alasan yang kuat mengapa akhirnya mereka menerima sponsor perusahaan. Yang jelas, saya lebih bangga menggunakan kostum Barca polos tanpa sponsor atau hanya bertuliskan UNICEF. Semoga beberapa tahun ke depan Barca kembali pada tradisi mereka.

Visca Barca!