Mari ke laut beramai-ramai!

Tentang mars anak Kelautan

Ah, tiba-tiba saja saya teringat salah satu mars yang paling sering saya dengar dan kumandangkan saat kuliah di Bandung dulu..

Jaya KMKL ITB

Bangunlah KMKL ITB
Bersama kita melangkah maju ke depan
Bulatkan tekadmu untuk membangun Negara Indonesia

Di laut kita jaya
Di darat kaya raya
Semoga kalau mati masuk surga

Singkirkan penghalang
Wujudkan impian
Pantang menyerah

Lihatlah karya kami di lautan
Berdiri kokoh tegap melawan gelombang
Layaknya kami menghadapi semua rintangan

Jaya KMKL ITB!

205723_1916061911254_5943159_n

Mars KMKL dikumandangkan saat Wisuda April 2011 (KMKL = Keluarga Mahasiswa Teknik Kelautan)

Dari semua lirik yang ada di mars tersebut, ada tiga kalimat yang rasanya akan selalu terngiang-ngiang di kepala setiap anggota KMKL dan alumninya. Tiga kalimat tersebut adalah:

“Di laut kita jaya
Di darat kaya raya
Semoga kalau mati masuk surga”

Terkadang bagian lirik ini membuat orang-orang yang mendengarnya menjadi tergelitik. Terutama saat kalimat “Semoga kalau mati masuk surga”. hehe. Saya sendiri sampai saat ini belum sempat berdiskusi dengan pencipta mars KMKL ini, tentang mengapa liriknya seperti itu. Tapi saya mencoba merenungi, mengapa kalimat “di laut kita jaya” ditempatkan di awal? Mungkin saja maksudnya adalah agar alumni teknik kelautan menempatkan tujuan kejayaan laut Indonesia sebagai prioritas utama, bukannya memperkaya diri.

Hal menarik lainnya adalah: kaya raya dan mati masuk surga adalah harapan yang sifatnya pribadi untuk diri sendiri, dan ternyata ditempatkan bukan sebagai prioritas utama. Sedangkan yang ditempatkan pertama adalah impian jaya di lautan yang rasanya adalah sebuah impian bersama, impian sebuah bangsa mungkin. Jadi, rasanya mars KMKL sudahlah sangat tepat dalam menggambarkan tujuannya untuk Indonesia, permasalahannya adalah, sudah sejauh apa usaha untuk mewujudkan tujuan tersebut?

Diskusi tentang maritim di sebuah kota kecil

Kopi Delft

Iklan KOPI Delft

Beberapa waktu yang lalu, PPI Delft mengadakan acara rutin Kolokium PPI Delft (KOPI Delft), dimana salah satu topik yang dibahas adalah tentang dunia maritim, yang salah satu fokusnya adalah tentang program Pendulum Nusantara. Tidak disangka, antusiasme mahasiswa Indonesia yang kuliah di Delft sangat tinggi terhadap tema ini. Tidak kurang dari 50 orang hadir, dan konon katanya ini adalah rekor partisipasi terbanyak dalam kegiatan KOPI Delft.

Bahkan, ada dua orang senior yang sudah lama tinggal di Belanda yang turut hadir di acara tersebut. Pak Gerard Pichel, yang mengaku asli Makasar, khusus datang ke kampus UNESCO-IHE dari tempat tinggalnya yang berjarak 110 km dari Delft untuk berpartisipasi di acara KOPI Delft dengan tema maritim tersebut.

You tau, itu poros maritim is my dream juga. Makanya saya tertarik datang kesini. Saya senang sekali berdiskusi dengan student Indonesia disini,” komentar Pak Gerard, yang sudah dari tahun 1965 tinggal di Belanda. Satu orang lainnya adalah Pak Roy Hilman, satu angkatan dengan Pak Gerard, yang tidak kalah bersemangatnya juga membahas tentang dunia kelautan Indonesia, padahal beliau sudah bertahun-tahun tidak pulang ke kampung halamannya.

Ketika berdiskusi dengan dua sosok senior ini entah kenapa badan saya merinding. Mereka yang sudah begitu lama meninggalkan Indonesia saja masih memikirkan dan memiliki mimpi besar tentang dunia maritim Indonesia. Lalu bagaimana dengan kita, pemuda pemudi yang sepanjang usianya dihabiskan di tanah air nusantara? Malu rasanya bila kita tidak memberi sedikit ruang di pikiran kita tentang masa depan dunia maritim Indonesia.

Acara KOPI Delft itu sendiri rasanya seperti menjadi sebuah momentum bagi warga PPI Delft yang tertarik di bidang maritim. Bagi yang belum tahu tentang kondisi terkini transportasi laut di Indonesia, akhirnya menjadi tahu. Bagi yang sudah tahu, akhirnya saling terkoneksi satu sama lain. Bahkan setelah satu tahun saya tinggal di Delft, saya baru tahu bahwa ternyata cukup banyak mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh program master dan doktoralnya di bidang logistik, transportasi laut dan kepelabuhanan di Delft. Pada akhirnya saya pribadi sangat bersyukur bisa terlibat di acara KOPI Delft itu.

IMG-20141023-WA0003

Suasana KOPI Delft

Masalah kemaritiman Indonesia memang sangat ruwet, ibaratnya seperti benang kusut. Meskipun kita selalu bilang Nenek moyangku seorang Pelaut, nyatanya kita malah semakin jauh dengan “laut”. Hafida Fahmiasari, salah seorang pelajar Delft yang juga konsern di bidang ini pun pernah berkomentar:”Pelaut yang dahulu gagah ternyata sekarang mulai menjauh dari air, entah lupa atau memang sudah takut dengan air.”

Tapi entah kenapa, setelah melihat antusiasme para pelajar Indonesia di Delft berdiskusi tentang dunia maritim, saya merasa bukan hal yang mustahil untuk meluruskan benang-benang kusut tersebut. Beberapa diantara kami bersepakat untuk membuat diskusi lanjutan terkait permasalahan transportasi laut dan kepelabuhanan. Tentunya ini sebagai bentuk usaha kecil kami untuk berkontribusi kepada nusantara, mewujudkan sebuah mimpi untuk membuat Indonesia kembali jaya di lautan. Mungkin boleh dibilang diskusi bukanlah sebuah solusi nyata untuk mengatasi suatu permasalahan. Tapi bukankah kemerdekaan Indonesia juga tidak lepas dari hasil diskusi para pelajarnya?

Mari ke laut beramai-ramai

nenk moyangku orang pelautTerlepas dari pemerintahan baru yang kelihatannya akan memprioritaskan bidang maritim, rasanya memang sudah saatnya bangsa Indonesia lebih dekat dengan laut. Jangan lagi menganggap laut sebagai pemisah, karena laut justru adalah penghubung. Jangan lagi mengkambinghitamkan laut sebagai biang keladi kesenjangan kemakmuran, karena harusnya laut adalah sebuah potensi untuk memajukan ekonomi di seluruh penjuru nusantara.

Jangan lagi mengkonotasikan laut sebagai istilah negatif, apalagi mengasosiasikan laut sebagai tempat pembuangan cewek matre, seperti yang group rap Neo bilang: “Cewek matre cewek matre, ke laut aje!” :p

Sudah saatnya sekarang kita semua bergerak demi kejayaan lautan nusantara. Seperti lirik terakhir lagu Nenek Moyangku seorang pelaut: “Pemuda berani bangkit sekarang, ke laut kita beramai-ramai“.

Jadi, mari kita ke laut beramai-ramai! 😀

Delft, 23 Oktober 2014

Advertisements

Sewindu U-Green

16 Agustus 2014…

Hari ini, U-Green ITB merayakan hari jadinya yang ke-8. Ulang tahun U-Green kali ini agak cukup spesial, karena saya berada di tempat yang berjarak lebih dari 11,000 km dari Sunken Court E-06, markas kami biasa berkumpul. Ah, jadi rindu masa-masa itu…

Berikut akan saya tuliskan 8 hal random yang terpikirkan tentang U-Green di kepala saya saat ini.

1. Envirovolution 2007

2420_53676947356_2499_nIni adalah salah satu foto legendaris yang paling saya suka. Diambil tahun 2007, saat selesai acara Envirovolution, acara besar pertama yang diadakan U-Green. Disini kami, Greeners 06, masih anak bawang, masih jadi kacung acara, tapi kami dengan senang hati melaksanakan tugas-tugas kami. 🙂

Envirovolution rasanya menjadi momentum proses evolusi U-Green dimulai. Dari acara inilah U-Green mulai dikenal oleh para penghuni Ganesha 10. Dan dari acara ini pulalah U-Green mulai belajar untuk merangkak, berjalan, dan akhirnya mencoba untuk terbang tinggi.

2. Pembicara talkshow di Unjani

DSCF3273Abaikan pose aneh orang yang kurang waras di bawah itu ya, karena bukan itu yang mau diceritakan dari foto ini.hehe.

Jadi foto ini diambil setelah kegiatan talkshow tentang Global Warming yang diadakan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Ahmad Yani (Unjani), dan kami U-Green diundang sebagai salah satu pembicaranya. Dimana yang jadi pembicara adalah Della Kemalasari (Biologi 04, mantan Kepala Program Climate Change & Energy Badan Pengurus Pertama) dan berduet dengan Mifta Ardianti Safitri (T. Lingkungan 06, Kapro CCE yang baru).

Rasanya inilah debut pertama U-Green jadi pembicara di luar kampus ITB. Sambutan dari panitia dan peserta ke U-Green boleh dibilang cukup “wah”, apalagi untuk ukuran organisasi yang saat itu masih berusia satu tahun. Kami, Greeners 06, yang saat itu baru beberapa hari diangkat sebagai badan pengurus langsung merasa bangga luar biasa telah menjadi bagian dari organisasi ini, yang kelak mungkin jadi organisasi besar nantinya.

3. Pelantikan Greeners 07

100_1846Ini adalah salah satu momen spesial bagi U-Green, karena inilah untuk pertama kalinya U-Green mengadakan pelantikan untuk anggota barunya di luar kampus. Kelinci percobaan yang pertama adalah para anggota angkatan 2007, yang akan dilantik sebagai Greeners 07.

Atmosfer di acara ini yang dibangun oleh panitia dan Badan Pengurus pertama, yang mayoritas Greeners 04, sangat pas untuk sebuah organisasi yang baru saja lahir. Unsur kekeluargaan dan kesederhanaan masih sangat terasa dibalik kemasan yang diusahakan tetap serius dan (sedikit) mencekam.

Ada 48 orang yang dilantik pada acara itu. Dimana ternyata selain mahasiswa baru angkatan 2007, ada juga mahasiswa lama angkatan 2005 dan 2006 (2 orang merupakan teman saya dari Teknik Kelautan 2006.hehe) yang ikut prosesi pelantikan ini. Ini adalah bukti bahwa keberagaman U-Green menjadi salah satu kekayaan U-Green. Tiga angkatan mahasiswa dan terdiri dari berbagai jurusan ternyata bisa disatukan dalam nama Greeners 07!

Oiya, foto di atas itu ceritanya salah satu oknum berinisial A*n (Elektro 07) sedang dihukum untuk melakukan push up satu jari.hehe. Di samping kirinya, oknum lain berinisial Jij* (Teknik Lingkungan 07) berusaha mati-matian menahan tawa melihat kawannya itu.haha.

4. Syukwis perdana U-Green

CIMG4640Seinget saya, inilah syukuran wisuda perdana yang diadakan U-Green untuk anggotanya. Saat itu yang diwisuda adalah para Greeners 04. Yang difoto ada Hannifa Fitria, Della Kemalasari dan Karlin Indraswari, ketiganya dari jurusan Biologi 04 dan mantan badan pengurus yang pertama.

Suasana syukwis disini sangatlah sederhana, bahkan boleh dibilang ala kadarnya. Coba lihat kue yang ada di tengah itu, itu adalah hasil racikan anak-anak Greeners 07 dan 08, dengan menumpuk roti dikasi mentega dan mesis dan dikasi potongan jeruk di atasnya. Tapi meskipun sangat sederhana, acara ini tetap menjadi spesial bagi para wisudawan. Bahkan saya melihat raut wajah yang terharu bahagia dari Nifa, Dela dan Karlin atas acara syukwis ini.

Ya, tanpa disadari, hal-hal sederhana seperti inilah yang menjadikan U-Green menjadi organisasi besar.

5. Dewa(n) Penasihat

CIMG2387Setelah kami, Greeners 06, resmi lengser sebagai Badan Pengurus periode 2007-2009, kami membentuk badan baru yang berfungsi sebagai penasihat bagi badan pengurus yang baru, yang kami beri nama Dewan Penasihat (DP). DP ini diketuai oleh Mifta Ardianti Safitri (Teknik Lingkungan 06), dimana dia memimpin dengan tangan besi. Lihat saja, baru resmi diperkenalkan kepada anggota, dia sudah nyuruh Dirga Rochman (Teknik Sipil 06) untuk jalan jongkok, nyuruh M. Fariz (Teknik Lingkungan 06) untuk push-up, dan nyuruh Shinta Putri Andansari (Farmasi 06) untuk berlutut!hahaha..

Yang di atas itu becanda ya. hehe. Intinya, kami Greeners 06 tetap ada untuk U-Green meskipun sudah tidak menjadi badan pengurus lagi. Kali ini kami membalutnya dengan kemasan Dewan Penasihat. Ya meskipun kami lebih banyak hura-huranya, tapi kami berhasil membuat amandemen AD ART U-Green yang sangat komprehensif.

Pada dasarnya, pembentukan DP adalah bentuk aktualisasi kepedulian kami, Greeners 06, terhadap U-Green. Karena kami masih ingin berbuat “sesuatu” untuk organisasi yang telah menyatukan kami bersama sebagai satu keluarga.

6. Kekeluargaan dalam kesederhanaan

1937310_1198561253921_4215235_nNah, ini bukan foto penampungan gelandangan dan anak-anak terlantar ya.hehe. Ini adalah acara buka bareng sekaligus perayaan ulang tahun U-Green yang ke-3, yang diadakan oleh Badan Pengurus 2009-2010 yang diketuai oleh Vera Yulia Rachmawaty (Teknik Metalurghi 07).

Sekre U-Green memang sangat kecil, sehingga tidak akan bisa menampung seluruh anggota bila ada acara semacam ini. Alhasil, berbagai tempat bisa kami sulap menjadi venue acara, dan untuk kali ini terowongan Sunken Court yang menjadi korbannya.hehe.

Meskipun dengan venue yang dibilang seadanya dan hanya beratapkan langit malam, kami semua menikmati acara ini. Lihatlah bagaimana kami semua hikmat menikmati nasi kuning dari tumpeng ulang tahun U-Green. Makan dengan tangan langsung, tanpa sendok, dan bahkan sepiring berdua atau malah sepiring banyakan. Disinilah unsur kekeluargaan menjadi sangat terasa di organisasi ini. 🙂

7. Pak Mamid

20120902_164223Foto di atas bukanlah pertemuan orang tua murid di taman kanak-kanak, melainkan perayaan ulang tahun U-Green yang ke-6, yang kebetulan memang dirayakan di sebuah taman kanak-kanak.hehe.

Nah, sosok yang lagi berdiri itu adalah Pak Mamid, Dr. Ahmad Sjarmidi nama lengkapnya, dosen pembimbing U-Green, yang akan dicari mati-matian oleh ketua U-Green saat ingin minta tanda tangannya untuk keperluan proposal acara.haha.

Konon katanya, beliau dulu adalah salah satu aktivis mahasiswa garis keras. Harusnya dulu beliau ada dalam daftar black list alumni ITB yang tidak bisa jadi dosen ITB, tapi entah gimana ceritanya beliau lolos dari black list itu. Dan sekarang beliau malah jadi salah satu ahli konservasi di Indonesia. Nah, karena mantan aktivis tersebut itulah beliau juga menjadi pembimbing unit PSIK (Perkumpulan Studi Ilmu Kemasyarakatan), unit yang cukup melegenda di ITB karena didirkan oleh Wimar Witoelar dan Sarwono Kusumaatmadja. Jadi boleh dibilang, saat masa saya mahasiswa, U-Green dan PSIK itu seperti saudara seperanakan. (apa coba ini..haha).

Bagi saya, beliau adalah mentor pertama saya dalam hal beraktifitas di kampus. Banyak hal-hal mendasar dalam berorganisasi dan kepemimpinan yang saya pelajari dari beliau. Saya masih ingat betul dua pertanyaan yang beliau lontarkan ketika pertemuan pertama saya dengan beliau.

Jadi menurut kamu, U-Green itu apa?“, “Yang membedakan U-Green dengan organisasi lingkungan yang lain itu apa?“. Dua pertanyaan inilah yang akhirnya menjadi guide saya dalam memimpin U-Green.

Pernah suatu ketika, saya bingung bagaimana caranya untuk membangun sebuah tim yang solid, lalu beliau memberi saran, “Coba kamu atur satu waktu, yang semua badan pengurus kamu bisa, lalu ajak mereka ke suatu tempat, nginep bareng, ngobrol, atau melakukan apapun yang tidak terkait organisasi“. Setelah saya mengikuti saran beliau, akhirnya saya sadar, ternyata sangat penting untuk mempererat kedekatan secara emosional antara sesama badan pengurus. Karena inilah yang menjadi awal pembentukan sebuah tim yang solid. Terima kasih banyak Pak Mamid!

8. Kembang api

206626_1994827468915_924996_nFoto di atas memang ga terlalu jelas, hanya terlihat percikan kembang api dan 2 sosok wanita, tapi sebenernya itu ada satu orang lagi di sebelah kiri, yaitu saya. Apa mau dikata, karna kulit hitam, jadi saya tidak terlihat.haha.

Ceritanya ini terjadi pas menjelang wisudaan April 2011, Badan Pengurus U-Green saat itu berinisiatif untuk mengadakan syukuran wisuda, sama seperti periode-periode sebelumnya, tentu saja dengan konsep yang ala kadarnya, karena jumlah anggota U-Green yang diwisuda setiap periodenya memang tidak terlalu banyak. Nah, beberapa hari sebelum acara syukwis, panitia yang diwakili Egie (Gilang Putri Suryani -Farmasi 08) dan Ardhy (Ardhyan Seto Prabowo – Elektro 08) datang ke saya untuk menanyakan request yang diminta wisudawan.

Ka, untuk syukwis nanti ada request ga, mau ditambahin apa gitu?

Lalu saya menjawab dengan seenaknya, “Saya mau kembang api!” (Kembang api disini adalah kembang api yang biasa digunakan di acara-acara besar, yang ditembakan ke langit itu)

Mendengar itu, mereka berdua langsung lemes, “Yah Ka, itu kan mahal. Budget kita ga ada.”

Saya tahu, harganya memang mahal, jadi ga mungkin syukwis U-Green ada yang begituan. “Hehe..iya saya becanda qo. Kami mah apa aja, udah dirayain sama kalian aja kami udah seneng qo ” jawab saya sambil tersenyum.

Setelah itu saya tidak berpikir apa-apa lagi perihal acara syukwis. Namun tiba-tiba pas acara, kami semua para wisudawan dikejutkan dengan persembahan spesial di akhir acara berupa kembang api! Kembang apinya memang yang skala kecil sih, yang cuma menyembur sekitar satu meter, dan kembang api yang dipegang (seperti yang difoto). Tapi entah kenapa saya merasa ini sangatlah spesial.

Di akhir acara Egie dan Ardhy bilang ke saya, “Kemarin kan Ka Burhan request kembang api, jadi ya kami persembahkan ini buat syukwis kali ini“.

Seketika itu juga saya terharu, dan tanpa disadari malah sempat menitikkan air mata. Terima kasih ya Egie, Ardhy, panitia dan tentu saja U-Green! Kalian telah sukses memberi kenangan indah di akhir masa saya di kampus Ganesha.

Sekali lagi,

Selamat Ulang tahun Sang Hijau! Semoga api semangatmu terus membara untuk menyebarkan virus-virus cinta lingkungan! Dan semoga engkau terus tumbuh mejadi organisasi yang semakin dewasa, yang siap melompat lebih tinggi dan terbang lebih jauh!

Salam hangat dari tempat yang jauh disana..

Tentang Ganesha Hijau dan Mimpi Kolaborasi #1

Berawal dari program kerja

Logo GHGanesha Hijau lahir pada awal periode Kabinet KM ITB 2008/2009 yang dikomandoi oleh presiden KM ITB wanita pertama, Shana Fatina Sukarsono (Teknik Industri 04). Ganesha Hijau merupakan sebuah program kerja di bawah Kementrian Pendidikan dan Keilmuan dimana menterinya adalah M. Ridho Fithri Wikarta (Teknik Kimia 05). Sosok yang menjadi penggagas ide ini adalah Wiedy Yang Essa (Biologi 04) yang menjabat sebagai wakil menteri P & K. Sedangkan kordinator programnya sendiri adalah Tina Kusumaningrum (Mikrobiologi 05).

Inti program kerja GH saat itu adalah melakukan propaganda kampanye gaya hidup ramah lingkungan kepada seluruh civitas akademika ITB. Visi GH yang dicetuskan Kabinet saat itu adalah “Mengembangkan dan mendorong kesadaran berperilaku hidup bersih yang selaras dengan alam”. Ada tiga kegiatan besar yang dilakukan GH, yaitu Pelatihan Zero Waste Management & Event, Garbage Fun Day dan Seminar Nasional Lingkungan Hidup. Profil lengkap GH bisa diliat di gambar di bawah ini, dimana ini adalah brosur profil pertama yang diterbitkan kementrian P & K terkait GH.

10508386_10152306144638640_114502142_nMeskipun awalnya hanya sebatas program kerja, GH didesain sebagai sebuah gerakan, bukan hanya event semata. Oleh karenanya, GH juga merupakan bagian dari Gerakan Kebangkitan Nasional (GKN) yang diusung Shana melalui KM ITB.

GKN

Meskipun GH sudah dicetuskan sejak awal Kabinet 2008/2009 resmi bekerja (April 2008), namun GH baru benar-benar diperkenalkan kepada seluruh civitas akademika sekitar setahun kemudian, yaitu bertepatan dengan kegiatan Seminar Nasional Lingkungan Hidup yang bertemakan Clean Development Mechanism (19 Maret 2009). Boleh dibilang inilah tanggal lahirnya Ganesha Hijau, dimana saat itu dilakukan deklarasi bersama oleh lembaga-lembaga yang sudah sejak lama konsern di gerakan lingkungan, yaitu U-Green, HMTL (Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan), Nymphaea (Himpunan Mahasiswa Biologi) dan HIMATEK (Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia). Disinilah awalnya semangat kolaborasi itu dibentuk.

postergh1

Kebutuhan Berkolaborasi

Sebenarnya, jauh sebelum acara launching GH pada Maret 2009 itu dan juga sebelum GH dibentuk, semangat kolaborasi di gerakan lingkungan sudah mulai muncul. Tepatnya pada Februari 2008 saat ada sebuah kegiatan bersama memperingati Hari Air Sedunia. Dimana saat itu salah satu NGO (Non Governmental Organization) di bidang lingkungan mengajak kerja sama U-Green, HMTL, Nymphaea dan Liga Film Mahasiswa (LFM) untuk mengadakan pemutaran film dan diskusi.

Nah, dalam periode sejak event Hari Air sampai Seminar Nasional itu, intensitas interaksi diantara lembaga-lembaga yang konsern di gerakan lingkungan semakin tinggi. Dalam beberapa diskusi, para pemimpin lembaga tersebut sadar bahwa masing-masing lembaga memiliki tujuan yang sama, bahkan terkadang juga memiliki metode dan tema isu lingkungan yang sama. Sebagai contoh, U-Green memiliki program U-Green Goes to School dan HMTL punya program Eco-School. Kedua program ini sangat identik, karena sama-sama mengusung tema edukasi lingkungan ke sekolah-sekolah (SD dan SMP).

Timbul pertanyaan, mengapa mereka tidak mengadakan acara bersama-sama saja? Mengapa tidak saling berkolaborasi? Bukankah bila banyak lembaga yang terlibat efeknya jadi bisa lebih besar? Lalu pertanyaan berikutnya, siapa yang bertanggung jawab dalam kolaborasi ini?

kola

Diantara semua lembaga yang konsern di lingkungan, posisi U-Green saat itu adalah yang paling strategis. Karena U-Green bukanlah sebuah himpunan jurusan melainkan sebuah unit yang anggotanya terdiri dari berbagai macam jurusan, yang mungkin merupakan anggota aktif di HMTL, HIMATEK ataupun Nymphaea. Karena hal itulah sempat ada ide bahwa U-Green saja yang bertugas untuk bertanggung jawab dalam kolaborasi berbagai lembaga. Tapi tentu saja ide ini tidak bisa diterima, karena status unit dan himpunan adalah setara dalam hierarki Keluarga Mahasiswa ITB. Selain itu pula, tiap lembaga sudah memiliki peran dan tugasnya masing-masing. Maka, perlu ada sebuah wadah lain yang bisa mengkolaborasikannya.

Pada dasarnya, tugas kolaborasi dan sinergisasi adalah tanggung jawab Kabinet KM ITB. Lalu, pada bagian manakah yang bertanggung jawab akan isu lingkungan? Nah, dalam situasi inilah akhirnya Ganesha Hijau menjadi jawaban yang paling efektif. Dalam event Ganesha Hijau sebelumnya, beberapa lembaga secara tidak sadar sudah melakukan kolaborasi dengan mengirim anggota-anggotanya membantu dalam pelaksanaan acara. Oleh karenanya, mengapa tidak sekalian saja Ganesha Hijau dijadikan wadah kolaborasi.

Periode awal Ganesha Hijau dan Eco-Campus

Ketika Shana lengser dan digantikan oleh Ridwansyah Yusuf Ahmad (Planologi 05) – Kabinet KM ITB 2009/2010, struktur kabinet KM ITB pun berubah. Disinilah akhirnya ide wadah kolaborasi ini diwujudkan, dimana Ganesha Hijau bukan lagi berupa program kerja, melainkan sudah berbentuk badan semi otonom, yang bertanggung jawab kepada kementrian. Dalam periode ini, tampuk kepemimpinan GH beralih dari Tina (periode April 2008 – April 2009) ke Ridho yang terpaksa “turun jabatan”. Ridho, yang dulunya menteri Pendidikan & Kelimuan, menjabat sebagai koordinator GH hanya sekitar 4 bulan (April – Agustus 2009). Periode inilah periode yang paling krusial karena proses metafora GH sedang berlangsung. GH yang awalnya didesain sebagai sebuah gerakan, kini bertambah fungsi menjadi sebuah wadah kolaborasi.

Ridho fokus dalam proses kolaborasi lembaga dengan mengadakan pertemuan rutin. Pertemuan ini disebut sebagai forum Ganesha Hijau, dimana akhirnya beberapa lembaga lain ikut bergabung. HMP (Himpunan Mahasiswa Planologi) dan IMA-G (Ikatan Mahasiswa Arsitektur) ikut bergabung menyusul U-Green, HMTL , HIMATEK dan Nymphaea yang sudah lebih dulu bergabung. Dalam periode ini pulalah, Ridho berhasil mendefinisikan GH dan juga membuat kerangka awal perwujudan ITB Eco-Campus.

roadmap

Road map ITB eco-campus versi pertama, dibuat saat periode kepengurusan Ridho

Mengapa Eco-Campus? Karena isu Eco-Campus inilah yang menjadi benang merah dari program kerja berbagai lembaga yang konsern di bidang lingkungan tersebut. Isu lingkungan memang sangat banyak, tapi rasanya untuk skala kampus, perwujudan sebuah kampus yang berwawasan lingkungan merupakan tanggung jawab dari seluruh civitas akademika. Oleh karenanya, lembaga-lembaga yang tergabung di GH sepakat untuk mengusung Eco-Campus sebagai tujuan utama dari wadah kolaborasi ini. Dimana artinya, berbagai program dari tiap lembaga harus bisa memberi dampak nyata bagi permasalahan lingkungan yang ada di kampus.

Periode pembangunan fondasi. Apakah Ganesha Hijau = U-Green?

Boleh dibilang Ridho sebenarnya bukanlah kordinator GH, tetapi hanya penanggung jawab sementara, agar tidak terjadi kekosongan di tubuh GH saat periode pergantian kabinet dari Shana ke Yusuf. Setelah kabinet Yusuf resmi terbentuk dan mulai bekerja, GH harusnya sudah memiliki kordinator yang baru. Karena satu dan lain hal, ternyata cukup susah menemukan sosok yang tepat untuk memegang amanah sebagai kordinator, maka akhirnya Ridho pun menjabat hingga 4 bulan lebih, sembari mencari “korban” yang tepat.

Di akhir bulan Agustus 2009, diadakan sebuah musyawarah untuk menentukan siapa kordinator GH berikutnya. Semua lembaga yang sudah tergabung di GH mengirim perwakilannya. Secara ajaib, hasil musyawarah tersebut adalah meminta kepada Burhanudinsyah (Teknik Kelautan 06), yang merupakan mantan ketua U-Green, untuk memegang komando Ganesha Hijau. Pada awalnya Burhan sempat menolak, karena saat itu dia sedang menjabat sebagai sekjen di Keluarga Mahasiswa Teknik Kelautan (KMKL). Akan sangat berat tentunya merangkap dua jabatan sekaligus. Tapi setelah lobi dari para pemimpin lembaga dan juga atas izin Ketua KMKL, Burhan akhirnya menerima amanah itu, melanjutkan tongkat estafet dari Ridho.

Tantangan terbesar dalam periode ini adalah membuat paradigma yang tepat akan Ganesha Hijau. Karena ternyata semakin seringnya menggembar-gemborkan tentang Ganesha Hijau, semakin banyak juga persepsi yang tidak tepat yang berkembang di kalangan mahasiswa saat itu. Banyak mahasiswa yang mengira GH adalah suatu lembaga baru yang mirip dengan U-Green. Mengapa harus ada GH bila sudah ada U-Green? Itulah isu yang paling berkembang. Beberapa anggota senior U-Green pun sempat mengajak berdiskusi, sekedar menanyakan tentang definisi dan urgensi terbentuknya GH.

Oleh karenanya, penunjukan Burhan sebagai kordinator GH saat itu dirasa cukup tepat, mengingat Burhan adalah mantan ketua U-Green. Sehingga diharapkan mampu membetulkan persepsi tentang GH dan juga sembari membangun “koridor” yang tepat untuk GH agar tidak beririsan atau bertabrakan dengan lembaga-lembaga yang konsern di bidang lingkungan, khususnya U-Green. Fungsi GH sebagai sebuah wadah kolaborasi dan simbol gerakan bersama haruslah dijalankan dengan sebaik-baiknya. Karena saat ini dan ke depannya, ITB akan sangat memerlukan wadah dan fungsi kolaborasi ini.

kolaaa

Think Tank dan peran lembaga

Burhan memimpin GH hanya sekitar 8 bulan (Agustus 2009 – April 2010), karena pada April 2010 tersebut masa bakti Kabinet KM ITB 2009/2010 selesai. Dalam periode kepengurusannya, Burhan melanjutkan apa yang telah diinisiasi oleh Ridho. Dia memantapkan definisi GH, meliputi struktur organisasi dan peran perwakilan lembaga, serta membuat kerangka yang lebih detail tentang ITB Eco-Campus.

Dalam periode inilah muncul istilah “think tank”. Dimana setiap lembaga yang tergabung di GH wajib mengirimkan perwakilannya untuk tergabung di think tank. Tugas think tank ini adalah saling memberi informasi dan edukasi terkait kegiatan-kegiatan di lembaganya, sehingga akan diketahui kegiatan mana yang ternyata bisa dikolaborasikan dan juga saling menambah wawasan bagi tiap perwakilannya. Selain itu, think tank juga bertugas memberi informasi ke lembaganya terkait hal-hal baru dari lembaga lain. Jadi boleh dibilang, think tank ini adalah double agent. Mereka agent lembaga untuk GH, dan juga agent GH untuk lembaganya. Dalam keberjalannya, think tank ini juga membantu dalam pembuatan kerangka ITB Eco-Campus dan perwujudan program turunannya.

Pada periode ini pula, lembaga yang bergabung di GH bertambah, dimana KMPA (Keluarga Mahasiswa Pecinta Alam), Amisca (Himpunan Mahasiswa Kimia) dan INDDES (Himpunan Mahasiswa Desain Produk) ikut bergabung.

struktur gh

Bersambung ….

<<>>

.

Bagian tambahan:

Lalu apa itu Ganesha Hijau?

Pada intinya, Ganesha Hijau merupakan sebuah gerakan bersama mahasiswa ITB untuk mewujudkan ITB sebagai kampus yang berwawasan lingkungan dan sebagai sebuah wadah bagi lembaga-lembaga kemahasiswaan ITB yang peduli terhadap permasalahan lingkungan.

Visi dari Ganesha Hijau sendiri adalah Mewujudkan ITB sebagai kampus yang berwawasan lingkungan dan leading issue dalam menyikapi permasalahan lingkungan hidup bangsa”.

Jadi, pada dasarnya Ganesha Hijau bukanlah sebuah lembaga seperti himpunan atau unit. Bila sebuah lembaga (baik himpunan maupun unit) memiliki anggota yaitu mahasiswa, Ganesha Hijau justru memiliki anggota berupa lembaga-lembaga. Maka ketika Ganesha Hijau akan mengadakan suatu kegiatan yang membutuhkan SDM, SDMnya tentu saja berasal dari lembaga-lembaga yang menjadi anggotanya. Itulah yang menjadikan GH sebagai sebuah wadah kolaborasi dan gerakan bersama. Bila sampai GH mengadakan sebuah open recruitment anggota terutama targetnya adalah mahasiswa TPB, baik itu untuk membantu struktural maupun sekedar event, maka rasanya GH sudah tidak sesuai lagi dengan fungsi dan koridor asalnya.

Beberapa kali penulis ditanyakan pendapatnya tentang bagaimana jika Ganesha Hijau berubah menjadi sebuah Kementrian dari yang sebelumnya hanya sebuah Badan semi Otonom. Menurut penulis, tidak masalah apapun bentukan dari Ganesha Hijau ke depannya, asalkan tetap berada pada koridornya dan juga berjalan sesuai fungsinya. Dua fungsi utama GH adalah simbol gerakan dan wadah. Jadi, ketika GH akhirnya berubah menjadi sebuah Kementrian, harusnya fungsi ini tetap berjalan.

Pada akhirnya, GH pasti akan terus berkembang, entah menjadi sebuah kementrian atau jenis badan yang lain. Dan berbagai program dan ide baru juga akan bermunculan. Tapi meskipun begitu, seharusnya tujuan utama untuk mewujudkan ITB sebagai kampus yang berwawasan lingkungan tidaklah boleh dilupakan. Ganesha Hijau atau apapun namanya kelak, harus tetap bisa menjadi motor sekaligus penanggung jawab perwujudan ITB Eco-Campus ini.

Jadi, pertanyaannya bukanlah apa kabar Ganesha Hijau sekarang, melainkan sudah sejauh apakah perwujudan ITB Eco-Campus saat ini?

ecocampus

<<>>

Delft, 3 Juli 2014

Penulis merupakan saksi perkembangan Ganesha Hijau pada periode 2008-2011. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi para “pasukan hijau” ITB saat ini.

Salam Hijau!

Tentang Dua Dosa Besar

Beberapa hari yang lalu saya melihat kabar di social media bahwa teman-teman saya yang tergabung dalam Growbox ternyata berhasil masuk dalam acara Kick Andy. Meskipun saya ga sempet melihat episode mereka ditayangkan, tapi rasanya saya ikut bangga atas kesuksesan teman-teman saya ini. Saya memang bukan bagian dari tim mereka, tapi ketika awal-awal Growbox ini muncul, saya percaya ini merupakan salah satu bisnis unik yang mungkin akan terkenal di kemudian hari. Berhasil diwawancarai di Kick Andy mungkin hanya menjadi awal pembuktian kesuksesan mereka. Sekali lagi selamat ya Aldi, Robbi, dkk!

Ah, tiba-tiba saja saya teringat tentang sebuah mitos dua dosa besar. Ya, dua dosa besar yang konon dimiliki oleh sebagian besar alumni Ganesha, tidak terkecuali saya.

view_481-1206238487_contriSaat itu di awal tahun 2008, ada sebuah talkshow memperingati hari jadi kampus kami. Sebuah talkshow yang disiarkan di salah satu stasiun tv swasta dan dipandu oleh Andy F. Noya. Ya, saat itu acara Kick Andy dengan venue dan tema tentang kampus saya. Dari semua hal yang dibahas disana, ada satu hal yang saya ingat sampai sekarang, bahkan hal tersebut telah mendoktrinisasi saya di sisa waktu di kampus Ganesha. Adalah Pak Kusmayanto Kadiman, mantan rektor (2001-2004) dan mantan menteri Riset dan Teknologi (2004-2009), yang mengatakan suatu hal terkait dosa besar. Kurang lebih kalimatnya seperti ini:

“Semua mahasiswa di kampus ini memiliki satu dosa besar. Apa dosa besar itu? Yaitu ketika mereka bersaing saat mengikuti ujian masuk kampus ini dan akhirnya berhasil lolos, mereka telah menyingkirkan banyak siswa lainnya dari seluruh penjuru Indonesia, yang juga sangat ingin masuk kampus ini. Dosa besar ini bisa ditebus atau malah menjadi berlipat ganda saat mereka telah lulus dari kampus ini. Bila mereka melamar pekerjaan di perusahaan-perusahaan besar, bersaing dengan alumni dari kampus lain, maka dosa besar itu telah menjadi dua. Dosa besar itu baru akan impas bila saat lulus nanti, alumni kampus ini membuka lapangan pekerjaan sendiri, berwirausaha, lalu mengajak orang-orang dari kampus lain. Maka, hilanglah dosa besar itu.”

Semenjak acara inilah akhirnya saya mencoba mengisi sisa waktu saya di kampus Ganesha dengan hal-hal yang berbau entrepreneurship. Saya ingin mencoba untuk menebus dosa besar saya, alih-alih melipat gandakannya. Sinjang Batik, Mushroom Factory, Lentera Angin Nusantara (LAN) dan PLONGO merupakan beberapa ide bisnis yang pernah menghiasi hari-hari saya, yang telah menjadi media dalam penebusan dosa saya, walaupun ternyata belum berhasil, bila tidak ingin dibilang gagal.heuu.  Ya, ternyata tidak semudah itu dalam membangun sebuah bisnis dan sebuah lapangan pekerjaan. Tidak semudah seperti yang ditayangkan di acara-acara TV, walaupun mungkin ada yang cukup mudah, tapi rasanya itu sangat jarang sekali. Sebagian besar dari mereka yang mencapai kesuksesan dalam wirausaha pasti meraihnya dengan jerih payah dan pengorbanan.

logo-logo

Karena itu pulalah, maka saya begitu menghargai teman-teman dan senior-senior saya yang hingga kini masih bertahan di jalannya. Masih bertahan dengan idealismenya, untuk bekerja dengan usaha sendiri, dengan jerih payah sendiri, bukan dengan bekerja di perusahaan swasta, pegawai negeri atau malah perusahaan asing. Entah kenapa, saya lebih tertarik mendengar kabar tentang munculnya bisnis-bisnis baru dari alumni Ganesha, ketimbang kabar dari alumni-alumni yang berhasil bekerja di perusahaan besar, punya jabatan tinggi atau gaji yang sangat besar.

Waktu 4,5 tahun kuliah di kampus yang konon katanya terbaik di Indonesia ini telah memberi saya banyak pelajaran dan juga mengenalkan saya dengan bayak orang hebat. Orang-orang yang teguh di jalannya, orang-orang yang percaya akan mimpi-mimpi mereka. Percaya bahwa hal kecil yang mereka lakukan merupakan perwujudan usaha mereka untuk membalas budi kepada Nusantara tercinta. Ada beberapa dari mereka yang hingga kini selalu memberi inspirasi bagi saya, diantaranya:

Ada Ka Sano (M. Bijaksana Junerosano – Teknik Lingkungan 00) yang masih tetap eksis dengan Greeneration Indonesia dan tas Bagoes-nya, dibantu juga oleh sahabat saya Tian (Christian Natalie – Teknik Lingkungan 06) yang masih bertahan dengan idealismenya. Greeneration Indonesia adalah perusahaan yang memperkenalkan gaya hidup ramah lingkungan.

Lalu ada Shana (Shana Fatina Sukarsono – Teknik Industri 04) yang menjabat sebagai CEO Tinamitra Mandiri, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang energi terbarukan. Kini mereka fokus dalam konversi bahan bakar gas untuk angkot (angkutan kota) di Cirebon, kampung halaman saya.

Ada Aqsath (Aqsath Rasyid Naradhipa – Teknik Informatika 06) yang masih berada di jalannya untuk mewujudkan mimpinya melalui perusahaan yang dibangunnya dari nol, yaitu NoLimit.

Ada Yuri (Yuri Alfa Centauri – Desain Produk 06) yang masih bertahan dengan kesederhanaannya, hidup dengan menjadi pengajar dan juga pengembangan desain produk. Kini dia sedang merintis brand-nya sendiri: Ainoir.

Ada Jody (Arya Jodipati – Kriya 04) yang masih eksis dengan Kiwari Industri.

Mas Bambang (Bambang Setiawan – Teknik Sipil 04), seorang insinyur yang malah terjun menjadi peternak jangkrik. Namun dari situlah ternyata dia bisa memberi manfaat bagi masyarakat banyak.

Aldi (Ronaldiaz Hartantyo – Arsitektur 07) dan Robbi (Robbi Zidna Ilman – Arsitektur 07) dengan Growbox-nya yang masih sedang bertumbuh pesat.

Dan tentu saja Amel (Amalia Fajriyanti – Teknik Fisika 07), yang hingga kini masih bertahan di Lentera Angin Nusantara bersama mas Ricky Elson, berjuang untuk memberi secercah cahaya di ujung Nusantara tercinta.

logo lg

Rasanya masih banyak lagi alumni-alumni yang masih berjuang di jalannya, berjuang untuk sekedar mempertahankan idealisme, yang entah sampai kapan bisa bertahan. Saya tahu persis, beberapa diantara mereka justru hidup dalam kesederhanaan. Mereka bisa saja melamar ke sebuah perusahaan, mendapat gaji di atas rata-rata, hidup nyaman, tidak ada resiko dan tidak perlu ada sebuah pengorbanan. Tapi nyatanya, mereka memilih untuk tidak di jalan itu, mereka memilih untuk tetap berada di jalan yang mungkin sangat terjal dan berliku, sangat penuh resiko, dan sewaktu-waktu akan menuntut pengorbanan dari mereka.

Meskipun jalan itu tidak mudah, mereka melakukannya dengan senang hati karena memang passion mereka disitu. Itulah mimpi mereka. Ada kepuasaan tersendiri ketika mereka berhasil mewujudkan target-target mereka. Dan yang pastinya, kalau mengacu pada teori Pak Kusmayanto, orang-orang ini adalah kelompok yang telah berhasil menebus dosa besar mereka.

Lalu bagaimana mereka yang memilih untuk menjadi pegawai, seperti saya sekarang ini? Apa dosanya semakin membesar? Ah, itu kan kata Pak Kusmayanto, bukan kata Tuhan. Mungkin Tuhan tidak menganggap bahwa alumni Ganesha yang menjadi pegawai itu memiliki dua dosa besar dan yang berwirausaha telah menebus dosanya. Mungkin dosa-dosa itu juga tidak ada di catatan malaikat Raqib dan Atid, jadi kenapa harus dipermasalahkan? Toh setiap orang, tidak terkecuali alumni kampus ini punya hak untuk memilih jalan hidup mereka. Rasanya sah-sah saja mereka memilih jalan yang lebih aman dan nyaman.

Hmm…tapi kalau saya disuruh memilih, rasanya saya masih memendam hasrat untuk berjalan di sebuah jalan yang lebih menantang, mewujudkan sebuah mimpi yang masih tertunda. Ya, meskipun mungkin dosa besar itu hanya sebuah mitos atau bahkan sebuah anekdot, saya tetap berharap bisa terbebas dari dosa besar itu, dosa yang mungkin benar adanya bila kita bekerja hanya untuk kepentingan pribadi semata, tanpa memberi manfaat bagi masyarakat banyak. Ya, semoga ada jalan untuk mewujudkan mimpi itu.  Semoga..

tumblr_lxk1yv9gFJ1qafsilo1_12801

<<>>

Delft Centrum, 27 Mei 2014

Prolog

 

 

Prolog…

Saat masing-masing kita keluar dari persembunyian
Saat masing-masing kita berkumpul untuk mengerti dan saling bicara
Saat kesepakatan dan komitmen itu ada

Rasanya..
seperti berpisah saat tidur dan berjanji akan bertemu dalam mimpi yang sama
Seperti merencanakan memori
untuk nantinya dikenang lagi

Dan rasanya..
semuanya ini seperti mengulang kembali
masa-masa di tahun pertama sekolah ini

Mungkin inilah giliran kita,
untuk tidak sekedar datang ke tempat ini,
tinggal beberapa saat,
lalu pergi dan dilupakan

Atau mungkin hanya untuk mengenal teman lama
yang bertahun-tahun bersama
tapi belum kenal juga

Mungkin inilah giliran kita
untuk bermimpi
terbangun
dan berlari bersama
bersama…

 

 

PS: copyright video & lyrics by Pasar Seni 2014

 

Tentang Sang Hijau

Sore ini saya iseng mengintip group U-Green di facebook, sekedar ingin mengetahui kabar terbaru, kali aja U-Green udah bubar. Syukur alhamdulillah, saat saya intip, suasananya masih ramai lancar (kaya jalan tol aja :p). Berarti U-Green belum bubar. haha. Ternyata saat ini U-Green lagi proses pemilihan ketua baru. WOW! Udah ada ketua baru lagi aja. Perasaan, ketua yang kemaren aja belum pernah sungkeman sama saya.haha. *siapa elu :p

Saya jadi tergerak untuk menuliskan sesuatu tentang U-Green ini, sekedar untuk bernostalgia mengenang masa-masa indah dulu..halah..(Baca juga: terima kasih sang hijau)

Tentang U-Green ITB

U-green logoMungkin bagi mahasiswa ITB angkatan 2004 ke bawah (2003, 2002, dst), unit bernama U-Green ini terasa asing di telinga. Mereka mungkin lebih kenalnya Greenpeace, yang biasa mangkal di pintu gerbang ITB. haha. Ya, U-Green memang tergolong sebuah unit yang masih hijau (seperti namanya :p). 16 Agustus nanti U-Green genap berusia 8 tahun. Kalau dianalogikan sebagai manusia, ya berarti tahun ini U-Green sudah masuk SD. Tapi meskipun masih anak SD, ternyata U-Green sudah menjelma menjadi salah satu unit kegiatan mahasiswa yang paling eksis di ITB. Jumlah anggotanya pun tergolong yang cukup banyak untuk ukuran unit dari rumpun pendidikan. Bahkan saat saya mahasiswa dulu, setiap tahunnya yang mendaftar untuk menjadi anggota U-Green selalu di atas 500 orang!

Uniknya ketika saya masuk ITB di tahun 2006, U-Green ternyata baru saja resmi terbentuk. Ya, menurut AD/ART U-Green memang dibentuk pada tanggal 16 Agustus 2006, walaupun sebenarnya inisiasi pembentukannya sudah dari sebelumnya. U-Green sendiri dibentuk atas dasar keprihatinan mahasiswa-mahasiswa ITB atas kondisi lingkungan dan bumi yang sudah tidak baik lagi. Mungkin bagi mahasiswa Teknik Lingkungan (mayoritas pemrakarsa pembentukan U-Green), mereka bisa merealisasikannya melalui himpunan mereka, HMTL, tapi bagaimana bagi mahasiswa dari jurusan lain, Tambang, Geodesi, Perminyakan, atau mungkin Kelautan? Emangnya anak jurusan lain ga boleh cinta sama anak lingkungan, eh cinta sama lingkungan maksudnya. :p Oleh karena itu, untuk mewadahi kecintaan akan lingkungan dari semua mahasiswa dari berbagai jurusan, maka dibentuklah sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa bernama U-Green. Sesederhana itu alasannya.

“Sebuah alasan yang sangat sederhana untuk suatu mimpi yang tidak sederhana”

Oiya, konon katanya juga ketika awal dibentuk, nama unit ini bukanlah U-Green tapi Unit Hejo yang disingkat jadi U-Jo. Karena mayoritas anggotanya adalah cewe, jadi bisa ditebaklah ya apa motivasi yang cowo-cowo untuk gabung dengan unit ini, apa lagi kalau bukan mencari jodoh. Makanya U-Jo juga bisa dibilang sebagai Unit Jodoh! hehe. Karena dirasa Hejo tidak mewakili ke-universalan, makanya digantilah dengan Green, sehingga jadilah U-Green seperti yang sekarang kita kenal.

Arti Kekeluargaan

Salah satu hal yang membuat dulu saya akhirnya menambatkan hati pada U-Green adalah karena suasana kekeluargaannya yang sangat kental. Yang saya rasakan adalah tidak ada perbedaan perlakuan untuk semua anggotanya. Mau yang anak TL, KL, SI, Bio atau SBM sekalipun memiliki status yang sama. Bahkan untuk saya yang saat itu masih ga tau apa-apa tentang permasalahan lingkungan. Jangankan tau tentang global warming, wong buang sampah aja saya masih buang di tas temen saya.hehe. Pokonya, siapapun yang ingin berkontribusi terhadap lingkungan silakan masuk dan aktif di U-Green, begitulah aturannya.

Pernah beberapa hari setelah saya dilantik sebagai Greeners (sebutan untuk anggota U-Green), saya dikasi secara cuma-cuma kunci sekre U-Green. Dan pada suatu siang, saya iseng untuk masuk ke sekre, yang berlokasi di Sunken Court E-06, dan kebetulan saat itu ga da sapa-sapa. Di dalam sekre ada beberapa barang yang cukup berharga, kulkas, tv, dan sofa. Tiba-tiba aja saya berpikir, “Ini unit gila juga ya, ngasi kunci ke gw secara cuma-cuma tanpa ada tes kejujuran atau tes dedikasi dulu kek. Kalo gw jahat kan gw bisa gondol nih kulkas, tv dan sofa, lumayan di kosan ga ada yang begini.haha.” Tapi karna saya anaknya baik hati, tidak sombong dan rajin menabung, akhirnya saya urungkan niat ngegondol barang-barang itu (lagian berat juga :p). Malahan, setelah kejadian itu akhirnya saya berjanji dalam hati, akan membalas kepercayaan yang telah dikasi oleh unit ini kepada saya. Ya, saya akan berkontribusi lebih di organisasi ini, yang kelak saya anggap sebagai “keluarga” saya di kampus Ganesha.

Sekre tercinta, Sunken Court E-06

Sekre tercinta, Sunken Court E-06

Budaya Musyawarah

Bagi saya, ini adalah salah satu kelebihan U-Green dibanding organisasi-organisasi lain yang pernah saya hinggapi, yaitu budaya Musyawarah. Untuk memilih ketuanya, U-Green memang menggunakan mekanisme musyawarah anggota bukan pemungutan suara atau voting seperti organisasi lain pada umumnya. (kecuali untuk pemilihan ketua angkatan pertama, yang saat itu masih menggunakan sistem voting). Saya sendiri telah mengalami berbagai peran dalam proses musyawarah anggota ini.

Yang pertama, saya merasakan bagaimana deg-degannya menunggu hasil musyawarah, karena saat itu saya berperan sebagai calon yang sedang dibicarakan di musyawarah tersebut bersama dengan Dirga dan Tian, dua calon lainnya. Menunggu 2 jam rasanya seperti menunggu bintang jatuh, lamaaa banget. lebay mode on :p Yang kedua, saya bertindak sebagai pimpinan sidang dalam musyawarah pemilihan ketua U-Green ke-3. Saat itu calonnya ada 4 orang, jadi kebayang susahnya memimpin musyawarah tersebut. Tapi alhamdulillah musyawarahnya mencapai mufakat tanpa harus ada voting, dan juga tanpa harus ada pertumpahan darah.haha. Dan hebatnya, ketua yang terpilih adalah seorang perempuan! Yang ketiga, inilah yang paling saya suka, karena saya hanya bertindak sebagai peserta saat pemilihan ketua U-Green ke-4, jadi saya bebas mengutarakan pendapat. Saat itu calaonnya ada 5 orang! Pasti pusing banget tuh yang jadi pimpinan sidang. hehe.

Ya, semoga aja U-Green terus mempertahankan budaya musyawarah ini. Karena tanpa disadari, ini adalah kekayaan mereka, kekayaan yang bisa mempererat ikatan diantara para anggotanya.

Suasana saat musyawarah pemilihan ketua U-Green ke-2, 1 Oktober 2007

Kiri: 3 calon yang sedang deg-degan mendengarkan hasil dari musyawarah; Kanan: beberapa detik kemudian setelah diumumkan hasilnya, kami saling berepelukan dan tertawa (tapi kami bukan maho ya!!!)

Kiri: 3 calon yang sedang deg-degan mendengarkan hasil dari musyawarah; Kanan: beberapa detik kemudian setelah diumumkan hasilnya, kami saling berpelukan dan tertawa (tapi kami bukan maho ya!!!)

Bayi yang sudah harus terbang

Di setiap rapat atau kumpul-kumpul, saya seringkali menyebutkan kepada anggota U-Green yang lain bahwa U-Green itu ibaratnya adalah bayi (karena saat itu baru berusia 2 tahunan), tapi sudah harus belajar terbang, bukan lagi belajar merangkak atau berjalan. Mengapa seperti itu? Karena saat itu perkembangan U-Green sangatlah pesat, permasalahan lingkungan sedang hot-hotnya, berimbas pada meningkatnya antusiasme mahasiswa baru untuk bergabung, mahasiswa lama yang tidak kesampean masuk U-Green juga tidak kalah penasaran. Peran U-Green semakin strategis karena memiliki anggota dari berbagai jurusan. Pada akhirnya, orang-orang di luar sana menunggu kontribusi U-Green untuk memberikan solusi terhadap berbagai permasalahan lingkungan baik di kampus maupun kota Bandung. Itulah kenapa saya menyebutnya dengan “terbang”. Karena ternyata di usia yang masih balita ini, tantangan U-Green sangatlah besar, ditambah lagi ekspektasi yang cukup tinggi dari pihak luar. Jadi, saat itu U-Green tidak bisa hanya berleha-leha, seperti organisasi yang masih berusia balita pada umumnya.

Entah bagaimana awalnya, ternyata U-Green juga menginspirasi kampus-kampus lain untuk membentuk unit kegiatan mahasiswa di bidang lingkungan. Ada GreenConcept di IPB, Pondok Hijau di Udayana, GreenAnt di UnPar, 123 (One to Tree) di Undip, lalu ada di UNS dan beberapa kampus lainnya (lupa yang lainnya. :p). Ini menjadi kebanggaan sekaligus beban bagi U-Green. U-Green harus bisa memberi teladan yang baik bagi organisasi-organisasi itu. Ya, analogi lainnya adalah, U-Green yang masih balita ini ternyata sudah memiliki banyak adik, subur amat ya orang tuanya. haha.

u-green..to be continued….

<<<>>>

Sang Hijau dalam bingkai

SiGab (2)Persiapan acara SiGab #1 (Bersih-bersih Gasibu). Inilah kampanye lingkungan pertama yang saya ikutin. Kami mengeliling Gasibu pada hari Minggu pagi yang penuh akan pasar tumpah, memberi edukasi kepada seluruh pedagang dan masyarakat tentang budaya membuang sampah pada tempatnya dan memilah sampah. Setelah acara ini, kami angkatan 2006 akhirnya dilantik jadi Greeners 06. Hurayy..:)

oOo

Image(096)Setelah dilantik jadi Greeners, harus berkewajiban menanam pohon. Maka menanamlah kami beramai-ramai di Sabuga ITB, dekat pusat pengelolaan sampah ITB.

oOo

Picture 317Detik-detik pelantikan Greeners 2008. Kasian juga ya mereka pada ditutup matanya. Tadinya malah pengen sekalian disuruh buka baju. haha.

oOo

CIMG2395My Dream Team!!! (tidak semua ada di foto ini) Terima kasih banyak atas kebersamaannya selama 1 tahun 5 bulan dan 4 hari! 🙂
Masa kepengurusan Greeners 2006 ini mungkin akan menjadi yang terlama dalam sejarah U-Green, karena saat itu Badan Pengurusnya memang naik secara prematur. Setelah angkatan 2004, harusnya adalah 2005, tapi berhubung angkatan 2005-nya “ga ada”, jadilah angkatan 2006 yang langsung naik. Karena kehilangan satu angkatan ini, maka kami harus mensiasati dengan memperpanjang periode kepengurusan. Periode kepengurusan kami adalah 2007/2009 (1 Oktober 2007 – 5 April 2009). Meskipun prematur, kami akhirnya bisa membuktikan bahwa kami adalah tim yang hebat!

oOo

“Sebuah perjalanan panjang yang melelahkan, namun memberi arti istimewa bagi sebuah keluarga. Butuh pengorbanan dan keihklasan untuk mewujudkan sebuah impian bersama. Terima kasih untuk Sang Hijau yang telah menyatukan kami semua dalam suatu ikatan yang tulus.” -Burhanudinsyah-

Delft, 15 Maret 2014