Pemimpin?

pemimpin“Menurut kamu, apa arti pemimpin?”

Tiba-tiba aja pertanyaan itu dilontarkan ke saya oleh salah seorang senior di saat masa pemilu organisasi yang saya ikuti. Karena saat itu saya masih seorang anggota biasa yang masih bau kencur, polos dan tak berdosa (halah), saya agak bingung menjawabnya. Tapi entah kenapa, kalimat yang kemudian keluar dari mulut saya adalah, “Hmm..ya menurut saya pemimpin itu tidak sama dengan ketua.”

Setelah momen itu, saya kemudian membulatkan tekad (baca: nekat) mencalonkan diri dalam pemilu itu, padahal belum tentu juga ada yang bakal milih.haha. Entah kenapa saya tidak terlalu peduli saya menang atau tidak, tapi satu yang pasti, saya ingin belajar dalam memahami sebuah proses kepemimpinan. Dari sebuah pertanyaan yang mungkin biasa, ternyata menimbulkan bekas yang cukup mendalam (galian kali dalem :p) bagi saya. Maka, tanpa disadari sejak saat itulah saya memulai petualangan memahami tentang arti seorang pemimpin (kemudian diiringi backsound ala film silat :p).

>

By nature or nurtureDalam sebuah training, ada sebuah materi kepemimpinan yang diawali dengan pertanyaan tersebut. Lalu kemudian saya berpikir, “Iya ya, pemimpin itu suatu bakat yang diberikan Tuhan, atau sebuah hal yang bisa diasah? Kalau itu sebuah bakat, dan ternyata saya tidak hadir saat Tuhan membagi-bagikan bakat pemimpin di nirwana sana, apa mungkin saya bisa menjadi seorang pemimpin yang baik?” (ya kaleee)

Jaman dulu kala, ada sebuah teori bernama The Greatma Theory, yang intinya mengatakan: “Leaders are born not made”. Tapi kemudian ada juga sebuah teori sosial yang mengatakan bahwa “Leaders are made not born”. Akan sangat panjang bila membahas tentang keduanya secara detail. Tapi saya akan sedikit memberi pandangan berdasarkan pengalaman saya.

Memang ada beberapa orang yang secara alamiah dapat dengan mudah menjadi pemimpin. Tapi menurut saya, sifat kepemimpinannya itu bukan berdasarkan genetis dan juga agak berbeda dengan sebuah bakat seperti main musik, olahraga atau semacamnya. Biasanya orang yang termasuk golongan ini adalah orang yang memiliki bakground keluarga atau lingkungan yang tanpa disadari mengajarinya tentang kepemimpinan semenjak dia lahir. Entah bapaknya yang mungkin seorang ketua RT, atau mungkin kakeknya yang telah mendirikan sebuah perusahaan keluarga, atau mungkin juga dia pernah diadopsi oleh tetua adat suku pedalaman (ya kaleee). Intinya, orang golongan ini ketika dewasa memang secara alamiah bisa dan piawai memimpin, baik itu berupa kelompok kecil ataupun sebuah organisasi semacam karang taruna, unit kegiatan mahasiswa, atau BEM.

Tapi tidak sedikit juga orang yang berhasil mengasah jiwa kepemimpin mereka seiring pertambahan usianya, walaupun dulu mungkin dia tidak punya background tentang kepemimpinan atau bahkan memiliki sifat yang kata orang tidak cocok untuk jadi seorang pemimpin, seperti pemalu atau kurang percaya diri misalnya. Orang seperti ini biasanya mengalami sebuah turning point yang akhirnya membuatnya jadi ingin belajar tentang kepemimpinan. Momen itu bisa berupa dia menemukan sosok tokoh pemimpin idola, atau bertemu dengan seorang pemimpin yang berhasil menginspirasi dia di organisasi yang dia ikuti, atau juga, yang paling sering terjadi, dia menjadi “tumbal” dalam sebuah proses pemilihan ketua atau semacamnya. Untuk poin yang terakhir, akan ada dua kemungkinan yang terjadi. Ada yang setelah menjadi “tumbal” itu dia jadi belajar tentang kepemimpinan dan akhirnya bisa digolongkan menjadi pemimpin yang piawai. Namun,ada juga yang setelah itu justru tidak memberi efek apa-apa terhadap orang tersebut.

>>

atasan = pemimpinMungkin sebagian besar orang akan mengasosiasikan seorang ketua, bos, direktur atau semacamnya sebagai seorang pemimpin. Tapi entah kenapa, saya memiliki pandangan yang berbeda. Hal ini terjadi karena sepengalaman saya, ada beberapa orang yang punya jabatan “ketua” tetapi sesungguhnya dia tidak menjalankan prinsip-prinsip kepemimpinan sebagaimana mestinya atau terkadang bahkan tidak tahu.

Untuk contoh ini, biasanya sang ketua atau bos tersebut tidak tahu harus dibawa kemana organisasi yang dia pimpin, tidak bisa memberi keputusan dan bahkan tidak dihormati oleh anggotanya. Dan dalam kondisi yang parah, ada juga yang justru disetir oleh orang lain dalam mengatur organisasinya. Sang ketua ini hanya berupa simbol semata, sedangkan yang menjadi pemimpin sebenarnya bukanlah dia.

Selain itu, sebenernya tidak harus menjadi seorang ketua atau semacamnya untuk menjadi seorang pemimpin dan memiliki jiwa kepemimpinan. Pemimpin bisa muncul dari sekelompok kecil teman bermain, tim olahraga, atau juga sebuah keluarga (pemimpin rumah tangga maksudnya.hehe). Intinya, ketua hanyalah sebuah label, sedangkan pemimpin adalah sebuah amanah. Ketika ada orang yang baru saja terpilih menjadi ketua sebuah organisasi atau apapun, sesungguhnya dia ditantang untuk mengemban amanah menjadi seorang pemimpin yang ideal. Bukan diberikan kenikmatan atau keuntungan dengan label “ketua” tersebut.

transformasi>>>

awal yang biasaMungkin sebagian dari kita punya anggapan bahwa pemimpin hebat itu pastinya adalah orang yang punya track record panjang pengalaman memimpin. Tetapi menurut saya, anggapan ini tidak sepenuhnya tepat. Karena pemimpin hebat bisa muncul dari seseorang yang sangat “biasa”, orang-orang yang tahu benar bagaimana rasanya di bawah. Bahkan orang golongan ini tidak jarang yang justru bisa melampaui kesuksesan orang-orang yang tergolong terbiasa menjadi pemimpin.

Pernah mendengar tentang Toyotomi Hideyoshi? Salah satu dari tiga orang pemimpin yang berhasil mempersatukan Jepang. Siapa sangka dia mengawalinya dari seorang pembawa sendal bagi Oda Nobunaga, majikannya. Hingga akhirnya dia justru bisa berada di posisi sang majikannya tersebut dan bahkan mencapai kesuksesan yang lebih besar. (baca: Toyotomi Hideyoshi)

Di salah satu episode serial Game of Thrones, ada percakapan sebagai berikut:
Lord Commander : “Kau ingin memimpin suatu hari nanti?”.
Jon Snow : “Ya”
Lord Commander : “Maka belajarlah bagaimana cara mengikuti!”

Saya sangat setuju terhadap pernyataan Lord Commander, untuk bisa memimpin, kita harus belajar untuk dipimpin terlebih dahulu.

>>>>

melayaniNah, mengapa orang yang berasal dari kalangan “paling biasa” bisa menjadi pemimpin yang hebat? Mungkin salah satunya adalah karena inti dari kepemimpinan adalah melayani, bukan dilayani. Tidak sedikit kita lihat, sosok bos, ketua atau semacamnya yang cenderung ingin selalu dilayani, ingin mendapatkan perlakuan khusus, dan terkadang berlaku seenaknya terhadap bawahan atau anggotanya. Orang golongan ini tentunya tidak termasuk dalam kategori pemimpin yang ideal, karena sekali lagi, inti kepemimpinan adalah “melayani” bukan “dilayani”.

>>>>>

Disegani atau dicintaiPertanyaan ini cukup sulit untuk dijawab. Bahkan saya pun tidak yakin mana yang lebih baik diantara keduanya. Tapi rasanya keseimbangan antara keduanya mungkin menjadi pilihan yang paling tepat, walaupun dalam pelaksanaannya pastinya akan sangat sulit. Sebagian besar, beberapa pemimpin lebih condong ke salah satunya, entah menjadi pemimpin yang sangat baik dan dekat dengan anggotanya sehingga menjadi pemimpin yang dicintai, atau menjadi pemimpin yang tegas bertangan dingin sehingga sangat disegani para anggotanya.

Pilihan itu bisa terjadi karena sifat alamiah sang pemimpin atau kondisi organisasi yang dia pimpin. Bisa jadi sosok yang dicintai akan tepat di kondisi suatu organisasi, atau sebaliknya sifat tegas dan otoriter mungkin diperlukan untuk pengembangan organisasi tersebut ke depannya. Terlepas dari itu semua, rasanya tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk, keseimbangan keduanya atau penyesuaian terhadap kondisi organisasi mungkin adalah yang paling tepat untuk diterapkan.

>>>>>>

resikoPernahkan anda menemukan seorang pemimpin yang plin-plan, terlalu lama atau bahkan tidak bisa mengambil keputusan? Tidak sedikit memang pemimpin yang seperti itu, pemimpin yang tidak berani mengambil resiko. Mungkin tidak sepenuhnya hal tersebut salah, tapi entah kenapa saya lebih percaya bahwa seorang pemimpin harus berani mengambil resiko. Memang benar, sebelum memutuskan sesuatu kita harus mempertimbangkan segala sesuatunya, tetapi waktu mempertimbangkannya tersebut haruslah tidak terlalu lama.

Setiap keputusan pastilah akan timbul pro dan kontra, pasti ada yang senang dan tidak. Saya pernah diajarkan bahwa, jangan pernah berharap bahwa setiap keputusan yang dilakukan akan disenangi semua pihak, karena itu mustahil. Tujuan dari sebuah keputusan adalah agar memberi dampak yang lebih baik, bukan untuk menyenangkan semua pihak.

Selain itu, bukankah ada sebuah kalimat klasik yang berbunyi seperti ini:

“Seorang pemimpin boleh salah, yang tidak boleh adalah ragu-ragu”

So, setiap keputusan pasti mempunyai resiko, satu yang pasti, seorang pemimpin tidak boleh ragu-ragu.

>>>>>>>

pemimpin berikutnyaNah, rasanya ini adalah hal pamungkas yang saya yakini harus dimiliki seorang pemimpin. Mungkin anda pernah mengalami suatu momen dimana dalam sebuah pemilu suatu organisasi, sulit untuk menemukan orang yang mau mencalonkan diri menjadi ketua, entah akhirnya hanya satu orang yang mencalonkan atau bahkan tidak ada sama sekali. Kemudian biasanya para senior akan menyalahkan angkatan tersebut dan men-cap sebagai angkatan yang gagal.

Tapi kalau menurut saya, tidak sepenuhnya salah angkatan tersebut bila tidak ada yang mau nyalonin. Karena sesungguhnya, ada peran sang pemimpin sebelumnya yang bertanggungjawab untuk mempersiapkan calon-calon penerusnya. Bagi saya, tidak ada artinya kesuksesan seorang pemimpin yang berhasil melakukan program kerja besar saat masa kepengurusannya, namun di akhir masa kepengurusannya dia bahkan tidak tahu siapa yang akan menjadi penerusnya.

Selain mengemban amanah tugas-tugas sebagai seorang pemimpin pada periodenya, tantangan seorang pemimpin juga memastikan bahwa selepas periodenya, organisasi itu harus bisa berkembang lebih hebat dengan pemimpin barunya. Jadi, rasanya memang tepat, seorang pemimpin bisa dikategorikan sebagai pemimpin sukses apabila dia berhasil menciptakan pemimpin-pemimpin berikutnya.

<<<>>>

Delft, 16 Februari 2015

*Materi ini pernah disampaikan dalam Latihan Kepemimpinan dan Manajemen Organisasi (LKO) Keluarga Mahasiswa Teknik Kelautan (KMKL) ITB, 24 Februari 2012, penulis hanya menulis ulang dalam bentuk tulisan.

Advertisements

Di Sebuah Warung Kopi

Di salah satu sudut ruangan, seorang gadis berambut pirang duduk menghadap jendela. Kedua tangannya ditopangkan ke dagu sambil sesekali ia memejamkan mata. Sebuah buku tulis dibiarkan terbuka di depannya. Apakah ia sedang memikirkan sesuatu? Atau mungkin saja ia hanya sedang mencoba untuk terlelap lalu bermimpi, menikmati kesendirian di keramaian tempat ini.

Beberapa kursi di sebelahnya, sesosok pria besar sedang seriusnya menulis. Mengerjakan tugas kuliah atau mungkin menulis catatan pribadinya, entahlah. Yang jelas, ia lebih memilih bersembunyi di balik tembok ketimbang menatap langit cerah di balik jendela. Hingga cangkir kopinya kosong, ia tidak memalingkan wajahnya dari buku dan tembok di hadapannya. Mungkin ia malu dengan tubuh besarnya, atau ia memang tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya.

Di balik meja bar, seorang barista wanita dengan telatennya membuatkan setiap pesanan para pengunjung, mulai dari espresso, americano, cappuccino hingga moccacino. Senyum tulusnya selalu tersungging, begitu menikmati pekerjaannya, seakan ia memang terlahir untuk meracik kopi. Meskipun hampir sepanjang hari berada di balik meja, tak terlihat, tak dapat dipungkiri dia lah yang menentukan rasa tempat ini.

Di depan pintu, seorang pria dengan coat hitam tampak sedikit cemas. Rasanya sudah cukup lama ia disana, mondar-mandir sambil beberapa kali melihat jam tangannya. Mungkin ia sedang menunggu seseorang. Sebuah kencan kah, atau mungkin sebuah urusan bisnis? Lalu, mengapa ia harus menunggu di depan pintu? Bukankah lebih baik menunggu di dalam, sambil duduk dan meminum kopi. Ah, mungkin saja ia ingin merasakan kenikmatan kopi disini bersama orang yang ia tunggu itu.

Tepat di tengah ruangan, dengan santai sepasang kakek dan nenek duduk bersandar di atas sofa. Wajah keriput dan rambut yang beruban tidak menghilangkan senyum bahagia diantara keduanya. Tak tahu apa yang sedang mereka bicarakan, mungkin saja mereka sedang bernostalgia mengingat masa yang lalu. Atau mungkin saja mereka hanya ingin membuat iri orang-orang disini yang tak memiliki pasangan.

Lalu, apa yang aku lakukan? Ah, tentu saja aku duduk di kursi favoritku, memperhatikan seisi ruangan sambil minum segelas kopi, lalu menuliskan tentang cerita ini.

<>

# di salah satu sudut kota Delft
# di penghujung tahun 2014

Siang dan Malam yang Tak Biasa

siangOh siang, mengapa kau begitu terburu-buru untuk pergi? Apakah kau takut dengan malam?

Coba kau lihat pohon-pohon itu! Daun-daunnya berguguran, karena tau kau tidak bisa mendampingi mereka lebih lama, seperti biasa. Namun, tak peduli berapa banyak yang dikorbankan, mereka akan tetap menyimpan harapan dan kerinduan padamu! Mereka akan selalu berharap kau akan datang menemani mereka lagi, lebih lama, suatu saat nanti.

Mengapa kau menutup mata akan itu semua? Ataukah ini hanya akal-akalanmu saja untuk menguji kesetian mereka padamu? Sungguh naif mungkin, mereka yang terlalu berharap dan rindu padamu. Ya, siapa sangka kau justru tersenyum di atas sana di kala mereka semua bersedih karena kehadiranmu yang hanya sesaat.

malam2Wahai malam, mengapa kini kau menjelma menjadi lebih angkuh?

Sayap-sayap dinginmu datang lebih cepat dan kuat, mencengkram tubuh ringkih manusia yang masih berkeliaran di luar sana. Memupus keriangan dan memaksa mereka untuk segera pulang. Mereka hanya berani menatapmu dari balik tirai jendela. Mereka takut kepadamu, apakah itu yang kau inginkan?

Dulu kau datang dengan malu-malu, mengiringi manusia melepas penatnya. Kau lipur lara mereka dengan sejuknya angin dan indahnya bintang. Kau akan selalu ada, bahkan untuk mereka yang tak pernah menganggapmu ada. Lalu mengapa kini kau marah? Apakah kau bosan hanya dijadikan tempat pelarian manusia? Atau mungkin saja kau hanya ingin memberi pelajaran bagi mereka yang tidak pernah menghargaimu.

.

Ah siang, malam, mengapa kini kalian tak seperti biasa?

Siang, mungkin saja kau benar. Kalau saja kau selalu hadir untuk mereka seperti biasa, mungkin mereka tidak akan pernah mengerti seberapa pentingnya dirimu. Ketiadaanmu telah membuat mereka tahu berapa harga yang pantas untuk sebuah kehadiranmu.

Malam, mungkin juga kau tidak salah. Kalau saja kau tidak marah dan membawa sayap dinginmu, mungkin mereka tidak akan pernah tahu pengorbananmu melepas lelah mereka. Kemarahanmu telah memberi pelajaran kepada mereka agar tidak pernah menyia-nyiakan keberadaanmu.

.

Ya sudahlah, apapun itu, yang jelas siang dan malam di tempat asalku tidak pernah berlaku tak biasa seperti kalian disini.

.

<<>>

Warung Kopi Delft, 12 Desember 2014

Tentang Dimensi Waktu

Waktu yang dimundurkan dan dimajukan

Daylight-Saving-PicDi minggu terakhir bulan Oktober lalu, beberapa negara mengalami berakhirnya Daylight Saving Time (DST), sebagai tanda bahwa musim dingin sudah tiba, yang artinya waktunya mundur satu jam. Ketika jam digital menunjukkan pukul 02.59, sedetik kemudian jam tersebut malah kembali menunjukkan pukul 02.00 alih-alih menjadi jam 03.00. Ternyata anda telah kembali ke masa lalu, kembali ke masa sejam yang lalu.hehe.

Kasus di atas tentunya bukanlah contoh pengalaman kembali ke masa lalu, karena DST hanyalah kesepakatan perubahan waktu akibat penyesuaian lamanya sinar matahari yang muncul di negeri tersebut. Sebelumnya pada bulan Maret, ketika memasuki musim panas, waktu dimajukan satu jam. Saat jam digital memasuki pukul 01.59, sedetik kemudian jam tersebut akan langsung menunjukkan angka 03.00. Bagi yang baru mengalami, mungkin anda akan merasa bahwa waktu anda telah terenggut satu jam pada hari itu. Karena tidak ada 60 menit di angka 2. Nah, Itulah kenapa akhirnya sebagai kompensasi, di akhir bulan Oktober waktu dimundurkan kembali satu jam. Yang mengakibatkan seolah-olah kita punya 1 jam tambahan saat itu.

Meskipun seolah-olah waktu seperti dapat dimajukan dan dimundurkan, pada kenyataannya waktu tetap berjalan sesuai dengan ritmenya. Dan setiap manusia tetap diberikan jatah yang sama, 24 jam dalam satu hari.

Dimensi itu bernama “waktu”

“Waktu” memang sesuatu yang unik. Ada teori yang mengatakan bahwa waktu adalah dimensi ke-4. Seperti kita ketahui, kita hidup di sebuah dimensi ruang, alias 3 dimensi, yang terdiri dari panjang, lebar dan tinggi. Atau bila didefinsikan dengan arah, kita membedakannya dengan depan-belakang, kiri-kanan dan atas-bawah. Untuk yang masih ingat pelajaran matematika, kita mengenalnya juga dengan notasi sumbu x, y dan z. Nah, sebagian besar percaya bahwa ada dimensi ke-4 untuk melengkapi hal tersebut, yaitu dimensi waktu! Biasanya dikenal dengan notasi t.

8-cell-simpleTapi sifat dari dimensi waktu sangatlah berbeda dengan dimensi ruang, ada yang beranggapan bahwa dimensi waktu terpisah dengan tiga dimensi lainnya (x, y, z). Alasannya adalah, kita tidak memiliki kebebasan pada dimensi t. Waktu tidak bisa kita jelajahi sesuka hati seperti kita menjelajahi ruang x, y dan z. Ketika kita bisa sesuka hati bergerak ke kanan-kiri, depan-belakang dan atas-bawah, nyatanya kita terperangkap dalam waktu. Kita hanya dapat mengalir bersamanya ke satu arah, yaitu menuju masa depan. Sampai saat ini setidaknya belum ada yang bisa membuktikan bahwa manusia bisa tetap bertahan di satu waktu, atau bahkan kembali ke masa lalu.

Pada suatu waktu, Albert Einstein menyatakan sebuah rumusan bahwa ruang dan waktu sebenarnya saling terkait, dan merupakan sistem kordinat yang menyatu. Hal ini sejalan dengan yang pernah diutarakan oleh Hermann Minkowski: “Sebenarnya, kalau hanya ada ruang saja, atau waktu saja, keduanya akan meluruh menjadi tak lebih dari sekedar bayang-bayang. Kalau keduanya menyatu, barulah ada kenyataan”.

Ya, mungkin memang benar, ruang dan waktu adalah satu kesatuan. Bila kita pernah menyebut waktu itu adalah kenangan (masa lalu) dan harapan (masa depan), dengan adanya kita, makhluk hidup, dunia dan seisinya (yang diumpamakan sebagai dimensi ruang), ternyata kenangan dan harapan yang tampak seperti sekedar bayang-bayang itu tidak lain adalah sebuah kenyataan.

Infinity-TimeWaktu sebagai unit pengukuran

Pernah tahu tentang “time value of money” kan? Seperti kita ketahui, nilai uang akan berubah bersamaan dengan perubahan waktu. Sebagai contoh, uang Rp 1 juta saat ini akan memiliki nilai yang berbeda dibanding dengan 1 tahun, 5 tahun atau beberapa tahun ke depan. Dengan semakin bertambahnya waktu, nilai suatu nominal uang akan semakin rendah. Jelas-jelas unit pengukuran uang adalah mata uang, dalam hal ini rupiah, lalu kenapa ada faktor waktu yang menentukan sebuah nilai uang?

Dalam kasus lain, anggaplah ada sebuah keramik yang dibuat pada tahun 1614 dan kemudian ditemukan pada tahun ini. Mungkin saja, dulu kala saat dibuat, keramik itu hanyalah barang biasa yang tidak berharga. Tapi setelah 400 tahun kemudian keramik tersebut ditemukan, ternyata menjadi barang yang bernilai sangat tinggi. Ya, ternyata waktu telah membuatnya menjadi sesuatu yang lebih berharga.

Ternyata, waktu bisa membuat sesuatu menjadi jauh lebih berharga sekaligus juga bisa membuatnya bernilai lebih rendah atau mungkin sama sekali tidak berharga.

Dalam sebuah film, ada percakapan seperti ini:

lucy“Sebuah mobil bergerak di jalan raya, kecepatannya terus meningkat hingga tak terhingga, dan mobil tersebut kemudian menghilang.
Lalu, apa bukti keberadaan mereka?
Waktu lah yang memberi keabsahan eksistensinya.
Waktu adalah satu-satunya yang nyata sebagai unit pengukuran.
Waktu memberikan bukti keberadaan sebuah materi.
Tanpa waktu, kita tidak ada!”

Jadi, mungkinkah waktu adalah satu-satunya yang nyata sebagai unit pengukuran?

Arti sebuah waktu

Bila sebuah benda bisa kita buat menjadi lebih panjang, lebih lebar atau lebih tinggi, tapi waktu tidak pernah bisa kita buat menjadi lebih cepat atau lebih lambat. Waktu akan selalu berjalan dengan ritme yang sama dan jumlah yang sama, 24 jam dalam satu hari. Meskipun berjalan dengan ritme yang sama, terkadang waktu bisa dirasakan berbeda-beda oleh setiap orang yang mengarunginya. Seperti yang pernah dikatakan oleh Henry Van Dyke:

Waktu terkadang terlalu lambat bagi mereka yang menunggu, terlalu cepat bagi yang takut, terlalu panjang bagi yang gundah, dan terlalu pendek bagi yang bahagia. Tapi bagi yang selalu mengasihi, waktu adalah keabadian

BLOG-hour-glassMungkin dari anda pernah mengalami kejatuhan kotoran burung. Hanya sepersekian detik saja yang menentukan anda bisa kejatuhan kotoran itu. Dan bila itu terjadi, anda akan bilang, “Arghh, kalau aja tadi langkah kaki saya diperlambat, pasti tidak akan kena!” Anda pasti akan mengutuk satu detik yang telah membuat anda terkena kotoran burung itu.

Tapi di lain kejadian, mungkin anda bisa mengalami kejadian bertabrakan dengan seseorang ketika sedang berlari terburu-buru. Dan ternyata anda (pria) bertabrakan dengan seorang wanita yang cantik jelita, kemudian anda berkenalan, dan akhirnya bisa berpacaran. Bila itu benar-benar terjadi, anda pasti akan mensyukuri satu detik yang telah membuat anda bertabrakan dengan wanita tersebut.

Waktu bisa membuat kita bersyukur, dan tidak jarang juga membuat kita mengutuk dan menyesalinya. Namun yang pasti, waktu akan selalu memberikan kesempatan kepada kita untuk mengarunginya sekaligus memahami maknanya.

Time-Tracking1

  • Untuk memahami makna waktu 1 tahun, bertanyalah kepada seorang siswa yang gagal dalam ujian kenaikan kelas.
  • Untuk memahami makna waktu 1 bulan, bertanyalah kepada seorang ibu yang melahirkan anaknya secara prematur.
  • Untuk memahami makna waktu 1 hari, bertanyalah kepada seorang pekerja dengan gaji harian.
  • Untuk memahami makna waktu 1 jam, bertanyalah kepada seorang remaja yang sedang menunggu kekasihnya.
  • Untuk memahami makna waktu 1 menit, bertanyalah kepada seorang yang ketinggalan kereta
  • Untuk memahami makna waktu 1 detik, bertanyalah kepada seorang yang selamat dari kecelakaan.
  • Untuk memahami makna waktu 1 milidetik, bertanyalah kepada seorang pembalap F1 atau MotoGP yang meraih juara kedua.

Epilog

Tahukah Anda, bila dperhatikan secara seksama, iklan/advertisement jam (jam tangan atau jam dinding) pada umumnya akan menunjukkan pukul 10.10. Mengapa demikian? Karena bentuk jarum jam saat menunjukkan pukul 10.10 akan terlihat seperti sebuah mulut yang sedang tersenyum. 🙂

shutterstock_1708173021Ingatlah, waktu adalah dimensi yang unik. Waktu akan terus berjalan, tanpa pernah bisa berhenti ataupun kembali. Alangkah indahnya bila kita bisa mengisi dan memaknainya dengan sebaik-baiknya. Sehingga kelak ketika kita meilhat kembali waktu-waktu yang telah dilewati, kita akan tersenyum bahagia. 🙂

.

<<>>

Delft, 3 November 2014

Ditulis oleh seorang “Pengagum Waktu”

Sewindu U-Green

16 Agustus 2014…

Hari ini, U-Green ITB merayakan hari jadinya yang ke-8. Ulang tahun U-Green kali ini agak cukup spesial, karena saya berada di tempat yang berjarak lebih dari 11,000 km dari Sunken Court E-06, markas kami biasa berkumpul. Ah, jadi rindu masa-masa itu…

Berikut akan saya tuliskan 8 hal random yang terpikirkan tentang U-Green di kepala saya saat ini.

1. Envirovolution 2007

2420_53676947356_2499_nIni adalah salah satu foto legendaris yang paling saya suka. Diambil tahun 2007, saat selesai acara Envirovolution, acara besar pertama yang diadakan U-Green. Disini kami, Greeners 06, masih anak bawang, masih jadi kacung acara, tapi kami dengan senang hati melaksanakan tugas-tugas kami. 🙂

Envirovolution rasanya menjadi momentum proses evolusi U-Green dimulai. Dari acara inilah U-Green mulai dikenal oleh para penghuni Ganesha 10. Dan dari acara ini pulalah U-Green mulai belajar untuk merangkak, berjalan, dan akhirnya mencoba untuk terbang tinggi.

2. Pembicara talkshow di Unjani

DSCF3273Abaikan pose aneh orang yang kurang waras di bawah itu ya, karena bukan itu yang mau diceritakan dari foto ini.hehe.

Jadi foto ini diambil setelah kegiatan talkshow tentang Global Warming yang diadakan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Ahmad Yani (Unjani), dan kami U-Green diundang sebagai salah satu pembicaranya. Dimana yang jadi pembicara adalah Della Kemalasari (Biologi 04, mantan Kepala Program Climate Change & Energy Badan Pengurus Pertama) dan berduet dengan Mifta Ardianti Safitri (T. Lingkungan 06, Kapro CCE yang baru).

Rasanya inilah debut pertama U-Green jadi pembicara di luar kampus ITB. Sambutan dari panitia dan peserta ke U-Green boleh dibilang cukup “wah”, apalagi untuk ukuran organisasi yang saat itu masih berusia satu tahun. Kami, Greeners 06, yang saat itu baru beberapa hari diangkat sebagai badan pengurus langsung merasa bangga luar biasa telah menjadi bagian dari organisasi ini, yang kelak mungkin jadi organisasi besar nantinya.

3. Pelantikan Greeners 07

100_1846Ini adalah salah satu momen spesial bagi U-Green, karena inilah untuk pertama kalinya U-Green mengadakan pelantikan untuk anggota barunya di luar kampus. Kelinci percobaan yang pertama adalah para anggota angkatan 2007, yang akan dilantik sebagai Greeners 07.

Atmosfer di acara ini yang dibangun oleh panitia dan Badan Pengurus pertama, yang mayoritas Greeners 04, sangat pas untuk sebuah organisasi yang baru saja lahir. Unsur kekeluargaan dan kesederhanaan masih sangat terasa dibalik kemasan yang diusahakan tetap serius dan (sedikit) mencekam.

Ada 48 orang yang dilantik pada acara itu. Dimana ternyata selain mahasiswa baru angkatan 2007, ada juga mahasiswa lama angkatan 2005 dan 2006 (2 orang merupakan teman saya dari Teknik Kelautan 2006.hehe) yang ikut prosesi pelantikan ini. Ini adalah bukti bahwa keberagaman U-Green menjadi salah satu kekayaan U-Green. Tiga angkatan mahasiswa dan terdiri dari berbagai jurusan ternyata bisa disatukan dalam nama Greeners 07!

Oiya, foto di atas itu ceritanya salah satu oknum berinisial A*n (Elektro 07) sedang dihukum untuk melakukan push up satu jari.hehe. Di samping kirinya, oknum lain berinisial Jij* (Teknik Lingkungan 07) berusaha mati-matian menahan tawa melihat kawannya itu.haha.

4. Syukwis perdana U-Green

CIMG4640Seinget saya, inilah syukuran wisuda perdana yang diadakan U-Green untuk anggotanya. Saat itu yang diwisuda adalah para Greeners 04. Yang difoto ada Hannifa Fitria, Della Kemalasari dan Karlin Indraswari, ketiganya dari jurusan Biologi 04 dan mantan badan pengurus yang pertama.

Suasana syukwis disini sangatlah sederhana, bahkan boleh dibilang ala kadarnya. Coba lihat kue yang ada di tengah itu, itu adalah hasil racikan anak-anak Greeners 07 dan 08, dengan menumpuk roti dikasi mentega dan mesis dan dikasi potongan jeruk di atasnya. Tapi meskipun sangat sederhana, acara ini tetap menjadi spesial bagi para wisudawan. Bahkan saya melihat raut wajah yang terharu bahagia dari Nifa, Dela dan Karlin atas acara syukwis ini.

Ya, tanpa disadari, hal-hal sederhana seperti inilah yang menjadikan U-Green menjadi organisasi besar.

5. Dewa(n) Penasihat

CIMG2387Setelah kami, Greeners 06, resmi lengser sebagai Badan Pengurus periode 2007-2009, kami membentuk badan baru yang berfungsi sebagai penasihat bagi badan pengurus yang baru, yang kami beri nama Dewan Penasihat (DP). DP ini diketuai oleh Mifta Ardianti Safitri (Teknik Lingkungan 06), dimana dia memimpin dengan tangan besi. Lihat saja, baru resmi diperkenalkan kepada anggota, dia sudah nyuruh Dirga Rochman (Teknik Sipil 06) untuk jalan jongkok, nyuruh M. Fariz (Teknik Lingkungan 06) untuk push-up, dan nyuruh Shinta Putri Andansari (Farmasi 06) untuk berlutut!hahaha..

Yang di atas itu becanda ya. hehe. Intinya, kami Greeners 06 tetap ada untuk U-Green meskipun sudah tidak menjadi badan pengurus lagi. Kali ini kami membalutnya dengan kemasan Dewan Penasihat. Ya meskipun kami lebih banyak hura-huranya, tapi kami berhasil membuat amandemen AD ART U-Green yang sangat komprehensif.

Pada dasarnya, pembentukan DP adalah bentuk aktualisasi kepedulian kami, Greeners 06, terhadap U-Green. Karena kami masih ingin berbuat “sesuatu” untuk organisasi yang telah menyatukan kami bersama sebagai satu keluarga.

6. Kekeluargaan dalam kesederhanaan

1937310_1198561253921_4215235_nNah, ini bukan foto penampungan gelandangan dan anak-anak terlantar ya.hehe. Ini adalah acara buka bareng sekaligus perayaan ulang tahun U-Green yang ke-3, yang diadakan oleh Badan Pengurus 2009-2010 yang diketuai oleh Vera Yulia Rachmawaty (Teknik Metalurghi 07).

Sekre U-Green memang sangat kecil, sehingga tidak akan bisa menampung seluruh anggota bila ada acara semacam ini. Alhasil, berbagai tempat bisa kami sulap menjadi venue acara, dan untuk kali ini terowongan Sunken Court yang menjadi korbannya.hehe.

Meskipun dengan venue yang dibilang seadanya dan hanya beratapkan langit malam, kami semua menikmati acara ini. Lihatlah bagaimana kami semua hikmat menikmati nasi kuning dari tumpeng ulang tahun U-Green. Makan dengan tangan langsung, tanpa sendok, dan bahkan sepiring berdua atau malah sepiring banyakan. Disinilah unsur kekeluargaan menjadi sangat terasa di organisasi ini. 🙂

7. Pak Mamid

20120902_164223Foto di atas bukanlah pertemuan orang tua murid di taman kanak-kanak, melainkan perayaan ulang tahun U-Green yang ke-6, yang kebetulan memang dirayakan di sebuah taman kanak-kanak.hehe.

Nah, sosok yang lagi berdiri itu adalah Pak Mamid, Dr. Ahmad Sjarmidi nama lengkapnya, dosen pembimbing U-Green, yang akan dicari mati-matian oleh ketua U-Green saat ingin minta tanda tangannya untuk keperluan proposal acara.haha.

Konon katanya, beliau dulu adalah salah satu aktivis mahasiswa garis keras. Harusnya dulu beliau ada dalam daftar black list alumni ITB yang tidak bisa jadi dosen ITB, tapi entah gimana ceritanya beliau lolos dari black list itu. Dan sekarang beliau malah jadi salah satu ahli konservasi di Indonesia. Nah, karena mantan aktivis tersebut itulah beliau juga menjadi pembimbing unit PSIK (Perkumpulan Studi Ilmu Kemasyarakatan), unit yang cukup melegenda di ITB karena didirkan oleh Wimar Witoelar dan Sarwono Kusumaatmadja. Jadi boleh dibilang, saat masa saya mahasiswa, U-Green dan PSIK itu seperti saudara seperanakan. (apa coba ini..haha).

Bagi saya, beliau adalah mentor pertama saya dalam hal beraktifitas di kampus. Banyak hal-hal mendasar dalam berorganisasi dan kepemimpinan yang saya pelajari dari beliau. Saya masih ingat betul dua pertanyaan yang beliau lontarkan ketika pertemuan pertama saya dengan beliau.

Jadi menurut kamu, U-Green itu apa?“, “Yang membedakan U-Green dengan organisasi lingkungan yang lain itu apa?“. Dua pertanyaan inilah yang akhirnya menjadi guide saya dalam memimpin U-Green.

Pernah suatu ketika, saya bingung bagaimana caranya untuk membangun sebuah tim yang solid, lalu beliau memberi saran, “Coba kamu atur satu waktu, yang semua badan pengurus kamu bisa, lalu ajak mereka ke suatu tempat, nginep bareng, ngobrol, atau melakukan apapun yang tidak terkait organisasi“. Setelah saya mengikuti saran beliau, akhirnya saya sadar, ternyata sangat penting untuk mempererat kedekatan secara emosional antara sesama badan pengurus. Karena inilah yang menjadi awal pembentukan sebuah tim yang solid. Terima kasih banyak Pak Mamid!

8. Kembang api

206626_1994827468915_924996_nFoto di atas memang ga terlalu jelas, hanya terlihat percikan kembang api dan 2 sosok wanita, tapi sebenernya itu ada satu orang lagi di sebelah kiri, yaitu saya. Apa mau dikata, karna kulit hitam, jadi saya tidak terlihat.haha.

Ceritanya ini terjadi pas menjelang wisudaan April 2011, Badan Pengurus U-Green saat itu berinisiatif untuk mengadakan syukuran wisuda, sama seperti periode-periode sebelumnya, tentu saja dengan konsep yang ala kadarnya, karena jumlah anggota U-Green yang diwisuda setiap periodenya memang tidak terlalu banyak. Nah, beberapa hari sebelum acara syukwis, panitia yang diwakili Egie (Gilang Putri Suryani -Farmasi 08) dan Ardhy (Ardhyan Seto Prabowo – Elektro 08) datang ke saya untuk menanyakan request yang diminta wisudawan.

Ka, untuk syukwis nanti ada request ga, mau ditambahin apa gitu?

Lalu saya menjawab dengan seenaknya, “Saya mau kembang api!” (Kembang api disini adalah kembang api yang biasa digunakan di acara-acara besar, yang ditembakan ke langit itu)

Mendengar itu, mereka berdua langsung lemes, “Yah Ka, itu kan mahal. Budget kita ga ada.”

Saya tahu, harganya memang mahal, jadi ga mungkin syukwis U-Green ada yang begituan. “Hehe..iya saya becanda qo. Kami mah apa aja, udah dirayain sama kalian aja kami udah seneng qo ” jawab saya sambil tersenyum.

Setelah itu saya tidak berpikir apa-apa lagi perihal acara syukwis. Namun tiba-tiba pas acara, kami semua para wisudawan dikejutkan dengan persembahan spesial di akhir acara berupa kembang api! Kembang apinya memang yang skala kecil sih, yang cuma menyembur sekitar satu meter, dan kembang api yang dipegang (seperti yang difoto). Tapi entah kenapa saya merasa ini sangatlah spesial.

Di akhir acara Egie dan Ardhy bilang ke saya, “Kemarin kan Ka Burhan request kembang api, jadi ya kami persembahkan ini buat syukwis kali ini“.

Seketika itu juga saya terharu, dan tanpa disadari malah sempat menitikkan air mata. Terima kasih ya Egie, Ardhy, panitia dan tentu saja U-Green! Kalian telah sukses memberi kenangan indah di akhir masa saya di kampus Ganesha.

Sekali lagi,

Selamat Ulang tahun Sang Hijau! Semoga api semangatmu terus membara untuk menyebarkan virus-virus cinta lingkungan! Dan semoga engkau terus tumbuh mejadi organisasi yang semakin dewasa, yang siap melompat lebih tinggi dan terbang lebih jauh!

Salam hangat dari tempat yang jauh disana..

Antara Alun-alun dan Centrum

(Bagian ke-3 dari tulisan Negeri di bawah laut, baca juga bagian 1 dan bagian 2 )

Tentang City Centrum

Bagi yang pernah berkunjung atau tinggal di Eropa, tentunya tidak asing dengan istilah City Center, Square atau Centrum. Yang terakhir adalah istilah yang biasa digunakan di negeri yang sedang saya tinggali sekarang. Entah kenapa, saat pertama kali menginjakkan kaki di negeri ini, saya sangat tertarik dengan konsep Centrum. Dan entah kenapa saya malah berpikir bahwa sebenarnya ini tidaklah jauh berbeda dengan konsep alun-alun yang ada di Indonesia.

Delft Centrum dilihat dari atas

Delft Centrum dilihat dari atas

Centrum atau City Center sendiri tidak lain dan tidak bukan adalah pusat kota. Tapi ini ya memang benar pusat kota, bukanlah sebuah istilah semata. Karena memang benar ini menjadi tempat berkumpulnya seluruh penduduk, dan segala aktivitas yang melibatkan banyak orang. Jadi bila anda menjadi turis di salah satu kota di negeri ini dan tidak tahu objek wisata yang harus dikunjungi, anda tinggal tanya saja dimana Centrum-nya, niscaya anda bisa menemukan banyak hal disitu. Dan biasanya, objek-objek wisatanya juga tidak terlalu jauh dari Centrum, masih bisa dijangkau dengan berjalan kaki.

Centrum di negeri ini sangatlah identik antara satu kota dan kota lainnya. Yang sudah pasti anda temui di lokasi ini adalah gereja dan lapangan, yang biasa digunakan untuk berbagai macam aktivitas. Yang lainnya tentunya ada city hall, toko souvenir, museum, cafe & restaurant, hotel dan objek wisata lainnya. Centrum juga biasanya (rasanya hampir semua sih) dekat dengan stasiun kereta utama, sehingga memudahkan orang-orang dari luar kota untuk mencapai lokasi ini.

Nah, ketika hari Sabtu, penduduk akan berbondong-bondong datang ke Centrum dengan berjalan kaki atau naik sepeda, sangat jarang yang membawa mobil pribadi (karena memang disini mobil pribadi memang sangat sedikit), untuk sekedar berjalan-jalan, berbelanja, berbincang di cafe & restaurant, berjemur (bila musim panas), atau menikmati sajian acara (bila memang ada acara, semisal musik atau semacamnya). Kakek, nenek, bapak, ibu, remaja, ABG, anak-anak, hingga orang berkursi roda akan berkumpul semua disini.

C360_2014-06-01-14-22-50-519

Warga Delft menikmuti hiburan gratis, tua muda anak-anak hingga orang berkursi roda berkumpul menikmati bersama

Salah satu yang menarik di negeri ini adalah jarang sekali anda temui bangunan yang disebut “mall” atau malah hampir tidak ada. Kalau di Indonesia, mall biasanya sangat identik dengan pusat orang berkumpul, setiap kota pasti wajib memilikinya. Bila tidak punya, sudah pasti kota tersebut akan berganti status menjadi kampung.hehe. Nah, karena tidak adanya mall, disini toko-tokonya itu tersebar di bangunan-bangunan kecil (mirip dengan ruko, tapi ya cuma buat toko, tidak untuk ditinggali) yang mengelilingi Centrum. Jadi orang-orang yang ingin berbelanja akan “dipaksa” untuk rajin jalan kaki. Karena tentu saja jangkauan jarak toko-tokonya lumayan jauh. Tidak seperti toko-toko di mall di Indonesia yang jangkaunnya dekat, dibuat bertingkat, ada eskalator dan lift pula.

compile 1

Lapangan di Centrum digunakan untuk berbagai macam kegiatan: a) Acara karnaval tahunan, b) tes mobil buatan badan research di Delft, c) kompetisi marching band, d) pembuatan jembatan dari krat bir oleh mahasiswa TU Delft.

Lapangan di Centrum digunakan untuk berbagai macam kegiatan: e) Pertunjukan musik dari anak-anak, f) Orchestra mini, g) pasar tradisional (setiap kamis dan sabtu), h) pameran patung.

Lapangan di Centrum digunakan untuk berbagai macam kegiatan: e) Pertunjukan musik dari anak-anak, f) Orchestra mini, g) pasar tradisional (setiap kamis dan sabtu), h) pameran patung.

Intinya, Centrum ini adalah jantungnya sebuah kota. Mungkin banyak yang bilang bahwa orang barat terkesan sangat individualis. Tapi bila anda melihat bagaimana mereka berinteraksi di Centrum, anda akan melihat sisi lain dari orang-orang barat ini. Sisi lain yang mungkin menurut saya lebih “sosial” dan manusiawi ketimbang orang-orang di Indonesia jaman sekarang. Konsep ruang terbuka publik membuat mereka setara, tidak ada perbedaan, karena mereka menatap langit yang sama dan menghirup udara yang sama.

Bagaimana dengan alun-alun?

Entah kenapa, saya merasa bahwa sebenarnya dulu kita sudah kenal dengan konsep Centrum ini, yaitu Alun-alun. Bagi yang kotanya punya alun-alun, saya berani jamin, dua elemen yang sudah pasti ada di alun-alun itu adalah masjid dan lapangan. Ini tentunya sama dengan Centrum disini, dimana masjid diganti dengan gereja. Kalau anda searching di om google, anda akan mendapati definisi yang kurang lebih sama. Dahulu kala alun-alun memang dirancang sebagai pusat administratif dan sosial budaya bagi penduduk pribumi, dimana meliputi interaksi perdagangan, pertunjukan hiburan ataupun olahraga. Alun-alun merupakan ruang terbuka yang memiliki peranan penting bagi suatu kota, karena disinilah tempat bertemunya masyarakat untuk melakukan kegiatan bersama.

Alun2_(1)Nah, lalu apa kabar alun-alun kita? Khusus daerah Jawa, apakah alun-alun masih menjadi pusat interaksi warganya? Atau malah sudah tergantikan dengan tempat lain yang dijuluki dengan sebutan “mall“? Ketika anda ditanya oleh turis dari negara lain tentang dimana pusat kota anda, apakah anda bisa dengan mudah menjawabnya? Apakah anda masih merujuk alun-alun?

Saya berasal dari Cirebon, dan saya sendiri sudah bingung ketika ditanya dimanakah pusat kota Cirebon. Secara otomatis, saya akan menunjuk mall-mall besar di Cirebon sebagai pusat kota. Dan bahkan saya sudah tidak tahu kabar alun-alun Cirebon, apakah masih berguna atau tidak. Kalaupun di alun-alun tersebut ada acara, rasanya yang datang biasanya dianggap masyarakat kelas bawah, orang kampung katanya. Orang-orang yang ekonominya lumayan, akan memilih untuk menghabiskan waktu weekend-nya “nongkrong” di mall. Rasanya lebih keren dan lebih mengikuti perkembangan jaman gitu. Semakin lama, fungsi mall menjadi sangat penting di sebuah kota. Para investor pun menjadi seperti berlomba-lomba untuk membangun mall-mall baru.

02_activity_city_tour_city_hallMungkin tidak ada yang salah dengan semakin pentingnya peran mall di sebuah kota. Tapi entah kenapa saya merasa mall justru membuat orang-orang menjadi individualis. Mall adalah ruang tertutup, tidak ada lapangan atau ruang terbuka yang bisa bebas digunakan masyarakat untuk berinteraksi. Mall dimiliki oleh individu atau perusahaan tertentu, yang tujuannya tentu bersifat komersil. Untuk masuk ke mall, orang bahkan harus diperiksa dulu barang bawaannya, kali-kali ada yang bawa bom mungkin. Rasanya mall juga seperti membuat kelas-kelas tertentu di masyarakat. Mungkin sebagian dari anda sudah tidak asing bahwa mall-mall terkadang memiliki kelasanya sendiri, ada yang khusus untuk kaum elit (karena harga barangnya mahal-mahal) dan ada yang untuk kaum menengah ke bawah. Semakin lama, konsep alun-alun atau ruang terbuka publik pun sudah tidak dikenal lagi oleh masyarakat Indonesia.

>

Ah, ingin sekali rasanya mendapati kembali konsep “pusat kota” di negeri saya tercinta, Indonesia.
Ingin sekali rasanya menemukan ruang terbuka publik, yang menjadi pusat interaksi warga.
Ingin sekali rasanya konsep alun-alun dikembalikan seperti dulu, menjadi tempat berkumpulnya berbagai kegiatan masyarakat.
Ingin sekali melihat kota-kota di Indonesia dikatakan maju bukan karena jumlah mall-nya, melainkan karena berhasil memanfaatkan ruang terbuka publiknya sebagai pusat kota.
Ingin sekali melihat warga kota berbondong-bondong setiap weekend menuju pusat kota untuk sekedar berinteraksi bersama, menikmati sajian hiburan ala kadarnya.
Ingin sekali melihat tua muda, remaja, anak-anak ataupun yang memiliki keterbatasan fisik berkumpul bersama, menatap langit dan menghirup udara yang sama..
Ah…keinginan ini semua entah kapan bisa terwujud..mungkin hanya sebatas dalam mimpi..

bendera17 Agustus 2014

Dirgahayu Indonesia!

Katanya engkau sudah merdeka 69 tahun, tapi apakah engkau memang benar-benar sudah merdeka?
Ah sudahlah, saya tidak berani untuk menuntutmu, karna toh saya juga belum memberikan apa-apa untukmu..maafkan..

Salam hangat untuk nusantaraku tercinta dari salah seorang pemudamu yang sedang berada di tempat yang jauh