Mari ke laut beramai-ramai!

Tentang mars anak Kelautan

Ah, tiba-tiba saja saya teringat salah satu mars yang paling sering saya dengar dan kumandangkan saat kuliah di Bandung dulu..

Jaya KMKL ITB

Bangunlah KMKL ITB
Bersama kita melangkah maju ke depan
Bulatkan tekadmu untuk membangun Negara Indonesia

Di laut kita jaya
Di darat kaya raya
Semoga kalau mati masuk surga

Singkirkan penghalang
Wujudkan impian
Pantang menyerah

Lihatlah karya kami di lautan
Berdiri kokoh tegap melawan gelombang
Layaknya kami menghadapi semua rintangan

Jaya KMKL ITB!

205723_1916061911254_5943159_n

Mars KMKL dikumandangkan saat Wisuda April 2011 (KMKL = Keluarga Mahasiswa Teknik Kelautan)

Dari semua lirik yang ada di mars tersebut, ada tiga kalimat yang rasanya akan selalu terngiang-ngiang di kepala setiap anggota KMKL dan alumninya. Tiga kalimat tersebut adalah:

“Di laut kita jaya
Di darat kaya raya
Semoga kalau mati masuk surga”

Terkadang bagian lirik ini membuat orang-orang yang mendengarnya menjadi tergelitik. Terutama saat kalimat “Semoga kalau mati masuk surga”. hehe. Saya sendiri sampai saat ini belum sempat berdiskusi dengan pencipta mars KMKL ini, tentang mengapa liriknya seperti itu. Tapi saya mencoba merenungi, mengapa kalimat “di laut kita jaya” ditempatkan di awal? Mungkin saja maksudnya adalah agar alumni teknik kelautan menempatkan tujuan kejayaan laut Indonesia sebagai prioritas utama, bukannya memperkaya diri.

Hal menarik lainnya adalah: kaya raya dan mati masuk surga adalah harapan yang sifatnya pribadi untuk diri sendiri, dan ternyata ditempatkan bukan sebagai prioritas utama. Sedangkan yang ditempatkan pertama adalah impian jaya di lautan yang rasanya adalah sebuah impian bersama, impian sebuah bangsa mungkin. Jadi, rasanya mars KMKL sudahlah sangat tepat dalam menggambarkan tujuannya untuk Indonesia, permasalahannya adalah, sudah sejauh apa usaha untuk mewujudkan tujuan tersebut?

Diskusi tentang maritim di sebuah kota kecil

Kopi Delft

Iklan KOPI Delft

Beberapa waktu yang lalu, PPI Delft mengadakan acara rutin Kolokium PPI Delft (KOPI Delft), dimana salah satu topik yang dibahas adalah tentang dunia maritim, yang salah satu fokusnya adalah tentang program Pendulum Nusantara. Tidak disangka, antusiasme mahasiswa Indonesia yang kuliah di Delft sangat tinggi terhadap tema ini. Tidak kurang dari 50 orang hadir, dan konon katanya ini adalah rekor partisipasi terbanyak dalam kegiatan KOPI Delft.

Bahkan, ada dua orang senior yang sudah lama tinggal di Belanda yang turut hadir di acara tersebut. Pak Gerard Pichel, yang mengaku asli Makasar, khusus datang ke kampus UNESCO-IHE dari tempat tinggalnya yang berjarak 110 km dari Delft untuk berpartisipasi di acara KOPI Delft dengan tema maritim tersebut.

You tau, itu poros maritim is my dream juga. Makanya saya tertarik datang kesini. Saya senang sekali berdiskusi dengan student Indonesia disini,” komentar Pak Gerard, yang sudah dari tahun 1965 tinggal di Belanda. Satu orang lainnya adalah Pak Roy Hilman, satu angkatan dengan Pak Gerard, yang tidak kalah bersemangatnya juga membahas tentang dunia kelautan Indonesia, padahal beliau sudah bertahun-tahun tidak pulang ke kampung halamannya.

Ketika berdiskusi dengan dua sosok senior ini entah kenapa badan saya merinding. Mereka yang sudah begitu lama meninggalkan Indonesia saja masih memikirkan dan memiliki mimpi besar tentang dunia maritim Indonesia. Lalu bagaimana dengan kita, pemuda pemudi yang sepanjang usianya dihabiskan di tanah air nusantara? Malu rasanya bila kita tidak memberi sedikit ruang di pikiran kita tentang masa depan dunia maritim Indonesia.

Acara KOPI Delft itu sendiri rasanya seperti menjadi sebuah momentum bagi warga PPI Delft yang tertarik di bidang maritim. Bagi yang belum tahu tentang kondisi terkini transportasi laut di Indonesia, akhirnya menjadi tahu. Bagi yang sudah tahu, akhirnya saling terkoneksi satu sama lain. Bahkan setelah satu tahun saya tinggal di Delft, saya baru tahu bahwa ternyata cukup banyak mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh program master dan doktoralnya di bidang logistik, transportasi laut dan kepelabuhanan di Delft. Pada akhirnya saya pribadi sangat bersyukur bisa terlibat di acara KOPI Delft itu.

IMG-20141023-WA0003

Suasana KOPI Delft

Masalah kemaritiman Indonesia memang sangat ruwet, ibaratnya seperti benang kusut. Meskipun kita selalu bilang Nenek moyangku seorang Pelaut, nyatanya kita malah semakin jauh dengan “laut”. Hafida Fahmiasari, salah seorang pelajar Delft yang juga konsern di bidang ini pun pernah berkomentar:”Pelaut yang dahulu gagah ternyata sekarang mulai menjauh dari air, entah lupa atau memang sudah takut dengan air.”

Tapi entah kenapa, setelah melihat antusiasme para pelajar Indonesia di Delft berdiskusi tentang dunia maritim, saya merasa bukan hal yang mustahil untuk meluruskan benang-benang kusut tersebut. Beberapa diantara kami bersepakat untuk membuat diskusi lanjutan terkait permasalahan transportasi laut dan kepelabuhanan. Tentunya ini sebagai bentuk usaha kecil kami untuk berkontribusi kepada nusantara, mewujudkan sebuah mimpi untuk membuat Indonesia kembali jaya di lautan. Mungkin boleh dibilang diskusi bukanlah sebuah solusi nyata untuk mengatasi suatu permasalahan. Tapi bukankah kemerdekaan Indonesia juga tidak lepas dari hasil diskusi para pelajarnya?

Mari ke laut beramai-ramai

nenk moyangku orang pelautTerlepas dari pemerintahan baru yang kelihatannya akan memprioritaskan bidang maritim, rasanya memang sudah saatnya bangsa Indonesia lebih dekat dengan laut. Jangan lagi menganggap laut sebagai pemisah, karena laut justru adalah penghubung. Jangan lagi mengkambinghitamkan laut sebagai biang keladi kesenjangan kemakmuran, karena harusnya laut adalah sebuah potensi untuk memajukan ekonomi di seluruh penjuru nusantara.

Jangan lagi mengkonotasikan laut sebagai istilah negatif, apalagi mengasosiasikan laut sebagai tempat pembuangan cewek matre, seperti yang group rap Neo bilang: “Cewek matre cewek matre, ke laut aje!” :p

Sudah saatnya sekarang kita semua bergerak demi kejayaan lautan nusantara. Seperti lirik terakhir lagu Nenek Moyangku seorang pelaut: “Pemuda berani bangkit sekarang, ke laut kita beramai-ramai“.

Jadi, mari kita ke laut beramai-ramai! 😀

Delft, 23 Oktober 2014

Advertisements

Apa sih Pendulum Nusantara itu?

Tol laut = Pendulum Nusantara

Beberapa hari belakangan ini saya menemukan beberapa diskusi di social media terkait program “tol laut” yang diutarakan oleh salah satu capres ketika acara debat 15 Juni kemarin. Namun sayangnya sebagian besar yang membahas ini tidak terlalu tahu apa itu program “tol laut”, sehingga isi dari diskusinya jauh dari pembahasan esensi program, tapi hanya jadi debat dua kubu pendukung capres.

Jujur saja, saya bukan pendukung salah satu capres. Dan saya juga tidak tertarik untuk berbicara politik dan berdebat mana capres yang lebih baik. Saya tidak peduli siapa yang menyebutkan program “tol laut ” ini untuk dijadikan salah satu program unggulan atau media kampanyenya. Tapi ketika esensi program ini menjadi blur hanya karena perdebatan antara dua kubu, saya jadi agak gatel untuk mencoba memberi penjelasan dari sudut pandang saya.

“Tol laut” yang disebutkan salah satu capres, rasanya tidak lain dan tidak bukan adalah program Pendulum Nusantara yang dicetuskan oleh perusahaan tempat saya bekerja, melalui CEO kami, R.J. Lino. Dan kalau memang benar tol laut = pendulum nusantara, berarti ini bukanlah sebuah ide baru dari salah satu capres, melainkan sebuah program yang inisiasinya sudah lebih dari setahun yang lalu dan saat ini sedang dalam proses pelaksanaan. Nah, kali ini saya akan mencoba memberi sedikit pemahaman tentang program yang disebut salah satu capres dengan istilah “tol laut” itu. Oiya, satu yang pasti, istilah tol laut bukanlah membangun jalan tol di atas laut ya! hehe..

Apa sih biaya logistik itu? Kenapa disebut biaya logistik Indonesia tinggi?

Sebelum menjelaskan tentang Pendulum Nusantara, ada baiknya saya beri sedikit gambaran tentang latar belakang program tersebut dicetuskan.

Mungkin sebagian dari anda pernah dengar, atau bahkan mungkin mengalaminya, bahwa beberapa barang tertentu di Indonesia bagian timur harganya jauh lebih mahal dibanding daerah di Indonesia bagian barat. Misalnya harga semen di Pulau Jawa sekitar Rp 70 ribu, tapi di Papua malah mungkin mencapai Rp 1 juta. Atau mungkin beberapa harga bahan pokok, yang memperlihatkan sebuah ketimpangan. Di bawah ini ada sedikit perbandingan data tentang ongkos kirim satu kontainer dari Jakarta ke beberapa kota. Dapat dilihat bahwa ongkos kirim ke Hamburg yang jaraknya 11.000 km ternyata lebih murah daripada ke Padang yang jaraknya hanya 1.000 km.

logistikOngkos yang mahal inilah yang akhirnya menyebabkan harga barang menjadi lebih tinggi daripada seharusnya. Inilah yang disebut biaya logistik, dan kenyataannya biaya logistik nasional itu memang tinggi. Kenapa ini bisa terjadi? Penyebabnya sangat banyak, bisa jadi satu tesis sendiri untuk membahasnya.hehe.

Nah, mari kita fokus kenapa harga barang di Indonesia bagian timur lebih mahal ketimbang di bagian barat. Coba perhatikan peta arus perdagangan domestik di bawah ini, ketebalan garis mencerminkan magnitude perdagangan. Dapat dilihat bahwa arus perdagangan di Indonesia ternyata sangat timpang, dominan di bagian barat, dan sangat kecil di bagian timur, seperti Papua, Maluku, dsb.

trade flow

Kondisi geografis di Indonesia mungkin salah satu yang paling unik di dunia, karena terdiri dari banyak pulau. Untuk mengangkut suatu barang dari satu tempat ke tempat lain, tentunya akan menjadi bergantung terhadap transportasi laut, karena transportasi laut ini memang yang paling murah dalam pengangkutan barang. Ga mungkin kan ngangkut semen dari Jakarta ke Ambon make pesawat terbang? hehe. (eh, bisa aja sih, pake pesawat Hercules, kalau lagi ada bencana. heu )

Nah, dalam prosesnya, pengangkutan barang ini sudah memiliki jalurnya sendiri. Mirip seperti jalur bus atau angkot. Saya analogikan sebagai berikut:

Sebuah bus jurusan Jakarta-Cirebon, akan mulai berangkat dari Jakarta mengangkut penumpang dan kemudian berhenti di terminal akhir di Cirebon. Setelah berhenti di Cirebon, bus yang sama tersebut tentunya akan mulai jalan kembali, dengan jalur yang terbalik, menjadi Cirebon-Jakarta. Pengusaha bus akan untung besar apabila dari satu bus ini berhasil mengangkut banyak penumpang, baik ketika berangkat dari Jakarta, ataupun ketika jalan lagi dari Cirebon. Lalu bagaimana jika ketika dari Jakarta cukup banyak penumpang, tapi saat berangkat dari Cirebon malah ga ada penumpang yang ikut? Tentunya bus tersebut bisa merugi. Lalu kemudian cara agar tidak merugi salah satunya adalah dengan menaikan harga tiket.

Nah, analogi di atas sama dengan sistem transportasi barang. Sebuah kapal berangkat dari Pelabuhan Tanjung Priok menuju Pelabuhan Sorong (Papua) mengangkut berbagai macam kebutuhan pokok, kapal terisi penuh. Tapi ketika sudah sampai di Papua dan akan kembali lagi, ternyata tidak ada atau sangat sedikit barang yang diangkut kapal tersebut. Alhasil, pengusaha kapal pun merugi, sehingga satu-satunya jalan agar tidak merugi adalah menaikan ongkos angkut barangnya. Ketika ongkos angkut barang dinaikan, tentunya akan mengakibatkan harga barang yang dikirim tersebut menjadi lebih mahal ketika dijual. Itulah kenapa akhirnya harga barang-barang di Papua atau daerah timur lainnya menjadi lebih mahal.

Pertanyaan berikutnya adalah, kenapa bisa tidak ada barang lagi yang diangkut oleh kapal dari Papua? Hal ini terjadi karena hampir tidak ada industri disana. Disana memang memiliki beberapa pertambangan, tapi hasil-hasil tambang tersebut jarang dikirim melalui pelabuhan umum. Bahkan tambang seperti Freeport sudah memiliki pelabuhan dan kapal sendiri untuk mengangkut emas-emas yang dihasilkan dari tanah Papua untuk dilarikan langsung ke luar negeri.

Karena tidak ada jumlah barang yang setimpal yang bisa diangkut kembali dari Papua menuju tempat asal kapal tersebut berasal, maka seperti yang terlihat di gambar di atas, flow perdagangan ke Indonesia timur menjadi jauh lebih kecil.

Lalu apa sih Pendulum Nusantara itu?

Dalam bahasa sederhananya, Pendulum Nusantara adalah sebuah sistem transportasi barang dengan menggunakan kapal ukuran besar (kapasitas 3000-4000 TEU) yang melewati sebuah jalur laut utama dari ujung barat hingga ujung timur Indonesia secara rutin. Karena pola gerakannya dari barat ke timur dan kemudian berbalik timur ke barat (seperti gerakan sebuah pendulum ketika digoyangkan), maka program ini disebut Pendulum Nusantara.

Di dalam jalur laut utama tersebut, akan ada 5 pelabuhan utama yang akan disinggahi oleh kapal-kapal ukuran besar, yaitu Belawan (Medan), Tanjung Priok (Jakarta), Tanjung Perak (Surabaya), Makassar dan Sorong (Papua). Lima pelabuhan ini juga berfungsi sebagai titik simpul atau hub regional bagi daerah di sekitarnya (disebut dengan loop). Barang-barang akan dikirim ke pelabuhan di sekitarnya menggunakan kapal yang lebih kecil.

Dengan adanya kapal besar yang rutin berlayar dari barat ke timur dan sebaliknya tersebut diharapkan dapat terjadi transportasi barang yang lebih murah dan efisien, dimana biaya angkutnya tidak hanya bergantung pada satu trayek saja (misalnya: Tanjung Perak-Sorong), melainkan seluruh trayek menjadi memiliki peranan. Dalam hal ini, akan terjadi subsidi biaya dari trayek yang lebih ramai kepada trayek yang lebih sepi.

Tujuan dari program ini sendiri adalah agar terjadi sebuah efisiensi transportasi barang sehingga menurunkan biaya logistik nasional dan pada akhirnya mendorong tumbuhnya industri dan terjadinya pemerataan ekonomi, khususnya untuk Indonesia bagian timur. Skema pengembangannya dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

pendulumSesederhana itukah?

Tentu saja tidak. Kenyataannya, cukup banyak hambatan untuk bisa menerapkan program ini. Salah satunya adalah masalah infrastruktur. Tdak semua pelabuhan dapat mengakomodir kapal berukuran 3000-4000 TEU. Perlu adanya pembenahan infrastruktur atau bahkan pembangunan baru di tiap pelabuhan utama. Untuk hal ini, empat BUMN yang bergerak di bidang operator pelabuhan yaitu Pelindo I, III, IV dan IPC, telah berkomitmen untuk membenahi infrastruktur melalui pembentukan anak perusahaan gabungan PT. Terminal Petikemas Indonesia (TPI). PT. TPI ini yang nantinya akan menjadi operator di lima pelabuhan utama dalam jalur Pendulum Nusantara dan bertanggung jawab dalam standarisasi infrastruktur di tiap pelabuhan tersebut.

Nah, masalah berikutnya adalah kapal. Apakah perusahaan pelayaran di Indonesia memiliki kapal ukuran 3000-4000 TEU? Atau bila harus beli, sanggupkah mereka? Ada opini yang mengatakan bahwa bisa saja BUMN di bidang pelayaran, PT.Pelni, akan didorong sebagai operator shipping untuk Pendulum Nusantara ini. Terkait hal ini, saya tidak bisa memberi penjelasan, karena sudah bukan bidang saya. hehe.

Jadi, program ini memang tidak sederhana. Banyak hal yang harus dibenahi. Tapi bila melihat capaian bila program ini berhasil, rasanya sah-sah saja bila saat ini semua pihak yang berkepentingan mengeluarkan usaha yang keras untuk mewujudkan program ini.

Capaian dari Pendulum Nusantara, menurunkan biaya logistik nasional

Capaian dari Pendulum Nusantara, menurunkan biaya logistik nasional

Ship follow the trade atau trade follow the ship?

Dalam dunia shipping dan logistics, ada istilah: “Ship follow the trade”, yang maksudnya adalah kapal atau jalur pelayaran dan infrastruktur pendukung logistik seperti pelabuhan, jalan, dsb, akan ada ketika di tempat tersebut telah ada industri yang dibangun. Jadi, harus ada industri dulu, baru kapal akan datang.

Kalau diibaratkan dalam transportasi darat, misalnya: ITB telah membangun kampus baru di Jatinangor. Karena ada kampus baru tersebut maka dibuatlah sebuah trayek baru bus DAMRI dari ITB di jalan Ganesha langsung ke Jatinangor untuk mengangkut para mahasiswa yang berkuliah disana.

Nah, teori ini tentunya sah-sah saja. Lalu bagaimana bila teorinya dibalik? Pemda Bandung ternyata membuat trayek baru Ganesha-Jatinangor terlebih dahulu, walaupun mungkin tidak ada mahasiswa atau penumpang yang bakal naik trayek tersebut. Alhasil mungkin saat awal trayek itu jalan, penumpangnya sangat sedikit atau bahkan malah tidak ada. Nah, pihak ITB setelah melihat ada sebuah peluang trayek baru tersebut menjadi timbul inisiatif untuk membangun sebuah kampus baru di Jatinangor. Mungkinkah kasus ini terjadi? Tentu saja mungkin.

Begitu pula dalam hal shipping dan logistics, teori “trade follow the ship” tentunya bisa terjadi. Nah, program Pendulum Nusantara ini justru seperti mengaplikasikan teori tersebut. Mereka membangun jalurnya terlebih dahulu, tanpa perlu tahu apakah akan ada industri baru yang dibangun di Papua, Maluku, dsb atau tidak. Setelah jalur tersebut berjalan, diharapkan justru mendorong para investor untuk berinvestasi membangun industri di daerah-daerah tersebut.

Tentunya konsep ini memang beresiko, itulah mengapa tidak sedikit pihak yang menyangsikan konsep Pendulum Nusantara. Pihak-pihak tersebut beranggapan bahwa lebih baik bangun dulu industri di Papua dan sebagainya, maka jalur transportasi akan ada dengan sendirinya. Namun bila prinsip ini tetap dianut, berarti kita hanya bisa menunggu pemerintah atau investor untuk membangun industri. Lalu pertanyaannya, sampai kapan kita menunggu? Sampai Papua akhirnya memerdekakan diri?

Meminjam perkataan Dirut saya, “Kerjakanlah apa yang menjadi bagian kamu dengan sebaik-baiknya terlebih dahulu. Setelah itu, baru kita dorong pihak lain untuk mengerjakan bagian mereka juga dengan sebaik-baiknya”.

Intinya, kami dari pihak kepelabuhanan dan shipping berusaha mengerjakan bagian kami dengan membuat program Pendulum Nusantara ini. Dengan harapan dapat membantu mengurai permasalahan biaya logistik Indonesia yang tinggi. Sambil berharap juga dapat mendorong tumbuhnya industri baru dan terjadinya pemerataan ekonomi.

Salah satu capaian bila program Pendulum Nusantara diterapkan, mendorong pertumbuhan trafik kontainer

Salah satu capaian bila program Pendulum Nusantara diterapkan, mendorong pertumbuhan trafik kontainer

Mengapa ada opini sumbang?

Bila anda mencari di om google dengan kata kunci “Pendulum Nusantara”, anda tidak hanya menemukan berita-berita positif, tapi ada juga berita yang isinya justru menganggap ini adalah sebuah solusi yang tidak efektif. Kebanyakan berita tersebut berasal dari salah satu pihak, yang notabene juga memiliki peran dalam rantai logistik di Indonesia.

Untuk hal ini, saya mau sedikit memberi analogi. Anggaplah anda mengidap sebuah penyakit yang jarang terjadi, bahkan satu-satunya di desa anda. Dan seluruh desa belum tahu obatnya apa. Lalu tiba-tiba ada orang yang tidak anda kenal datang dan memberi sebuah obat. Orang tersebut memberi penjelasan bahwa obat tersebut dapat menyembuhkan penyakit anda, dan pernah sukses dicoba di desa lain. Nah, apakah anda akan meminum obat tersebut?

Tentu saja anda akan mikir-mikir dulu. Dan sah-sah saja bila anda menolak obat tersebut. Bila anda tahu tentang bidang farmasi, anda bisa meneliti tentang obat tersebut. Tapi bila tidak, anda hanya punya dua pilihan: 1. mencobanya dengan resiko sembuh dan tidak atau 2. menolaknya sambil menunggu penyakit anda menggerogoti tubuh anda. Anda pilih yang mana? Kalau saya jadi anda, tentu saja saya akan mencoba obat tersebut. 🙂

Kesimpulan

Terminal Internasional Peti Kemas Jakarta

Terlepas dari program ini menjadi salah satu media kampanye dari salah satu capres, menurut saya Pendulum Nusantara merupakan salah satu solusi efektif untuk mengurai permasalahan dunia maritim dan logistik di Indonesia yang saat ini keadaanya cukup ruwet.

Meskipun dari kecil kita sering dinyanyikan lagu Nenek Moyangku Seorang Pelaut dan selalu diajarkan tentang kondisi geografis kita yang dua per tiganya lautan, nyatanya sistem transportasi laut dan bahkan bidang maritim kita masih amburadul. Kita jauh tertinggal dari negara-negara lain yang justru memiliki laut yang tidak lebih luas dari kita. Bahkan laut yang seharusnya menjadi sumber kekayaan dan kesejahteraan kita, malah seakan-akan menjadi biang keladi kesengsaraan bangsa kita.

Rasanya sudah seharusnya kita kembali ke ranah asal kita, lebih bersahabat dengan laut. Manfaatkan laut sebagai modal utama untuk mensejahterakan bangsa kita.

Dosen saya pernah berkata: “Ketika SD kita pernah diajarkan bahwa Indonesia adalah negara kepulauan dengan memiliki 17 ribu pulau yang DIPISAHKAN oleh LAUTAN. Seharusnya kita diajarkan bahwa Indonesia memiliki 17 ribu pulau yang DIHUBUNGKAN oleh LAUTAN”.

Ya, sudah seharusnya paradigma bangsa Indonesia diubah, LAUT bukanlah PEMISAH tapi justru PENGHUBUNG!

<>

Delft, 20 Juni 2014

Salam hangat untuk Nusantaraku…

*Note: semua data di tulisan ini dapat dipertanggungjawabkan, bersumber dari IPC (PT. Pelabuhan Indonesia II)

Fenomena “Gelombang Acak” #2

Bagian 2: Gelombang Acak merupakan gabungan dari berbagai Gelombang Harmonik

(Berikut adalah bagian ke-2 dari tulisan Fenomena Gelombang Acak, sangat disarankan membaca bagian 1 terlebih dahulu)

Hari ini adalah hari terakhir saya kuliah Modul 3 (di UNESCO-IHE kuliahnya dibagi per modul, 1 modul = 3 minggu). Dan kebetulan kuliah terakhir adalah kuliah “Waves” (dalam versi Indonesia adalah Mekanika Gelombang). Entah kenapa saya begitu bersemangat kuliah ini, padahal biasanya males, ga ngerti, dan ngantuk. haha. Pas masuk kelas, saya langsung duduk di kursi paling depan, tepat di depan si dosen, tumben-tumbennya nih begini.:p

Dosen “Gelombang” smtf_XDTDJ_120aya kali ini adalah Leo H. Holthuijsen, ketika pertama mendengar nama ini entah kenapa rasanya engga asing di telinga saya. Ternyata kata senior saya, beliau adalah ahli gelombang dan pencipta software SWAN!

Whatt?!! SWAN?? Pikiran saya langsung terbang ke tiga tahun yang lalu saat saya dengan berat hati memilih SWAN sebagai TA saya. Lalu saya cek TA saya, dan benar saja, ternyata saya menulis beberapa kutipan dan memasukan beberapa grafik beliau, dan nama beliau memang beberapa kali muncul di manual book SWAN. Itu makanya saya merasa engga asing dengan nama tersebut.

Kaget, senang, terharu, campur aduk rasanya, ternyata orang yang menciptakan software SWAN, software yang hampir membuat saya gila tiga tahun yang lalu (lebay mode on), sekarang menjadi dosen saya! Mungkin kalau Pak HT tau, dia akan tertawa melihat sebuah kebetulan ini. Ya, Pak HT-lah yang memperkenalkan SWAN kepada saya. Tapi, apakah ini memang sebuah kebetulan? Atau memang Tuhan telah menyiapkan skenario ini?

Secara akademik, kemampuan saya sebenernya engga bagus-bagus amat. Bahkan sebagian besar apa yang saya pelajari saat S1 sudah hilang dari ingatan saya. Sehingga walaupun mata kuliah disini merupakan bentuk pengulangan, saya tetap harus mengeluarkan energi ekstra untuk memahaminya. Nah, saya coba sedikit mengulas apa sih inti mempelajari kuliah mekanika gelombang ini.

random waveGelombang di laut, atau orang awam biasa menyebutnya dengan ombak, merupakan salah satu fenomena acak yang terjadi di bumi ini. Itulah mengapa gelombang di laut disebut dengan gelombang acak atau random wave. Mengapa acak? Karena bentuknya tidak beraturan, baik secara fisik dari visual observasi, ataupun pola kejadiannya. Lalu, bagaimana cara kita mengukur atau menghitungnya, untuk bisa mengatahui nilai atau karakteristik suatu ombak di suatu tempat? Caranya adalah dengan sebuah teori yang menyatakan bahwa gelombak acak tersusun dari banyak gelombang harmonik. Gelombang harmonik sendiri adalah gelombang yang lebih mudah dihitung. Bila sebuah gelombang acak bisa memiliki ratusan atau ribuan frekuensi, gelombang harmonik hanya tersusun oleh satu frekuensi. Satu gelombang harmonik, menyumbang satu frekuensi di gelombang acak. Maka, dengan beberapa perhitungan melalui pendekatan sebuah gelombang harmonik (akan sangat panjang bila saya bahas disini perhitungannya), sebuah gelombang acak akhirnya bisa dianalisis dan diprediksi.

Entah mengapa, saya melihat fenomena ini mirip dengan fenomena kehidupan. Ya, mungkin banyak orang yang merasa bahwa dalam kehidupannya, semua terasa seperti hal acak atau random, kadang bahagia kadang sedih, suatu saat mendapat rezeki tapi tidak jarang mendapat musibah. Atau ada yang menyebut juga seperti roda, kadang di atas kadang di bawah. Pokonya semuanya serba tidak terprediksi. Tidak jarang orang yang kemudian bertanya kepada Tuhannya, “Apa sih yang ingin Engkau tunjukan dengan kejadian-kejadian ini?”.

Apa yang kita alami di kehidupan ini yang semuanya terasa acak, rasanya tersusun oleh berbagai kejadian yang harmonik. Kejadian-kejadian harmonik tersebut baik yang sedih maupun bahagia merupakan sebuah skenario yang sangat rapi yang telah disusun oleh Tuhan untuk menyusun sebuah cerita kehidupan kita. Ketika kita mengalami suatu kejadian yang terkadang mengesalkan atau bahkan tidak penting dan ingin segera dilupakan, pada kenyataannya itu adalah salah satu bagian harmonik penyusun cerita kehidupan kita, yang mungkin akan berkaitan langsung dengan bagian-bagian harmonik lainnya di waktu yang akan datang. Seperti apa yang saya alami. Ketika memilih topik TA tentang pemodelan gelombang menggunakan SWAN, saya menganggapnya sebagai salah satu blunder dalam memilih, dan berpikir bahwa ini tidak akan penting bagi kehidupan saya. Tapi ternyata setelah 3 tahun berselang, saya bertemu lagi dengan makhluk itu, dengan cara yang berbeda. Dan kali ini, apa yang dulu saya sesali ternyata malah membantu saya.

Jadi, melalui sebuah fenomena gelombang acak ini saya percaya bahwa setiap kehidupan manusia yang terasa acak dan tidak terprediksi ini pada kenyataannya adalah gabungan dari berbagai hal-hal harmonik yang merupakan sebuah skenario rapi yang telah disusun oleh Tuhan untuk setiap manusia. Seperti sebuah kalimat yang diucapkan oleh Harun Yahya berikut ini:

“Hidup dan nasib bisa tampak berantakan, misterius, fantastis, dan sporadis, namun setiap elemennya adalah subsistem keteraturan dari sebuah desain holistik yang sempurna.. Menerima kehidupan berarti menerima kenyataan bahwa tak ada sekecil apa pun terjadi karena kebetulan.”

………………………….

Delft, 10 Februari 2014

 

Kisah Sebuah Kapal..

Alkisah, di suatu negara antah berantah, terdapat sebuah kapal bernama Renovatio. Kapal ini akan mengarungi samudera luas dengan membawa sebuah misi besar, yaitu menyelamatkan sejumlah warga di suatu wilayah. Kapal ini dinahkodai oleh satu orang Kapten (Nahkoda) kapal, dan dibantu oleh 5 orang Wakil Kapten, puluhan Chief Officer, Second Officer, dan Third Officer, serta ribuan awak kapal.

2645637685_d97e1ece8a_mRenovatio diberi misi untuk membawa sejumlah obat untuk menyelamatkan jutaan warga yang terkena wabah penyakit di suatu wilayah nan jauh disana. Misi ini sangat beresiko, karena belum pernah ada satupun kapal yang mengarungi samudera untuk mencapai wilayah tersebut. Konon katanya, ombak di samudera itu sangat ganas yang dapat menelan kapal ini dengan mudahnya. Sehingga banyak yang bilang, ini adalah sebuah Mission Impossible.

Tidak sedikit awak kapal yang ragu terhadap perjalanan ini, “Kapten, apakah kita mampu melewati samudera tersebut? Katanya ombaknya sangat ganas, mungkin kapal ini bisa kandas”. “Kalau tidak kita coba, kita tidak akan pernah tahu kita mampu atau tidak. Kalau tidak kita arungi samudera itu, kita tidak akan tahu seberapa ganas ombaknya. Jadi, kita harus melaluinya. Dengan kesungguhan hati untuk mewujudkan misi yang mulia ini, kita pasti bisa melaluinya “, jawab sang Kapten dengan lantang.

Sang Kapten kapal sangat percaya bahwa Renovatio pasti berhasil menunaikan misi ini. Sang Kapten, dengan lantangnya berseru kepada seluruh awak kapal untuk meneguhkan hati menunaikan misi ini. “Bila kita bersatu, bersungguh-sungguh, dan yakin dengan tujuan mulia misi ini, pasti kita akan berhasil! Ayo kita pasti bisa!”, begitu orasinya saat kapal ini akan berlayar. Melihat semangat yang berapi-api dari pemimpinnya, ribuan awak kapal ini pun akhirnya terlecut semangatnya.

Akhirnya Renovatio pun berlayar, siap mengarungi samudera yang luas walaupun dengan resiko terburuk, kapal bisa kandas, dan seluruh awak kapal bisa kehilangan nyawanya. Dalam perjalanan, sang Kapten dan para petinggi kapal fokus untuk menjaga semangat dan keyakinan para awaknya. Kesejahteraan para awak kapal sangat dijaga, pemberian makan tidak pernah telat, dan bahkan lauk pauknya jauh lebih enak ketimbang yang biasa mereka makan sebelum-sebelumnya. Mereka percaya, bila kesejahteraan seluruh awak kapal terpenuhi, Renovatio akan sangat siap menantang ombak di depan.

Di sepertiga perjalanan, cuaca mulai terlihat tidak bersahabat, hujan dan badai mulai menerpa Renovatio. Beberapa awak kapal terlihat menjadi khawatir, mereka mulai takut dan tidak yakin dengan apa yang sudah mereka pilih. Ketika beberapa kali ombak besar menerpa, mereka langsung menjerit. Mereka tidak terbiasa dengan kondisi ekstrem seperti ini, karena sebagian besar mereka hanya terbiasa mengarungi laut yang tenang. Akhirnya muncullah beberapa awak kapal yang tidak ingin kapal ini terus melaju. Mereka berpikir, untuk apa kita mengorbankan nyawa kita untuk menolong orang lain di daerah tersebut. Lebih baik kita kembali ke kampung halaman, hidup damai, dan berlayar hanya di laut yang tenang. Kelompok ini pun akhirnya memprovokasi awak kapal lain yang awalnya sudah meneguhkan hati. Mulai timbullah suasana yang tidak kondusif di dalam kapal, perpecahan pun terjadi.

Sang Kapten mencoba untuk menenangkan, “Wahai kawan-kawanku, ingatkah kalian apa tujuan kita? Tujuan kita adalah untuk memberi pertolongan kepada jutaan warga disana. Mereka menunggu kita, bila kita tidak sampai disana tepat waktu, mereka semua bisa mati. Kalau bukan kita yang melakukan ini, siapa lagi. Keluarlah dari zona nyaman kalian. Kita tidak boleh menyerah hanya karena kita belum pernah menghadapi kondisi ekstrem seperti ini sebelumnya. Kita tidak pernah tahu seberapa hebat kita bila kita tidak mencobanya.”

“Tapi ini tidak realistis. Kapal ini bisa kandas kalau terus melaju! Anda bisa membuat kita semua kehilangan nyawa!”, sebagian awak kapal tidak setuju dengan sang Kapten. “Peduli amat dengan nyawa jutaan warga itu, toh mereka bukan keluarga kita. Yang penting adalah nyawa kita sendiri dsini!”, yang lainnya menimpali. Mulailah terjadi keributan. Sebagian awak yang kontra ini meminta jabatan kapten diganti, dan kapal putar balik ke tempat semula. Sebagian lainnya hanya diam saja, mereka kebingungan. Secara naluri, mereka tidak ingin membahayakan diri mereka, tapi di sisi yang lain, mereka juga ingin menolong para warga tersebut.

Sang Kapten tetap teguh pada pendiriannya, dia tidak akan mundur, dan tidak akan membuat kapal ini putar balik. Karena dia percaya bahwa bila memiliki tujuan yang baik, pasti akan dimudahkan jalannya. Sang Kapten dengan tegas berseru, “Saya akan tetap berlayar mewujudkan tujuan kita. Yang percaya dengan saya, ayo kita sama-sama mengarungi laut ini. Yang tidak percaya, silakan pergi dari kapal ini!”

Sebagian awak kapal yang kontra dengan kapten menjadi kebingungan, karena usahanya untuk mengganti sang kapten dan membuat kapal putar haluan gagal. Mereka terus mencoba memprovokasi para awak kapal lain serta para chief, second dan third officer, Akhirnya sebagian dari para officer tersebut terhasut dan bergabung dengan kelompok kontra ini. Mereka mengambil jalan terakhir, yaitu melarikan diri. Mereka menggunakan kapal sekoci (kapal penyelamat) untuk kembali pulang ke tempat semula. Kapal sekoci ini seharusnya digunakan saat kondisi darurat, untuk menyelamatkan seluruh awak kapal bila terjadi sesuatu, tetapi oleh kelompok ini malah digunakan untuk menyelamatkan diri mereka sendiri.

ship_sketch

Akhirnya Renovatio tetap terus berlayar, namun dengan kondisi yang sedikit timpang karena ditinggal beberapa awak kapal dan para officernya, bahkan dua orang wakil kapten pun tidak bersedia melanjutkan perjalanan ini. Kondisi kapal pun tidak sempurna lagi, sebagian kapal sekoci telah hilang, dan beberapa bagian kapal berlubang akibat terjadi keributan antara kelompok pro dan kontra.

Kini, dengan kekuatan yang tersisa, Renovatio tetap berusaha untuk melaju mewujudkan tujuannya. Sang Kapten tetap berada di depan, memimpin dengan keteguhan hati yang tinggi. Para wakil kapten, officer dan awak kapal yang tersisa berada di belakangnya, berusaha untuk tetap teguh dan percaya pada pemimpin mereka. Mereka berharap dapat diberi kekuatan oleh Tuhan untuk mengarungi sisa perjalanan ini.

Apakah Renovatio berhasil mengarungi sisa perjalanannya?

Apakah misi yang diemban Renovatio berhasil terwujud?

Kita tidak tahu..karena kisah ini belum selesai. Perjalanan mereka masih jauh. Kita hanya bisa berharap, semoga kisah ini berakhir dengan indah!

………………………….

Delft, 17 Desember 2013

Sebuah ungkapan dari seorang pemuda yang lahir dan besar di daerah pantai utara Jawa: Cirebon, pernah menuntut ilmu Teknik Kelautan di Bandung, bekerja sebagai buruh pelabuhan di Tanjung Priok, dan sekarang sedang menuntut ilmu (lagi) di sebuah negeri di bawah laut.

Masih mencoba membantu mengurai suatu benang yang kusut, dan berharap dapat merangkainya menjadi sebuah kain yang indah

Nenek Moyangku Seorang Pelaut

Nenek moyangku seorang pelaut
Gemar mengarung luas samudera
Menerjang ombak tiada takut
Menembus badai sudah biasa

Angin bertiup layar berkembang
Ombak menderu di tepi pantai
Pemuda brani bangkit sekarang
Ke laut kita beramai-ramai

Pasti kita semua pernah mendengar lagu di atas. Saat masih kecil tentunya sebagian dari kita tidak pernah bertanya-tanya kenapa lagu ini diciptakan, kenapa nenek moyang kita seorang pelaut, kenapa bukan petani, kenapa bukan ilmuwan, atau yang lainnya. Yang tentunya anak-anak pada umumunya lakukah hanya menyanyikan lagu ini dengan riang gembira, tanpa tahu makna apa yang terkandung di dalamnya.

Dari buku-buku sejarah baik pelajaran maupun tulisan ilmiah, tidak akan ada keraguan bahwa nenek moyang kita sejak jaman kerajaan Sriwijaya hingga Majapahit merupakan pelaut-pelaut tangguh. pelaut-pelaut Bugis pun tidak ketinggalan reputasinya sebagai “orang laut” yang mampu mengarungi samudera. Kerajaan-kerajaan Islam pantai meletakkan kekuatannya pada perdagangan laut. Pelabuhan kerajaan-kerajaan maritim yang lebih terkenal dengan istilah Bandar yang berarti daerah wilayah perdagangan yang dipimpin oleh penguasa pelabuhan dengan gelar Syah Bandar, berkembang Bandar pelabuhan pada saat itu termaju adalah Pasai di Aceh, Banten, Demak, Cirebon, Tuban, Gresik, Makasar (Kerajaan Goa dan Tallo), Buton, Ternate , Tidore, Jaylolo dan Bacan yang kesemuanya merupakan kota-kota pelabuhan atau Bandar yang menjadi lintasan perdagangan rempah-rempah dari kepulauan Maluku menuju India melalui Selat Malaka dan kemudian menyebar ke Timur Tengah sampai Eropa. Sebuah sejarah yang luar biasa tentunya.

Dari kondisi geografis pun, jelas-jelas kita sangat kental dengan unsur laut, dua per tiga dari luas daratan, luar biasa bukan? Bahkan istilah lain untuk menyebut negara ini adalah “tanah air”. Tanah: merujuk pada daratan sebagai unsur utama suatu peradaban tentunya. Air: karena sebagian besar luasan Negara ini adalah lautan. Jadi, jelas-jelas bangsa Indonesia memang ditakdirkan untuk dekat dengan unsur air atau laut.

Bila kita lihat kondisi sekarang ini, timbul suatu pertanyaan, masih pantaskah lagu itu diajarkan dan dinyanyikan kepada anak-anak? Kalau memang nenek moyang kita seorang pelaut, lalu apa kabar laut kita? Apa kabar pantai kita? Apa kabar pulau-pulau kecil kita? Apa kabar pelabuhan kita? Apa kabar dunia maritim kita? Ah, ingin nangis rasanya bila memikirkan itu.

Kita pasti sudah cukup tahu bahwa masyarakat di kawasan pesisir itu memiliki standar ekonomi di bawah rata-rata. Kawasan pantura atau pantai utara jawa identik dengan masyarakat kelas bawah, miskin. Tingkat pendidikan yang rendah dan tingkat ekonominya, akhirnya menimbulkan efek domino lainnya, yaitu mental dan perilaku yang buruk masyarakatnya. Tidak jarang daerah pesisir identik dengan kawasan rawan kejahatan. Bahkan di ibukota sekalipun, Tanjung Priok misalnya, menjadi salah satu daerah yang sangat dihindari oleh masyarakat Jakarta. Coba bandingkan dengan Negara-negara lain, kota yang berkembang pesat dan makmur justru lebih banyak berada di tepi pantai, maju karena perdagangan yang melalui pelabuhannya, misalnya Rotterdam, Liverpool, Busan, dsb. Lalu kenapa kita justru terbalik? Sebuah fakta yang sangat ironis tentunya.

Pelabuhan Tanjung Priok, pelabuhan terbesar dan tersibuk di Indonesia, 70% ekspor impor Indonesia melalui pelabuhan ini, namun tidak ada apa-apanya dibanding Pelabuhan Singapura atau Pelabuhan Tanjung Pelepas milik Malaysia. Kapal yang sanggup masuk ke pelabuhan ini hanya kapal generasi ke-3, padahal sekarang sudah sampai generasi ke-10. Bayangkan, 17 ribu pulau, tapi tidak memiliki pelabuhan yang tergolong the best in the world, kalah oleh Singapura yang negaranya hanya satu pulau kecil yang ‘mejeng’ di selat Malaka, dan juga kalah oleh Malaysia yang bahkan dulu harus mengimpor tenaga guru dari Indonesia. Mau coba bandingkan juga dengan Hongkong, China, UEA, Belanda, Jepang? Ah, tetap saja kita seperti gelandangan yang disandingkan dengan pengusaha papan atas.

Konon katanya nenek moyang kita pelaut yang handal dan pembuat kapal yang hebat. Lalu sekarang? Adakah Shipping Line kita yang berhasil mendunia? Rasanya kita hanya melihat logo Maersk Line milik Denmark, NYK milik Jepang, Shipping Line China, dan Shipping Line lain milik Negara lain. Kapal? Tidak jauh berbeda, rasanya kita belum bisa membuat kapal-kapa berkaliber kelas dunia, Post Panamax, Post Mega Panamax, dsb. Pernah ada kapal yang cukup besar milik Indonesia, MT Sinar Kudus, itupun malah dibajak oleh perompak Somalia.

Imbas dari hal tersebut adalah tingginya cost logistic di Indonesia. Diperparah lagi dengan jalur birokrasi yang super ribet. Jadi jangan heran bila barang-barang yang melalui proses ekspor impor memiliki harga jual yang tinggi. Ada fakta lucu yang menunjukkan buruknya logistic dan supply chain management di Indonesia; pernah kah kalian sadari bahwa jeruk Pontianak lebih mahal ketimbang jeruk mandarin? Tentunya ini sungguh tidak logis. Kalau kita lihat peta, diukur menggunakan penggaris manapun jarak Pontianak-Jakarta jauh lebih pendek ketimbang jarak China-Jakarta. Lalu bagaimana ini bisa terjadi? Penjelasannya mungkin akan saya buat di tulisan berikutnya.

Kita juga mungkin sering mendengar bahwa kapal-kapal penangkap ikan Negara lain secara illegal menangkap ikan di laut Indonesia. Kekayaan alam kita dengan mudahnya diambil oleh Negara lain. Jalur laut kita sudah seperti jalan umum yang dengan mudahnya dilalui kapal asing bahkan kapal militer sekalipun. Rasanya tidak akan ada habisnya bila menjabarkan hal-hal ironis yang terjadi di bangsa ini.

Lalu dimanakah sisa-sisa sejarah yang mengatakan Indonesia itu Negara maritim? Inikah kondisi Negara yang dua per tiganya lautan, memiliki 17 ribu lebih pulau, memiliki panjang pantai terpanjang kedua di dunia, memiliki kekayaan laut yang hebat? Siapakah yang harus disalahkan dengan kondisi ini, masyarakat, pemerintah, atau presidennya? Atau kita tidak berhak menyalahakan siapa-siapa karena ini adalah suatu takdir dari Sang Pencipta? Ah, rasanya ingin segera bangun dari mimpi buruk berada di Negara ini.

#

Sebuah ungkapan dari seorang pemuda yang lahir dan besar di daerah pantai utara Jawa-Cirebon, pernah menuntut ilmu Teknik Kelautan di Bandung, dan sekarang bekerja sebagai buruh pelabuhan di Tanjung Priok. 

Masih mencoba membantu mengurai suatu benang yang kusut, dan berharap dapat merangkainya menjadi sebuah kain yang indah.