Antara Alun-alun dan Centrum

(Bagian ke-3 dari tulisan Negeri di bawah laut, baca juga bagian 1 dan bagian 2 )

Tentang City Centrum

Bagi yang pernah berkunjung atau tinggal di Eropa, tentunya tidak asing dengan istilah City Center, Square atau Centrum. Yang terakhir adalah istilah yang biasa digunakan di negeri yang sedang saya tinggali sekarang. Entah kenapa, saat pertama kali menginjakkan kaki di negeri ini, saya sangat tertarik dengan konsep Centrum. Dan entah kenapa saya malah berpikir bahwa sebenarnya ini tidaklah jauh berbeda dengan konsep alun-alun yang ada di Indonesia.

Delft Centrum dilihat dari atas

Delft Centrum dilihat dari atas

Centrum atau City Center sendiri tidak lain dan tidak bukan adalah pusat kota. Tapi ini ya memang benar pusat kota, bukanlah sebuah istilah semata. Karena memang benar ini menjadi tempat berkumpulnya seluruh penduduk, dan segala aktivitas yang melibatkan banyak orang. Jadi bila anda menjadi turis di salah satu kota di negeri ini dan tidak tahu objek wisata yang harus dikunjungi, anda tinggal tanya saja dimana Centrum-nya, niscaya anda bisa menemukan banyak hal disitu. Dan biasanya, objek-objek wisatanya juga tidak terlalu jauh dari Centrum, masih bisa dijangkau dengan berjalan kaki.

Centrum di negeri ini sangatlah identik antara satu kota dan kota lainnya. Yang sudah pasti anda temui di lokasi ini adalah gereja dan lapangan, yang biasa digunakan untuk berbagai macam aktivitas. Yang lainnya tentunya ada city hall, toko souvenir, museum, cafe & restaurant, hotel dan objek wisata lainnya. Centrum juga biasanya (rasanya hampir semua sih) dekat dengan stasiun kereta utama, sehingga memudahkan orang-orang dari luar kota untuk mencapai lokasi ini.

Nah, ketika hari Sabtu, penduduk akan berbondong-bondong datang ke Centrum dengan berjalan kaki atau naik sepeda, sangat jarang yang membawa mobil pribadi (karena memang disini mobil pribadi memang sangat sedikit), untuk sekedar berjalan-jalan, berbelanja, berbincang di cafe & restaurant, berjemur (bila musim panas), atau menikmati sajian acara (bila memang ada acara, semisal musik atau semacamnya). Kakek, nenek, bapak, ibu, remaja, ABG, anak-anak, hingga orang berkursi roda akan berkumpul semua disini.

C360_2014-06-01-14-22-50-519

Warga Delft menikmuti hiburan gratis, tua muda anak-anak hingga orang berkursi roda berkumpul menikmati bersama

Salah satu yang menarik di negeri ini adalah jarang sekali anda temui bangunan yang disebut “mall” atau malah hampir tidak ada. Kalau di Indonesia, mall biasanya sangat identik dengan pusat orang berkumpul, setiap kota pasti wajib memilikinya. Bila tidak punya, sudah pasti kota tersebut akan berganti status menjadi kampung.hehe. Nah, karena tidak adanya mall, disini toko-tokonya itu tersebar di bangunan-bangunan kecil (mirip dengan ruko, tapi ya cuma buat toko, tidak untuk ditinggali) yang mengelilingi Centrum. Jadi orang-orang yang ingin berbelanja akan “dipaksa” untuk rajin jalan kaki. Karena tentu saja jangkauan jarak toko-tokonya lumayan jauh. Tidak seperti toko-toko di mall di Indonesia yang jangkaunnya dekat, dibuat bertingkat, ada eskalator dan lift pula.

compile 1

Lapangan di Centrum digunakan untuk berbagai macam kegiatan: a) Acara karnaval tahunan, b) tes mobil buatan badan research di Delft, c) kompetisi marching band, d) pembuatan jembatan dari krat bir oleh mahasiswa TU Delft.

Lapangan di Centrum digunakan untuk berbagai macam kegiatan: e) Pertunjukan musik dari anak-anak, f) Orchestra mini, g) pasar tradisional (setiap kamis dan sabtu), h) pameran patung.

Lapangan di Centrum digunakan untuk berbagai macam kegiatan: e) Pertunjukan musik dari anak-anak, f) Orchestra mini, g) pasar tradisional (setiap kamis dan sabtu), h) pameran patung.

Intinya, Centrum ini adalah jantungnya sebuah kota. Mungkin banyak yang bilang bahwa orang barat terkesan sangat individualis. Tapi bila anda melihat bagaimana mereka berinteraksi di Centrum, anda akan melihat sisi lain dari orang-orang barat ini. Sisi lain yang mungkin menurut saya lebih “sosial” dan manusiawi ketimbang orang-orang di Indonesia jaman sekarang. Konsep ruang terbuka publik membuat mereka setara, tidak ada perbedaan, karena mereka menatap langit yang sama dan menghirup udara yang sama.

Bagaimana dengan alun-alun?

Entah kenapa, saya merasa bahwa sebenarnya dulu kita sudah kenal dengan konsep Centrum ini, yaitu Alun-alun. Bagi yang kotanya punya alun-alun, saya berani jamin, dua elemen yang sudah pasti ada di alun-alun itu adalah masjid dan lapangan. Ini tentunya sama dengan Centrum disini, dimana masjid diganti dengan gereja. Kalau anda searching di om google, anda akan mendapati definisi yang kurang lebih sama. Dahulu kala alun-alun memang dirancang sebagai pusat administratif dan sosial budaya bagi penduduk pribumi, dimana meliputi interaksi perdagangan, pertunjukan hiburan ataupun olahraga. Alun-alun merupakan ruang terbuka yang memiliki peranan penting bagi suatu kota, karena disinilah tempat bertemunya masyarakat untuk melakukan kegiatan bersama.

Alun2_(1)Nah, lalu apa kabar alun-alun kita? Khusus daerah Jawa, apakah alun-alun masih menjadi pusat interaksi warganya? Atau malah sudah tergantikan dengan tempat lain yang dijuluki dengan sebutan “mall“? Ketika anda ditanya oleh turis dari negara lain tentang dimana pusat kota anda, apakah anda bisa dengan mudah menjawabnya? Apakah anda masih merujuk alun-alun?

Saya berasal dari Cirebon, dan saya sendiri sudah bingung ketika ditanya dimanakah pusat kota Cirebon. Secara otomatis, saya akan menunjuk mall-mall besar di Cirebon sebagai pusat kota. Dan bahkan saya sudah tidak tahu kabar alun-alun Cirebon, apakah masih berguna atau tidak. Kalaupun di alun-alun tersebut ada acara, rasanya yang datang biasanya dianggap masyarakat kelas bawah, orang kampung katanya. Orang-orang yang ekonominya lumayan, akan memilih untuk menghabiskan waktu weekend-nya “nongkrong” di mall. Rasanya lebih keren dan lebih mengikuti perkembangan jaman gitu. Semakin lama, fungsi mall menjadi sangat penting di sebuah kota. Para investor pun menjadi seperti berlomba-lomba untuk membangun mall-mall baru.

02_activity_city_tour_city_hallMungkin tidak ada yang salah dengan semakin pentingnya peran mall di sebuah kota. Tapi entah kenapa saya merasa mall justru membuat orang-orang menjadi individualis. Mall adalah ruang tertutup, tidak ada lapangan atau ruang terbuka yang bisa bebas digunakan masyarakat untuk berinteraksi. Mall dimiliki oleh individu atau perusahaan tertentu, yang tujuannya tentu bersifat komersil. Untuk masuk ke mall, orang bahkan harus diperiksa dulu barang bawaannya, kali-kali ada yang bawa bom mungkin. Rasanya mall juga seperti membuat kelas-kelas tertentu di masyarakat. Mungkin sebagian dari anda sudah tidak asing bahwa mall-mall terkadang memiliki kelasanya sendiri, ada yang khusus untuk kaum elit (karena harga barangnya mahal-mahal) dan ada yang untuk kaum menengah ke bawah. Semakin lama, konsep alun-alun atau ruang terbuka publik pun sudah tidak dikenal lagi oleh masyarakat Indonesia.

>

Ah, ingin sekali rasanya mendapati kembali konsep “pusat kota” di negeri saya tercinta, Indonesia.
Ingin sekali rasanya menemukan ruang terbuka publik, yang menjadi pusat interaksi warga.
Ingin sekali rasanya konsep alun-alun dikembalikan seperti dulu, menjadi tempat berkumpulnya berbagai kegiatan masyarakat.
Ingin sekali melihat kota-kota di Indonesia dikatakan maju bukan karena jumlah mall-nya, melainkan karena berhasil memanfaatkan ruang terbuka publiknya sebagai pusat kota.
Ingin sekali melihat warga kota berbondong-bondong setiap weekend menuju pusat kota untuk sekedar berinteraksi bersama, menikmati sajian hiburan ala kadarnya.
Ingin sekali melihat tua muda, remaja, anak-anak ataupun yang memiliki keterbatasan fisik berkumpul bersama, menatap langit dan menghirup udara yang sama..
Ah…keinginan ini semua entah kapan bisa terwujud..mungkin hanya sebatas dalam mimpi..

bendera17 Agustus 2014

Dirgahayu Indonesia!

Katanya engkau sudah merdeka 69 tahun, tapi apakah engkau memang benar-benar sudah merdeka?
Ah sudahlah, saya tidak berani untuk menuntutmu, karna toh saya juga belum memberikan apa-apa untukmu..maafkan..

Salam hangat untuk nusantaraku tercinta dari salah seorang pemudamu yang sedang berada di tempat yang jauh

Advertisements

Negeri di bawah Laut #2

Pernahkah anda bertanya-tanya mengapa kita sering menyebut negara kita sendiri dengan sebutan “tanah air”? Kenapa sih harus tanah dan air? Kenapa bukan api dan angin? Elemen tanah, sebagai tempat berkembangnya suatu peradaban tentunya memang elemen yang sudah pasti ada di suatu negara. Air, kita memang dua per tiga wilayahnya adalah lautan. Angin? Bukannya kita juga punya banyak angin? Nah, kalau api kita representasikan sebagai cahaya matahari, kita juga kan kaya akan sinar matahari. Jadi karena kita kaya akan keempat elemen, harusnya ya sekalian aja kita menyebut negara kita dengan : tanah air api angin – ku. (Ya keleusss!!!!:p)

Nah, balik lagi, kenapa sih harus “tanah air”? Atau lebih tepatnya kenapa “air”? Pasti sebagian dari anda akan berpikir bahwa karena negara kita 2/3 wilayahnya terdiri dari lautan. Tapi sebenarnya arti air dalam sebutan “tanah air” itu tidak hanya merepresentasikan laut kita, tapi juga sungai dan sumber mata air di gunung-gunung Indonesia yang sangat melimpah ruah. Meskipun kita punya lebih dari 17 ribu pulau, tapi rasanya hampir setiap pulau memiliki sumber-sumber mata air. Terlebih lagi 6 pulau besar yang pastinya sangat melimpah sumber mata airnya. Lalu pertanyaannya adalah, apa kabar sungai-sungai kita? Apa kabar sumber-sumber mata air kita? Apakah anda akan mengernyitkan dahi? Nah, lalu saya tanya lagi, seberapa banyak dari anda yang di rumahnya minum dari air galon? Seberapa sering anda membeli air mineral kemasan yang selalu kita sebut dengan aqua? Ah, sudah bisa ditebak jawabannya.

Oke, saya akan sedikit bercerita tentang bagaimana negara yang saya tinggali sekarang ini berhubungan dengan elemen yang bernama air.

Air Minum…

Sesaat ketika saya sampai di tempat kosan saya di kota kecil Delft, salah satu hal pertama yang saya cari adalah dispenser dan galon untuk minum. Mungkin karena terbiasa dulu saat ngekos di Bandung dan Jakarta, yang selalu bergantung dengan benda-benda tersebut. Saya pun lalu bertanya pada senior saya yang sudah lebih dulu tinggal di negeri ini tentang bagaimana mendapatkan galon untuk minum. Lalu dia pun bilang, “Mana ada galon disini, kalau mau minum langsung aja dari kran di wastafel!”

Wastafel di kosan saya yang biasa dipake buat minum :)

Wastafel di kosan saya yang biasa dipake buat minum 🙂

Hah? Wastafel? Sontak saya terkejut. Saya memang pernah diceritakan bahwa di negara-negara maju seperti Singapura, kran-kran di tempat umum bisa langsung untuk diminum. Begitu pula ketika saya kuliah di Bandung, kampus saya memiliki 70 buah water tap untuk air minum, tapi itupun kemudian dihentikan karena katanya pipanya telah terkontaminasi. Saya pun jadi parno, kampus saya yang areanya sangat sempit aja bisa terkontaminasi pipanya, nah ini bagaimana bisa negeri ini memelihara pipa-pipa yang panjangnya mungkin mencapai ratusan ribu kilometer, dan memastikan airnya bisa untuk diminum? Hari pertama di negeri ini pun saya habiskan dengan meminum hanya sekitar dua gelas kecil. Rasanya koq aneh banget gitu minum dari wastafel.

Ketika berbelanja di mini market, saya memang tidak menemukan galon satupun, yang biasanya selalu menghiasi etalase di depan mini market Indonesia. Jangan harap juga menemukan tampat isi ulang air galon, yang di negara kita dapat ditemukan di segala penjuru kota maupun desa. Bahkan cukup sulit juga menemukan air mineral kemasan. Sekalinya ketemu, harganya pun sangat mahal, sekitar 1 euro untuk ukuran 1,5 liter, hampir 10 kali harga di Indonesia (1 euro sekitar Rp 16.000,-). Jadi ga mungkin saya membeli air kemasan untuk minum tiap hari, bisa bangkrut seketika saya.haha. Akhirnya, dengan berat hati saya terpaksa harus membiasakan meminum dari air kran.

water cycleSelidik punya selidik, ternyata pengelolaan air di negeri ini adalah salah satu yang terbaik di Eropa, bahkan mungkin dunia. Mereka menjamin air yang keluar untuk kebutuhan rumah tangga maupun industri sudah bersih dan siap untuk diminum, tidak perlu dimasak dulu seperti kebiasaan di Indonesia. Bahkan sebagian besar masyarakat sini percaya bahwa air minum dari water tap jauh lebih bersih dan sehat ketimbang air minum kemasan. Karena konon katanya sebelum sampai di rumah-rumah, air minum ini telah melalui 20 langkah penyaringan dan melalui proses yang sangat terintegrasi!

Dalam pengelolaannya, banyak institusi yang terlibat di negara ini, total mencapai 466 institusi atau operator. Terdiri dari 430 municipalities (semacam Pemda) yang bertanggung jawab dalam pengumpul air buangan di wilayahnya masing-masing, 26 water boards (institusi pemerintahan) yang bertugas khusus menangani pengelolaan air buangan dan terakhir adalah 10 perusahaan swasta sebagai penyalur air minum ke rumah tangga dan industri. Semua institusi tersebut bekerja sama memastikan water cycle berjalan dengan baik di seluruh penjuru negeri, dimana katanya 100% populasi telah terlayani. Rasanya sebuah angka yang fantastis bila dibandingkan dengan negara saya. Khusus untuk perusahaan penyedia air minum, sekitar tahun 1940an negeri ini memiliki lebih dari 200 perusahaan. Dengan pengawasan dan aturan yang ketat, akhirnya saat ini hanya ada 10 perusahaan saja yang secara profesional menyalurkan air minum ke masyarakat maupun industri.

Kiri: area 26 water boards sebagai pengelola air buangan; Kanan: area 10 perusahaan swasta penyedia air minum

Kiri: area 26 water boards sebagai pengelola air buangan; Kanan: area 10 perusahaan swasta penyedia air minum

Kiri: Jumlah perusahaan penyedia air minum, berkurang drastis dari lebih dari 200 di tahun 1940an, menjadi hanya 10 saja saat ini ; Kanan: Data water production dari tahun 1950-sekarang, lihat bagaimana terperincinya mereka

Kiri: Jumlah perusahaan penyedia air minum, berkurang drastis dari lebih dari 200 di tahun 1940an, menjadi hanya 10 saja saat ini ; Kanan: Data water production dari tahun 1950-sekarang, lihat bagaimana terperincinya mereka

Salah satu efek dari bagusnya pengelolaan air minum tersebut adalah berkurangnya konsumsi air minum kemasan, dimana hanya 21.6 liter per orang per tahun saja konsumsi dari masyarakat negeri kincir angin ini. Coba bandingkan dengan tetangganya Jerman yang mencapai 160 liter/orang, rata-rata konsumsi Eropa sendiri adalah 104 liter/orang. Bila dikalikan jumlah penduduk negeri ini, maka total konsumsinya adalah sekitar 358 juta liter per tahun. Mau coba bandingkan dengan Indonesia? Jangan teriak ya, konsumsi air minum kemasan masyarakat Indonesia adalah mencapai 22 milyar liter per tahun!

bottled water consumption in litre per person (2009)

bottled water consumption in litre per person (2009)

Air Sungai…

Di lain waktu, saya sedikit dikagetkan dengan nama sebuah mata kuliah yang terdengar cukup asing bagi saya, padahal hampir semua mata kuliah di kampus sekarang merupakan bentuk pengulangan saat saya kuliah di Bandung dulu. Nama mata kuliahnya adalah Salt Intrusion atau Intrusi Air Laut. Rasanya dulu saya memang diajarkan bahwa air tawar akan bertemu dengan air laut ketika berada di muara sungai, keduanya akan bercampur dan kita kenal dengan istilah air payau. Tapi setelah itu ya sudah, tidak ada yang perlu diperhatikan, bukannya itu memang fenomana alam yang memang sudah harusnya terjadi? Ternyata berbeda dengan negara ini, dimana mereka mengganggap hal tersebut sebagai suatu hal yang harus diperhatikan, bahkan mereka berinvestasi cukup besar untuk meneliti bagaimana efek dari pencampuran air laut ini terhadap kemurnian sungai-sungai mereka.

Contoh pemetaan Salt Intrusion (salt: air laut, brakish: air payau, fresh: air tawar)

Contoh pemetaan Salt Intrusion (salt: air laut, brakish: air payau, fresh: air tawar)

Negeri ini memang hanya memiliki tiga sungai utama, yaitu Rhine, Waal dan Ijsell. Oleh karenanya, mereka sangat berharap kemurnian sungai utama dan juga anak sungainya tetap terjaga, kalaupun ada intrusi air laut yang menyebabkan airnya menjadi payau, mereka harus tahu seberapa jauh air sungai itu menjadi payau, dan bagaimana mencari solusi agar intrusinya tidak semakin jauh atau bahkan dikurangi. Hal ini semata-semata agar mereka bisa mempertahankan kuantitas dan kualitas sumber air tawar dari sungai yang mereka miliki, yang tentu saja digunakan untuk kebutuhan masyarakatnya, seperti pertanian, industri maupun air minum.

Lock

Contoh solusi salt intrusion di Lock pelabuhan

Di beberapa lokasi muara sungai, bangsa ini memiliki dam dan lock (pintu air) yang berfungsi menjadi pembatas antara air tawar dan air laut, sehingga salt intrusion bisa dicegah. Namun untuk lock (pintu air) yang biasanya ditempatkan di dekat pelabuhan, salt intrusion akan tetap terjadi bila pintu dibuka akibat kapal yang harus keluar atau masuk pelabuhan. Nah, untuk yang satu ini, para insinyur di negeri ini berlomba-lomba mencari solusi yang paling efektif dan efisien untuk mengurangi sekaligus mencegah penetrasi yang dilakukan oleh air laut di bagian dasar sungai. Salah satu solusi yang dirancang untuk Pelabuhan Amsterdam adalah dengan membuat gelembung udara yang disemprotkan dari dasar sungai ketika lock dibuka.

Mungkin ini sedikit teknis, tapi intinya adalah pemerintah negara ini akan melakukan berbagai macam cara hanya untuk memastikan sumber-sumber air tawar mereka tetap terjaga termasuk dari intrusi air laut yang pada dasarnya merupakan sebuah fenomena alami.

Nah, mari kita bandingkan dengan bangsa kita. Rasanya tidak ada perhatian khusus dari pemerintah terkait tercampurnya sungai-sungai di Indonesia oleh air laut. Coba anda lihat sungai-sungai di Indonesia yang bertemu langsung dengan laut, penduduk sekitarnya sudah tahu bahwa sungai-sungai itu terisi oleh air payau dan menganggap bahwa memang sudah seharusnya seperti itu. Mereka pasrah saja ketika mengkonsumsi air hasil pompa dari bawah tanah yang  rasanya sangat aneh. Bahkan pemerintah pun hanya duduk-duduk manis saja melihat kondisi seperti ini. Mereka justru berlomba-lomba mendatangkan air minum kemasan yang terdiri dari berbagai macam merek hanya untuk memenuhi kebutuhan air minum saja.

Penutup

pola

Hanya sebagian kecil saja yang saya paparkan di atas terkait Water Management di negara ini, masih banyak lagi hal-hal lainnya yang bisa dipelajari. Bila saya tuliskan semua, akan panjang sekali. hehe.

Renée Jones-Bos, duta besar negara ini untuk Amerika pernah memberi pernyataan tentang bagaimana hubungan negaranya dengan elemen bernama air:

  • Sophisticated, integrated water management is the sine qua non of keeping Dutch feet dry.
  • To be Dutch means that you must Live with Water. 
  • Water management is part of Dutch DNA.

Lihatlah poin terakhir, “Pengelolaan Air merupakan bagian dari DNA orang Belanda”! Merinding saya membaca pernyataan ini. Ternyata paradigma pengelolaan air sudah jauh tertanam di pikiran semua orang di negeri ini, khususnya pemerintahnya. Bahkan mereka menyebut bahwa itu sudah merupakan bagian dari DNA mereka! Tidak heran bila mereka akan melakukan apapun untuk bisa menciptakan pengelolaan air yang baik demi kesejahteraan bangsa mereka.

Lalu bagaimana dengan bangsa saya sendiri? Ah, hanya menimbulkan sakit kepala saja rasanya bila membandingkannya. Indonesia memiliki sumber mata air yang berlimpah, tapi justru malah banyak dikuasai oleh perusahaan-perusahaan air minum kemasan. Tercatat terdapat lebih dari 400 perusahaan dan hampir 600 merek yang ada di pasaran. Lalu bagaimana dengan pengelolaan air minum? PDAM menjadi pemain tunggal dalam menyalurkan air minum ke seluruh masyarakat Indonesia, itupun hanya sebagian kecil saja yang bisa dijangkau. Namanya adalah Perusahaan Daerah Air Minum, tapi produknya justru malah tidak bisa langsung diminum (walaupun saya dengar ada beberapa PDAM yang sudah menjamin airnya bisa langsung diminum), dan para pelanggannya justru lebih senang minum dari air galon atau air minum kemasan. Lebih parahnya lagi, pemerintahnya justru duduk-duduk manis saja, bahkan malah sibuk berpolitik, berkampanye partai mereka masing-masing.

Lalu apa makna sebutan “tanah air” untuk negara kita? Apa yang tersisa di DNA bangsa ini?

Ah, ya sudahlah, toh negara kita kan negara kaya. Biarlah sumber mata airnya dikuasai perusahaan swasta, biarlah sungainya tercemar, biarlah setiap hari membeli air minum kemasan, biarlah pengelolaan airnya sangat buruk, biarlah…biarlah….

Indonesia By Apelphotography

——-

Delft, 21 April 2014

oOo

Source:

Water Management in the Netherlands, Rijkswaterstaat: Ministry of Infrastructure and the Environment, 2011.
Dutch Drinking Water Statistics 2012, Association of Dutch Water Companies (Vewin), 2012.
http://dc.the-netherlands.org

 

Negeri di bawah Laut #1

Senin, 14 Oktober 2013, akhirnya saya menginjakan kaki di sebuah negara yang memiliki ikatan sejarah yang cukup erat dengan Indonesia. Ya, sebuah negara yang ketika SD hanya saya tau dari pelajaran sejarah, dimana yang saya ingat dari pelajaran itu adalah tentang politik adu domba, pembangunan jalan Anyer-Panarukan, dan juga tentang VOC. Ya negara ini adalah negara yang konon katanya telah menjajah negara saya selama 350 tahun! Wow, bagaimana bisa kita dijajah oleh satu negara selama itu?

Luas negara ini setara dengan luasan provinsi Jawa Timur atau hanya sekitar 1/3 dari luas Pulau Jawa, tapi bagaimana bisa negara kecil ini menguasai seluruh Nusantara kita, dengan waktu yang cukup lama? Ah, ya sudahlah, toh bangsa kita memang bangsa yang murah hati bukan? Kali ini saya tidak akan mengulas tentang sejarah, tapi saya akan menceritakan sesuatu yang berbeda dari negara ini dibanding negara lain.

Ketika menjadi mahasiswa di Bandung, saya mengenal negara ini sebagai salah satu kiblat dalam bidang coastal engineering. Negara ini memang terkenal dengan dam atau tanggulnya yang melindungi negara ini di sepanjang wilayah pantainya. Selain itu, juga terkenal dengan sistem drainasenya, kanal-kanal yang menyebar di setiap kota, yang bertujuan untuk mencegah banjir. Mau tidak mau, kalau saya ingin memperdalam tentang coastal engineering saya harus pergi ke negara ini suatu saat nanti, pikir saya saat itu.

Nah, mengapa negara ini terkenal dalam hal pembangunan dam atau perencanaan pantainya? Mari kita lihat dari sisi geografisnya, negara ini memiliki kondisi geografis yang sangat unik dibanding negara Eropa lainnya, yaitu sebagian besar wilayah mereka berada di bawah permukaan laut! Menurut wikipedia, 20% wilayahnya atau 21% populasinya berada di bawah permukaan air laut dan 50% tanahnya hanya mempunyai elevasi kurang dari satu meter di atas permukaan air laut. Artinya, negara ini amat sangat rawan dengan bahaya banjir, baik dari laut maupun dari hujan. Ya, ketika Jakarta sempat heboh dengan kenyataan bahwa tanah mereka turun setiap tahun, dan akan berada di bawah permukaan laut suatu saat nanti, kota-kota besar di negara ini seperti Amsterdam dan Rotterdam justru memang sudah berada di bawah permukaan laut sejak puluhan ratusan tahun lalu, atau bahkan sejak kota ini baru dibangun!

Nederland_overstromingsgevaarlondo

Peta dan ilustrasi di samping menunjukkan wilayah mana saja yang berada di bawah permukaan air laut (warna biru tua). Amsterdam sebagai ibu kota berada di 4 meter di bawah permukaan air laut, dan titik terendah adalah di Alexander Polder yaitu 6 meter di bawah permukaan air laut. Lalu bagaimana bisa kota-kota tersebut bisa tetap eksis tanpa tenggelam karena berada di bawah permukaan air laut? Ya, kuncinya adalah di pembangunan tanggul dan kanal-kanalnya.

Dam atau tanggul atau biasa disebut juga dikes telah dibangun sejak awal abad ke-12 secara tradisional. Saat itu tujuannya untuk mengeringkan lahan agar bisa dipakai untuk bercocok tanam. Lalu pada abad 17 dan 18 mulai dibangunlah tanggul yang lebih modern di sepanjang pantai. Pada Februari 1953, sebuah bencana besar terjadi di negara ini dan beberapa negara Eropa lainnya, yaitu berupa banjir akibat gelombang air laut yang sangat besar. Gelombang air laut ini membuat tanggul yang melindungi wilayah pantai negara ini hancur sehingga memporakporandakan wilayah pesisirnya. Hampir sekitar 2000 orang tewas akibat bencana tersebut. Sejak saat itu, pemerintah negara ini berjanji kepada seluruh bangsanya untuk membangun sebuah infrastruktur yang sangat hebat untuk melindungi wilayahnya agar bencana tahun 1953 tidak terulang lagi.

Maka, dapat kita lihat bagaimana tanggul yang telah dibangun di negara ini sekarang. Total panjang tanggul di negara ini yang membentang dari ujung Utara sampai Selatan adalah sekitar 3000 km! Dengan dua proyek pembangunan tanggul yang terkenal adalah Delta Works dan Zuiderzee Works, dua proyek tersebut oleh American Society of Civil Engineering dimasukkan ke dalam The Seven Wonders of the Modern World, setara dengan Panama Canal, Empire State Buliding, Golden Gate Bridge dan Channel Tunnel.

delta

Nah, selain membangun tanggul untuk melindungi wilayahnya dari bahaya gelombang laut, negara ini juga membangun sistem drainase yang sangat hebat, yaitu yang lebih sering disebut dengan kanal, untuk mencegah banjir bila hujan datang dan juga untuk tetap mendapatkan cukup air tawar untuk digunakan berbagai kegiatan. Mari kita lihat peta kota Amsterdam di bawah ini. Anda akan melihat sebuah pola dengan warna biru yang cukup unik, ya, itulah kanal-kanal yang ada di Amsterdam. Kota ini sendiri tercatat memiliki 165 kanal dengan total panjang kanal hampir 100 km, terdapat sekitar 90 pulau kecil dan 1500 jembatan! Perlu anda tahu juga, umur kanal-kanal tersebut mencapai 400 tahun! Kanal-kanal di Amsterdam tersebut telah dimasukkan sebagai UNESCO World Heritage List.

amsterdam_map

Tidak hanya Amsterdam, tetapi kota-kota lain seperti Delft, Alkmaar, Utrecht, Dordrecht, Leiden, Groningen, Leeuwarden dan Amersfoort juga memiliki pola-pola kanal yang serupa. Maka jangan heran bahwa bencana banjir akibat curah hujan yang deras hampir tidak pernah terjadi di negara ini. Coba anda bandingkan dengan Jakarta?! Baru hujan semalaman saja sudah membuat lumpuh semua aktivitas masyarakatnya.

Ah, rasanya hanya akan membuat pening kepala saja bila membandingkan negara ini dengan tanah kelahiran saya. Masih banyak lagi hal-hal yang dapat dipelajari di negara ini yang akan membuat kita mengambil kesimpulan bahwa Indonesia sudah tertinggal 20 atau 30 tahun dari negara ini, tapi saya akan menutup tulisan bagian pertama ini dengan sebuah adagium yang terkenal di negara ini. Mungkin adagium inilah yang menjadi salah satu faktor penyemangat mengapa bangsa ini bisa menjadi bangsa yang maju.

“God heeft de wereld geschapen behalve Nederland, want dat hebben de Netherlanders zelf gedaan.
-Tuhan telah menciptakan dunia kecuali negeri Belanda, sebab bangsa Belanda sendirilah yang melakukannya-”

………………………………..

Delft, 12 Februari 2014