Panggilan Sembilan Puluh Detik

Pernahkah kamu merindukan percakapan hangat di sebuah meja makan…
tanpa melihat saudara atau temanmu memainkan sebuah handphone?

Pernahkah kamu merindukan perhatian utuh dari pasanganmu…
saat sedang berdua?
Perhatian yang tak terbagi dengan telepon genggamnya?

Seringkah kamu berada di sebuah kerumunan..
dimana semua orang asyik dengan dirinya sendiri?
Menikmati kesendirian di sebuah kebersamaan.

Di sisi lain,
Apakah kamu pernah terpaksa menjawab pertanyaan-pertanyaan…
yang bersifat sangat pribadi…
oleh anggota keluarga, yang harus kamu jawab…
demi menjaga hubungan darah?

Pernahkah kamu mengenakan pakaian tertentu…
karena teman-temanmu mengenakan pakaian yang serupa?
Dan menghindari jenis musik tertentu…
agar terhindar dari celaan?

Individualitas adalah hal yang pelik.
Terlalu banyak individualitas…
dan kita menjadi makhluk yang memiliki kepedulian rendah terhadap dunia.
Asyik sendiri dengan nasib pribadi.

Terlalu sedikit individualitas,
dan kita menjadi robot.
Sebuah fotokopian yang seragam.

*Oleh: Pasar Seni ITB 2014

Advertisements

Si Bodoh yang Pintar

bodohSuatu ketika seorang pengusaha sedang memotong rambutnya pada tukang cukur yang berdomisili tak jauh dari kantornya, mereka melihat ada seorang anak berusia 10 tahunan berlari-lari dan melompat-lompat di depan mereka.

Tukang cukur berkata, “Itu Benu, dia anak paling bodoh yang pernah saya kenal”.

“Ah masa, apa iya?” jawab pengusaha.

Lalu tukang cukur memanggil si Benu, ia lalu merogoh kantongnya dan mengeluarkan lembaran uang Rp 2.000 dan koin Rp 1.000, lalu menyuruh Benu memilih, “Benu, kamu boleh pilih dan ambil salah satu uang ini, terserah kamu mau pilih yang mana, ayo ambil!”

Benu melihat ke tangan Tukang cukur dimana ada uang Rp 2.000 dan Rp 1.000, lalu dengan cepat tangannya bergerak mengambil uang Rp 1.000.

Tukang cukur dengan perasaan bangga lalu melirik dan berbalik kepada sang pengusaha dan berkata, “Benar kan yang saya katakan tadi, Benu itu memang anak terbodoh yang pernah saya temui. Sudah tak terhitung berapa kali saya ngetes dia seperti itu tadi dan dia selalu mengambil uang logam yang nilainya lebih kecil.”

Setelah sang pengusaha selesai memotong rambutnya, di tengah perjalanan pulang dia bertemu dengan Benu. Karena merasa penasaran dengan apa yang dia lihat sebelumnya, dia pun memanggil Benu dan bertanya, “Benu, tadi saya melihat sewaktu tukang cukur menawarkan uang lembaran Rp 2.000 dan Rp 1.000, saya lihat kok yang kamu ambil uang yang Rp 1.000, kenapa tak ambil yang Rp 2.000, nilainya kan lebih besar 2 kali lipat dari yang Rp 1.000?”

Benu pun tertawa kecil berkata, “Saya tidak akan dapat lagi Rp 1.000 setiap hari, karena tukang cukur itu selalu penasaran kenapa saya tidak ambil yang seribu. Kalau saya ambil yang Rp.2.000, berarti permainannya selesai dan kapan lagi saya dapat uang jajan gratis setiap hari…”

Catatan :

Dalam kehidupan, banyak orang yang merasa dirinya lebih pintar dan lebih tahu segalanya dibandingkan orang lain. Terkadang mereka lebih sibuk menyombongkan diri dan menganggap remeh orang lain, banyak bicara dan bertingkah seakan-akan diri mereka yang paling hebat.

Namun, ukuran kepintaran seseorang hanya TUHAN yang mengetahuinya. Alangkah bijaksananya kita jika tidak menganggap diri sendiri lebih pintar dari orang lain. Di atas langit masih ada langit.

Lebih baik kita dianggap bodoh, tapi memiliki kebijaksanaan dan kecerdasan pemikiran. Ketimbang menganggap diri kita paling pintar tapi kenyataannya justru hanya “kosong” belaka.

einsteins-quote-on-stupid*Sumber asli: http://kisah-renungan.blogspot.nl/2013/05/kepintaran-si-bodoh.html   (dengan sedikit perubahan)

 

Kou Kou the Fisherman

Kou Kou the Fisherman
-Endah N Rhesa-

I’m Kou Kou the Fisherman that lives near the coast of this island
Wind and stars are my friends, they told me where to go
Life is tough, yes it’s tough, but don’t give up

I’m sailing in the sea, surviving in this blue ocean
I’m taking my fishing rod, here I am stay on my boat
Life is tough, yes it’s tough, but don’t give up

I feel the air, it whispers my name
The water is calm and it’ll be as right as rain

The time is running I said to myself , “Fish or cut bait, Kou?”
But then there’s something big, swimming towards my boat

Life is tough, yes it’s tough, but don’t give up
Life is good, yes it’s good, I’ve got food!

<<>>

Balada seekor Unta

042..

Alkisah di sebuah negeri Gurun Pasir yang dihuni bangsa Unta, sang Raja Unta menyuruh salah seorang prajuritnya untuk mengemban misi khusus menyusup ke sebuah negeri tetangga. Prajurit unta tersebut ditugaskan untuk mencari berbagai informasi dan pengetahuan yang bisa berguna bagi kesejahteraan bangsa unta. Karena statusnya yang hanya seorang prajurit, unta tersebut tidak punya pilihan selain menerima tugas tersebut, meskipun sebenarnya dia tidak ingin meninggalkan negerinya.

Negeri yang menjadi tujuan prajurit unta itu adalah sebuah negeri yang disebut dengan negeri Padang Rumput. Mayoritas penduduk negeri tersebut adalah bangsa kuda. Karena alasan itu, Raja unta menasihati sang prajurit untuk menyamar menjadi seekor kuda, agar dia tidak dicurigai dan bisa berbaur seperti rakyat biasa di negeri itu. Kembali dengan berat hati, sang prajurit unta pun berusaha menyamar menjadi seekor kuda. Dengan susah payah ia merubah tampilan fisiknya agar lebih terlihat seperti seekor kuda. Tidak lupa, ia pun belajar bahasa kuda, yang masih satu rumpun dengan bahasa bangsa unta.

Seorang diri sang prajurit unta pun melakukan perjalanan jauh menuju negeri Padang Rumput. Dia harus meninggalkan negeri Gurun Pasir yang ia cintai, meninggalkan keluarga dan sahabat-sahabatnya entah hingga berapa lama. Di perjalanan, ia bertemu dengan segerombolan kuda zebra, yang rupanya akan menuju negeri Padang Rumput juga. Ia pun mencoba untuk berbaur, tentu saja dengan penyamaran sebagai seekor kuda. Hingga akhirnya ia bergabung dengan gerombolan itu melanjutkan perjalanan ke negeri yang mereka tuju. Rupanya penyamarannya cukup berhasil, karena tidak ada satupun dari gerombolan zebra yang menyadari bahwa sang prajurit unta itu bukanlah seekor kuda.

kuda_zps1c82a736

Sesampainya di negeri Padang Rumput, sang prajurit unta pun sangat tercengang, melihat negeri yang begitu hijau dan indah. Rumput yang menjadi sumber makanan utama, terhampar di seluruh penjuru negeri. Sungai-sungai mengalir dengan jernih. Tidak ada satupun rakyat di negeri ini yang kelaparan. Bahkan rupa dari rakyat kuda di negeri ini terlihat sangat sehat, kuat, anggun dan elegan. Kondisi ini sangatlah berbeda dengan negeri asalnya, yang sangat gersang dan panas. Rumput dan pepohonan sangat jarang ditemukan pun begitu dengan sumber mata air. Menahan lapar berhari-hari sudah menjadi hal yang biasa bagi bangsa unta. Tidak hanya itu, rupa rakyat unta boleh dibilang cukup nelangsa, terlihat kurus, lusuh dan kotor.

Melihat keadaan yang sangat bertolak belakang ini, akhirnya sang unta mengerti mengapa ia harus menyamar menjadi seekor kuda. Mungkin saja kalau tetap bertampang unta, ia akan dilecehkan dan dianggap rendah di negeri ini.

Waktu-waktu awal di negeri ini, sang unta sangat senang dan bahagia. Dia berjalan ke berbagai tempat, memakan berbagai macam rumput yang ada, meminum air sungai yang segar, bergaul dan berbincang dengan banyak kuda, serta banyak hal lagi yang ia lakukan mengikuti pola hidup bangsa kuda. Sesaat ia pun lupa tentang negeri asalnya, pun tentang jati diri ia sebenarnya yang hanya seekor unta.

Namun, semakin lama ia di negeri ini, ia merasa ada sesuatu yang hilang. Sesuatu yang tidak bisa tergantikan meskipun dengan kenikmatan yang ada disini. Ia merasa bahwa pola hidup bangsa kuda bukanlah pola hidupnya. Ia pun rindu dengan negeri asalnya, yang gersang dan tandus.

Di negeri padang rumput ini, semuanya memang sangat berbeda. Rakyat kuda setiap harinya hanya makan rumput sambil berteduh di pohon rindang, berusaha untuk menjaga tubuhnya tetap indah agar bisa dijadikan manusia sebagai hewan peliharaan. Mereka harus menggunakan suatu alas kaki khusus agar bisa berjalan jauh dan berlari cepat.

Capaian tertinggi dari rakyat kuda adalah digunakan sebagai kuda balap oleh manusia. Di negeri manusia sana, balapan kuda sangatlah populer. Ratusan orang menonton kuda-kuda berlomba lari. Bila tidak cukup kencang berlari, sang joki pun tidak segan untuk memukulnya dengan sebuah pecutan. Bila tidak cukup kuat dan cepat, kuda-kuda tersebut bisa dijadikan hewan peliharaan manusia. Kuda-kuda tersebut akan dipoles sedemikian rupa agar bisa tampak indah, sehingga menjadi tontonan yang menarik bagi manusia lainnya.

Hal ini tentu saja sangat berbeda dengan kondisi bangsa unta. Unta diciptakan dengan tubuh yang tidak sebagus kuda. Unta memiliki punuk yang membuatnya jadi aneh dan wajah yang terlihat seperti hewan bodoh. Namun begitu, unta memiliki banyak kelebihan yang tidak dimiliki bangsa kuda. Kaki-kaki unta diciptakan khusus untuk berjalan di berbagai medan. Medan padang pasir yang sulit dan sangat panas akan dengan mudah dilewati. Walaupun unta membawa beban ratusan kilogram, kaki unta tidak akan terperosok ke dalam pasir.

camel_drinking.img_assist_custom-600x418

Selain itu, unta terlatih untuk menahan lapar, ia bisa bertahan hingga 3 minggu tidak makan dan minum. Ketika mendapatkan sumber makanan dan minuman, ia bisa menyimpannya di dalam tubuhnya sebagai cadangan. Ia juga bisa meminum air sebanyak sepertiga berat badannya hanya dalam waktu 10 menit. Tidak hanya itu, bagian kelopak mata unta dapat tembus cahaya sehingga ia bisa tetap melihat walaupun matanya tertutup dan bulu matanya bisa saling mengait membentuk semacam teralis untuk melindungi mata dari debu dan butiran pasir akibat hembusan badai pasir.

Karena perbedaan-perbedaan itulah, sang prajurit unta merasa ada yang hilang dari hidupnya di negeri padang rumput ini. Meskipun segala kenikmatan ada di negeri ini, ia merasa kosong. Ia tidak bisa berbincang dengan teman bangsa kudanya tentang apa yang ada di pikirannya. Terkadang ia berharap sang Raja unta mengutus prajurit unta lainnya datang ke negeri ini, agar ia bisa berbincang dan berbagi. Sekedar berbincang tentang gurun pasir yang gersang dan panas, tentang bagaimana cara bertahan hidup dan makan ala kadarnya, tentang bekerja dengan ikhlas untuk membantu manusia melakukan perjalanan di padang pasir serta tentang mimpi-mimpinya untuk negeri asalnya.

Dalam kegundahannya itu, sang unta pun hanya bisa berharap agar tugasnya di negeri ini bisa cepat selesai. Agar ia bisa pulang kembali ke negeri asalnya, bertemu keluarga dan sahabat-sahabatnya serta yang lebih penting, kembali hidup menjadi seekor unta seperti sedia kala. Ya, sang unta hanya bisa berharap.

Ah unta, suruh siapa juga kamu menjadi unta…

camel-163703_640

<<<>>>

Note:
Jenis hewan di tulisan ini hanya bentuk pengasosiasian, bukan bermaksud untuk mendeskritkan jenis hewan tertentu. Mohon maaf bila kebetulan ada unta ataupun kuda yang kebetulan membaca tulisan ini dan merasa tersinggung karena tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya. :p

 

Dekat di hati

DEKAT DI HATI

# RAN

Dering telfonku membuatku tersenyum di pagi hari
Kau bercerita semalam kita bertemu dalam mimpi
Entah mengapa aku merasakan hadirmu di sini
Tawa candamu menghibur saat ku sendiri

# Aku di sini dan kau di sana
Hanya berjumpa via suara
Namun ku selalu menunggu
Saat kita akan berjumpa

Meski kau kini jauh di sana
Kita memandang langit yang sama
Jauh di mata namun dekat di hati

Dering telfonku membuatku tersenyum di pagi hari
Tawa candamu menghibur saat ku sendiri

# Aku di sini dan kau di sana
Hanya berjumpa via suara
Namun ku selalu menunggu
Saat kita akan berjumpa

Meski kau kini jauh di sana
Kita memandang langit yang sama
Jauh di mata namun dekat di hati

.
Jarak dan waktu takkan berarti
Karena kau akan selalu di hati
Bagai detak jantung yang ku bawa
Kemanapun ku pergi oh oh oh

Meski kau kini jauh di sana
Kita memandang langit yang sama
Jauh di mata namun dekat di hati
Dekat di hati, dekat di hati

—–

Untuk seseorang yang jauh disana, namun dekat di hati 🙂

Prolog

 

 

Prolog…

Saat masing-masing kita keluar dari persembunyian
Saat masing-masing kita berkumpul untuk mengerti dan saling bicara
Saat kesepakatan dan komitmen itu ada

Rasanya..
seperti berpisah saat tidur dan berjanji akan bertemu dalam mimpi yang sama
Seperti merencanakan memori
untuk nantinya dikenang lagi

Dan rasanya..
semuanya ini seperti mengulang kembali
masa-masa di tahun pertama sekolah ini

Mungkin inilah giliran kita,
untuk tidak sekedar datang ke tempat ini,
tinggal beberapa saat,
lalu pergi dan dilupakan

Atau mungkin hanya untuk mengenal teman lama
yang bertahun-tahun bersama
tapi belum kenal juga

Mungkin inilah giliran kita
untuk bermimpi
terbangun
dan berlari bersama
bersama…

 

 

PS: copyright video & lyrics by Pasar Seni 2014